"Lu serius!" Liza tidak percaya dengan ucapan Damar.
Damar menatap Liza tajam. Bisa-bisanya Liza menganggap dia bercanda. Mendapat tatapan tajam dari Damar. Mulut gadis itu langsung bungkam.
Damar langsung menyerahkan ponselnya pada Liza agar gadis itu dapat membacanya dengan jelas. Liza meraih ponsel Damar dan membaca pesan masuk yang berasal dari Om Candra. Om Candra meneruskan pesan yang dikirimkan Anka kepadanya. Jadi tidak ada kata yang dikurangi ataupun ditambah.
"Jadi, lu kasi dia ijin?" tanya Liza sambil menyerahkan kembali ponsel Damar.
"Gue rasa iya. Anka perlu waktu untuk dia membenahi diri." Damar langsung membalas pesan kepada om Candra untuk memberi Anka ijin cuti selama dua Minggu.
"Yah, sepi dong hidup gue!" keluh Liza.
"Noh, masih banyak kerjaan. Hidup lu bakalan berwarna," balas Damar sambil meraih tangan Liza, memberinya lap kering.
"Ish, Damar!" Liza berteriak tidak terima disuruh bekerja saat dia belum puas menanyakan perihal yang terjadi dengan Anka. "Mar! Gue juga cuti ya, please! Gue mau nemenin Anka," Liza berusaha merayu Damar agar mendapat ijin cuti. Dia memang berniat untuk menemani dan menghibur Anka. Namun, otak travelling nya lebih mendominasi.
"Ngga bakalan gue kasih. Yang ada tiga puluh persen aja lu menghibur Anka. Sisanya yang tujuh puluh persen, lu jalan-jalan sendiri. Ngga ada, ngga ada."
"Ish, Damar! Elu tau aja sih," rengek Liza.
"Udah buruan kerja sana! Ntar gue potong gaji lu."
"Siap komandan!" ejek Liza sambil mengangkat tangan tanda hormat.
* * *
"Halo Liz!" sapa Anka saat panggilannya langsung dijawab oleh sahabatnya.
"Akhirnya anak perawan ngubungin gue. Elu di mana Ka? Lu baek-baek aja kan?" tanya Liza tak sabar.
"Gue baek-baek aja, Za." Anka menjawab pelan. "Gue sekarang lagi di bandara." Anka menimpali ucapannya. Maksudnya menghubungi Liza untuk berpamitan. Meski bagaimanapun keluarganya di sini hanya ada Liza dan Damar.
"Hah! Lu mau kemana, Ka?" Teriakan Liza berhasil menarik perhatian Damar yang dari tadi kurang peduli saat Liza menjawab telpon dari Anka. Damar langsung mendekati Liza, ingin mendengar lebih jauh.
"Aduh Liza! Pelan-pelan dong! Bisa budeg nih telinga gue," oceh Anka. Perbuatan Liza membuat Anka sedikit bersemangat. Suara datar dan pelan tadi, kini sedikit bersemangat.
"Eh, sorry .. sorry. Lagian elu bikin gue kaget. Dari tadi pagi ngga bisa dihubungin. Eh, sekalinya bisa dihubungin langsung ada di bandara. Gimana gue ngga kaget!" oceh Liza.
"Iya juga sih ya," jawab Anka sambil terkekeh. "Sorry ya Liz. Gue perginya dadakan. Ini juga gue masih inget buat pamitan sama elu dan Damar."
"Ka, elu mau kemana?" tanya Damar. Ponsel Liza berpindah tangan dengan cepat. Damar langsung menyambar ponsel Liza yang masih menempel di telinga kanannya. Liza hanya bisa mendengus kesal saat ponselnya berpindah tangan. Gadis itu tak ingin ketinggalan berita, dia kembali merampas ponsel miliknya dan menekan gambar speaker dengan cepat sebelum mendengar ocehan Damar. Pilihan yang adil untuk mereka.
"Gue mau ke Pontianak. Kampung halaman mayah (mama dan ayah) gue," jawab Anka.
"Lu pergi sendiri?" tanya Liza antusias.
"Engga," jawab Anka singkat.
"Lah! Emang lu pergi sama siapa?" desak Liza. Tersirat sedikit rasa kecewa dalam nada bicaranya. Maksud hati gadis itu ingin menawarkan diri untuk menemani Anka.
"Berdua," jawab Anka.
Liza dan Damar saling pandang. Mereka bingung Anka pergi ke Pontianak dengan siapa. Setahu mereka, Anka hanya memiliki mereka saja sepeninggal kedua orang tuanya yang menjadi korban pesawat jatuh lima tahun yang lalu. Satu-satunya orang yang mungkin pergi dengan Anka adalah Harvin.
"Lu per--"
"Sama bayangan gue lah," Anka segera menjawab sebelum Liza melanjutkan kalimatnya. Dia tahu pasti gadis itu mengira dia akan pergi bersama Harvin.
"Dasar edan!" Bisa-bisanya elu bercanda sih, Ka!" ketus Liza.
Damar menghela napas lega mendengar Anka bisa bercanda disaat kesedihan melandanya. Sedikit banyak, pria itu tahu alasan yang membuat Anka memutuskan untuk cuti bekerja.
"Ka, gue ikut ya!" rengek Liza.
"Ka, kalo udah sampe sono kabarin gue ya. Hati-hati di jalan! Bye!" seru Damar sambil memutuskan sambungan telpon secara sepihak. Dia tidak ingin mendengar rengekan Liza yang meminta ikut serta.
* * *
Sudah delapan hari Anka berada di kota Pontianak. Kota yang merupakan kampung halaman mendiang kedua orang tuanya. Keluarga mama dan ayahnya masih berada di kota ini. Namun, Anka enggan untuk mengunjungi mereka karena keadaannya saat ini kurang baik. Anka pasti tidak mampu untuk menahan keramahtamahan mereka. Belum lagi ocehan kakak dan adik-adik sepupunya yang sangat antusias mendengar cerita Anka di ibu kota.
Anka senang memiliki keluarga yang sangat sayang dan peduli kepadanya. Tapi, untuk saat ini, Anka memilih untuk tidak bertemu dengan mereka. Bahkan, kedatangannya ke kampung halaman mayahnya tidak dia beritahukan kepada mereka. Gadis itu sangat merindukan mendiang kedua orang tuanya. Untuk itu, dia memilih kampung halaman mayahnya. Bukan hanya sekedar untuk mengobati rindu tapi untuk menenangkan diri.
Selama di kota Pontianak, Anka lebih banyak menghabiskan waktu di hotel M, tempatnya menginap. Dia memilih hotel M karena dekat dengan salah satu mall terbesar di kota Pontianak. Saat Anka merasa jenuh, dia bisa refreshing ke sana dengan berjalan kaki. Seperti layaknya seorang turis ala lokal.
Keputusan Anka memilih cuti bekerja ternyata membuahkan hasil. Dia perlahan melupakan Harvin. Wajah Harvin hanya tertinggal samar-samar bahkan nyaris hilang dari ingatannya. Anka sudah membuat keputusan. Dia tidak akan kembali untuk meraih Harvin. Cukup dua kali Anka merasakan perihnya cinta. Gadis itu menutup rapat hatinya untuk cinta.
Dua hari sebelum masa cuti berakhir, Anka memutuskan untuk kembali ke Jakarta. Gadis belia itu terlihat ceria seperti dulu. Anka juga merubah sedikit model rambutnya. Dia ingin memulai hari yang baru di ibu kota sebagai Ellery Anka yang ceria tanpa cinta.
* * *
"Noah!" panggil Harvin.
"Ya tuan," Noah segera menjawab panggilan tuannya.
"Bagaimana? Apa kau sudah mendapat kabar dari Anka?" tanya Harvin sambil menatap keluar jendela. Pria itu sedang duduk menghadap jendela di ruangan kerjanya. Hampir dua Minggu Anka menghilang tanpa kabar. Dia merasa pernah mengalami hal serupa. Namun, kepalanya selalu sakit saat berusaha mengingat kejadian itu. Ada perasaan hampa saat Anka tidak berada di sisinya dan Harvin tidak suka perasaan itu.
"Maaf tuan. Saya belum menemukan keberadaan nona Anka. Saya akan lebih berusaha mencarinya," jawab Noah.
Harvin memijat keningnya yang mulai terasa pusing. Awalnya pusing itu hanya timbul sebentar, lama-kelamaan semakin menjadi hingga membuatnya tidak bisa berdiri.
"Apa ada yang sakit tuan?" tanya Noah khawatir saat melihat Harvin memijat keningnya. Wajah pria itu sedikit pucat. Tidak seperti biasanya.
"Aku baik-baik saja," Harvin tidak ingin menganggap serius sakit kepala yang menderanya. "Kabari aku jika kau sudah menemukan Anka. Kau boleh pergi sekarang."
"Baik tuan."
Noah langsung mengundurkan diri. Dia tahu jika tuannya saat ini ingin sendiri. Wajar saja jika tuannya terguncang, dia sudah melakukan sebuah kesalahan fatal yang membuat Anka kabur darinya. Dua hari setelah kejadian ponselnya hilang, Harvin meminta Noah untuk menyelidiki area parkir sekitar restoran.
Bukan hanya posisi ponselnya yang diketahui oleh Harvin melainkan kenyataan jika Anka tidak sedang bermesraan dengan seorang pria. Pria itu hanya membantu Anka agar tidak terjatuh. Harvin hanya melihat kejadian saat pria itu memeluk Anka. Dia telah menuduh Anka tanpa meminta penjelasan lebih dulu dari gadis itu. Bahkan, langsung membalas perbuatan Anka dengan mencium Claudia.
Selama ini Noah tahu keberadaan Anka. Dia sengaja tidak memberitahukannya kepada Harvin. Bukannya dia ingin ikut campur akan masalah perasaan tuannya. Tapi, tuannya sedikit buta masalah cinta. Noah telah membaut kesepakatan dengan dua sahabat Anka untuk tidak memberitahukan keberadaan Anka pada Harvin.
* * *
Hampir dua Minggu Anka meninggalkan kamar kostnya. Gadis itu sangat merindukan kamarnya sendiri. Sesampainya di kamar kost, Anka langsung bersih-bersih dan mengganti seprai. Wajar jika kamarnya sedikit berdebu karena sudah ditinggal lama oleh si pemilik.
"Beres," ucap Anak setelah selesai membersihkan dan merapikan kamarnya. "Kamar bersih, hati dan pikiran gue juga bersih dari Harvin."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments