“ Mama aku mau warna merah ” pinta Lily pada Adira.
“ Ma! Mama! ” panggilnya sedikit lebih keras.
“ Ya?! ” lonjak Adira tersadar dari lamunannya.
“ Mama aku mau warna merah ” rengek Lily lagi karena merasa kesal Adira tidak memperhatikan dia.
“ Oh maaf ya Mama kurang fokus tadi, ini kamu mau warna merahkan ” Adira menyodorkan crayon berwarna merah kepada bocah 5 tahun itu.
“ Karena terlalu memikirkan syarat dari Aidan aku sampai tidak fokus mengerjakan apa pun ”
“ Mama bunganya harus diberi warna apa? ”
“ Sini coba Mama lihat, hmm kuning sama orange baguskan ” Adira melanjutkan membantu Lily dengan lukisannya. Sebenarnya jika dipikirkan lagi dirumah ini tugasnya hanya sebagai pengasuh Lily.
Adira melakukan semua pekerjaan mengurus Lily karena Lily juga sangat menempel dengannya seakan tidak mau berpisah.
Adira mengelus-elus lembut rambut Lily, memandang seksama wajah anak itu. Dibandingkan dengan Adira yang berkulit putih dan sangat khas wanita asia. Lily berkulit putih dan diwajahnya terdapat freckles yang jelas menampakkan mereka keturunan bule. Matanya juga bulat cerah dengan biji mata berwarna hazel itu.
Baik Noah, Aidan dan Nadia juga sangat mirip seperti itu tepat seperti Ayah mereka dan juga ibunya yang sama-sama memiliki darah Eropa.
Hanya dengan sekali lihat orang-orang pasti akan tahu bahwa Adira bukanlah Ibu kandung dari anak-anak itu, karena perbedaannya sangat kontras Adira memiliki mata sipit dan berwarna hitam pekat.
“ Lily kenapa mau manggil aku Mama? ” tanya Adira lembut pada gadis itu.
“ Karena Mama sudah menikah sama Daddy, Daddy bilang harus panggil Mama ” jawab Lily polos.
“ Lily senang kalau Mama ada di sini? ”
“ Suka, Mommy kan sudah pergi jadi Lily senang kalau ada Mama ”
Adira mengecup lembut pucuk kepala Lily mendengar jawaban yang jujur itu.
“ Untuk Lily pasti masih sangat merindukan sosok Ibu, berbeda dengan saudaranya yang lain mereka sudah cukup dewasa untuk bisa menerima keadaan bahwa Ibu mereka sudah tidak ada. Itu alasannya hanya Lily yang merasa membutuhkan aku di rumah ini ”
“ Nona Lily ini sudah waktunya untuk pergi les ” ucap seorang pelayan bernama Mary menghampiri Lily dan Adira.
“ Les? Bukannya tadi dia baru saja pulang ” Adira melihat jam yang sudah menunjukkan jam 3 sore, sedangkan Lily baru kembali dari lesnya pukul 1 siang.
“ Itu les menyanyi Nyonya, sekarang Nona Lily harus mengikuti les tari ” ungkap Mary.
“ Be-benarkah..ya sudah kemari Lily Mama akan rapikan rambutmu sebentar ”
Lily segera menghampiri Adira.
“ Bukannya dia terlalu banyak menghadiri les..usianya baru 5 tahun kapan lagi dia menikmati waktu bermain. Pagi sekolah saat pulang masih harus mengikuti les sampai sore hari ” , batin Adira merasa kasihan pada Lily.
“ Aku pergi dulu ya Mama, nanti kita mengerjakan tugas bersama lagi ” pamit Lily sembari mengecup punggung tangan Adira.
Adira memandang kepergian Lily yang diantarkan oleh supir keluarga itu.
“ Pantas saja tugas sekolahnya selalu banyak, dia bahkan tidak punya waktu untuk bermain. Sepertinya Mas Zein terlalu keterlaluan ” guman Adira.
* * *
“ Baiklah tinggal katakan tujuanmu dengan jelas, oke pasti bisa ” Adira kembali menyemangati dirinya sebelum akhirnya dia membuka pintu kamar. Dia langsung bisa melihat suaminya yang berada di atas ranjang masih dengan laptopnya.
“ Ini masih jam 10 malam masih ada waktu sejam lagi sebelum waktu tidur ”
“ Mas..” panggil Adira pelan hampir seperti berbisik.
“ Hmm ”
Adira tambah gugup mendengar Zein yang menjawab dengan berdehem.
“ Be-begini a-aku-
“ Perbaiki dulu cara bicaramu aku tidak suka bicara dengan orang gagap. Buang waktu saja ”
“ Aku bukannya gagap..tapi karena kau aku jadi gagap begini. Aduh bagaimana sih setidaknya aku tidak boleh bersikap tidak sopan dia 18 tahun lebih tua dariku untuk mengutukinya saja aku merasa berdosa ”
“ Apa boleh kalau kamar game dibuka kembali? ” tanya Adira dengan nada meminta.
“ Dari mana kau dapat ide itu? ”
“ Kenapa sih suka sekali membalas pertanyaan dengan pertanyaan ”
“ Waktu itu Mas bilang agar aku meminta anak-anak mengubah nama panggilan kuis, tapi Aidan mau kalau aku bisa membujuk Mas untuk membuka kamar game ” jelas Adira.
“ Kau tahu kenapa aku menutup kamar itu? ” tanya Zein mengalihkan pandangannya dari laptop ke arah Adira.
“ Tidak tahu Mas ” jawab Adira cepat.
“ Kalau Aidan diizinkan memakai kamar itu lagi dia bisa lupa waktu dan hanya fokus dengan gamenya, bukannya sekolah ”
“ Benar-benar alasan orang tua ” , batin Adira mendengar jawaban Zein.
“ Lalu aku harus bagaimana? Aku tidak punya cara lain lagi. Biarkan saja aku dipanggil Nona A ya Mas. Mereka memperlakukan aku dengan hormat walaupun panggilan itu memang aneh ” keluhnya.
“ Terserah padamu, tapi aku tidak mau ada pengaruh ajaran yang tidak baik untuk anak-anakku. Untukku kesopanan adalah hal yang paling penting di rumah ini ”
“ Aku tahu Mas ” jawab Adira kemudian mengakhiri percakapan itu dan segera menuju sofa.
“ Mas Zein mungkin tidak tahu bahwa aturan yang dibuatnya kadang terlalu berlebihan dan kaku, memaksa anak-anak belajar juga bukan hal yang baik ” guman Adira pelan berbicara sendiri.
* * *
Sudah seminggu berlalu masih belum ada perubahan baik dengan hubungan Adira dengan Zein sebagai pasangan suami istri, mereka hanya bicara sekadarnya. Sedangkan Noah semenjak perbincangan di meja makan waktu itu tidak pernah bicara lagi dengan Adira, memang Noah adalah seorang anak introvert yang cukup pendiam dan dingin. Aidan dan Nadia masih terus memanggil Adira dengan sebutan Nona A.
Adira tidak berhasil membujuk Zein untuk membuka kamar game, saudara kembar itu terkadang suka melakukan beberapa hal untuk menjahili Adira yang bagi Adira sendiri masih bisa ditolerir dan dia tidak terlalu mempermasalahkan hal itu.
“ Kaki Lily sakit ya...” ucap Adira prihatin melihat telapak kaki bengkak anak itu, dia mengoleskan minyak dan memijat kaki Lily berharap dapat mengurangi rasa sakitnya.
“ Hehehehe..Mama jangan sedih begitu, kaki Lily gak sakit ”
Adira menghela napas melihat anak kecil itu masih bisa tertawa.
“ Kalau Lily sakit Mama sedih, apa sebaiknya hari ini Lily gak usah pergi les tari? ”
“ Gak boleh, Ma. Kalau Daddy tahu bisa marah nanti Lily kan harus jadi anak baik ”
“ Masalahnya kaki Lily bengkak seperti ini karena latihan terus, sesekali istirahat kan gak papa. Nanti Mama bilang sama Mary ya ”
Lily hanya tersenyum senang karena merasa Mamanya sangat memperhatikannya.
“ Mary apa hari ini Lily boleh tidak pergi les tari, kakinya sudah bengkak aku takut dia malah tambah sakit nanti ” pinta Adira pada Mary ketika datang untuk membawa Lily pergi ke tempat lesnya.
“ Maaf Nyonya saya tidak bisa memutuskan hal itu kecuali Tuan sendiri yang mengizinkan agar Nona Lily tidak pergi ” ucap Mary.
“ Aku akan bilang nanti pada Mas Zein, biarkan Lily tidak pergi les hari ini ya aku mohon ”
“ Maaf Nona saya benar-benar tidak bisa, Tuan memberikan perintah agar Nona Lily dibawa ke tempat les ”
“ Mama Lily gak papa, Lily pergi dulu ya Mama nanti kita mengerjakan tugas bersama lagi ” pamit Lily sembari mengecup punggung tangan Adira.
“ Mengerjakan tugas bersama...entah mengapa aku merasa ingin menangis mendengar kalimat itu, harusnya dia mengajak aku bermain bersama ”
“ Aku akan bilang pada Mas Zein untuk mengurangi kegiatan les Lily, tidak peduli mau seberapa marahnya dia. Kasihan sekali Lily ” tekad Adira.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 143 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
trus ceria
2023-02-19
2
bahtiar ilmi ilmi
hampir sama kayak cerita yg judulnya aku ibu tiri yang baik
2023-02-08
1
Ta..h
y lily rubah aturan di rmh itu keterlaluan
2023-01-29
1