Meraih Cinta CEO Dingin
"Selamat pagi, tuan." Noah membuka pintu mobil bagian penumpang.
Harvin mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Waktu menunjukkan pukul lima dini hari. Menurut informasi yang dia terima dari seorang informan, Claudia telah kembali dari persembunyiannya selama tiga tahun terakhir.
Harvin tidak sabar untuk melihat kekasih hatinya meski dari kejauhan. Tiga tahun bukanlah waktu yang pendek. Rindu yang dipendam olehnya tidak sabar untuk menyeruak keluar.
Mobil Mercedes-Benz EQS perlahan keluar dari halaman mansion Harvin. Kendaraan di jalan raya masih lengang. Perjalanan ke mansion Claudia hanya memakan waktu sekitar dua puluh menit.
Selama perjalanan Harvin hanya menatap keluar jendela mobil. Pikirannya menerawang jauh. Bayangan wajah Claudia menghantui pikirannya. Tanpa dia sadari, mobil yang dikendarai Noah sudah berhenti dan menepi di pinggir jalan.
"Tuan." Noah memberikan binokular kepada Harvin. Posisi mobil Harvin sangat jauh dari mansion Claudia. Dia membutuhkan alat agar bisa melihat isi dalam mansion.
Sejak tiba di dekat mansion Claudia, Harvin tidak pernah menurunkan binokular. Alat itu sudah seperti tambahan mata Harvin. Sudah hampir satu jam, tidak ada tanda-tanda Claudia. Harvin masih setia menunggu di sana. Dia mengelilingi isi mansion Claudia dengan binokular tercanggih yang didapatnya dari sahabat baiknya.
Sesekali Noah melirik dari balik spion depan mobil. Terkadang dia merasa sangat kasihan dengan masalah percintaan tuannya itu. Akan tetapi, dia tidak bisa ikut campur jika tidak dimintai pendapat oleh tuannya. Ponsel di saku jas Noah bergetar. Dia segera meraih ponsel itu dan menjawabnya setelah melihat nama Suzie yang tertera di layar ponsel.
"Ya." Noah menjawab singkat.
"Tuan Noah, maaf mengganggu waktu sarapan anda. Aku hanya ingin mengingatkan perihal meeting jam sembilan nanti."
"Baik. Terima kasih." Balas Noah sambil menutup ponsel dan menaruhnya kembali ke saku jas.
"Ish, tidak CEO, tidak asistennya. Keduanya sama-sama dingin." Suzie menggerutu setelah panggilannya ditutup secara sepihak oleh si asisten CEO. Wanita muda itu langsung meninggalkan ruangan dan menuju ke pantry.
Di sisi lain, Noah berusaha mencari cara untuk menyampaikan informasi yang baru saja diterimanya. Noah tahu hari ini ada rapat penting. Namun, tuannya bersikeras untuk ke mansion Claudia pagi-pagi buta.
"Kembali ke perusahaan!" Perintah Harvin.
Noah merasa sangat lega dan senang mendengar perintah tuannya. Dia tidak perlu bersusah payah mencari cara untuk menyampaikan informasi tadi.
Noah menyalakan mesin mobil. Dia melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Sesekali dia mengintip dari balik kaca spion depan. Wajah tuannya terlihat lebih kaku dan dingin. Noah tahu pasti suasana hati tuannya sedang tidak baik.
"Maaf tuan. Jam sembilan nanti kita ada meeting di perusahaan." Akhirnya Noah memberanikan diri berbicara. Beberapa menit berlalu, tidak ada jawaban dari tuannya. Noah hanya bisa kembali diam.
"Cari cafe atau apapun itu untuk sarapan!" Harvin memberi perintah pada Noah agar mencari tempat untuk sarapan. Dia terlalu bersemangat pagi ini, hingga melewatkan sarapan pagi. Padahal bisa saja dia menyuruh koki di mansionnya untuk menyiapkan sarapan pagi lebih awal dari biasanya.
Jika saja tidak ada meeting pagi ini, Harvin pasti akan melewatkan sarapan pagi. Dia bisa me-rapel jadwal makannya siang nanti. Dia juga tidak mau sarapan di ruang kerjanya. Bukannya dia tidak mau membaur dengan para karyawan. Harvin hanya ingin meminimalkan kehebohan karyawan wanita. Dia juga tidak pernah mengijinkan orang lain memasuki ruang kerjanya.
Noah mengurangi kecepatan mobil yang dikendarainya. Dia melihat ke kanan dan ke kiri. Mencari tempat yang cocok untuk tuannya. Lagipula pagi-pagi begini banyak cafe dan resto yang masih tutup. Kecuali, pedagang sarapan pagi kaki lima.
Setelah beberapa menit mencari cafe atau resto. Akhirnya, Noah melihat sebuah cafe yang cukup ramai pengunjung. Dia segera memasukkan mobil ke halaman parkir. Setelah mesin mobil mati. Noah segera turun dan membukakan pintu mobil untuk tuannya.
Harvin keluar dari mobil dan berdiri. Dia melihat ke sekeliling cafe. Tempat yang cukup bagus untuk sarapan.
"Indoor atau outdoor, tuan?" Noah menanyakan di mana tuannya akan duduk.
"Indoor." Jawab Harvin singkat. Harvin langsung melangkahkan kaki menuju pintu masuk dan diikuti oleh Noah. Dua pria tampan berjalan memasuki cafe. Kaum hawa yang berada di sana sampai salah tingkah melihat kedua pria itu.
"Ka, Anka." Damar membangunkan Anka yang tertidur di ruangan karyawan cafe. "ANKA!" Kali ini Damar berteriak kencang. Teriakan Damar berhasil membangunkan gadis cantik itu.
"Apaan sih, Mar!" Anka mengusap wajahnya dengan tangan.
"DAMAR. D-A-M-A-R, Anka!" Damar selalu marah jika Anka memanggilnya dengan tiga huruf terakhir dari namanya. Terkesan seperti nama seorang wanita.
Anka kembali meletakkan kedua tangannya di atas meja untuk dijadikan alas kepalanya. Sebelum Anka berhasil memuluskan rencananya, Damar langsung menarik lengan kiri Anka hingga dia berdiri tegak.
"Kerja, Anka! Gue laporin ke om gue nih!" Damar mengeraskan suara dan menakuti teman kerjanya.
"ih, iya deh iya." Anka merapikan seragam kerja dan rambutnya.
"Noh, iler jangan lupa dilap!" Tunjuk Damar di sudut bibir kiri Anka.
Anka langsung mengelap sudut bibirnya. Alhasil, Damar tertawa melihat Anka yang percaya saja jika di sudut bibirnya ada iler. Tak ingin kalah dari Damar. Anka berpura meletakkan jari telunjuknya di sudut bibir dan memberikannya pada Damar.
"ih, anak gadis jorok amat sih!" Teriak Damar sambil bergerak menjauhi Anka. Gadis itu tersenyum melihat kelakuan Damar. "Tuh ada tamu! Cepet deh elu layanin!" Perintah Damar pada Anka. Dia tidak ingin berada di dekat Anak lebih lama. Damar sangat tidak suka dengan sesuatu yang jorok.
Anka melihat ke arah yang ditunjuk Damar. Dua orang pria tampan hendak duduk di salah satu meja bagian dalam. Anka segera mengambil buku daftar menu dan serta alat tulis.
"Selamat pagi om-om." Sapa Anka sambil memberikan buku menu pada Harvin dan Noah.
"Mau pesan apa?" Tanya Anka sambil menguap.
Harvin sedikit tidak suka dengan gadis pelayan di cafe ini. Bisa-bisanya dia menguap saat melayani pengunjung cafe. Cukup pertama dan terakhir aku ke sini. Harvin menggerutu di dalam hati.
Noah langsung memesan menu setelah melihat raut wajah tuannya berubah tidak suka. Dia memesan makanan yang biasa dimakan oleh tuannya saat sarapan pagi di mansion.
Anka segera berlalu pergi setelah mendapat pesanan dari dua tamu pertamanya pagi ini. Dia segera memberikan catatan ke bagian dapur.
Dua gelas susu murni dan dua gelas air putih yang pertama siap. Anka dengan cekatan mengambil keempat gelas itu dan meletakkannya di atas nampan. Dia membawa minuman ke meja dua pria tadi. Karena masih belum sadar dari kantuknya, Anka tidak memperhatikan jalan.
Kaki Anka tersandung dan keempat gelas itu mendarat di pangkuan Harvin. Harvin terkejut mendapat serangan tiba-tiba. Wajahnya sudah memerah menahan marah. Harvin segera berdiri dari kursinya. Dia sudah siap dengan kata-kata yang sudah siap meluncur dari bibirnya.
Akan tetapi, mulut Harvin kelu saat melihat wajah Anka yang menengadah ke atas. Pandangan mata mereka sambil bertemu. Anak segera berdiri dan membenahi diri. Dia juga meminta maaf kepada Harvin dan Noah.
Harvin tidak peduli dengan ucapan Anka. Tatapannya terpaku pada wajah Anka yang sangat mirip dengan Claudia.
"Claudia." Kata yang terucap dari Harvin.
"Hah!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments