Bab 19. Di mana Anka?

Sudah dua bulan Anka menghilang. Liza dan Damar terus mencari Anka tanpa lelah. Begitu pula dengan Harvin. Pria itu mengerahkan seluruh kekuatannya untuk menemukan Anka. Pencarian dua bulan itu tidak membuahkan hasil. Meski Damar dan Harvin bekerjasama, mereka masih tidak menemukan keberadaan Anka.

Damar tahu siapa yang membawa Anka pergi melalui rekaman CCTV rumah sakit. Pria yang dulu pernah disukai oleh sahabatnya itu, tak lain adalah Elvan Walandou.

"Mengapa Elvan tiba-tiba ada di rumah sakit?" Damar bertanya pada dirinya sendiri setelah melihat rekaman CCTV yang dikirim oleh Harvin.

Mereka lebih sering bertemu setiap kali Harvin mendapat petunjuk. Sekecil apapun petunjuk itu, Harvin akan membaginya dengan Damar. Meski Damar sedikit kecewa bahwa Harvin baru mengirimnya rekaman CCTV rumah sakit setelah dua bulan.

"Mar, Anka di sembunyiin di mana sih sama tikus curut?" Liza langsung menghempaskan tubuhnya di kursi samping Damar.

"Tikus curut?" tanya Damar bingung.

Liza menunjuk pria yang berada di dalam video yang terhenti di ponsel Damar. Damar langsung mengerti yang dimaksud oleh Liza.

"Kalo gue tahu, Anka udah di sini kali Liz."

"Iya juga sih," jawab Liza sambil menopang kepala dengan kedua tangannya.

"Apa kau mengenal pria itu?" Harvin menangkap dengan jelas ucapan Damar saat dia memasuki ruang kerja Damar di cafe O.

"Ya ampun, Harvin!" Liza terkejut melihat kondisi Harvin yang tidak karuan. Padahal dia tidak melihat pria itu kurang lebih satu bulan. Image pria tampan, dingin, arogan, dan maskulin itu langsung lenyap dari pandangan Liza. Bukan berarti pria itu berubah seratus delapan puluh derajat. Ketampanannya hanya berkurang sedikit.

Harvin tidak memperdulikan ucapan Liza. Mau seperti apa penampilannya kini, dia tidak peduli. Fokusnya saat ini adalah menemukan Anka.

"Elvan Walandou," jawab Damar.

"What?"

"Dia pria yang dulu pernah ditaksir Anka. Namun, pria itu tidak membalas perasaan Anka."

Harvin menggebrak meja kerja Damar. Suaranya sampai membuat Liza dan Damar terkejut. "Kau kenapa?" tanya Damar. "Cemburu? Itu hanya cinta monyet," timpal Damar.

"Elvan adalah pria yang menghamili Claudia tiga tahun yang lalu," jawab Harvin. Pria itu semakin tidak tenang. Dia khawatir akan keselamatan Anka.

Damar langsung berdiri sambil memukul meja. Dia tahu apa yang dikhawatirkan oleh Harvin. Liza yang tidak tahu menahu jalan pemikiran Harvin dan Damar, hanya bisa terkejut dan diam saja. Ingin bertanya, takutnya malah dimarahi oleh kedua pria itu.

"Kita harus cepat menemukan Anka. Dalam waktu dua bulan terakhir ini, apapun pasti bisa terjadi pada Anka," ucap Harvin sambil mengepal tangannya.

"Kau benar," jawab Damar. Tiba-tiba Damar teringat oleh sesuatu. Dia teringat kiasan yang digunakan oleh Liza tentang Elvan. Karena tidak begitu memperhatikan ocehan Liza, dia lupa kiasan apa yang digunakan oleh Liza. "Elu tadi ngatain si Elvan apa, Liz?" tanya Damar pada seorang gadis yang sedang duduk dengan raut wajah bingung.

"Tikus curut," jawab Liza asal.

"Hhmm, tikus sangat pandai bersembunyi. Bahkan di depan mata juga tidak terlihat," ucap Damar.

"Eh, dapat kalimat bagus dari mana lu, Mar?" Liza kembali bersemangat setelah mendengar bahasa baku yang digunakan oleh sahabatnya itu. Terdengar sedikit aneh dan lucu dari mulut Damar.

Damar melirik Liza tajam. Mendapat lirikan setajam silet, harti Liza langsung menciut. Saat sahabat lelakinya itu sengaja serius, Liza tidak akan berani untuk mengganggunya.

"Maaf bos kecil," ucap Liza sambil bangkit dari kursi. "Gue keluar aja deh! Lagian kepala gue pusing. Ngga bisa ngikutin jalan pikiran kalian berdua." Liza langsung berlenggang keluar. Lebih baik dia menggoda Noah yang sedang duduk sendiri di salah satu meja cafe.

"Kau benar! Kita harus mengubah area pencarian," ucap Harvin. Wajah pria itu tampak sedikit bersemangat. Setidaknya mereka mendapat sedikit pencerahan dalam pencarian Anka.

* * *

"Elvan, mengapa Liza dan Damar belum mengunjungi ku?" Liza menatap lekat wajah tunangannya.

Elvan menarik kursi dan duduk di samping Anka. "Sayang, bersabarlah oke!" Elvan menarik tangan Anka dan menggenggamnya dengan erat. "Kau ingat, waktu keluar dari rumah sakit, kau keluar lebih cepat. Jadi, suka atau tidak kau harus rutin rawat jalan," jelas Elvan sambil menampilkan senyum liciknya.

Anka kecewa dengan jawaban Elvan yang benar. Mau tidak mau, Anka hanya bisa menerima jawaban itu mentah-mentah. Selama dua bulan terakhir, ingatan Anka berupa potongan-potongan kecil mulai kembali. Anehnya, potongan ingatan itu tidak ada ingatan tentang Elvan.

Malah ada sosok pria lain yang selalu hadir di ingatan Anka. Sayangnya Anka tidak mengenal pria itu. Pernah suatu waktu, dia mencoba mengingat pria yang ada di dalam ingatannya. Hasilnya, Anka merasakan kepalanya akan meledak.

"Aku akan keluar sebentar. Jangan tunggu aku untuk makan malam, oke!" Elvan berdiri dan mengusap pelan pipi kanan Anka.

"Ish, kau itu. Itu namanya lama. Sekarang saja baru pukul sepuluh pagi," oceh Anka sambil menekuk kening.

"Hahaha, kau lucu saat cemberut."

"Pergilah jika memang ada yang harus kau kerjakan!"

"Bye," Elvan tidak perlu menunggu aba-aba untuk pergi. Pria itu berlenggang dengan santai meninggalkan Anka yang duduk sendiri di halaman belakang.

Selama dua bulan terakhir, Anka mulai menaruh curiga pada Elvan. Misalnya, mengapa dia tidak khawatir pada Elvan jika pulang ke villa hingga larut? Mengapa dia tidak cemburu saat Elvan dikelilingi oleh beberapa wanita cantik dan menggoda? Masih banyak pertanyaan yang ingin dimuntahkan oleh kepala Anka.

* * *

Apartemen Claudia.

"Ah!" suara teriakan wanita menggema di seluruh kamar. Wanita itu menikmati setiap permainan yang dimainkan oleh lawan mainnya. Kurang lebih dua jam mereka memainkan permainan yang berakhir dengan kelelahan.

"Apa kau menyukainya?" tanya Elvan pada Claudia.

"Tentu saja."

"Aku rasa kau belum puas," Elvan memainkan rambut cokelat Claudia yang panjang.

"Aku puas Elvan," Claudia berkata sambil memberikan senyum terbaiknya dengan terpaksa. Di lubuk hatinya yang terdalam, Claudia sudah jengah dengan kelakuan Elvan yang menjadikannya sebagai tempat pelampiasan nafsunya. Mau bagaimana lagi, hanya Elvan yang bisa membantunya memuluskan keinginannya saat ini. Dia tidak bisa mendapatkan Harvin, begitu pula dengan Anka.

"Baiklah! Sekali lagi."

Belum sempat Claudia menolak, pria itu sudah menguncinya.

* * *

"Bibi!" panggil Anka saat bibi yang bertugas melayaninya sedang membersihkan kamarnya.

"Iya nona," jawab bi Ijah.

Anka sedikit ragu. Perasaan dan logikanya saling bertarung. Apa benar yang dia lakukan? Apa bi Ijah adalah orang yang bisa membantunya?

Bi Ijah mendekati Anka yang sedang duduk di sofa tunggal dekat jendela kamarnya. Gadis itu terlihat gusar. "Ada apa non?" tanya bi Ijah lembut sambil mendaratkan tubuhnya di lantai.

"Eh, bi!" Anka langsung menarik bi Ijah agar tidak duduk di lantai. "Kan sudah Anka bilang, bibi jangan duduk di bawah!" Gadis itu langsung mendudukkan bi Ijah di sofa yang tadi dia duduki dengan dia sendiri duduk di lengan sofa.

"Maaf non, bibi sudah biasa," jawab bi Ijah lembut. "Non kenapa?" tanya bi Ijah.

"Mmm .. Anka bingung bi."

"Bibi tahu apa yang nona pikirkan. Non jangan khawatir. Bibi akan membantu nona keluar dari sini."

Anka terkejut mendengar penuturan bi Ijah. Bagaimana mungkin bi Ijah tahu apa yang dia pikirkan. Namun di sisi lain, Anka sangat bahagia. Akhirnya, ada yang bisa membantunya keluar dari villa Elvan.

Hampir lima bulan Anka tinggal di villa bersama Elvan. Tanpa Elvan ketahui, ingatan Anka perlahan kembali. Meski ingatannya belum pulih total, Anka tahu Elvan bukanlah tunangannya. Ingatan Anka mulai pulih saat dia tanpa sengaja melihat wanita yang sangat mirip dengannya keluar dari kamar Elvan tepat tengah malam.

Saat itu, Anka tidak bisa tidur karena sakit kepala yang dideritanya lebih sering muncul. Untuk mengurangi sakit kepalanya, Anka berjalan mengelilingi villa. Meski tengah malam, keadaan villa masih terang karena cahaya lampu di mana-mana. Selain itu, para penjaga tidak pernah berhenti berpatroli. Anka sendiri bingung dengan keamanan yang super ketat itu. Padahal tidak ada yang penting di sini.

Anka mengikuti wanita yang mirip dengannya hingga ke garasi mobil. Apesnya, Anka ketahuan membututi wanita itu. Alhasil, wanita itu langsung menyerang Anka membabi buta hingga menyebabkan tubuh Anka terpelanting dan kepalanya mengenai tembok. Setelah itu, dia meninggalkan Anka tergeletak lemah di sana. Akibat kejadian itu, ingatan Anka perlahan kembali. Meski tubuhnya sakit akibat penyerangan itu, Anka bersyukur bisa mengingat dirinya dan dua sahabatnya.

"Makasih ya bi," ucap Anka sambil memeluk bi Ijah.

"Sama-sama non," jawab bi Ijah sambil tersenyum. "Kapan rencana nona akan kabur?"

"Tiga hari lagi bi. Anka harus menunggu dokter Tony," jelas Anka.

"Bukannya lima hari lagi pernikahan nona dan tuan Elvan?"

"Makanya Anka ingin kabur sebelum pernikahan bi."

"Bibi akan bantu nona. Nona tenang saja."

"Terima kasih bi," ucap Anka sekali lagi sambil memeluk bi Ijah.

Jika putriku masih hidup, pasti sudah sebesar kamu non. Hanya ini yang bisa bibi lakukan untuk mu non. Bibi tidak ingin nasibmu seperti putri bibi. Bi Ijah berkata dalam hati sambil membalas pelukan bi Ijah.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!