Harvin menanti jawaban Anka dengan sabar. Dia sulit mengartikan ekspresi gadis yang duduk dihadapannya. Baru kali ini dia merasa sedikit frustasi tidak bisa membaca raut wajah seseorang. Bukan berarti dia seseorang cenayang. Seorang CEO sepeti dia pasti harus bisa membaca raut seseorang, terutama klien.
"Bisa dikatakan kita memiliki hubungan yang dekat," jawab Anka tanpa keraguan. OMG, bener apa ngga nih yang gue bilang. Aduh, mana ini jantung bunyinya udah kek tapak kaki kuda. Anka bermonolog dalam hati.
"Sedikit atau banyak?" tanya Harvin sambil memperagakan dengan jari tangannya.
"Cukup," jawab Anka. Gadis itu memilih jawaban yang aman untuknya.
"Ah!" Harvin berseru sambil menyandarkan punggungnya.
Keadaan kembali sunyi. Kecanggungan di antara mereka semakin terasa dibanding yang tadi hingga kehadiran pelayan yang mengantar makanan yang tadi mereka pesan membuat kedua pasangan canggung itu terkejut.
Mereka menyantap makan malam dalam diam. Hanya dentingan sendok dan garpu yang beradu di atas permukaan piring menjadi melodi di antara mereka. Bahkan suara musik yang mengalun memenuhi restoran tak terdengar di telinga mereka.
Anka tenggelam dalam pikirannya sendiri. Dia ingin segera menyelesaikan makan malam canggung. Bukannya Anka tidak senang bisa berkomunikasi lagi dengan Harvin. Akan tetapi, pertemuan kali ini terasa aneh. Seperti dua orang yang belum pernah berkenalan.
Makan malam yang seharusnya bisa selesai dalam waktu lima belas hingga dua puluh menit berlalu hampir satu jam lamanya. Anka sendiri heran bisa menghabiskan waktu selama itu hanya untuk makan malam. Apalagi menu yang mereka pesan tidak banyak.
Noah yang berada di meja lain sibuk mengabadikan kelakuan tuannya dan kekasihnya. Asisten itu masih menganggap jika Anka adalah kekasih tuannya. Hanya Anka yang pantas bersanding dengan tuannya.
Akhirnya, makan malam canggung itu selesai. Harvin mengantar Anak hingga di area parkir. "Aku akan menghubungimu nanti," ucap Harvin saat Anka mengenakan helm.
Anka tersenyum pada Harvin. Dia menjawab Harvin dengan anggukan. "Terima kasih atas makan malamnya tuan," ucap Anka.
"Harvin. Panggil saja Harvin." Harvin ingin mencoba untuk membuka diri terhadap Anka dan seorang wanita lagi yang mirip Anka. Mereka sama-sama hadir setelah dia sadar dalam keadaan amnesia. Harvin sampai menyelidiki kedua wanita itu karena kemiripan wajah mereka. Alhasil, mereka bukan saudara kembar.
"Baik. Aku pulang dulu tu... eh, Harvin," ucap Anka gugup.
"Hati-hati," ucap Harvin sebagai kata perpisahan.
Anka menyalakan motor maticnya dan perlahan keluar area parkir. Harvin segera melangkahkan kakinya menuju mobil. Pria itu langsung masuk ke dalam mobil favoritnya. "Ikuti dia!" perintah Harvin pada Noah.
"Baik tuan," jawab Noah sambil melajukan mobilnya. Noah sengaja memberi jarak cukup jauh agar Anka tidak menyadari kehadiran mereka. Harvin tahu bahwa gadis itu sangat mengenal mobilnya. Pria itu tidak ingin membuat wanita itu salah paham tentang kedekatan mereka. Dia hanya ingin mengenal Anka lebih dulu, tidak lebih.
"Aaa ..." Anka berteriak sambil menutup wajahnya dengan bantal. Sesampainya di kost, gadis itu langsung masuk ke dalam kamar dan menghamburkan diri di atas kasurnya yang setia. Dai sengaja menutup wajahnya dengan bantal agar teriakannya tidak terdengar oleh penghuni yang lain
Masih belum puas, gadis itu berteriak sekali lagi untuk meluapkan kegembiraan. Ya, teriakan Anka adalah teriakan kesenangan. Bagaimana tidak, dia yang tadinya sudah menyerah atas Harvin, kini kembali bersemangat setelah pria itu menghampirinya lebih dulu.
Hal yang sangat sulit terjangkau diawal, kini terasa sangat mungkin untuk diraih. Anka berharap akan ada kelanjutan makan malam lain atau sekedar mengobrol di taman.
"Aish, mana mungkin dia mau mengobrol di taman. Cetek sekali pikiranku!" Anka menggerutu sambil menghela napas.
"Bodo amat dah. Mending gue bersih-bersih, setelah itu sleeping beauty alias bobok cantik," ucap Anka sambil berlenggang menuju kamar mandi.
Untung saja dia sendiri yang berada di kamar. Jika saja ada orang lain, dia pasti sudah dianggap orang gila karena bicara sendiri.
Harapan Anka terkabul, Harvin lebih sering menghubungi Anka setelah makan malam itu. Entah pria itu yang menghampirinya di cafe O, mengajaknya makan siang, makan malam, dan terkadang pergi ke suatu tempat. Harvin juga terlihat bisa menerima Anka. Terlihat saat Anka tanpa sengaja memeluk tubuh atletis pria itu saat seekor hewan imut, hitam, berekor panjang melintas dihadapannya.
"Jadi, bagaimana weekend nanti?" tanya Harvin pada Anka.
"Hmm, maaf aku tidak bisa," jawab Anka setelah menenggak jus terakhirnya.
"Oh, ayolah!" Harvin mendesak Anka.
"Mm .. mm .." Anka menggeleng tanda tidak setuju.
"Jangan membuatku kecewa, please!" Suara Harvin terdengar seperti rengekan seorang anak kecil.
Anka sampai mengangkat sebelah alisnya saat menatap pria itu. Ini beneran CEO dingin atau bukan sih! Anka berkata dalam hati.
Harvin terkenal sebagai seorang pria yang sangat dingin. Tapi, jika sudah dekat dengan pria itu, sangat mudah untuk berkomunikasi dengannya bahkan image dinginnya langsung mencair seketika.
"Sorry, aku tidak bisa Harvin. Aku sudah berjanji dengan Liza akan menemaninya ke mall," ucap Anka lembut.
Harvin terdiam mendengar penolakan Anka. Belum pernah ada seorang pun yang menolak keinginannya. Noah yang berdiri tidak jauh dari tuannya dan Anka merasa jantungnya akan melompat keluar karena melihat ekspresi Harvin yang menahan amarah.
Aduh, nona! Kau membuatku berada di ujung tebing. Senggol sedikit langsung tinggal nama aku. Nasib-nasib jadi tangan kanan bos. Noah bermonolog di dalam hati. Pria itu bersusah payah menelan saliva. Jika saja saat ini ada yang ingin bertukar jabatan dengannya, dia pasti menyerahkan jabatan itu dengan senang hati. Sayangnya, tidak ada seorang pun yang ingin menjadi tangan kanan CEO dingin dan arrogant itu. Mereka hanya berani mengagumi Harvin dari balik meja atau di balik dinding kantor.
"Kau membuatku sedih," ucap Harvin.
Kedua mata Noah langsung membulat saat mendengar ucapan tuannya. Dia tidak habis pikir sang tuan akan berkata demikian. Berbeda dengan Anka yang menanggapinya dengan biasa saja.
"Bukannya kita bertemu hampir setiap hari!" seru Anka sambil mengunyah pisang goreng.
"Tapi aku ingin bersamamu," balas Harvin.
Hoek! Noah hanya bisa muntah di dalam hati. Ini tuan Harvin yang dingin itu atau bukan? Noah tidak percaya dengan yang didengarnya. Seingatnya dulu, saat tuan Harvin dan Anka menjalin kasih, tuannya tidak selebay ini. Apa mungkin karena amnesia yang diderita oleh tuannya? Mungkin saja karena benturan hebat di kepala, ada syaraf lebay yang terbuka.
"Aku benar-benar minta maaf. Aku sudah berjanji dengan Liza. Sangat tidak enak melanggar janji yang sudah dibuat sendiri." Anka menatap Harvin dengan wajah memelas. Dia harap pria itu mengerti.
Penjelasan Anka sangat masuk akal bagi Harvin. Dia sendiri tidak suka dengan seseorang yang suka mengingkari janji. Tapi, penolakan Anka membuat hatinya memanas. Alhasil, dia harus melampiaskannya pada seseorang dan seseorang itu tentu saja Noah.
Saat Harvin sedang merayu Anka, seseorang tanpa sengaja mendengar dan melihat ke arah mereka. Wanita itu sangat marah saat melihat Harvin merayu Anka. Dia mencengkram gagang pintu dengan erat hingga kukunya memutih.
"Aku tidak akan membiarkan kau mendapat apa yang kau inginkan." Wanita itu berkata sambil menahan geram dan berlalu pergi dari tempatnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments