Bab 14. The Accident

"Lu beneran besok udah masuk kerja, Ka?" Liza berkata dengan antusias. Dia sangat merindukan sahabatnya itu. Selama ini Anka tidak pernah meninggalkannya, jadi baru kali ini Liza merasa ditinggal oleh sahabatnya.

"Benerlah! Masa bohongan," jawab Anka semangat. "Lagian ATM gue udah mulai kurus, harus segera gue gemukin lagi," ucap Anka sambil terkekeh.

"Ih, ada-ada aja deh lu," balas Liza sambil terkekeh.

"Udah dulu ya. Gue mau rebahan dulu."

"Caela yang masih cuti. Enak dong bisa rebahan," nyinyir Liza.

"Lha! Lu kan juga bisa rebahan."

"Rebahan dari Hongkong. Orang gue sekarang ada di atas genteng," ketus Liza.

"Kok bisa Za?" Anka mulai tertarik pada ucapan Liza. Bagaimana bisa gadis yang super feminim itu bisa berada di atas genteng.

"Si Damar ngga ada kerjaan. Sepatu gue di lempar sama dia ke atas genteng." Nada bicara Liza terdengar kesal. Sebenarnya Anka ingin tertawa. Hanya saja, dia kasihan dengan nasib sahabat baiknya itu. Dia tidak bisa membayangkan jika gadis itu berada di atas genteng.

"Emang di lempar ke genteng mana, Za?" tanya Anka penasaran.

"Genteng kandang Moci," jawab Liza tanpa beban.

"Astaga naga, Liza. Gue pikir genteng beneran!"

"Ih, jangan teriak-teriak kali, Ka! Pendengaran gue masih bagus keles."

"Iya pendengaran elu emang masih bagus. Tapi, otak lu yang bermasalah."

"Ih, enak aja otak gue bermasalah," balas Liza tak kalah sewot.

"Jelas otak lu-lah yang bermasalah. Masa atap kandang Moci yang cuma seiprit lu kata genteng," balas Anka sambil tertawa.

"Bodo amat. Biar dikit juga genteng namanya," ketus Liza tak mau kalah.

"Terserah elu deh, Za! Gue mau rebahan aja," jawab Anka. "Eh, za!" teriak Anka sebelum sambungan telponnya diputuskan.

"Nape lagi? Katanya mau rebahan."

"Jangan bilang kalo sekarang elu lagi berdiri di atas atap kandang Moci!" Seru Anka dengan nada yang sedikit khawatir.

"Ya, iyalah. Kan gue mau ambil sepatu. Emang kena- ... aaa!" Liza berteriak sebelum menyelesaikan kata terakhirnya.

Anka dapat mendengar dengan jelas suara orang yang terjatuh. Dapat Anka bayangkan jika saat ini tubuh Liza pasti terjerembap ke tanah.

"Aduh, pantat silikon gue hancur nih!" rengek Liza.

"Kan bisa di tambal lagi, Liz."

"Ban bocor kali ditambal. Lagian elu kenapa ngga ingetin gue sih kalo tuh atap ngga kuat!"

Bukan Liza namanya jika tidak menyalahkan orang lain. Anka hanya bisa geleng-geleng kepala dengan sifat sahabatnya yang satu ini.

"Tadi gue udah mau ngomong. Eh, malah keburu elu jatoh," jawab Anka sambil terkekeh.

"Tau ah gelap. Gue mau bersihin celana dulu!" ketus Liza sambil memutuskan sambungan telpon.

Anka tersenyum melihat layar ponselnya yang sudah tidak terhubung dengan Liza. Gadis belia itu melanjutkan kegiatan rebahan yang tertunda. Dia harus menyiapkan tenaga untuk besok. Tepat empat belas hari dia tidak bekerja. Otot-ototnya pasti terasa kaku.

Anka bangun satu jam lebih awal. Padahal dia tidak menyalakan alarm seperti biasa untuk membangunkannya dari alam mimpi. Mungkin karena beristirahat dan menenangkan diri selama dua Minggu membuat tubuh gadis belia itu lebih fresh dan rileks.

Anka meraih ponselnya yang dia letakkan di atas nakas dan menyalakannya. Hanya butuh waktu kurang lebih tujuh puluh detik, ponselnya telah menyala. Dua notifikasi pesan langsung berbunyi saat ponsel Anka dalam mode aktif. Dua pesan itu masing-masing dari Damar dan Liza. Tentu saja hanya mereka berdua yang mengirimi Anka pesan. Isi kontaknya yang terbaru hanya dua orang sahabatnya itu saja.

Dia juga menyimpan nomor ibu kost. Hanya saja induk semang masih menggunakan ponsel jadul yang tidak bisa mengirim pesan atau menelpon melalui kuota.

Pesan dari Liza berisi semangat untuk hari kembali bekerja hari ini. Begitu pula dengan Damar. Tapi, Damar menambahkan sebuah foto yang membuat Anka tertawa di pagi buta. Gambar di saat Liza terjatuh kemarin dengan Moci yang langsung meloncat kaget ke atas kepala Liza.

Anka membalas satu persatu pesan dua sahabatnya itu dengan mengirimkan foto mentari yang perlahan menyebarkan sinar hangatnya dari balik tirai.

Damar langsung menjawab Anka dengan memberi stiker jempol berwajah yang memainkan topi sulapnya ke atas dan ke bawah. Sedangkan Liza, pasti masih berlayar ke pulau kapuk. Pesan yang dikirim Anka masih centang satu.

Hangatnya sinar mentari bagaikan memberi Anka semangat untuk menyambut hari dan menjalankan aktivitasnya. Anka segera bersiap membersihkan diri. Dia ingin tiba lebih awal di cafe O. Gadis belia itu sangat merindukan hiruk pikuk pelanggan di pagi hari, suara dentingan gelas dan sendok saat beradu, kepulan asap kopi, dan dua sahabat yang sudah lama dia tinggalkan.

Shift pagi Anka dimulai pukul sembilan pagi. Masih tersisa waktu dua jam untuk bekerja. Karena sudah bersemangat, Anka memilih berangkat ke cafe O sekarang dan sarapan di sana. Gadis cantik itu mengarahkan motor maticnya keluar gerbang kost secara perlahan. Anka tidak perlu menggunakan kecepatan sedang karena dia tidak terburu-buru. Gadis itu menikmati suasana pagi berangkat kerja.

Belum sampai setengah jalan ke tempat kerja, motor matic Anka mogok. Gadis itu langsung menepikan kendaraannya. "Yah, bensinnya habis!" ketus Anka kecewa saat melihat jarum digital penunjuk volume bensin yang tidak ada baloknya sama sekali.

"Perasaan kemaren ngga kemana-mana deh. Kok cepet banget ya habisnya," ucap Anka pelan.

Gadis itu melihat ke sana kemari mencari pom bensin atau pom mini untuk mengisi bahan bakarnya. Suasana pagi ini masih belum terlalu ramai karena kebanyakan orang di saat weekend seperti ini akan bangun siang atau masih berada di rumah untuk bermalas-malasan.

Beruntung beberapa meter di sebrang jalan, Anka melihat sebuah pom mini yang baru saja buka. Gadis itu mendorong motor maticnya sebelum menyebrang. Sesampainya di sebrang pom bensin mini, Anka berusaha memanggil si penjaga pom mini untuk membantunya menyeberangi jalan.

Anka tidak berani menyebrang jalan sambil menyeret motor. Apalagi dia seorang perempuan. Sayangnya si penjaga pom bensin tidak menghiraukan Anka. Mau tidak mau Anka harus menyebrang terlebih dahulu, baru meminta si penjaga menyeberangkan motornya atau membeli bensin dengan wadah kantong plastik.

Gadis cantik itu melihat ke kanan dan ke kiri sebelum menyebrang. Meski takut, Anka berusaha memberanikan diri. Anka melihat sebuah mobil Van putih yang menyala namun terparkir di baju jalan. Artinya mobil itu tidak akan berjalan dalam waktu beberapa menit ke depan. Sedangkan kendaraan lain di sisi kanan dan kiri terlihat masih jauh.

Anka langsung melangkahkan kakinya menuju ke seberang jalan. Baru lima langkah gadis itu menyebrang tiba-tiba terdengar suara benturan yang sangat keras diikuti dengan tubuh Anka yang terpental beberapa meter ke depan.

Beberapa orang yang berada tidak jauh dari lokasi kejadian langsung menoleh ke arah sumber suara. Beberapa wanita berteriak histeris saat melihat keadaan Anka yang terlihat tidak berdaya dan berlumuran cairan merah di bagian kepala. Sedangkan beberapa orang lainnya berusaha menghentikan kendaraan yang lewat untuk membawa Anka ke rumah sakit terdekat.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!