Merasakan besitan cambukan yang terus menyusul setelahnya. Adira dengan lemah melirik Zein. Wajah penuh amarah yang sangat menyeramkan.
“ Apa aku benar-benar menikahi seorang iblis? ”, batin Adira.
Ada perasaan takut yang menjalar membuat Adira seakan menyadari bahwa terdapat sisi yang sangat menyeramkan dan berbahaya dari Zein.
Tubuh Adira benar-benar tersungkur di lantai ketika akhirnya Zein berhenti melayangkan cambuk itu dan menarik tangannya, tanpa peduli tubuh Adira yang rasanya remuk.
“ Bagaimana rasanya? Kau puas! ” suara Zein yang mencekam membuat Adira hanya diam dengan tubuh bergetar hebat, dia benar-benar merasa terguncang.
Suara ketukan pintu terdengar dan Zein memberi perintah agar orang yang mengetuk itu segera masuk.
Kepala pelayan Vera masuk dengan membawa nampan besar berisi es yang telah dihancurkan dengan bentuk yang tidak beraturan.
Adira mengangkat kepalanya melihat jelas wajah sumringah Vera melihat keadaan Adira. Rasa kecewa dan malu menyelimuti melebihi rasa sakit lukanya.
Apa yang akan dipikirkan oleh wanita itu? Bagaimana aku bisa bertemu dengannya nanti? Apa aku akan jadi orang yang tidak punya harga diri sama sekali?
Pertanyaan itu menyiksa hati Adira.
“ Keluarlah! ” perintah Zein tegas, dan secepatnya Vera meninggalkan kamar majikannya itu.
Zein menarik kuat tangan Adira memaksa dia untuk berdiri di nampan yang dipenuhi es itu.
“ Jangan pernah beranjak dari sini sebelum aku mengizinkan kau pergi ” Zein meninggalkan Adira sendiri di kamar itu.
Pandangan Adira tertuju kepada kepergian suaminya itu.
“ Sedikit pun Mas Zein tidak memikirkan harga diriku, mengapa dia harus mengizinkan orang lain melihat aku dalam keadaan seburuk ini? Sedikit saja apa dia tidak memiliki rasa kasihan? ”
Adira berdiri di atas es yang semakin lama membuat kakinya membeku, es yang meleleh itu membentuk permukaan yang tajam hingga kakinya tertusuk dan dipenuhi luka.
Kalau disebut siksaan ini tentu cukup kejam, kaki membeku walaupun tidak terasa sakit tapi kaki Adira sudah dipenuhi luka tusuk pecahan es itu.
Berpegang kepada sisi sebuah meja untuk menopang tubuhnya Adira terus berdiri diam di sana sendiri tanpa suara.
~`•~`•~`•~`•~`•~`•~`•~`•
Pagi harinya Zein memasuki kamar itu, dia melihat Adira masih berdiri di atas nampan itu. Es yang tadinya memenuhi nampan mencair dan dipenuhi air bercampur darah.
Adira sebenarnya sudah menyadari kehadiran Zein, tapi dia tidak mampu untuk memandang ke arah pria itu.
“ Lihat aku..jangan pernah mengulangi kesalahan ini lagi atau aku akan menghabisimu saat itu juga ” ucap Zein meraih dagu Adira.
“ Hukumanmu berakhir sampai di sini ” lanjut Zein terdengar santai.
Adira melangkahkan kakinya keluar dari nampan itu, rasa perih segera menyerbunya. Dia berjalan terseok-seok di tambah luka di seluruh punggungnya juga seakan melengkapi penderitaan itu.
“ Mama! Mama! ” terdengar suara Lily memanggil Adira.
“ Ja-jangan biarkan Lily menemuiku Mas ” ucap Adira.
Mempercepat langkahnya Adira segera masuk ke kamar mandi untuk bersembunyi dari Lily.
“ Gak...aku gak mau Lily melihatku seperti ini, aku harus bilang apa pada anak itu nanti ”, batin Adira.
Zein membukakan pintu itu dan dapat melihat ekspresi tak sabaran dari putri kecilnya itu.
“ Daddy, Mama dimana? Aku mau diantar sama Mama ke sekolah ” ungkap Lily.
“ Lily akan diantarkan Pak supir karena Mama Adira gak bisa ”
“ Kenapa Dad? ” rengek Lily.
“ Mama Adira ada pekerjaan penting jadi Lily harus nurut dan mau diantar Pak supir ”
“ Ya sudah..Lily akan pamitan sama Mama sjaa kalau begitu ”
“ Gak Lily langsung pergi saja, nanti Daddy yang bilang sama Mama kalau Lily sudah pergi sekolah ” Zein mengajak Lily keluar dari kamar itu.
Adira menutupi mulutnya agar suara tangisannya tidak terdengar, entah mengapa mendengar Lily mencarinya saat dia tidak ada di sana. Membuat Adira tidak mampu menahan tangisannya.
“ Maafin Mama....hiks..hiks..Mama gak mau Lily jadi sedih karena Mama..hiks..hiks ” isak Adira.
Aidan berdiri diam di depan pintu kamar Daddy nya, dia sangat ingin masuk dan melihat keadaan Adira. Tapi dia juga tidak punya keberanian kalau Daddynya berada di sana pasti dia akan kena marah.
“ Kenapa kamu berdiri di sini? Tidak mau pergi sekolah ” tegur Nadia.
“ Aku mau tahu apa Nona A baik-baik saja ”
Nadia berdecik mendengar ucapan Aidan.
“ Pastinya dia masih hidup, gak mungkin juga Daddy sampai membunuhnya kan ” ucap Adira tergelak lalu melengos pergi dari sana.
“ Kau bicara apa sih?! ” rutuk Aidan tapi tak dihiraukan Nadia.
“ Semoga Nona A baik-baik saja ” guman Aidan lalu dia pergi sebelum Daddynya memergoki dia berada di sana.
~•`~•`~•`~•`~•`~•`
Tiga hari berlalu sejak kejadian itu, Adira sama sekali tidak pernah keluar dari kamar itu. Menurut yang dia tahu Zein pergi untuk perjalanan bisnis selama mungkin seminggu.
Lily sering kali menangis meminta untuk bertemu dengan Adira, tapi Adira sudah memerintah pelayan untuk tidak membiarkan Lily bertemu dengannya.
Aidan juga di serbu rasa bersalah, dia ingin tahu apa alasan Adira terus berada di kamar selama tiga hari, dan separah apa hukuman yang diberikan Daddynya.
Tapi pagi ini Adira merasa keadaannya sudah lebih baik, sehingga dia memutuskan untuk keluar kamar.
“ Nona A! ” seru Aidan begitu melihat Adira keluar dari kamar.
“ Nona A...maaf ” ungkap Aidan, dia sekarang tahu Daddynya pasti menghukum Adira dengan sangat berat melihat kedua kaki Adira yang masih di perban dan wajahnya yang pucat.
“ Lily ada dimana? Aku akan pergi menemui dia ” Adira segera mengalihkan topik tahu arah pembicaraan Aidan.
“ Lily ada di taman, pelayan mengajaknya ke sana karena terus menangis dari tadi ” jawab Aidan.
Setelah mendengar itu Adira segera melanjutkan langkahnya.
“ Bagaimana bisa dia masih mempedulikan Lily? Sedangkan keadaannya saja masih belum membaik ” Aidan benar-benar tak bisa menebak arah pikiran Adira.
“ Lily ” panggil Adira pelan melihat Lily yang berdiam diri di bangku taman dan menghampiri Lily.
Lily nampak terkejut dan wajahnya segera ceria begitu melihat Adira. Tapi sepertinya dia tidak ingin hal itu berlalu semudah itu dengan cepat dia mengubah ekspresi dan berpura-pura marah.
“ Maaf ya Mama ada pekerjaan beberapa hari ini, sampai Mama gak bisa bertemu sama Lily ” ucap Adira lagi karena Lily tak menjawabnya.
“ Mama sama saja seperti Daddy, lebih suka pekerjaannya dari pada Lily. Ya sudah Mama bekerja saja ” keluh Lily.
Adira memaksakan diri untuk tetap tersenyum.
“ Lily benar ternyata Mama sama saja...harusnya Mama gak berjanji seperti itu kalau akhirnya akan diingkari. Mama ini memang orang jahat yang pantas dihukum ” tukas Adira sembari memukul kepalanya seakan dirinya telah berbuat salah.
“ Mama!! ” rutuk Lily tak senang Adira melakukan hal itu.
“ Biar pun Mama jahat aku gak mau Mama dihukum ” ungkap Lily.
“ Benarkah..memang Lily anak yang baik sekali ” puji Adira.
“ Mama...kalau Mama sibuk, tapi apa tidak bisa menemui aku sebentar saja. Aku merindukan Mama, aku takut Mama pergi ” Lily mengucapkan hal itu sembari memeluk Adira erat.
Adira meringis karena pelukan Lily membuat luka di punggungnya yang masih belum sembuh total terasa sakit.
“ Mama kenapa? ” tanya Lily khawatir.
Happy Reading😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 143 Episodes
Comments
Nartye Sikki Siradjang
sumpah ...nemu cerita sbegini menariknya ..,d bab in aku nangis thoor..😥😢😢😢
2023-03-21
3
Yanti dian Nurhasyanti
😭😭😭😭😭
2023-03-07
1
fifid dwi ariani
trus sukses
2023-02-20
1