Bab 6. Harvin not Alvin and The Chipmunks

"Gilak, yang bener lu?" Damar bertanya tak percaya dengan yang didengarnya.

"Awas aja tuh Alvin. Kalo ketemu gue, bakalan gue bejek-bejek," Liza tak kalah sewot.

"Eh, elu pikir Alvin and the chipmunks. Harvin, Liza. Namanya Harvin." Damar mengoreksi kesalahan Liza yang selalu asal menyebut nama orang.

"Bodo amat. Sesuka gue mau manggil dia apa. Dia aja ngga mikirin perasaan sahabat gue." Liza merangkul Anka dari samping memberinya dukungan. "Udah Anka, ngga usah elu pikirin! Jantan-jantan masih banyak yang bertebaran di sana."

Anka tersenyum mendengar ucapan Liza. Dia tahu bahwa sahabatnya itu berusaha untuk mendukungnya. Menit berikutnya gadis itu tertawa teringat sesuatu.

"Eh, elu kenapa Ka?" tanya Damar bingung melihat Anka yang tiba-tiba tertawa. "Kesambet ya."

"Enak aja gue dibilang kesambet! Gue inget sama Alvin and the Chipmunks," jawab Anka sambil tertawa.

"Gue bilang apa." Liza berbangga diri karena ejekan yang dia sematkan untuk Harvin berhasil membuat sahabatnya kembali ceria.

Anka bersyukur memiliki sahabat yang selalu memberinya dukungan. Saat ini, dia yakin akan menyerah atas Harvin. Gadis itu cukup tahu diri akan dirinya karena saingan terberatnya adalah Claudia.

Seseorang dari masa lalu Harvin yah sudah lebih dulu mengukir kasih dengan pria itu. Cinta lama versus cinta baru. Hasilnya tidak perlu ditebak lagi.

"Hmm, elu tuh belum lihat aja tampang doski kek gimana!" Meski Damar kesal setelah mendengar cerita dari Anka, tapi dia juga tidak terima jika salah satu kaumnya diledek seperti itu.

"Emang kek apa?" tanya Liza penasaran. Gadis itu belum pernah sekali pun bertemu dengan Harvin. Selama ini dia hanya mendengar cerita dari Anka atau Damar yang menghubunginya melalui panggilan video call atau berbalas pesan.

Seorang pria berjas memasuki pintu masuk cafe disertai dengan bunyi lonceng. Enam pasang mata itu langsung menoleh ke sumber suara.

Liza terpana melihat sosok tampan yang berjalan masuk ke dalam cafe dengan gagah. Dia tidak menyadari jika mulutnya sampai terbuka lebar.

Damar tidak ingin hilang kesempatan untuk mengerjai sahabatnya itu. Dia mengambil tisu yang terletak di atas meja. Merobek tisu itu menjadi beberapa bagian dan menggulungnya hingga berbentuk seperti bola berukuran mini.

"Anka, lihat nih!" Damar berbisik pada Anka untuk melihat aksinya.

Anka menoleh ke samping. Gadis itu tahu apa yang akan dilakukan oleh Damar. "Taruhan. Kalo lu bisa masukin tuh tisu ke mulut Liza, gue bakalan traktir elu selama tiga hari berturut-turut. Tapi kalo engga, elu yang harus traktir gue. Gimana?" Anka tidak ingin kehilangan kesempatan untuk mengerjai Damar.

"Deal (setuju)!" Damar mengulurkan tangan kanannya pada Anka.

Gadis itu menerima sambutan tangan Damar. Mereka saling berjabat tangan sebagai tanda perjanjian taruhan mereka telah resmi.

Setelah melepas jabatan tangan mereka, Damar mengambil ancang-ancang untuk melempar bola mini dari tisu. "Satu, dua, tiga..." ucap Damar saat akan melempar bola mini.

"Aah! ... Yes!" teriak Damar dan Anka bersamaan.

Bola tisu mini yang dilempar Damar tidak tepat sasaran. Bola itu memantul keluar karena terkena gigi bagian atas Liza.

"Apaan sih Mar!" Liza berteriak kesal pada Damar.

"Rezeki emang ngga ke mana," ucap Anka sambil tersenyum. Senyuman yang diberi Anka membuat wajah Damar semakin cemberut.

"Lagian elu, ngga bisa liat cowok ganteng dikit aja udah kek manekin model terbaru yang mulutnya terbuka lebar." Damar justru mengomeli Liza.

"Lha! Kok jadi gue yang elu semprot!" Liza tak kalah ketus.

"Udah, udah. Kenapa jadi pada ribut sih!"

"Noh, duluan!" Damar dan Liza berkata bersama. Sadar mengucapkan kalimat yang sama. Dua sahabat itu saling membalikkan tubuh mereka ke samping hingga punggung mereka yang saling beradu.

Pria yang membuat Liza terpana, berjalan mendekati meja mereka. Sekilas Anka tidak mengetahui siapa pria itu karena posisi Anka yang berada di antara dapur dan ruang depan.

"Selamat pagi nona." Noah mengucapkan salam pada Anka.

Ucapan Noah berhasil membuat Liza terperangah. Pria tampan yang dilihatnya memanggil Anka dengan sebutan nona.

"Pa-" ucapan Anka terpotong karena Liza meraih lengannya hingga membuat gadis itu terhuyung ke samping.

"Anka, gue ngga salah denger dia manggil elu apa?" Liza tidak bisa menahan rasa penasarannya.

"Ngga," jawab Anka santai.

"What? (apa?) Kok bisa?" lagi-lagi Liza berteriak tidak percaya dengan yang baru saja di dengarnya.

"Aduh Liza! Lama-lama bisa tulis beneran nih gue." Anka menggosok pelan telinga kirinya setelah diteriaki oleh sahabat perempuannya itu.

"Maaf nona, saya menyela anda. Ada yang harus saya sampaikan."

"Ngga apa-apa kok Noah. Kita ke sana saja ya!" Anka memimpin jalan menuju meja tamu di bagian pojok. Noah mengikutinya dari belakang.

"Kaget kan elu," ucap Damar.

"Emang itu siapa, Mar?" tanya Liza sambil memperhatikan Noah.

"Salah satu anggota the Chipmunks," jawab Damar asal.

"Hah! Maksud lu?" Liza menatap lekat Damar.

"Tangan kanannya Harvin," jelas Damar.

"Hah!"

"Ya ampun Liza. Biasa aja kali," ucap Damar sambil mengusap wajah Liza dengan tangan kanannya.

"Ish, apaan sih!" Liza menepis tangan Damar yang mengusap wajahnya. "Beneran itu tangan kanannya?" tanya Liza tak percaya.

"Bukan," jawab Damar.

"Ih, gimana sih! Tadi elu bilang tuh cowok tangan kanannya Harvin." Liza mulai kesal pada sahabat laki-lakinya itu.

"Tumben bener nyebut nama orang. Lagian elu udah gue bilangin ngga percaya."

"Ya ampun, Mar. Tangan kanannya aja guanteng pakek banget. Gimana tampangnya si Harvin ya?"

"Baru liat kan lu! Bukannya tadi elu bilang masih banyak jantan yang bertebaran di luar." Damar dengan senang hati membalikkan ucapan Liza.

"Maaf, namanya juga khilaf," jawab Liza sambil tertawa.

Di sisi lain meja tamu.

Raut wajah Noah tampak sedikit bingung. Anka tetap diam. Dia sengaja melakukan itu memberikan Noah waktu untuk mengutarakan maksud kedatangannya. Lagipula tidak ada Harvin.

Rekaman tadi malam kembali terulang. Adegan di mana Harvin dan Claudia sedang makan malam romantis. Ditambah dengan adegan Claudia menyuapi Harvin. Belum lagi Claudia bergelayut manja di lengan Harvin. Tayangan ulang itu membuat hati Anka kembali terluka.

"Nona, apa anda baik-baik saja." Noah melihat Anka tiba-tiba terdiam. Pria itu mengira Anka mengingat kejadian di ruangan kerja tuannya kemarin siang.

"Aku baik-baik saja, Noah. Oh iya, ada apa kamu kemari?" Anka akhirnya menanyakan perihal kedatangan Noah yang menurutnya sedikit aneh.

"Begini nona. Tadi malam, tuan Harvin mencari anda hingga tengah malam," jelas Noah dengan nada pelan dan tidak menggebu-gebu.

"Untuk apa dia mencari ku?" Anka sedikit penasaran.

"Untuk itu, aku tidak tahu nona. Namun, kabar berikutnya sedikit membuat anda terkejut."

Anka menatap tajam Noah. Sebenarnya apa yang ingin dikatakan oleh pria itu. Mengapa terlihat takut-takut untuk mengatakannya.

"Ada apa Noah?"

"Tuan Harvin--" Noah menggantung ucapannya. Dia sedang menimbang-nimbang dengan perbuatannya kali ini. Apakah benar yang dia lakukan saat ini atau tidak.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!