Aku akhirnya sudah mengetahui asal usul suamiku, namanya Zein Brown seorang presdir GC Grup perusahaan fashion ternama. Saat ini dia berusia 43 tahun perbedaan usia kami 18 tahun, harusnya aku sangat cocok sebagai putrinya.
Dari informasi yang aku gali dari para pelayan dirumah ini dia menikah saat usia 18 tahun.
“ Karena menurut saya tentu saja Nyonya harus tahu makanya saya akan ceritakan pada Nyonya, Tuan menikah saat baru berusia 18 tahun dengan almarhum Nyonya Starla yang saat itu juga baru berusia 18 tahun ” jelas Vera kepala pelayan di rumah ini dia wanita berusia 35 tahun.
“ Benarkah bukankah mereka menikah di usia yang terlalu muda? ” tanyaku ragu.
“ Saat itu Tuan terlanjur menghamili Nyonya Starla walau mereka akhirnya bisa lulus SMA karena baru ketahuan setelah selesai ujian akhir ”
“ Pantas saja dia biasa saja bahkan setelah melakukan itu padaku, ternyata memang sudah dari dulunya dia m*sum ”
“ Nyonya Starla juga berasal dari keluarga berada sehingga walaupun dia tidak melanjutkan kuliah dia bisa mewarisi butik dari keluarganya, sedangkan Tuan tetap melanjutkan kuliah sampai akhirnya mewarisi perusahaan Ayahnya ”
“ Mereka menjalani kehidupan yang berbeda, andai anak orang miskin yang melakukan hal itu maka akan berbeda akhirnya ” celotehku tanpa pikir panjang sampai Vera terdiam.
“ Ahh...maaf jangan hiraukan ucapanku lanjutkan saja ceritanya.
“ Sampai kemalangan itu terjadi, Nyonya meninggal dalam kecelakaan tunggal tahun lalu ”
Bla bla bla bla bla
Aku mendengarkan cerita panjang lebar tentang Zein Brown, anak-anaknya, dan segala peraturan dirumah ini panjang lebar dari Vera.
Hanya satu orang yang menerimaku di rumah ini, si bungsu Lily.
“ Terima kasih Daddy sudah membawa Mama untukku ” ucap Lily begitu Zein memperkenalkan aku.
Bayangkan itu baru pertama bertemu dia langsung memanggilku Mama, aku saja sampai tercengang. Sedangkan saudaranya yang lain memanggilku Nona A.
Satu yang harus diketahui dirumah ini Zein adalah aturan, jadi walaupun anak-anak tidak terima dengan kehadiranku tapi mereka tetap tidak bisa berbuat hal yang berlebihan padaku.
Seperti malam ini aku harus segera kembali ke kamar karena sebentar lagi pukul 11 malam, aturan di rumah ini tepat pukul 11 malam semua aktivitas dirumah harus dihentikan dalam artian seluruh penghuni rumah harus tidur tepat waktu.
Mungkin aturan itu dibuat oleh Zein untuk mendisiplinkan waktu tidur anak-anaknya. Aku tidak mau belum sampai ke kamar ketika semua lampu dirumah ini di padamkan seluruhnya.
“ Selamat malam Mas ” ucap sekadar salam pemberitahuan kehadiranku di dalam kamar ini, memanggilnya dengan sebutan Mas adalah juga aturan yang diciptakan agar anak-anak tidak mengetahui bahwa pernikahan ini sebenarnya sebuah kecelakaan.
Walau ucapan selamat malamku tidak mendapat jawaban namun aku segera menuju sofa tempat untukku tidur. Sekamar tapi tidak seranjang tapi apa aku merasa menderita harus tidur disofa tentu saja tidak sofa ini bahkan lebih luas dari ranjangku dulu.
“ Aku tidak ingin kejadian pagi tadi terulang lagi, kau tidak punya hak untuk menentukan. Aku tidak ingin karena kecerobohan itu mengubah karakter anak-anakku menjadi tidak sopan ” ucap Zein dengan kalimat panjang.
Adira yang baru berbaring segera bangun.
“ Maaf Mas aku..a-aku hanya tidak ingin memperpanjang masalah ” jawab Adira lirih.
“ Segera ubah panggilan konyol itu ”
DEG!!
“ Bagaimana aku bisa memaksa mereka untuk mengubah panggilan lagi ”
“ Baik Mas ” jawab Adira dan begitulah percakapan itu berakhir.
* * *
“ Pagi Aidan ” sapa Adira canggung pada Aidan walaupun akhirnya diabaikan.
Adira mengikuti di sekitar Aidan sembari mencoba mengutarakan niatnya.
“ Nona A apa keahlianmu membuat orang lain kesal? ” tanya Aidan mulai risih dengan kehadiran Adira.
“ Ehh..bukan, begini aku bisa minta tolong padamu supaya mengubah panggilanmu padaku ”
“ Biar aku yang mengatakan permintaan tolongku padamu segera tinggalkan rumah ini ” hardik Aidan yang membuat Adira menghela napas.
“ Bisa panggil aku dengan nama saja aku mohon ” pinta Adira lagi.
“ Apa wanita ini tidak memiliki rasa sadar diri? ”, batin Aidan.
“ Memangnya kalau aku mengubah nama panggilan padamu, apa untungnya untukku? ” tanya Aidan.
“ Tidak ada tapi kalau kamu butuh bantuanku aku bersedia kapanpun ”
“ Aku tidak butuh bantuan darimu ”
“ Aidan aku mohon aku akan lakukan apa pun ”
“ Apa pun? Baiklah saatnya membalas wanita ini ”
“ Benar kau mau melakukan apa pun? ”
“ Iya aku janji kalau gak percaya aku bersumpah ”
“ Baiklah kalau kau bisa membujuk Daddy untuk membuka kembali kamar gameku baru aku ubah nama panggilan untukmu ” ucap Aidan bersemangat.
“ Ka-kamar game? ”
“ Bukannya itu ruangan peralatan game Aidan yang kata Vera tidak diizinkan oleh Mas Zein untuk dibuka lagi ”
“ Bagaimana mau tidak? ”
“ Ta-tapi Aidan sepertinya aku tidak bisa melakukan hal itu, yang lain saja ya ”
“ Tidak mau apa peduli ku aku akan tetap panggil Nona A, itu sesuai untukmu ”
“ Dasar bocah kekanak-kanakan! Aku juga yang bodoh entah kenapa mau di panggil begitu memangnya aku robotnya di panggil Nona A begitu ”
“ Aidan coba pikirkan yang lain, mungkin aku bisa melakukan kalau yang lain ” bujuk Adira lagi.
“ Ya sudah kau juga tidak rugi kalau dipanggil Nona A, benarkan Nona A? ”
“ Masalahnya...
“ Tidak mungkin juga aku bilang Mas Zein yang marah, malah tambah rumit nanti ”
“ Seharusnya itu tidak masalah kau kan wanita-wanita kesayangan Daddyku, permintaan mu pasti dituruti benarkan ” balas Aidan penuh penekanan.
“ Bu-bukan begitu ” jawab Adira gugup.
“ Dengar ya kalau kau ingin mengajak kerja sama, harusnya pikirkan untung rugi yang didapatkan masing-masing pihak. Aku tidak mau hanya kau yang untung ” ucap Aidan kemudian berlalu.
“ Bagaimana aku bisa meminta Mas Zein mengubah aturan yang dia buat, bisa-bisa aku yang mati nanti ” gerutu Adira.
~ ~ ~
“ Hei kau bicara apa dengan Nona A? ” tanya Nadia penuh selidik pada Aidan.
“ Kau?! Kamu panggil aku kau kalau Daddy dengar baru kamu tahu akibatnya, jaga kesopanan mu aku ini masih lebih tua darimu ” jawab Aidan dengan tegas.
“ Iya maaf kamu hanya lahir 30 menit lebih awal dariku, apa yang Nona A bicarakan denganmu? ” tanya Nadia kembali.
“ Dia memohon agar nama panggilannya diubah ”
“ Apa? Nama panggilan, bukannya dia yang mau dipanggil begitu ”
“ Sepertinya Daddy marah dia mau dipanggil Nona A, makanya aku bilang padamu bersikaplah sopan padanya di depan Daddy ”
“ Kamu mau aku memanggilnya apa?! ” kesal Nadia.
“ Panggil saja Nona A, aku baru buat kesepakatan dengannya tadi kalau dia bisa meminta izin Daddy untuk membuka kembali kamar game ”
“ Kamar game? Kesepakatan bodoh apa itu bikin kesal saja ”
“ Pikirkan saja Daddy yang membuat aturan kamar game tidak boleh dibuka lagi, agar aku tidak lupa waktu. Tidak mungkin dia bisa membujuk Daddy yang keras kepala. Karena pasti tidak akan berhasil berarti nama panggilannya tidak usah diubah ” Aidan menjelaskan dengan antusias.
“ Kalau dia berhasil kamu yang akan diuntungkan karena kamar game dibuka, yang dirugikan kami yang harus memanggilnya Ibu nanti. Dasar egois!! ” rutuk Nadia meninggalkan Aidan dengan kesal.
“ Harusnya dia tenang saja, tidak mungkin Daddy mau membuka kamar game lagi ” guman Aidan dengan percaya diri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 143 Episodes
Comments
Nianandra Amelia Putri
aku mampir thor kayaknya seru
2023-09-05
0
Nasya Lau
kalo Zein 43, anak sulungnya Zein Noah 25, berarti Zein menikah di usia 17 Thor, secara 43-26 (hamil 9bln hitung aja 1thn) berarti 17 tahun, masih SMA, beda umur Zein dan Adira 25 tahun ya ???
2023-05-10
0
Raden Ajeng Safitri
kalau Adira 18 th kan perbedaan usianya 25 th,,iya apa iya thor
2023-04-08
1