“ Mengenai hal itu dokter bilang Lily sakit akibat kelelahan, kalian bisa minta pada Mas Zein untuk mengurangi jam les Lily? ” tanya Adira antusias.
“ Apa?! ” lonjak si kembar secara bersamaan.
“ Nona A jangan gila Daddy paling sensitif masalah belajar, kamu pikir kami mau mengambil resiko sebesar itu bisa-bisa kami yang dihukum ” tolak Aidan cepat.
“ Benar juga..harusnya kalian beritahu sejak awal jadi aku tidak perlu kena marah Mas Zein. Sedangkan mereka berdua saja takut untuk meminta hal itu ”, batin Adira.
“ Ya sudahlah kalau begitu apa boleh buat aku juga sudah pernah minta pada Mas Zein, tapi ya akhirnya malah kena marah ”
“ Tentu saja Daddy marah, ini masalah kedisiplinan seseorang harus belajar dengan giat agar sukses. Bukan berarti masa depan kami nanti akan mulus-mulus saja makanya kami harus belajar yang rajin ” jelas Nadia.
“ Itu benar...cuma Lily masih kecil terlalu memaksakan hal itu pada anak sekecil ini juga tidak baik, lihat akibatnya dia jatuh sakit ”
“ Daddy bukan orang yang mudah, dia sangat displin dan setiap perkataannya sulit untuk dibantah. Tapi jangan menganggap Daddy tidak menyayangi Lily karena bisa saja Nona A berpikiran sempit ” cerocos Aidan.
“ Aku tidak berpikir seperti itu, suka sekali ya mencari perkara kepadaku. Padahal maksudku kan baik ” balas Adira.
“ Berhenti kalian berdua nanti Lily bangun, Nona A kalau kamu memang akan tidur di sini perhatikan Lily dengan baik. Aidan ayo kembali ke kamar biar Lily istirahat dengan tenang ” lerai Nadia.
“ Iya iya ” sahut Aidan.
“ Jangan tertidur terus dong ” ledek Aidan lagi pada Adira sebelum akhirnya mereka berdua keluar dari kamar itu.
“ Aku tidur bukan berarti tidak menjaga Lily, memang ya dia itu suka sekali bikin kesal. Gak ada beda memang Ayah sama anak sama saja ” gerutu Adira berbicara sendiri.
Malam semakin larut, Adira tertidur pulas di samping Lily begitu juga anak itu. Perlahan pintu kamar terbuka dan menampakkan sosok Zein samar karena kondisi kamar yang hanya di terangi lampu tidur.
Dia datang untuk mencek kondisi Lily, melihat Lily dapat tidur dengan nyenyak membuatnya merasa senang. Karena sejak kecelakaan itu terjadi Lily mengalami gangguan tidur yang membuatnya kadang berteriak dalam tidurnya. Starla ibu kandung Lily mengalami kecelakaan saat dia dan Lily dalam perjalanan kembali ke rumah dari rumah orang tua Starla, dan naasnya kecelakaan itu menewaskan Starla dan menyebabkan trauma pada Lily.
Zein mencoba membenarkan posisi selimut Lily, tapi karena ada Adira di sebelahnya dengan terpaksa Zein juga menarik selimut untuk wanita itu.
“ Sepertinya dia gadis yang bertanggung jawab atas perkataannya. Dia benar-benar menjaga Lily. Aku hanya takut rasa tanggung jawabnya yang salah di artikan Lily sebagai rasa sayang ” guman Zein, lalu setelah beberapa saat dia meninggalkan kamar itu.
Zein juga merasakan betapa hari demi hari sejak kematian Starla tidak ada lagi tawa hangat di rumah ini. Bukan hanya anak-anaknya yang terus berkabung, namun Zein sendiri masih belum bisa merelakan kepergian yang tiba-tiba dari wanita yang sangat dicintainya itu.
Rasa duka yang membuat Zein bahkan tidak bisa bicara pada anak-anaknya untuk sekadar memberi harapan dan semangat baru, karena dia sendiri merasa tidak sanggup. Menutup diri dan percaya waktu akan memulihkan keadaan dan mengurangi duka mereka tetapi semua itu malah lebih memperburuk dan membuat keluarga mereka terbiasa saling menutup diri.
~ ~ ~
Adira terbangun tepat pukul 5 pagi dengan cepat dia bersiap mulai dari membersihkan dirinya terlebih dahulu agar dia dapat mengurus Lily dengan baik hari itu juga.
Pukul 7 pagi Lily sudah bangun, Adira membantu Lily sekadar membasuh wajah dan bagian tubuh lainnya karena dokter belum mengizinkan untuk mandi. Tak lama sarapan untuk Lily diantarkan oleh kepala pelayan Vera.
“ Berikan padaku biar aku yang menyuapi Lily ” Adira menerima mangkuk bubur itu dari Vera.
“ Lily makan dulu ya, Nak ”
Lily menjawab dengan anggukan kecil hari ini wajahnya sudah sedikit lebih cerah daripada kemarin.
Selama menyuapi Lily, Adira menyadari Vera masih berada di kamar itu.
“ Vera kau bisa pergi, aku akan panggil kembali nanti setelah Lily selesai makan ” ucap Adira karena merasa seperti di awasi Vera.
“ Tidak masalah Nona saya akan menunggu di sini saja ” jawab Vera.
Adira menoleh menghadap kepala pelayan itu.
“ Dokter bilang lebih baik jika di kamar ini tidak terlalu banyak orang, takutnya imun Lily menurun lagi. Hanya orang-orang terdekat saja yang diizinkan, makanya aku bilang kau untuk keluar ”
“ Tapi saya juga sangat dekat dengan Nona Lily ” bantah Vera lagi.
Adira merasa ada perlawanan dan sindiran dalam jawaban Vera kali ini, dia seolah mempertegas bahwa dia bahkan lebih dekat pada Lily daripada Adira.
“ Perkataanku perintah Vera, bukan sesuatu yang berhak untuk kau perdebatkan ” tegas Adira, nampak jelas perubahan ekspresi wajah Vera yang nampak terkejut dan kekesalan.
“ Maaf baik Nyonya saya akan pergi ” Vera segera melangkah keluar dari kamar itu.
Adira kembali fokus menyuapi Lily, sembari terus memikirkan perasaan janggal yang dirasakannya melihat tingkah dan perilaku Vera.
Sebelum akan membawa Lily ke rumah sakit, Adira jelas sekali meminta bantuan Vera, tapi tidak sedikit pun Vera memberitahu bahwa Lily tidak boleh di bawah ke rumah sakit umum. Karena Zein ingin keluarganya tetap dalam privasinya.
Tak hanya itu sering kali juga Adira mendapati Vera yang memberikan perintah kepada pelayan di rumah ini seolah dia adalah Nyonya rumah. Perintah-perintah yang melebihi tugasnya sebagai kepala pelayan bahkan dia terkadang bersikap memberi batasan tertentu pada Adira.
Bukan berarti Adira akan selalu membiarkan perlawanan Vera, karena dia juga harus menjaga kredibilitasnya sebagai istri Zein, Nyonya sebenarnya di rumah ini.
Lily menghabiskan makanannya dengan baik, dan juga meminum obatnya tanpa protes sama sekali. Adira merasa Lily adalah anak yang sangat penurut.
“ Sekarang badan Lily masih sakit? ” tanya Adira untuk memastikan kondisi Lily dan bisa melaporkan kepada dokter jika ada yang mengkhawatirkan.
“ Kalau Lily sudah sembuh Mama gak tidur sama Lily lagi ya? ” Lily malah balik bertanya.
Adira mengernyitkan dahinya mendengar pertanyaan itu.
“ Hmm...Daddy Lily bilang Mama bisa tidur sama Lily sampai Lily benar-benar sehat ” jawab Adira sambil tersenyum kecil.
“ Lily masih sakit Mama, jadi tetaplah tidur di kamar Lily ”
“ Bagian mana yang sakit? ”
Lily lama terdiam sebelum menjawab bahwa seluruh badannya terasa sakit. Adira bisa membaca ekspresi anak itu. Nampaknya dia tidak merasa sakit lagi hanya saja ingin Adira selalu berada di sampingnya.
“ Baiklah, nanti kalau Pak dokternya datang Lily diobati lagi ya. Tapi..biar pun Lily sudah sembuh Mama tetap di sini menjaga Lily dan Mama akan lebih senang kalau kita bermain bersama saat Lily sudah sehat. Jadi cepat sembuh ” balas Adira mencoba menyakin Lily agar jangan takut dia akan kesepian dan Adira akan mengabaikannya jika dia tidak sakit lagi.
“ Lily harus makan yang banyak dan makan obat dengan baik. Agar cepat sehat, nanti saat Lily sembuh Daddy akan bawa Lily jalan-jalan ” Zein mengucapkan kata-kata itu sambil berjalan masuk ke kamar itu dan mengecup pelan dahi Lily.
Adira sedikit terkejut dengan kedatangan Zein yang tanpa pemberitahuan.
Lily tersenyum bahagia mendengar perkataan Daddynya.
“ Kita akan ajak Mama kan Daddy? ” tanya Lily antusias.
Happy Reading😘
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 143 Episodes
Comments
Yanti dian Nurhasyanti
lili bakalan jadi jembatan buat zein dan adira bersatu🤗😍😍
2023-03-07
2
fifid dwi ariani
trus berkarya
2023-02-19
1
Ta..h
si vera macam2 tuh
2023-01-29
1