Perasaan Anka bagai ditusuk oleh ratusan jarum yang tidak meninggalkan rongga sedikit pun. Hatinya tidak mampu menerima kenyataan yang nyata di depan mata. Namun kedua netra Anka tidak ingin beranjak dari sana. Kedua matanya menatap lekat pasangan romantis di seberang sana.
Terbesit rasa geram pada di pemilik restoran yang memasang kaca bening di sekeliling restoran. Jika saja vampir itu nyata, pasti semut yang sedang berbaris di dalam restoran pasti akan terlihat.
Kedua netra cokelat muda Anka seperti sedang merekam gambaran pasangan romantis di sana hingga melekat di ingatannya. Anka menarik napas dan menahannya sebentar kemudian menghembuskan perlahan.
Dia harus segera beranjak dari sana. Pikirannya mulai jernih. Dia menghapus jejak air mata sebelum menghidupkan kembali mesin motor maticnya. Anka melajukan motor matic kesayangannya perlahan menuju kosan. Satu hal yang pasti hingga saat ini masih Anka percaya. Hanya motor maticnya yang sangat setia kepadanya.
Kurang lebih satu jam perjalanan, Anka tiba di kosan. Suasana kosan Anka terbilang masih cukup ramai. Apalagi menjelang akhir pekan. Kebanyakan dari teman-teman kos Anka selalu berkumpul hingga larut malam setiap Jumat malam.
Alasan mereka karena melepas penat bekerja selama lima hari berturut-turut. Jadi, mereka harus memanfaatkan waktu sebaik mungkin untuk memanjakan diri atau sekedar berkumpul dengan teman-teman.
Nasib baik menghampiri Anka. Saat gadis itu hendak masuk ke halaman kos, teman-teman kosnya justru hendak pergi hang out (nongkrong bareng) di luar.
"Eh Anka. Ikut yuk!" Rina, teman kos sebelah kamarnya mengajak Anka untuk ikut serta bersama mereka.
"Duh, maaf deh kak. Anka capek banget hari ini habis latihan nari di sanggar." Anka menolak ajakan Rina dengan sopan. Perbedaan umur Anka dan Rina cukup jauh, sekitar tujuh tahun. Wajar saja jika Anka memanggil Rina dengan sebutan kakak. "Lain kali ya kak." Anka berusaha menawar agar sang kakak beda ayah dan ibu itu tidak cemberut.
"Iya deh. Lain kali ya," balas Rina sambil memperhatikan wajah Anka. "Eh, ini wajah kenapa? Kok sembab gini?"
Anka bersyukur memiliki teman-teman yang sangat perhatian. Akan tetapi, di saat seperti ini membuat Anka merasa tidak nyaman. Terpaksa gadis itu harus berbohong. "Kecapean kak. Aku keknya kurang tidur kak."
"Ya udah. Kamu cepet masuk ke kamar, istirahat."
"Iya kak," jawab Anka sambil mengangguk.
"Kakak pergi dulu ya. Bye pumpkin." Rina memeluk Anka dan memberinya kecupan di pipi kanan dan kiri.
Anka melepas kepergian Rini dan teman-teman yang lain dengan melambaikan tangannya. Setelah melihat mobil yang dikendarai teman-teman kosnya hilang dari pandangannya, Anka segera masuk ke kamar. Untung saja dia memilih kamar kos yang terdapat kamar mandi di dalam sehingga dia tidak perlu repot-repot untuk keluar kamar menggunakan kamar mandi di luar. Belum lagi jika harus mengantri.
Gadis itu langsung melakukan ritual sebelum tidur. Membersihkan tubuh dan mengganti pakaian dengan piyama. Anka mengeluarkan ponsel yang dari tengah hari tadi tidak disentuhnya. Dia sengaja menonaktifkan ponsel untuk menghindari Harvin. Meskipun dia ragu jika Harvin akan menghubunginya.
Baru saja ponselnya menyala, bunyi notifikasi berbunyi tiada henti. Kurang lebih satu menit ponselnya berbunyi. Anka menanti dengan sabar hingga bunyi itu berhenti.
Kebanyakan dari notifikasi itu adalah pesan chat dari aplikasi hijau berlogo telpon. Damar dan Liza menjadi tokoh utama di pesan masuk aplikasi hijau. Urutan ketiga, Harvin. Anka sampai harus membulatkan mata tidak percaya jika Harvin akan menghubunginya.
Anka tidak berminat untuk mengklik pesan dari Harvin. Karena melihat tanpa sengaja membuat Anka malas untuk melanjutkan mengecek pesan lainnya. Dia meletakkan ponselnya di atas meja. Namun, dia kembali meraih ponselnya. Anka tidak ingin diganggu malam ini. Dia kembali menonaktifkan ponselnya dan memutuskan untuk tidur lebih awal.
Keesokan harinya, Anka tetap bekerja seperti biasa. Meski wajahnya sembab, dia tetap harus bekerja. Gadis itu tidak suka mencampuradukkan urusan pribadi dengan pekerjaan. Masalah pribadi tetap menjadi urusannya sendiri.
"Ya ampun, itu muka kenapa neng?" tanya Damar saat melewati Anka yang sedang membersihkan salah satu meja sisa pengunjung.
"Habis operasi plastik," jawab Anka asal.
"Hah! Emang ada operasi plastik dalam waktu sehari?" Entah pertanyaan Damar hanya sekedar iseng atau pemuda itu memiliki otak udang.
"Mana ada Damar." Anka berlalu kembali ke dapur. Meja yang dia bersihkan sudah bersih dan rapi seperti semula.
"Ih, aku udah percaya aja," jawab Damar sambil menyusul Anka. "Secara kan wajah elu di bawah rata-rata. Mana tahu beneran ada operasi dalam sehari."
"Ketok magic kali sehari," jawab Anka sambil mendaratkan bokongnya di kursi.
Di saat belum ada pelanggan, Anka dan karyawan lainnya bisa bersantai sejenak. "Udah jangan bohong sama gue!" ketus Damar.
"Bohong apaan sih, Mar?"
"Please deh, Anka. Kalo elu mau singkat nama gue. Cukup Dam aja, jangan Mar!"
Anka tidak berminat untuk menanggapi ocehan Damar. Akan tetapi, perasaannya sedikit kacau saat ucapan Damar tepat sasaran. Anka sebisa mungkin menepis ucapan Damar.
"Elu pasti lagi ada masalah sama Harvin. Jangan bohong deh sama gue!" Damar mencecarnya dengan kata-kata yang menohok hati gadis itu.
"Engga Damar." Anka berusaha untuk menghindar. Dia sedang malas untuk membahas tentang masalah hatinya.
"Gue ngga percaya," jawab Damar.
Damar berhenti mendesak Anka untuk sementara. Kepala Damar tak hentinya melihat ke arah pintu masuk karyawan. Pintu masuk karyawan berada di samping cafe. Sedangkan pintu khusus pengunjung berada paling depan.
"Elu nungguin siapa?" tanya Anka sambil mengikuti arah pandang Damar.
"Bala bantuan," jawab Damar.
"Bala bantuan?" Anka mengubah jawaban Damar menjadi sebuah pertanyaan. "Kok rasa-rasanya gue pernah dengar kalimat ini yah," Anka berbicara pada dirinya sendiri.
Ucapan Anka tidak begitu keras. Akan tetapi, Damar bisa mendengarnya dengan jelas. Dia tersenyum saat melihat Anka yang terlihat bingung. "Nah, yang ditunggu-tunggu udah datang." Damar sengaja menggebrak meja kayu. Alhasil Anka terkejut bukan main.
"Hai ..." Suara seorang gadis yang sangat dikenal Anka membuat gadis itu langsung berdiri.
"Liza!" Anka tak kalah terkejut melihat seorang sahabat baiknya yang baru saja kembali dari luar negeri. Anka merentangkan tangan menyambut Liza dengan pelukan. Kedua gadis itu berpelukan erat melepas rindu.
"Apa kabar cantik?" Liza mengurai pelukannya.
"Gue baik," jawab Anka.
"Bohong, Liz." Damar segera menimpali ucapan Anka.
Liza menatap lekat wajah sahabatnya itu. Benar kata Damar, ada sesuatu yang tidak baik menimpa sahabatnya. "Cerita sama kita berdua, ok."
Anka menghela napas. Dia menimbang-nimbang untuk menceritakan kisah patah hatinya atau tidak. Akhirnya, karena didesak terus-menerus oleh Damar dan Liza.
Anka akhirnya memutuskan untuk menceritakan tragedi patah hati yang dialaminya kemarin siang hingga malam.
Damar dan Liza tidak percaya dengan yang diceritakan oleh Anka. Terutama Damar. Dia yang mengetahui dari awal kisah cinta Harvin Anka merasa tidak percaya dengan yang didengarnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments