“ Mama...mama...”
“ Mama...” Lily memanggil lirih begitu dia sadar dan yang dilihatnya untuk pertama kali bukan Adira.
“ Nona Lily apa masih merasa sakit? ” tanya dokter itu kepada Lily.
“ Mama..aku mau Mama ” ucap Lily lagi. Dokter itu segera pergi untuk memberitahu Zein.
“ Permisi Tuan ” ucap dokter itu sopan sembari mengetuk pintu ruang kerja Zein, sebelumnya Zein sudah memberikan perintah untuk segera menemuinya di sana jika ada yang ingin dilaporkan mengenai keadaan Lily.
“ Masuklah ” sahut Zein dari dalam.
“ Tuan Nona Lily sudah sadar ” lapor dokter itu, Zein segera meletakkan berkas yang ada di tangannya dan berjalan cepat menuju kamar Lily.
“ Sayang putri kecil Daddy, kenapa menangis? ” risau Zein melihat air mata yang menggenang di pelupuk mata Lily.
“ Daddy...Lily mau Mama, Lily gak mau Mama pergi Daddy..mau sama Mama ” pinta Lily lagi diiringi isakan kecil.
“ Siapa bilang Mama pergi, Lily tunggu sebentar Daddy akan bawa Mama ke sini ” ucap Zein menenangkan Lily.
“ Segera panggil Adira ke sini ” perintah Zein kepada sekretarisnya yang berada di depan pintu kamar.
“ Baik Tuan ” jawab sekretaris itu dan berlalu pergi secepatnya.
“ Nyonya Tuan memberi perintah agar Anda segera pergi ke kamar Nona Lily ” beritahu sekretaris itu dimana kebetulan saat itu Adira sedang berada di taman belakang rumah.
Tanpa menjawab Adira segera berlari cepat menuju kamar Lily, karena ini yang dia tunggu-tunggu sejak tadi, dia tidak sabar untuk melihat sendiri keadaan Lily.
“ Lily! ” panggil Adira begitu dia membuka pintu kamar masih dengan napas yang naik turun akibat berlari tadi.
“ Masuklah Lily mencarimu ” ucap Zein, Adira segera menghampiri Lily dan duduk di pinggiran ranjang.
“ Mama..Lily sakit ” keluh Lily dengan manjanya.
“ Bagian mana yang sakit? Kasih tahu Mama ”
“ kaki sama tangan Lily sakit ” Lily mencoba mengangkat tangannya yang kena infus untuk menunjukkan pada Adira bahwa dia sakit.
Adira meraih tangan Lily lembut, mengusap pelan kemudian meniup-niup tangan gadis kecil itu.
“ Lily sabar ya sayang sebentar lagi pasti sakitnya hilang ” Adira berusaha menenangkan Lily.
Lily mengangguk pelan nampaknya dia lebih tenang saat Adira sudah ada di sampingnya, Adira tak henti-hentinya mengecupi kening Lily seolah-olah sangat merindukan anak itu. Berulang kali juga meniupi tangan Lily berharap tindakannya dapat mengurangi rasa sakit anak itu.
Zein memperhatikan dengan seksama interaksi antara dua orang itu, Lily tidak pernah mengeluh sakit di depannya padahal dia adalah ayah Lily. Tapi di depan Adira dengan sangat polos Lily memberitahu Adira bahwa dia merasa sakit dan mengeluh jika dia tidak nyaman.
Lily yang selama ini menolak dekat dengan siapa pun termasuk setelah sekian banyak pengasuhnya selama ini, tapi menjadi sangat dekat dengan Adira hanya dalam waktu sesingkat itu.
“ Lily jangan nangis lagi ya, biar Lily cepat sembuh ” ucap Zein kemudian mengecup kening putrinya itu.
Dia melirik sebentar ke arah Adira yang sedikit pun tatapannya tidak berpaling dari Lily.
“ Mama Lily mau di peluk ”
“ Mama takut nanti Lily tambah sakit kalau Mama peluk ” tolak Adira karena khawatir.
“ Lily kedinginan, Ma. Di peluk Mama rasanya hangat ”
Mendengar ucapan Lily, Adira akhirnya mendekap lembut tubuh Lily berusaha untuk tidak mengenai tangan Lily yang sedang di infus.
“ Kenapa dia merasa kedinginan? Kau bilang keadaannya sudah membaik ” protes Zein kepada dokter yang tadi melaporkan keadaan Lily padanya.
“ Sudah Tuan, kondisi Nona Lily sudah cukup membaik ” jawab dokter itu.
“ Kau dengarkan sendirikan dia mengeluh kedinginan ” Zein tetap tidak merasa tenang, dia takut dokter itu melewatkan sesuatu saat memeriksa Lily.
“ Jika Nona Lily merasa kedinginan harusnya dia menggigil Tuan, tapi Tuan bisa melihat sendiri tubuh Nona Lily tidak menunjukkan gejala kedinginan ”
Zein memperhatikan kembali keadaan Lily anak kecil itu tersenyum senang dalam dekapan Adira.
“ Ada kemungkinan Nona Lily merindukan Nyonya Adira dan ingin bermanja-manja dengan Ibunya seperti anak-anak pada umumnya Tuan ” jelas dokter itu.
Akhirnya Zein dapat menghela napasnya lega.
“ Ya sudah kalau begitu kalian bisa pergi dari sini ” perintah Zein, kemudian dokter itu dan rekannya yang lain meninggalkan kamar itu.
“ Kamu bisa di sini menjaga Lily ” ucap Zein pada Adira.
“ Mas malam ini apa boleh aku tidur di kamar Lily, aku mau menjaganya ” pinta Adira.
“ Baiklah tapi jika keadaan Lily membaik kau harus kembali tidur di kamar ”
“ Iya Mas ” jawab Adira cepat.
~ ~ ~
Sepanjang berada di ruang kerjanya pikiran Zein rasanya terbagi-bagi, dia sedikit khawatir dengan kedekatan Adira dengan Lily. Bagaimana nanti jika Lily terlalu dekat dengan Adira sampai dia tidak bisa berpisah dengan wanita itu. Sementara Adira berada di rumah ini hanya untuk enam bulan dan itu telah disepakati.
Tapi untuk menjauhkan Lily dengan Adira, Zein juga tidak tega. Lily nampak sangat menyayangi Adira.
“ Daddy ini aku Nadia, apa aku boleh masuk? ” ucap Nadia membuyarkan lamunan Zein.
“ Hmm...” jawab Zein berdehem.
“ Daddy aku dengar Lily sakit, Lily sakit apa Dad? ” tanya Nadia cepat.
“ Dokter bilang imun tubuhnya menurun drastis akibat kelelahan, sekarang sudah tidak ada yang perlu dikhawatirkan ”
“ Aku dan Aidan mau melihat kondisi Lily ” putus Nadia begitu mendengar penjelasan Daddynya.
“ Sebaiknya kalian masuk setelah membersihkan diri itu untuk kebaikan Lily juga ”
“ Iya Dad ”
“ Dan Nadia, Daddy memang sudah memberikan izin untuk ikut musikal tapi bukan berarti kamu bisa bebas meminta Adira untuk menandatangani surat izin itu tanpa memberitahu Daddy terlebih dahulu ”
“ Hmm..maafin Nadia, Daddy. Aku lupa memberikan suratnya pada Daddy ”
Nadia akhirnya keluar dari ruang kerja Zein.
“ Daddy bilang apa? ” tanya Aidan pelan dengan penasaran.
“ Kalau mau bertemu Lily kita harus mandi dulu, aku takut Daddy marah padaku tadi. Habisnya sudah ku bilang kamu saja yang bicara pada Daddy ” sungut Nadia pada kembarannya itu.
“ Aku juga takut kena marah, karena minta Adira buat buka kamar game ”
“ Makanya jangan suka bikin masalah, udah aku mau mandi baru lihat Lily ” Nadia berlalu pergi.
“ Aku juga mau mandi tau ” balas Aidan segera berlari menuju kamarnya.
~ ~ ~
“ Bagaimana bisa Nona A tidur bersama Lily? ” tanya Aidan berbisik pada Nadia, karena saat mereka masuk ke kamar Lily mereka di suguhkan pemandangan Adira yang tertidur sambil memeluk Lily yang juga terlelap.
“ Bisa saja karena dia di suruh Daddy menjaga Lily ”
“ Tapi tidak tidur bersama juga, bisa saja nanti Lily malah tertindih. Kita bangun saja dia ”
“ Tunggu ” Nadia menahan Aidan yang ingin membangunkan Adira.
“ Kenapa? ”
“ Biarkan saja, sepertinya Lily juga tidur nyenyak. Tidak mungkin juga dia akan menindih Lily tanpa sadarkan ” jelas Nadia.
“ Ahh...apa-apaan sih, malah bela si Nona A, kamu gak takut Lily kenapa-kenapa ” rutuk Aidan tanpa sadar dengan suara keras.
Adira menggeliat mendengar suara kuat yang tiba-tiba itu.
“ Aku ketiduran...kalian sudah lama masuk? ” tanya Adira dengan suara parau khas bangun tidur.
“ Kamu sebenarnya menjaga Lily atau bukan, kalau mau tidur sebaiknya kembali sana ke kamarmu ” sindir Aidan lagi.
“ Aidan tahan dirimu bisa-bisa Lily bangun nanti ” tegur Nadia.
“ Bagaimana kondisi Lily? ” lanjut Nadia bertanya pada Adira.
“ Suhu tubuhnya sudah kembali normal, dokter bilang dia akan segera sembuh hanya perlu istirahat yang cukup saja ” beritahu Adira.
“ Nona A kalau kau memang mengantuk kembalilah ke kamarmu, biar aku yang menjaga Lily ”
“ Bukan begitu Nadia aku hanya ketiduran saja tadi sekarang aku tidak mengantuk lagi, lagian Mas Zein juga sudah mengizinkan aku untuk tidur di kamar Lily sampai dia sembuh ”
“ Ya sudah terserahmu saja ” jawab Nadia dingin dan tidak berlebih seperti biasanya dirinya.
“ Kasihan Lily masih kecil tapi harus merasakan di tusuk jarum seperti ini ” ucap Aidan mengenggam tangan Lily yang di infus.
“ Mengenai hal itu dokter bilang Lily sakit akibat kelelahan, kalian bisa minta pada Mas Zein untuk mengurangi jam les Lily? ” tanya Adira antusias.
“ Apa?! ” lonjak si kembar secara bersamaan.
Happy Reading 😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 143 Episodes
Comments
fifid dwi ariani
trusberusaha
2023-02-19
1
Yand YheAnd
knp ga manggil papa, bkn mas Zein saat ngobrol dgn si kembar? kan aneh
2023-02-05
1
Mayyuzira
lanjut thor
2022-12-08
1