Bab 12. Lelah

Anka pulang dengan perasaan hancur. Perasaan yang dulu pernah menghampiri hatinya. Sekarang rasa itu kembali hadir dengan sekejap membuat air mata gadis itu kembali mengalir. Tak ada tempat lain selain kamar kost yang menjadi tempat peraduannya. Anka melajukan motor matic dengan kecepatan sedang. Dia ingin segera tiba di kost.

Anka menghempaskan tubuhnya di atas kasur setibanya di kost. Dia membenamkan kepala agar tangisnya tak terdengar. Kejadian yang hampir sama dia lakukan beberapa waktu lalu saat mendengar alasan Harvin menjalin kasih dengannya. Namun kali ini lebih parah. Pria itu mencium Claudia dengan penuh hasrat.

Mereka seperti pasangan romantis yang sudah lama terpisah dan baru bertemu malam itu. Apalagi mereka melakukannya di tempat umum. Seperti pasangan yang sedang di mabuk cinta yang tidak tahu tempat sama sekali.

Anka berusaha berpikir keras meski hatinya sakit. Dia mengulang kembali setiap memori baru yang terukir setelah Harvin amnesia. Lebih tepatnya hanya melupakan dia. Untuk kenangan yang lain, pria itu sudah mengingatnya dengan jelas.

Anka merasa perasaannya telah dipermainkan. Dia tidak bisa membedakan antara cinta Harvin yang tulus padanya dengan cinta untuknya sebagai pengganti. Pikiran Anka berkecamuk. Sangat sulit baginya untuk menerima kenyataan yang mengguncang perasaannya.

Apa dia adalah seorang gadis bodoh yang dengan gampang dibodohi oleh perasaan cinta atau seorang gadis polos yang baru mengenal cinta? Pertanyaan tanpa jawaban yang saat ini selalu berkecamuk di pikirannya. Tanpa dia sadari, rasa lelah yang telah menghantam berkali-kali mengantarnya menuju alam mimpi. Kedua netra gadis itu tertutup rapat, pertanda si pemilik mulai terlelap.

Keesokan paginya, Anka terbangun dengan mata sembab. Seluruh tubuhnya terasa pegal dan lelah. Namun, perasaannya lebih lelah dari apapun. Untuk sejenak, Anka menepis kerisauan hatinya. Seperti sebelumnya, dia harus segera bangkit dari keterpurukan hatinya. Tapi kali ini, Anka tidak kembali untuk bekerja.

Tadi malam, saat rasa lelah bercampur aduk dengan perasaan marah, kecewa, sedih, dan putus asa, Anka masih bisa berpikir jernih. Gadis itu memutuskan untuk mengambil cuti. Dia membutuhkan waktu untuk menjernihkan pikiran dan menatap hatinya kembali.

Anka meraih ponsel dari dalam ransel mininya. Banyak notifikasi pesan masuk yang jumlahnya jika ditotalkan sekitar seribuan pesan. Pesan terbanyak dari Liza dah Noah. Anka sedang malas untuk membuka semua pesan itu. Lagipula dia bisa menebak isi pesan itu. Liza sudah pasti penasaran dengan kencannya dengan Harvin tadi malam.

Sedangkan Noah pasti mengkhawatirkan dirinya atau sekedar memberitahu kemalangan apa lagi yang menimpa tuannya. Mirip kejadian waktu itu. Bukannya dia berharap Harvin akan tertimpa musibah. Sedikit banyak dia berharap, bisa saja kemalangan kali ini bisa membuat Harvin teringat kembali padanya. Anka merasa Dejavu dengan kejadian yang dialaminya.

Notifikasi ponsel yang lemah berbunyi berkali-kali. Anka menatap layar ponsel dan melihat denyut nadi ponselnya tertinggal lima persen. Gadis itu segera mengisi ulang daya ponsel. Baru saja dia meletakkan ponselnya di atas meja, benda pipih itu bergetar. Anka langsung menatap layar melihat sebuah nama yang tertera di sana.

Harvin

Terbesit kebimbangan di hati Anka. Dia pernah menolak panggilan Harvin sehingga membuat pria itu mengalami kecelakaan. Hatinya masih tak kuasa untuk berbicara dengan pria itu. Akan tetapi, bayangan tentang kejadian lalu yang membuat Harvin amnesia membuat Anka mau tidak mau menjawab panggilan masuk Harvin.

"Hai Anka!"

Anka tertegun mendengar suara wanita dari seberang sana. Dia segera mengatur napas berusaha tetap tenang. Tarikan kuat napas Anka terdengar oleh wanita itu yang tidak lain adalah Claudia, membuat wanita itu tertawa senang. Dari situ dia tahu jika Anka saat ini sedang tertekan. Anka tidak ingin membalas ucapan Claudia. Jika dia menjawabnya, dia akan terpancing dengan permainan wanita itu yang sengaja memanasi-nya.

"Poor Anka! (Anka yang kasihan). Kau tahu, aku menghabiskan malam bersama Harvin," ucap Claudia sambil terkekeh.

Anka dapat mendengar suara serak khas pria yang baru saja bangun tidur di seberang sana.

"Oops! Aku yakin kau pasti mendengarnya." Claudia semakin gencar memanasi Anka.

Anka tau ingin mendengar lebih jauh lagi. Dia segera memutuskan sambungan telpon. Gadis belia itu menyesal menjawab panggilan dari Harvin. Air matanya kembali mengalir. Gadis itu menangis dalam diam.

* * *

"Noah!"

"Iya tuan."

"Cari ponselku! Aku tidak bisa menemukannya di mana pun." Harvin baru menyadari kehilangan ponselnya pagi ini. Itu pun dia sadari saat dia berniat untuk mencoba menghubungi Anka. Bukan ciri khas Harvin menyimpan sesuatu dengan asal. Ponselnya pasti terjatuh saat dia menarik lengan wanita, yang tak lain adalah Claudia tadi malam.

"Baik tuan."

* * *

"Mar, Damar!" teriak Liza.

Damar hampir pusing dibuat oleh Liza. Gadis itu mengikuti kemana pun dia pergi selama dua jam terakhir. Ibarat barongsai, Damar di bagian kepala dan Liza di bagian ekor.

"Apaan sih, Za?" Damar membalikkan tubuhnya sambil berkacak pinggang. Dia sudah kesal dengan tingkah salah satu sahabatnya itu.

"Aduh!" Liza menabrak tubuh Damar saat pria itu membalikkan tubuhnya tanpa aba-aba. "ih, Damar! Bukannya bilang-bilang mau balikin badan!" ketus Liza. "Bisa hilang nih hidung gue yang mancung," timpal gadis itu sambil menggosok pelan pangkal hidungnya.

"Lagian elu, ngekorin gue terus dari tadi." Damar tak kalah ketus. "Kenapa? Ada apa?"

"Ish, itu Anka kenapa belom datang?"

"Mana gue tahu Li-za. Emangnya gue bapaknya. Lu kan bisa telpon dia."

"Kalo bisa, gue ngga bakalan ngekorin elu," jawab Liza.

"Terus elu maunya gimana?" tanya Damar menahan emosi.

"Elu marah ya?" Liza menatap lekat wajah Damar.

"Engga," jawab Damar sambil tersenyum paksa.

"Iya, elu marah. Gue tahu. Marah kan?"

"Engga."

"Iya, elu marah."

"Engga."

"Marah."

"Iya gue marah. Puas nona Liza." Terkadang perdebatan tidak penting seperti inilah yang membuat Damar sedikit risih dengan dua sahabatnya itu. Di antara Anka dan Liza, Liza lah yang paling parah.

"Ih, jangan marah dong Mar!" rengek Liza.

"Denger ya Za, gue itu awalnya ngga marah sama elu. Gue cuma kesal aja. Tapi, lama kelamaan gue jadi marah beneran sama elu. Elu mau gaji lu gue potong," Damar berkata sambil memamerkan deretan giginya yang rapi. Pria itu tersenyum lebar karena berhasil membuat sahabatnya terdiam.

Liza langsung menggeleng. Meski sahabat, Damar tidak akan terpengaruh jika menyangkut pekerjaan. Apalagi si pemilik cafe O yang real adalah Damar. Om Candra hanya sebatas membantunya di sana.

"Bagus. Gitu dong. Jadi anak gadis penurut. Terus sekarang mau lu gimana?" tanya Damar dengan suara datar.

Liza langsung bersuara saat Damar melemparkan pertanyaan padanya, "Kita ke kost an Anka." Liza langsung menarik tangan Damar untuk pergi ke kost an Anka.

Di saat bersamaan, ponsel Damar berbunyi. Bunyi notifikasi beberapa pesan masuk. "Bentar, Liz! Kayaknya penting." Damar langsung melepaskan tangannya dari Liza.

"Ya udah, cepetan!" ketus Liza sambil melipat tangannya di depan.

Damar meraih ponsel dan membuka isi pesan masuk. Raut wajah Damar terlihat serius. Liza tidak suka jika melihat raut wajah Damar seperti itu.

"Lu bener Liz," ucap Damar sambil membaca isi pesan yang belum selesai dibacanya.

"Bener kenapa?" tanya Liza penasaran.

"Ada sesuatu dengan Anka. Dia cuti kerja mulai hari ini."

"Hah!"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!