Bab 16. It's Okay Elu Ilang Ingatan

"Katakan! Apa yang terjadi dengan Anka?" Harvin dipenuhi dengan amarah saat mendengar Anka mengalami kecelakaan. Ada rasa perih di hatinya.

Noah menyesali perbuatannya yang menyalakan speaker ponsel. Seharusnya dia tidak mengelap sepatunya saat sedang menerima telpon. Dia pikir hanya akan mendengar ocehan Liza saja. Ternyata, mendapat kabar yang penting dari gadis itu.

Dia juga tidak tahu jika tuannya ikut serta ke luar ruangan. Alhasil, Harvin mendengar dengan jelas percakapannya dengan Liza. Belum lagi suara isak tangis Liza begitu kentara.

"Saya juga belum tahu pasti keadaan nona Anka, tuan. Saya akan menanyakan kepada Liza lebih dulu." jawab Noah.

Pandangan pria itu beralih pada layar ponselnya yang sudah menghitam. Liza Takh memutuskan sambungan telpon. Jika Noah tidak salah menebak, pasti di saat dia mendengar suara tuannya. Noah tak kehabisan akal. Dia segera menghubungi Liza. Sayangnya, ponsel Liza dalam keadaan tidak aktif.

Harvin yang melihat Noah gagal menghubungi seseorang, membuatnya tidak sabar untuk segera pergi melihat keadaan Anka. "Ke rumah sakit. Sekarang!" perintah Harvin.

"Baik tuan," jawab Noah sambil memberi jalan pada tuannya. "Rumah sakit yang mana tuan?" tanya Noah memberanikan diri. Tuannya dengan mudah memberi perintah untuk ke ruang sakit. Masalahnya, dia tidak tahu rumah sakit mana Anka dirawat. Dia saja tidak tahu apalagi tuannya.

"Cari satu-satu," jawab Harvin dengan tegas. Pria itu melangkahkan kakinya dengan lebar. Dia ingin segera menemui Anka.

Saat tiba di depan lift, Harvin memegangi kepalanya. Pusing menghantam kepala pria tampan itu. Harvin memegangi kepalanya dengan sebelah tangan. Beruntung Noah sigap menahan bobot tubuh Harvin sehingga pria itu tidak sampai jatuh ke lantai.

"Tuan, saya akan mengantar anda kembali ke ruangan," ucap Noah sambil memapah tubuh Harvin.

Harvin dalam keadaan setengah sadar. Dia ingin menolak untuk kembali ke ruangannya. Akan tetapi, pusing yang dia rasakan sudah tidak bisa ditahan. Untuk kali ini, dia akan mengikuti Noah.

* * *

"Mar, Anka kok lama banget sih sadarnya," ucap Liza saat melihat Anka yang masih setia menutup rapat kedua matanya dari balik kaca.

"Sabar, Liz. Gue yakin Anka ngga lama lagi sadar kok," Damar berusaha menenangkan Liza. Ternyata menenangkan Liza lebih sulit dibanding meladeni ocehannya.

Bangun Ka, Lu harus bangun. Ada gue sama Liza yang udah ngga sabar mau haha hihi sama elu lagi. Damar hanya bisa berkata dalam hati.

"Tapi ini udah lima hari, Mar!" Liza menatap wajah Damar dengan pandangan putus asa. Perasaan Damar terluka saat pandangan mereka beradu. Anka dan Liza sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri. Tidak ada perasaan yang spesial pada mereka.

"Gue yakin ngga lama lagi juga Anka sadar," ucap Damar sambil merangkul pindah Liza. Mereka menatap Anka dari balik kaca dan tak henti memanjatkan doa untuk kesadaran Anka.

Keesokan harinya, Damar dihubungi oleh pihak rumah sakit yang mengatakan bahwa Anka telah sadar dari koma. Damar bergegas menyusul Liza. Beruntung rumah mereka berdekatan. Jadi Damar tidak khawatir akan lama tiba di rumah sakit.

"Anka!" teriak Liza sesaat setelah menerobos masuk ke dalam kamar inap Anka. Anka telah dipindahkan ke ruang VIP sesuai permintaan Damar.

Gadis itu langsung menghambur mendekati tempat tidur dan memeluk erat tubuh Anka. Tangisan kebahagiaan menggema di seluruh ruangan akan kesadaran Anka. Liza memeluk erat Anka tanpa peduli dengan keadaan gadis itu.

"Gue seneng lu udah sadar Ka," ucap Liza sambil mencubit pelan kedua pipi Anka. Senyum lebar terukir di wajah gadis itu. Namun, Liza berhenti tersenyum saat melihat ekspresi Anka.

"Elu kenapa, Ka?" tanya Liza. "Apa ada yang sakit? Di mana? Gue panggilan dokter ya." Liza terlihat panik melihat keadaan Anka yang terdiam.

"Mar, buruan deh panggil dokter!" perintah Liza.

"Lha! Kan tadi elu yang mau manggil dokter. Kenapa jadi gue?" Perseteruan antara Liza dan Damar dimulai.

Anka menatap bingung dua orang yang sedang berdebat di hadapannya. Awalnya Anka mengira mereka adalah sepasang kekasih tapi dilihat dari cara mereka bertengkar, sepertinya bukan. "Maaf, mba siapa?" Anka tidak tahan dengan rasa penasaran yang sangat menggebu di hatinya.

"Hah! Mba? Lu kenapa, ka?" Liza langsung menoleh ke arah Anka. Dia tidak percaya dengan yang baru saja didengarnya. "Ada-ada aja lu, ka!" seru Liza.

Lain halnya dengan Damar. Pria itu langsung menatap lekat Anka. Dia langsung terdiam saat mendapati ekspresi Anka yang kebingungan. "Gue panggil dokter." Damar langsung pergi keluar kamar. Sebetulnya hanya dengan menekan tombol yang berada di atas tempat tidur Anka, perawat akan segera datang. Akan tetapi, Damar ingin bertemu langsung dengan dokter yang menangani Anka.

Damar tidak ingin terlewat informasi apa pun mengenai kesehatan Anka. Apalagi ada Liza di ruangan Anka. Bisa-bisa menambah pusing kepalanya antara mendengar penjelasan dokter atau ocehan Liza.

"Ih, Anka jangan becanda deh!" rengek Liza sambil menggoyang tangan Anka.

Anka bingung tidak tahu harus bagaimana. Kepalanya masih terasa berat dan agak pusing. Belum lagi ada dua orang yang tidak dia kenal berada di kamarnya. Gadis itu hanya bisa diam.

"Ka, masa elu ngga kenal sama gue!"

Anka hanya menggelengkan kepala. Jawaban Anka tanpa suara itu membuat Liza menghela napas dengan kasar. "Lu ngga becanda kan, Ka?" Liza berusaha meyakinkan dirinya.

Lagi-lagi Anka menjawab dengan gelengan kepala dan lagi-lagi Liza menghela napas kasar. "Ok, kalo lu ngga kenal sama gue. Sekarang gue tanya. Nama lu siapa?" tanya Liza.

"Ellery Anka," jawab Anka pelan.

"Nah, itu lu tau nama elu!" jawab Liza bersemangat.

"Tadi waktu saya sadar, seorang perawat sempat menyebutkan nama saya," ucap Anka.

"Hah! Saya?" Liza berteriak tidak percaya. "Sejak kapan elu ngomong pakek 'saya', Ka?"

Anka hanya diam. Dia bingung harus menjawab apa. Mungkin saja gadis yang duduk di atas tempat tidurnya adalah kenalannya dulu. Akan tetapi, Anka tidak bisa mengingat sedikit pun tentang gadis itu.

"Amsiong deh!" Liza menepuk keningnya sendiri karena sadar jika sahabat baiknya itu mengalami amnesia. Namun, seketika Liza kembali bersemangat.

"Ngga apa deh, Ka. Elu ilang ingatan, yang penting elu sehat," ucap Liza sambil tersenyum.

Damar dan seorang dokter memasuki kamar Anka. Liza langsung berdiri memberi dokter ruang untuk memeriksa Anka. Liza sambil menceritakan tingkah Anka yang menurutnya aneh karena tidak mengenalnya.

"Jadi gimana dok?" tanya Liza tak sabaran.

"Menurut diagnosa saya, pasien mengalami amnesia," jawab dokter.

"Bener-bener dah!" seru Liza. "Berapa lama dok?" Liza tak henti bertanya.

Untung gue indah konsul duluan sama dokter. Ini nih yang bikin ribet, ocehan Liza. Belom juga dokter selesai jelasin udah di cecar sama pertanyaan laen. Ucap Damar dalam hati.

"Untuk waktunya tidak bisa kita prediksikan. Sebaiknya pelan-pelan saja. Lagipula kondisi pasien mulai membaik. Seiring berjalannya waktu, ingatan pasien pasti akan kembali," jelas dokter.

Liza mengangguk tanda mengerti. Baginya, kesehatan Anka lebih penting. Anka telah melewati banyak kesedihan. Ada baiknya Anka mengalami amnesia. Dia bisa memulai semuanya dari awal. Cukup dia dan Damar yang akan selalu mendampingi dan menjaga Anka.

"Mikir apaan lu?" cecar Damar setelah mengantar dokter keluar.

"Ngga ada," jawab Liza singkat. Gadis itu langsung berlalu melewati Damar dan mendekati Anka.

"Hai, kenalin nama gue Neliza Baker. Lu bisa panggil gue Liza," ucap Liza sambil menyodorkan tangan kanannya pada Anka.

Anka tersenyum dan menerima uluran tangan gadis itu. "Saya Anka."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!