“ Lily! Sayang kamu dengar Mamakan ” Adira semakin khawatir karena Lily tidak merespon walaupun badannya sudah diberi guncangan.
“ Lily! ” teriak Adira panik.
Karena Lily tak kunjung merespon Adira segera mengendongnya.
“ Vera tolong Lily sakit! Dia pingsan kita harus segera membawanya ke rumah sakit! ” teriak Adira kuat karena begitu dia keluar kamar orang pertama yang dilihatnya adalah kepala pelayan, Vera.
Adira berlari kalang kabut keluar rumah ingin segera membawa Lily ke rumah sakit.
“ Vera! Kenapa diam saja panggilkan supir kita ke rumah sakit sekarang!! ” Adira tak habis pikir dia yang sudah histeris sementara Vera masih sempat-sempatnya berdiri diam di sana.
“ Baik Nyonya ” Vera segera bergegas memanggil supir keluarga Brown.
Begitu mobil itu berada tepat di depannya Adira segera masuk tanpa perlu bertanya.
“ Cepatlah Pak! ” ucap Adira sembari tetap berusaha membantu Lily sadar.
“ Tapi Nyonya-
“ Tapi apalagi kalian tidak lihat anak ini tidak sadarkan diri! ” kemarahan dalam diri Adira akhirnya keluar karena kekhawatirannya.
“ Baik Nyonya ” jawab supir itu dan segera melaju.
Begitu mereka tiba di rumah sakit supir itu membantu membukakan pintu, Adira berlari dengan Lily yang masih di gendongannya.
“ Perawat tolong segera periksa anakku! Dari tadi dia belum bangun juga!! ” Adira menahan seorang perawat dan perawat itu segera berlari membawakan brangkar.
“ Ibu bisa baringkan anaknya di sini akan segera kami periksa ” ucap perawat itu sopan, saat Lily sudah dibaringkan di brangkar dia segera di bawa ke ruang UGD.
“ Maaf Bu, sebelumnya bisa selesaikan pendaftaran pasien terlebih dahulu itu juga untuk memudahkan pemeriksaan pasien ” ucap seorang perawat lain pada Adira.
“ Tapi anak saya, siapa yang akan menjaganya? ”
“ Tenang Bu, kami akan segera merawat anak Ibu, sebaiknya Ibu selesaikan pendaftaran pasien terlebih dahulu setelahnya dokter selesai memeriksa pasien Ibu bisa bertemu dengannya ” jelas perawat itu. Adira menyugar rambutnya kasar dia merasa marah dengan permintaan perawat yang masih lebih mementingkan prosedur, dia menghela napasnya dan mengikuti perawat itu.
Dengan cepat Adira menyelesaikan semua prosedur pendaftaran pasien itu.
“ Dimana saya bisa melihat anak saya? ” tanya Adira tak sabaran pada perawat itu.
“ Anak Ibu sudah di pindahkan ke kamar rawat, Ibu juga sudah di perbolehkan menemui pasien. Mari saya antar Bu ” ajak perawat itu ramah. Adira berjalan bersama perawat itu sampai akhirnya dia tiba di kamar rawat Lily, anak kecil itu masih belum sadar, hanya dalam waktu yang singkat bisa-bisanya sekarang tubuh kecil Lily di penuhi peralatan medis, mulutnya yang di pasangi oksigen dan juga selang infus yang tertancam di tangan mungilnya.
“ Kenapa dia belum sadar? Apa keadaannya baik-baik saja? ”
“ Dokter mengatakan pasien memang belum sadarkan diri, namun tidak ada hal buruk yang perlu di khawatirkan Bu, setelah ini Dokter akan menjelaskan kondisi pasien lebih lanjut. Kalau begitu saya permisi ” pamit perawat itu.
Adira terduduk lemas di kursi kecil yang ada di kamar rawat itu, baru pertama kali dia berada dalam situasi seperti ini. Hingga dia tidak tahu harus berbuat apa.
“ Mas Zein! ”
“ Iya aku harus memberitahu Mas Zein ” Adira sedikit terlonjak ketika akhirnya dia ingat bahwa seharusnya dia memberitahu hal ini kepada suaminya.
“ Aku mohon jawab telponnya ” pinta Adira ketika sudah berulang kali dia menelpon tapi tidak ada jawaban.
“ Apa dia sedang rapat sampai tidak tahu ada panggilan masuk, kalau begini aku harus bagaimana ”
“ Lily bangunlah...Mama takut Lily kenapa-kenapa ” ucap Adira dengan suara tercekat menahan tangis.
Sudah cukup lama Adira menjaga Lily tak sedikit pun beranjak dari samping anak itu, tapi Lily belum juga sadarkan diri. Berulang kali Adira menanyakan kepada perawat namun jawaban mereka juga masih sama mengatakan bahwa Lily baik-baik saja tidak ada yang perlu di takutkan, tapi bagaimana Adira bisa tenang jika Lily tak kunjung sadar.
Brak!!!
Suara pintu terbuka, Adira segera berdiri.
“ Coba periksa lagi kenapa dia-
Adira menghentikan ucapannya, dia yang awalnya berpikir yang masuk ke kamar rawat itu adalah perawat, ternyata dugaannya salah.
“ Mas Zein ” guman Adira hampir tidak terdengar sangking tidak menyangka.
Tanpa mempedulikan keberadaan Adira yang berdiri di sana, Zein berlalu begitu saja memeriksa keadaan Lily, sebelum akhirnya Zein memanggil nama seseorang dan segera beberapa orang masuk.
Adira terdiam tak mengerti dengan situasi ini.
Tak berapa lama orang-orang yang nampak ahli itu segera memindahkan Lily ke brangkar dan membawanya keluar dari kamar itu.
“ Lily mau dibawa kemana Mas?! ” tanya Adira bingung.
Tak kunjung mendapatkan jawaban Adira bergerak cepat ingin mengikuti kemana Lily di bawa oleh orang-orang itu.
“ Bisakah kau berhenti bertingkah seperti ini?! ” geram Zein menahan kuat tangan Adira.
“ Berhenti bagaimana maksud Mas? ”
“ Berani sekali kau membawa Lily pergi tanpa izinku! ” bentak Zein.
Kepala Adira serasa berdengung mendengar kata-kata itu.
“ Izin? Apa aku masih harus minta izin sementara Lily tak sadarkan diri ” ucap Adira tak habis pikir.
“ Kalau kau memberitahu langsung kepadaku, maka hal ini tidak perlu terjadi ” Zein tetap dengan kata-katanya.
“ Aku sudah cukup mengatakan bahkan dari sebelum peristiwa ini terjadi, aku memohon agar Mas mengurangi jam les Lily karena dia sangat kelelahan, lalu apa Mas nyakin kalau aku memberitahu Lily sakit Mas akan langsung datang? ” tanya Adira penuh penekanan.
“ Dia putriku semua tentangnya adalah segalanya untukku jangan sesekali berusaha menilai aku layak atau tidak. Apa kau bahkan tidak punya kesabaran untuk menunggu aku sampai di rumah?! ” Zein meremas kuat bahu Adira.
“ Aku tidak menilai atau mengkritik tindakan yang Mas anggap sebagai kasih sayang seorang ayah, yang ingin aku katakan adalah izin yang Mas katakan dari tadi. Aku sudah berusaha memberitahu Mas segera begitu aku membawa Lily ke rumah sakit tapi satu pun panggilanku tidak Mas jawab ” jelas Adira lantang tanpa rasa takut walaupun bertatapan langsung dengan Zein.
“ Lily...anak itu tidak sadarkan diri, dia yang biasanya segera menjawab ketika aku memanggilnya tapi dia tidak bangun...apa aku sempat berpikir untuk meminta izin untuk membawanya ke rumah sakit ” lanjut Adira.
“ Walaupun aku tahu setiap tindakan harus meminta izin dari Mas, tapi aku akan tetap melakukan hal yang sama tidak peduli apa pun ” Adira berkata dengan tegas sementara matanya merah dengan air mata tergenang.
“ Aku akan mengurusmu nanti ” Zein menghempaskan kasar tubuh Adira lalu meninggalkan dia sendiri di sana.
Seperti sebuah pertahanan yang runtuh seketika, Adira menangis sejadi-jadinya. Dia tidak bisa menerima bagaimana pria itu menyalahkannya? Sedikit pun Zein tidak mempedulikan ketulusan yang Adira lakukan.
Happy Reading 😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 143 Episodes
Comments
Yanti dian Nurhasyanti
mas zein beneran hati batu y ...pantes aja semua anak2nya jadi kaku
2023-03-07
1
fifid dwi ariani
trus sabar
2023-02-19
1
Muniroh Mumun
minggat aja wes dir ...😂😂😂😂
2023-02-11
1