“ Aidan apa tidak masalah kau langsung memecat mereka semua? ” ucap Adira pelan khawatir tindakan Aidan akan menimbulkan masalah nantinya.
“ Mereka tidak pantas berada di rumah ini ” jawab Aidan tanpa menoleh kearah Adira.
Seberapa keras pun para pelayan itu memohon dan berontak agar lepas dari cengkraman pengawal itu, termasuk Vera sendiri. Tapi sekeras itu juga para pengawal itu secepatnya membawa mereka keluar dari rumah keluarga Brown.
Pelayan-pelayan lain yang melihat hal itu sontak ketakutan, mereka takut jika mereka akan diusir seperti itu jika ada dari mereka bersikap tidak sopan kepada Adira.
“ Aku takut nanti kalau Mas Zein tahu hal ini kau malah akan kena masalah ” ungkap Adira tetap tidak bisa menutupi rasa khawatirnya.
“ Tenang saja Daddy tidak akan marah, tindakanku ini sudah benar. Daddy juga tidak akan mentolerir sikap tidak sopan dari para pelayan itu. Sebelum mereka bekerja di sini mereka sudah setuju dengan aturan rumah ini, sekarang mereka yang melanggar tentu saja mereka harus di pecat ” Aidan menjelaskan hal itu tanpa melihat ke arah Adira.
Adira mendengarkan penjelasan itu, tapi tentu saja dia merasa tidak nyaman dengan sikap Aidan. Bagaimana bisa seseorang bicara dan tak sekali pun melihat ke arah lawan bicaranya.
“ Nona A juga punya hak yang sama, jangan takut untuk langsung memecat para pelayan jika mereka bersikap tidak sopan padamu ” tukas Aidan.
“ Untuk apa memecat para pelayan, hal itu malah akan semakin membuatku menjadi seorang yang bertingkah sok Nyonya besar. Lagian untuk apa mengharapkan rasa hormat dari para pelayan itu, sementara kalian juga tidak menghormati aku, tidak bukan hormat setidaknya menghargai saja mungkin bisa membuat harga diriku tidak serendah ini ” Adira sengaja menyinggung hal itu.
“ Aku tidak pernah tidak sopan padamu ” bantah Aidan.
“ Sekarang saja kau tidak sekali pun memandang ke arahku saat bicara, apa itu menghormati namanya. Setidaknya pandang lawan bicaramu itu yang namanya menghargai ”
Aidan langsung paham maksud Adira, sehingga dia tidak bisa bicara apa pun dan memilih pergi tanpa menjawab perkataan Adira.
“ Hei...jangan pergi seperti itu, ini seperti bukan sikapmu ” seru Adira mengejar Aidan tapi dia tetap mengabaikan Adira dan melanjutkan langkahnya. Adira sama sekali dia tetap mengikuti Aidan sampai mereka berada di taman belakang.
“ Kau pikir aku tidak tahu kau berusaha menghindari aku, kau yang biasanya selalu mengatakan banyak hal yang mengesalkan tiba-tiba diam begini kau pikir aku bodoh ” ucap Adira sedikit kesal karena walaupun dia sudah banyak bicara Aidan hanya duduk diam di bangku taman itu.
“ Jangan menyiksa dirimu dengan rasa bersalah yang tidak perlu itu. Aku memilih menerima hukuman dari Mas Zein itu mutlak keinginanku kenapa kau harus merasa bersalah atas hal itu ”
Aidan meremas tangannya kuat dengan kepala tertunduk. Adira memandang Aidan lama melihat gestur tubuhnya.
“ Kalau kau tetap akan bersikap seperti ini baiklah, aku tidak akan pernah bicara padamu lagi. Terima kasih karena sudah membelaku di depan para pelayan itu setidaknya itu membuat harga diriku tidak terluka ”
Aidan tetap diam tidak menanggapi.
“ Sejujurnya walaupun mengesalkan aku lebih suka kau yang dulu suka mengejek dan mengatakan banyak hal padaku, i-itu..sedikit membantu mengurangi rasa kesepianku berada di tempat yang terasa asing bagiku. Tapi sekarang karena kau memilih diam aku semakin merasa tidak ada satu pun orang dirumah ini yang menghiraukan aku dan...” Adira menghela napas sejenak mengatur kembali pertahanan dirinya.
“ Membuat aku merasa ingin secepatnya meninggalkan rumah ini ” ucap Adira kemudian berbalik dan memutuskan untuk pergi.
“ Bagaimana bisa aku tidak merasa bersalah...” guman Aidan, mendengar itu Adira menghentikan langkahnya dan berbalik kembali menghadap Aidan.
“ Aku sejak awal sudah membohongimu untuk ikut rapat disiplin hari itu..lalu menyuruhmu tutup mulut. Lalu kau mengakui semua itu kesalahanmu bagaimana aku merasa tidak bersalah? Kau tidak keluar kamar selama tiga hari pasti karena Daddy menyiksamu dengan sangat berat. Setelah kau keluar pun bagaimana aku bisa tidak merasa bersalah melihat tubuhmu penuh luka? ” Aidan meluapkan semua hal yang dia pendam selama ini hingga membuat dia tanpa sadar meneteskan air mata saat mengatakan semua hal itu pada Adira.
Mata Adira berlinang dengan air mata yang mengenang.
“ Dia pasti merasa sangat menderita sampai membuatnya menangis seperti ini ” , ucap Adira dalam hati.
“ Harusnya jangan diam...kenapa kau tidak marah saja, lalu bilang pada Daddy kalau semua ini salahku. Biar aku yang merasakan semua hukuman itu ”
Adira mendudukkan diri di sebelah Aidan, dia membiarkan anak itu meluapkan semua hal yang dia berusaha sembunyikan selama ini. Aidan menangis sampai terisak.
Hari ini Adira dikejutkan dengan dua sisi yang ditunjukkan Aidan, dia terkejut saat melihat bagaimana Aidan marah kepada para pelayan itu, sisi itu hampir membuatnya mirip dengan Zein. Tentu saja mereka memiliki kemiripan Zein adalah ayahnya.
Lalu saat ini Aidan menangis tersedu-sedu di depannya, dia terkejut ternyata anak yang banyak bicara dan sedikit petakilan menurut Adira memiliki sisi lemah seperti ini.
“ Kau tahu aku sangat membenci ibu tiriku..dulu sebelum Ayahku mengenalnya walaupun setelah kepergian Ibu. Ayah merawatku dengan sangat baik. Aku putri yang dimanjakan dan semua perhatiannya hanya tertuju padaku ” tutur Adira, Aidan menatap Adira heran kenapa tiba-tiba wanita itu menceritakan hal itu.
“ Lalu tiba-tiba Ayah datang memperkenalkan wanita itu, orang asing yang sama sekali tak aku kenal. Sekarang dia ibumu..mulai sekarang kamu tidak kesepian lagi, itu kata-kata yang Ayahku ucapkan saat dia sudah menikahi wanita itu. Waktu berlalu dengan cepat aku bisa merasakan ibu tiriku tidak menyukaiku dia bersikap kasar dan memperlakukan aku dengan buruk. Aku mengadukan hal itu pada Ayahku tapi dia hanya berkata agar aku harus menjadi anak yang baik agar ibu tiriku menyukaiku ”
Adira berhenti sejenak menarik napas bagaimana pun cerita ini merupakan masa kelam dan berat untuknya.
“ Sampai akhirnya ibu tiriku melahirkan, aku bukan lagi anak satu-satunya milik Ayahku. Tiba-tiba entah sejak kapan Ayahku juga mulai mengabaikan aku...semua perhatian dan kasih sayang hanya ditujukan kepada adik-adik tiriku. Aku tumbuh dengan semua perasaan iri kepada mereka. Harusnya aku hanya aku yang di sayangi Ayah, kenapa sekarang Ayah tidak peduli padaku..kenapa dia membiarkan begitu saja saat ibu tiriku menyiksaku. Sampai suatu waktu Ayahku dengan amarahnya berkata aku terlalu banyak menuntut dan tidak sadar diri bahwa masih untung Ayah mau membesarkan aku ” cerita Adira panjang.
“ Bagaimana bisa ibu tiri dan Ayahmu bersikap jahat seperti itu? ” tanya Aidan merasa kasihan mendengar kisah Adira.
Happy Reading 😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 143 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
trus ceria
2023-02-20
1
Mayyuzira
😔
2022-12-08
1
Defi Pitasari
terimakasih thor sudah up lagi...
2022-09-24
3