"Selamat pagi, tuan." Noah membuka pintu mobil bagian penumpang.
Harvin mengangguk dan masuk ke dalam mobil. Waktu menunjukkan pukul lima dini hari. Menurut informasi yang dia terima dari seorang informan, Claudia telah kembali dari persembunyiannya selama tiga tahun terakhir.
Harvin tidak sabar untuk melihat kekasih hatinya meski dari kejauhan. Tiga tahun bukanlah waktu yang pendek. Rindu yang dipendam olehnya tidak sabar untuk menyeruak keluar.
Mobil Mercedes-Benz EQS perlahan keluar dari halaman mansion Harvin. Kendaraan di jalan raya masih lengang. Perjalanan ke mansion Claudia hanya memakan waktu sekitar dua puluh menit.
Selama perjalanan Harvin hanya menatap keluar jendela mobil. Pikirannya menerawang jauh. Bayangan wajah Claudia menghantui pikirannya. Tanpa dia sadari, mobil yang dikendarai Noah sudah berhenti dan menepi di pinggir jalan.
"Tuan." Noah memberikan binokular kepada Harvin. Posisi mobil Harvin sangat jauh dari mansion Claudia. Dia membutuhkan alat agar bisa melihat isi dalam mansion.
Sejak tiba di dekat mansion Claudia, Harvin tidak pernah menurunkan binokular. Alat itu sudah seperti tambahan mata Harvin. Sudah hampir satu jam, tidak ada tanda-tanda Claudia. Harvin masih setia menunggu di sana. Dia mengelilingi isi mansion Claudia dengan binokular tercanggih yang didapatnya dari sahabat baiknya.
Sesekali Noah melirik dari balik spion depan mobil. Terkadang dia merasa sangat kasihan dengan masalah percintaan tuannya itu. Akan tetapi, dia tidak bisa ikut campur jika tidak dimintai pendapat oleh tuannya. Ponsel di saku jas Noah bergetar. Dia segera meraih ponsel itu dan menjawabnya setelah melihat nama Suzie yang tertera di layar ponsel.
"Ya." Noah menjawab singkat.
"Tuan Noah, maaf mengganggu waktu sarapan anda. Aku hanya ingin mengingatkan perihal meeting jam sembilan nanti."
"Baik. Terima kasih." Balas Noah sambil menutup ponsel dan menaruhnya kembali ke saku jas.
"Ish, tidak CEO, tidak asistennya. Keduanya sama-sama dingin." Suzie menggerutu setelah panggilannya ditutup secara sepihak oleh si asisten CEO. Wanita muda itu langsung meninggalkan ruangan dan menuju ke pantry.
Di sisi lain, Noah berusaha mencari cara untuk menyampaikan informasi yang baru saja diterimanya. Noah tahu hari ini ada rapat penting. Namun, tuannya bersikeras untuk ke mansion Claudia pagi-pagi buta.
"Kembali ke perusahaan!" Perintah Harvin.
Noah merasa sangat lega dan senang mendengar perintah tuannya. Dia tidak perlu bersusah payah mencari cara untuk menyampaikan informasi tadi.
Noah menyalakan mesin mobil. Dia melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Sesekali dia mengintip dari balik kaca spion depan. Wajah tuannya terlihat lebih kaku dan dingin. Noah tahu pasti suasana hati tuannya sedang tidak baik.
"Maaf tuan. Jam sembilan nanti kita ada meeting di perusahaan." Akhirnya Noah memberanikan diri berbicara. Beberapa menit berlalu, tidak ada jawaban dari tuannya. Noah hanya bisa kembali diam.
"Cari cafe atau apapun itu untuk sarapan!" Harvin memberi perintah pada Noah agar mencari tempat untuk sarapan. Dia terlalu bersemangat pagi ini, hingga melewatkan sarapan pagi. Padahal bisa saja dia menyuruh koki di mansionnya untuk menyiapkan sarapan pagi lebih awal dari biasanya.
Jika saja tidak ada meeting pagi ini, Harvin pasti akan melewatkan sarapan pagi. Dia bisa me-rapel jadwal makannya siang nanti. Dia juga tidak mau sarapan di ruang kerjanya. Bukannya dia tidak mau membaur dengan para karyawan. Harvin hanya ingin meminimalkan kehebohan karyawan wanita. Dia juga tidak pernah mengijinkan orang lain memasuki ruang kerjanya.
Noah mengurangi kecepatan mobil yang dikendarainya. Dia melihat ke kanan dan ke kiri. Mencari tempat yang cocok untuk tuannya. Lagipula pagi-pagi begini banyak cafe dan resto yang masih tutup. Kecuali, pedagang sarapan pagi kaki lima.
Setelah beberapa menit mencari cafe atau resto. Akhirnya, Noah melihat sebuah cafe yang cukup ramai pengunjung. Dia segera memasukkan mobil ke halaman parkir. Setelah mesin mobil mati. Noah segera turun dan membukakan pintu mobil untuk tuannya.
Harvin keluar dari mobil dan berdiri. Dia melihat ke sekeliling cafe. Tempat yang cukup bagus untuk sarapan.
"Indoor atau outdoor, tuan?" Noah menanyakan di mana tuannya akan duduk.
"Indoor." Jawab Harvin singkat. Harvin langsung melangkahkan kaki menuju pintu masuk dan diikuti oleh Noah. Dua pria tampan berjalan memasuki cafe. Kaum hawa yang berada di sana sampai salah tingkah melihat kedua pria itu.
"Ka, Anka." Damar membangunkan Anka yang tertidur di ruangan karyawan cafe. "ANKA!" Kali ini Damar berteriak kencang. Teriakan Damar berhasil membangunkan gadis cantik itu.
"Apaan sih, Mar!" Anka mengusap wajahnya dengan tangan.
"DAMAR. D-A-M-A-R, Anka!" Damar selalu marah jika Anka memanggilnya dengan tiga huruf terakhir dari namanya. Terkesan seperti nama seorang wanita.
Anka kembali meletakkan kedua tangannya di atas meja untuk dijadikan alas kepalanya. Sebelum Anka berhasil memuluskan rencananya, Damar langsung menarik lengan kiri Anka hingga dia berdiri tegak.
"Kerja, Anka! Gue laporin ke om gue nih!" Damar mengeraskan suara dan menakuti teman kerjanya.
"ih, iya deh iya." Anka merapikan seragam kerja dan rambutnya.
"Noh, iler jangan lupa dilap!" Tunjuk Damar di sudut bibir kiri Anka.
Anka langsung mengelap sudut bibirnya. Alhasil, Damar tertawa melihat Anka yang percaya saja jika di sudut bibirnya ada iler. Tak ingin kalah dari Damar. Anka berpura meletakkan jari telunjuknya di sudut bibir dan memberikannya pada Damar.
"ih, anak gadis jorok amat sih!" Teriak Damar sambil bergerak menjauhi Anka. Gadis itu tersenyum melihat kelakuan Damar. "Tuh ada tamu! Cepet deh elu layanin!" Perintah Damar pada Anka. Dia tidak ingin berada di dekat Anak lebih lama. Damar sangat tidak suka dengan sesuatu yang jorok.
Anka melihat ke arah yang ditunjuk Damar. Dua orang pria tampan hendak duduk di salah satu meja bagian dalam. Anka segera mengambil buku daftar menu dan serta alat tulis.
"Selamat pagi om-om." Sapa Anka sambil memberikan buku menu pada Harvin dan Noah.
"Mau pesan apa?" Tanya Anka sambil menguap.
Harvin sedikit tidak suka dengan gadis pelayan di cafe ini. Bisa-bisanya dia menguap saat melayani pengunjung cafe. Cukup pertama dan terakhir aku ke sini. Harvin menggerutu di dalam hati.
Noah langsung memesan menu setelah melihat raut wajah tuannya berubah tidak suka. Dia memesan makanan yang biasa dimakan oleh tuannya saat sarapan pagi di mansion.
Anka segera berlalu pergi setelah mendapat pesanan dari dua tamu pertamanya pagi ini. Dia segera memberikan catatan ke bagian dapur.
Dua gelas susu murni dan dua gelas air putih yang pertama siap. Anka dengan cekatan mengambil keempat gelas itu dan meletakkannya di atas nampan. Dia membawa minuman ke meja dua pria tadi. Karena masih belum sadar dari kantuknya, Anka tidak memperhatikan jalan.
Kaki Anka tersandung dan keempat gelas itu mendarat di pangkuan Harvin. Harvin terkejut mendapat serangan tiba-tiba. Wajahnya sudah memerah menahan marah. Harvin segera berdiri dari kursinya. Dia sudah siap dengan kata-kata yang sudah siap meluncur dari bibirnya.
Akan tetapi, mulut Harvin kelu saat melihat wajah Anka yang menengadah ke atas. Pandangan mata mereka sambil bertemu. Anak segera berdiri dan membenahi diri. Dia juga meminta maaf kepada Harvin dan Noah.
Harvin tidak peduli dengan ucapan Anka. Tatapannya terpaku pada wajah Anka yang sangat mirip dengan Claudia.
"Claudia." Kata yang terucap dari Harvin.
"Hah!"
"Nama saya Anka om, bukan Claudia." Anka mengulurkan tangan pada Harvin. Seperti pada umumnya, saat berkenalan pasti akan berjabat tangan.
Harvin masih terpana pada Anka. Dia tidak membalas uluran tangan Anka yang cukup lama menggantung di udara. Anka menurunkan kembali tangannya yang tidak mendapat sambutan dari pria tampan nan dingin itu.
Damar segera menghampiri tempat kejadian. Dia khawatir akan terjadi keributan. Maklum saja, sifat sahabatnya ini tidak ada manis-manisnya. Untung saja, dia sudah menganggap Anka sebagai adik sendiri. Tidak pernah terlintas sedikit pun di benaknya akan menyukai gadis itu sebagai lawan jenis.
"Maaf ya om!" Seru Damar yang sudah berada di antara Anka dan Harvin. "Elu ngga apa-apa, Anka?" Damar menoleh ke samping melihat keadaan Anka yang sangat baik-baik saja. Damar justru khawatir mengenai hal itu. Dia khawatir jika Harvin akan murka yang berakhir keributan di cafe.
Tatapan Damar beralih pada Harvin. Jas dan celana pria itu penuh noda minuman. Meskipun hanya susu dan air putih, jejak itu terlihat jelas di sana. Apalagi jas yang dikenakan Harvin berwarna gelap. "Gawat! Pakaiannya kotor semua." Damar hanya bisa bergumam.
Noah mengurungkan diri untuk membantu setelah melihat reaksi tuannya. Wajah wanita pelayan cafe itu sangat mirip dengan kekasih tuannya. Akan tetapi, Noah bisa melihat ada perbedaan di sana. Wajar jika tuannya terpana menatap wajah gadis pelayan cafe itu.
"Om, om ngga apa-apa om?" Anka melambaikan tangan di depan wajah Harvin.
Harvin segera mengontrol diri. Dia berusaha menyembunyikan keterkejutannya. Dia menatap Noah memberinya kode untuk segera meninggalkan cafe.
Noah segera beranjak dari kursi. Dia berjalan menuju kasir dan menyelesaikan pembayaran. Noah meminta makanan yang mereka pesan untuk dibungkus dan memesan minuman baru.
Sedangkan Harvin langsung pergi meninggalkan cafe. Pria itu berjalan dengan tegap kembali ke mobil.
"Sombong amat." Anka menatap kepergian Harvin dengan kesal. "Kasihan tangan gue tadi dianggurin." Anka berbicara dengan nada yang dibuat sedih. Dia menatap tangan kanannya yang kemudian mendapat tepukan dari Damar.
"Lebay amat." Damar berkata setelah menepuk telapak tangan Anka. "Cepet beresin!" Sebelum meninggalkan Anka, Damar memintanya untuk membersihkan sisa-sisa kekacauan yang telah dibuatnya tadi.
Noah tersenyum saat melewati Anka yang sedang membersihkan lantai dan meja. Dia segera menuju ke mobil. Belum sempat bokong Noah mendarat di kursi kemudi, Harvin langsung berkata "Cari informasi tentang wanita itu!"
"Baik tuan." Jawab Noah sambil merendahkan bokongnya agar bisa langsung duduk.
"Jangan senyum-senyum dengan dia!"
* * *
Tiga bulan kemudian.
"Eh, Anka! Tuh om-om jadi rajin ke sini deh!" Damar berbisik pada Anka sambil menunjuk ke arah Harvin dan Noah dengan dagunya.
Anka yang dari tadi sibuk mengelap piring yang basah dengan kain kering langsung menatap ke arah Harvin dan Noah duduk.
"Cocok kali sama makanannya." Anka kembali fokus dengan pekerjaannya.
"Emangnya ngga bosan makan di sini terus. Gue aja bosan."
"Gue bilangin om Candra nih! Biar jatah makan elu ditiadakan." Anka sengaja menakuti Damar. Meskipun pemilik cafe adalah omnya Damar, sahabat baiknya itu sangat segan pada omnya sendiri.
"Perempuan emang kerjaannya suka nakutin." Damar kesal selalu ditakuti seperti itu. "Gue rasa nih. Dia suka sama elu." Damar melanjutkan ucapannya.
Kain lap kering berhasil mendarat di wajah Damar. "Ish, apaan sih!" Damar mengambil kain lap dan membalas dengan melempar ke arah Anka. Akhirnya, terjadilah perang lap kering antara mereka. Tanpa mereka sadari, Candra si pemilik cafe berdiri di belakang mereka.
Candra sudah berdehem berkali-kali. Akan tetapi, Anka dan Candra tidak menggubrisnya. Dengan terpaksa Candra memisahkan mereka dengan menarik masing-masing lengan mereka.
"Apaan sih!" Anka dan Damar berteriak bersamaan sambil menoleh ke samping. Mereka terkejut saat melihat orang yang memisahkan mereka.
"Eh, pak ... om ..." Anka dan Damar berkata bersamaan.
"Udah puas berantemnya?" Candra bertanya pada mereka.
Kedua tersangka hanya diam menunduk. Mereka harus menyiapkan telinga untuk mendengar ceramah dari bos mereka. Namun, hal itu tidak terjadi. Candra melepaskan mereka begitu saja.
"Anka, ikut saya!" Candra berkata sambil berjalan.
Anka menatap Damar meminta clue akan dibawa ke mana oleh bosnya. Candra hanya menaikkan bahu dan berkata tanpa suara, "Gue ngga tahu."
Anka pikir mereka akan pergi keluar cafe. Ternyata, big bos membawanya ke sebuah meja.
"Udah lama?" Candra bertanya pada Noah.
"Barusan. Apa kabar, bro?" Noah berdiri dari duduknya dan menyalami Candra. Mereka berpelukan sebentar melepas kerinduan.
"Gue baik." Jawab Candra saat melepas pelukan mereka.
"Oh iya. Anka, ini teman om. Mulai sekarang kamu yang layani mereka setiap kali mereka berkunjung!" Perintah dari Candra membuat Anka bingung. Mengapa harus dia yang melayani om-om sombong itu.
"Harvin." Harvin berdiri dan langsung mengulurkan tangan kepada Anka. Anka sempat bingung. Dia terdiam sebentar sampai Candra menginjak pelan kakinya untuk membalas uluran tangan Harvin.
"Aduh!" Anka meringis saat kakinya diinjak oleh Candra meski pelan. Saat Anka melirik bosnya, dia mendapat kode untuk segera membalas uluran tangan Harvin. "Anka, om."
Candra tertawa mendengar Anka yang menyebut Harvin sebagai om. Sedangkan Noah tidak berani tertawa. Dia hanya bisa menahan tawa dengan menundukkan kepala agar tidak terlihat.
"Anka, kamu bisa panggil Harvin dengan nama saja. Jangan ada embel-embel om!"
"Lha, bukannya om Harvin temannya om Candra?" Anka melontarkan pertanyaan pada Candra.
"Iya sih."
"Berati Anka bener dong, om. Manggilnya om Harvin." Anka tetap kekeh dengan ucapannya.
"Harvin saja. Saya bukan om kamu. Saya tidak menikah dengan Tante kamu." Akhirnya Harvin bersuara karena tidak tahan dengan status om yang diberikan Anka kepadanya.
* * *
Dua bulan Kemudian.
Sudah dua Minggu terakhir, Harvin tidak pernah muncul di cafe O. Anka mulai merasa ada sesuatu yang hilang. Sebelumnya dia tidak terlalu memperhatikan Harvin. Setelah sering menghabiskan waktu bersama Harvin, Anka merasa kehilangan saat Harvin tidak lagi datang berkunjung.
"Cie yang lagi kangen." Damar yang baru saja menyelesaikan pekerjaannya langsung menghampiri Anka yang sedang melamun. Damar memperhatikan Anka yang dari tadi melamun menatap meja yang selalu dihuni oleh Harvin dan Noah.
"Ngga lucu." Balas Anka sambil mencibirkan bibir.
"Udah deh. Jujur aja! Elu pasti kangen kan?" Damar tidak mau menyerah. Dia harus mendapat kepastian dari Anka. Karena dia akan mendapat bonus jika rencana mereka berhasil. Harvin sengaja tidak berkunjung ke cafe hanya untuk memastikan perasaan Anka kepadanya.
"Sedikit." Jawab Anka sambil melirik ke arah pintu yang berbunyi saat seorang pengunjung masuk atau keluar dari cafe.
"Banyak kali." Damar semakin memojokkan Anka.
Anka menatap Damar. Seketika suara tangisnya menggema. Damar kalang kabut dibuat Anka. Dia tidak menyangka jika Anka akan bereaksi seperti itu. Damar merasa tidak tega telah mengerjai sahabatnya hanya karena akan mendapat bonus dari Harvin.
"Elu kenapa nangis?"
"Elu bener, Mar. Gue kangen banget sama Harvin. Keknya gue udah jatuh cinta deh sama dia. Padahal selama ini gue udah berusaha ngga mau jatuh cinta sama dia. Udah ganteng, mapan pula. Gue cukup sadar diri kok, Mar. Makanya gue bertingkah cuek sama dia selama ini." Penjelasan Anka membuat Damar terkejut. Ternyata selama ini Anka sudah memendam perasaan pada Harvin.
Anka terkejut saat mendapati tubuhnya ditarik ke belakang oleh seseorang. Pria itu memeluk erat tubuh Anka. Awalnya dia ingin berteriak. Namun, setelah melihat siapa yang menariknya, tangisan Anka semakin menjadi.
"Kau sangat jelek saat menangis. Aku merindukanmu." Harvin berkata sambil memeluk Anka.
Setelah kejadian itu, Anka dan Harvin menjalin hubungan sebagai kekasih. Hari-hari yang dilalui Anka lebih indah dari sebelumnya.
Waktu berjalan sangat cepat. Jalinan kasih mereka sudah berumur satu tahun. Semuanya berjalan sangat lancar seperti jalan tol yang bebas hambatan. Selama menjalin kasih, Anka tidak pernah bertanya pada Harvin tentang pekerjaannya.
Pada suatu waktu Harvin memberitahu Anka tentang pekerjaannya. Dia adalah seorang CEO Nolan Group. Anka yang dasarnya tidak peduli dengan materi menganggap CEO sebagai profesi baru. Dia menanggapinya biasa saja.
Harvin menyukai sifat Anka yang seperti itu. Dia sering membawa Anka ke perusahaan, kecuali hari Jumat. Alasannya, Harvin selalu mengadakan meeting dan dia tidak ingin membuat Anka bosan menunggunya.
Suatu waktu di hari Jumat. Anka pergi ke perusahaan Harvin. Properti menarinya tertinggal saat dia mengunjungi Harvin kemarin. Dia sangat membutuhkan properti itu karena akan digunakan untuk latihan di sanggar tari yang diikutinya tiga bulan terakhir.
Anka sangat leluasa keluar masuk perusahan Harvin tanpa harus melapor ke bagian resepsionis terlebih dahulu. Karena seluruh karyawan di sana sudah mengenal Anka sebagai kekasih CEO mereka.
Sesampainya di lantai sebelas, Anka langsung menuju ke ruang kerja Harvin. Kebetulan saat itu pintu ruang kerja Harvin sedikit terbuka. Tangan kanan Anka sudah memegang kenop pintu. Akan tetapi, langkah kakinya terhenti saat mendengar percakapan di dalam sana.
"Tinggalkan Dia! Bukannya aku sudah kembali." Suara khas seorang wanita menggema. Perasaan Anka sedikit kacau mendengar suara wanita. "Aku tahu, kau tidak mencintainya. Kau hanya menjadikan dia pelampiasan saja karena wajahnya mirip denganku."
"Beri aku waktu."
Anka mengenal suara si pria. Kali ini perasaan Anka sangat kacau. Hatinya hancur. Air matanya menetes. Inilah yang tidak diinginkan Anka dalam hubungan. Dia tidak akan mampu untuk menahan rasa kacau seperti ini.
Anka menangis dalam diam. Dia sudah tidak fokus dengan percakapan dua sejoli yang berada di dalam. Noah yang baru saja tiba dari ruang meeting, terkejut melihat Anka yang menangis di depan pintu ruang kerja tuannya.
"Nona." Noah menyapa Anak meski tidak tega melihat wajah Anka yang basah karena air mata.
Mendengar namanya dipanggil, Anka langsung merogoh tas mengambil tisu. Dai tidak ingin Noah melihatnya dalam keadaan buruk, terlebih dikasihani.
Anka tidak bisa menemukan benda yang dicarinya. Tangannya sibuk merogoh isi tas, bahkan Anka menumpahkan isi tasnya ke lantai.
"Nona, pakai ini saja. Masih baru. Belum aku gunakan sama sekali." Noah memberikan sapu tangannya pada Anka. Dia tahu, perasaan Anka saat ini pasti sakit melihat tuannya sedang bermesraan dengan seorang wanita, yang berstatus kekasihnya versi dulu.
Anka meraih sapu tangan Noah. Dia segera mengelap wajahnya yang basah dan menghembuskan cairan dari hidungnya dengan pelan.
"Terima kasih." Meski dalam keadaan sedih, Anka tidak ingin melupakan etika yang sudah dibekali oleh mendiang orang tuanya. Anka merapikan dan memasukkan kembali barang-barangnya ke dalam tas. Dia berdiri dan membenahi pakaiannya.
"Mau aku antar nona?" Noah khawatir dengan keadaan Anka. Lagipula, jika tuannya tahu Anka pergi dalam keadaan sedih, dia pasti disalahkan karena tidak menemani Anka.
"Tidak perlu, Noah. Aku baik-baik saja." Baru lima langkah Anka melangkahkan kaki menjauh dari ruang kerja Harvin. Dia menepuk kening dan berbalik.
Noah melihat Anka dengan bingung. Gadis itu kembali berjalan ke arahnya. "Ada apa nona?"
"Aku melupakan sesuatu yang penting." Anka menarik napas sebelum memasuki ruang kerja Harvin.
Gerakan Anka sangat cepat sehingga Noah tidak bisa menahannya. Dengan langkah tegap Anka masuk ke dalam ruang kerja Harvin. Dua sejoli yang sedang melepas rindu terkejut saat mendengar suara pintu yang sengaja dibanting oleh Anka.
Claudia segera berdiri dari pangkuan Harvin. Dia terkejut melihat wajah Anka yang sangat mirip dengannya. Begitu pula Anka. Akan tetapi, cemburu, marah, benci dan sedih yang sudah bercampur aduk di hati Anka membuatnya bisa mengontrol dirinya.
Harvin salah tingkah saat melihat Anka yang langsung saja masuk ke dalam ruang kerjanya. Dia tidak menyangka Anka akan datang ke perusahaannya hari ini. Dia ingin menyapa Anka. Akan tetapi, gadis itu terlihat tidak peduli. Anka berjalan begitu saja hingga ke lemari dekat jendela. Harvin melihat Anka mengambil sesuatu dari sana.
Setelah mendapatkan properti tarinya yang berupa kipas tangan, Anka segera berbalik dan
Berhenti tepat di antara Harvin dan Claudia.
"Baguslah kau sudah datang. Harvin tidak perlu repot-repot menemui mu." Ingin rasanya Anka menyentil mulut si wanita penggoda itu. Namun, dia tidak seperti itu.
"Aku hanya mengambil kipas ini. Selanjutnya, aku tidak peduli." Anka berkata sangat tegas dan langsung berlenggang meninggalkan mereka. Sebelum keluar, Anka sempat meraih kenop pintu dan menariknya dengan kuat hingga menimbulkan bunyi yang sangat kuat. Dua sejoli yang berada di dalam ruangan sampai terkejut.
Anka menghembus napas tanda lega. Noah takjub melihat kelakuan Anka. Gadis itu bisa mengontrol emosinya. Setelah itu, Anka berlari menuju lift. Noah tidak bisa berbuat apa-apa. Dia hanya bisa memandangi kepergian Anka dengan rasa kasihan.
"Di mana Anka?" Harvin baru saja keluar dari ruang kerjanya. Dia berniat menjelaskan pada Anka dan meminta maaf atas perbuatannya.
"Sudah pergi tuan." Noah segera menjawab pertanyaan tuannya.
"Oh, God (Oh, Tuhan)!" Harvin merasa frustasi. Dia tidak menyangka akan terjadi hal seperti ini.
"Sayang, apa yang kau lakukan di sini?" Claudia menyusul Harvin. Dia tidak ingin Harvin mengejar wanita pengganti dirinya.
"Aku lapar. Ayo kita pergi makan!" Claudia merangkul lengan Harvin dengan manja.
"Baiklah. Ayo kita pergi!"
Noah kesal melihat tuannya yang langsung saja mengiyakan keinginan Claudia. Sejujurnya dia tidak suka dengan Claudia. Kekejaman wanita itu mengalahkan penyihir.
Menurutnya wanita itu tidak layak mendapatkan cinta dari tuannya. Claudia sudah melakukan kesalahan yang sangat fatal sehingga membuat dia dan tuannya tidak bisa bersatu dulu. Sekarang, dengan ringannya dia ingin kembali ke dalam pelukan tuannya. Kelakuannya sudah seperti seekor rubah betina.
"Tunggu sebentar! Tasku tertinggal di dalam." Claudia sengaja meninggalkannya agar bisa menghubungi orang kepercayaannya.
Harvin mengangguk, memberikan Claudia waktu untuk mengambil tasnya di ruang kerja. Sambil menunggu kekasihnya yang telah lama menghilang, Harvin mencoba menghubungi Anka. Sambungan telponnya baru berbunyi satu kali yang langsung dijawab oleh mba operator, "Nomor yang anda tuju sedang berada diluar jangkauan."
Harvin mengalihkan panggilannya ke panggilan aplikasi hijau. Di layar ponselnya hanya tertulis 'memanggil'. Harvin mencoba berulang kali. Dia ingin meringankan perasaan bersalahnya pada Anka.
"Syukurin. Blokir saja nomornya, nona." Noah berkata pelan saat berjalan melewati tuannya. Dia mendapat perintah untuk mempersiapkan mobil.
Claudia segera menghubungi informan kepercayaannya. Dia hanya punya waktu sebentar, sebelum Harvin kembali masuk ke ruang kerja karena lama menunggunya.
"Halo, Niko. Aku ingin kau mengumpulkan informasi tentang gadis bernama Anka! Wajahnya sangat mirip denganku. Dia bekerja di cafe O. Lakukan segera!" Claudia melakukan panggilan dengan cepat. Dia segera keluar ruangan. Melangkah tanpa beban bak model yang sedang berjalan di catwalk.
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!