Bab 7. Harvin Amnesia

Melihat Noah yang sedikit gugup membuat Anka dilanda perasaan yang tidak menentu. Bayangan akan Harvin melayang-layang di dalam benaknya. Perasaan tidak nyaman itu semakin menjadi-jadi hingga Anka bisa mendengar sendiri detak jantungnya yang bergemuruh kencang. Mungkin Noah dan beberapa orang di sekitar juga bisa mendengarnya.

"Ada apa dengan Harvin, Noah?" Anka tidak sabar untuk mendengar ucapan dari Noah.

Noah merasa sedikit terdesak, dia merasa mulai gundah. Pria itu berpikir tentang perbuatannya kali ini. Apakah benar atau tidak. Baru kali ini dia bertindak tanpa perintah. Noah langsung pergi begitu saja menuju ke cafe O setelah mendengar sang tuan menyebut nama Anka beberapa kali.

"Oh, ayolah Noah! Jangan membuatku semakin panik!" Anka mulai merengek pada Noah. Sejurus kemudian, gadis itu teringat sesuatu yang dia lakukan kemarin.

"Ah!" Anka langsung menutup mulut dengan kedua tangannya. "Apa Harvin mengetahui perihal mobilnya yang aku baret kemarin?" tanya Anka khawatir.

Noah mengerutkan kening setelah mendengar pertanyaan Anka. Ternyata nona mudanya bisa takut juga dengan tuan Harvin.

"Bukan itu nona," jawab Noah sopan.

"Oh syukurlah!" Anka bernapas lega setelah mendengar jawaban Noah. Namun, rasa tidak nyaman di dalam hatinya masih terus bergejolak. "Lantas apa?" tanya Anka sambil menatap wajah Noah.

Meras dipandangi dengan tatapan yang menuntut sebuah jawaban, Noah akhirnya mengutarakan maksud kedatangannya. Dia menarik napas dalam-dalam sebelum berbicara, "Tuan Harvin mengalami kecelakaan lewat tengah malam tadi, nona."

"Apa?" Anka merasa tidak percaya dengan apa yang didengarnya.

"Eh, Anka kenapa tuh?" Liza hampir tersedak saat mendengar teriakan Anka.

"Ngga tahu," jawab Damar asal.

"Ayo lihatin!" Liza menarik lengan Damar untuk menemaninya menghampiri Anka dan si pria tampan.

"Lu kenapa, Ka?" tanya Liza setelah berdiri di samping Anka.

"Kamu tidak bohong?" Meski perasaan Anka semakin bergemuruh, dia tetap harus berpikir logis. Bisa jadi ini adalah salah satu akal-akal-an Harvin agar bisa bertemu dengannya.

"Saya tidak berani nona," jawab Noah sambil menundukkan kepala.

"Ini ada apa sih?" Liza terlihat bingung. Dia menatap Anka dan si pria tampan bergantian.

Anka terdiam, dia berusaha mencerna setiap kata yang diucapkan oleh Noah. Melihat Anka terdiam, Liza memberanikan diri bertanya pada si pria tampan. Dia sangat penasaran dengan yang terjadi.

"Ehem, pria tampan!" seru Liza dengan santainya.

Sudut bibir Noah terbentuk senyuman meski sekilas saat mendengar seorang gadis yang menyebutnya pria tampan.

Liza segera menutup mulut dengan kedua tangannya saat menyadari menyebut pria di depannya dengan sebutan pria tampan. Dua orang berbeda gender itu terlihat tersipu. Damar yang tidak tahan melihat kelakuan Liza dan Noah langsung menyemprot di area sekeliling mereka.

"Ish, apaan sih Mar!" ketus Liza yang tidak terima saat terkena percikan air yang disemprot oleh Damar.

"Gue lagi nyemprot."

"Gue juga tahu kalo elu lagi nyemprot. Nyemprot apaan sih lu!" Liza terlihat kesal dengan kelakuan Damar.

"Nyemprot cupid (malaikat cinta) biar ngga hinggap di mari!" ketus Damar sambil menyemprot ke udara.

"Ih, udah deh!" rengek Liza.

Anka yang mulai sadar dari lamunannya langsung meraih tangan Noah. "Antar gue sekarang!" perintah Anka sambil menyeret Noah kelar cafe.

Pria itu langsung mengikuti langkah kaki Anka. Liza yang aslinya memang penasaran tak ingin ketinggalan. Dia meraih kerah belakang baju seragam Damar lalu menariknya. Alhasil Damar merasa tercekik.

Kurang lebih empat puluh lima menit mereka tiba di rumah sakit. Anka sedikit terpana melihat kemegahan rumah sakit swasta yang kebanyakan pasiennya adalah orang-orang kelas atas.

"Mari nona, ikuti saya!" perintah Noah pada Anka. Pria itu langsung berjalan masuk dan diikuti oleh Anka. Liza dan Damar tertinggal di dalam mobil karena Noah sengaja mengunci mereka berdua sebelum sempat keluar dari dalam mobil. Pria itu memberi celah melalui jendela agar oksigen bisa masuk ke dalam mobil.

Meskipun yang dilakukan Noah sia-sia, tapi setidaknya bisa mencegah mereka untuk ikut serta ke ruangan tuannya. Membawa Anka saja bisa jadi sebuah kesalahan. Apalagi membawa dua orang tambahan.

"Nona, silahkan!" Noah mempersilahkan Anka masuk ke dalam ruangan VVIP.

Awalnya Anka terkesiap dengan dekorasi yang dihadirkan oleh ruangan itu. Wajar saja, kamar VVIP ini hanya bisa digunakan oleh orang-orang kelas atas. Bagi Anka, bisa berobat gratis saja dengan menggunakan kartu sehat dari pemerintah sudah bersyukur.

Pandangan Anka terhenti saat kedua netra nya menangkap sosok pria yang terbaring di atas hospital bed. Tali infus tergantung di sebelah kiri pria itu. Anka melangkahkan kakinya perlahan mendekati pria itu. Harvin terbaring lemah dengan perban di kepala.

"Sepertinya tuan Harvin masih tidur nona," ucap Noah dari belakang.

"Aku rasa iya. Mungkin karena pengaruh obat," Anka menjawab tanpa mengalihkan pandangannya.

Mata Harvin bergerak perlahan, diikuti dengan jari tangannya. Anka langsung menggenggam tangan Harvin. Memberi kekuatan melalui genggaman tangan.

Kedua mata pria itu terbuka. Dia menatap di sekitar. Tangan kanannya terasa berat seperti ada sesuatu yang menghalanginya untuk bergerak. Saat pandangan Harvin turun ke bawah, dia melihat seorang gadis yang menggenggam erat tangannya.

"Siapa kamu?" Harvin langsung melepaskan tangannya dari Anka. Dia sangat tidak suka jika ada seorang wanita yang menyentuh dirinya. Harvin langsung terduduk. Dia menatap tajam Noah.

"Har-vin," Anka sampai tergagap menyebut nama kekasihnya. Dia bingung dengan sikap Harvin yang tiba-tiba berubah.

"Noah!" panggil Harvin.

Noah langsung menghampiri tuannya. "Iya tuan."

"Bawa pergi gadis ini!" Harvin berteriak sambil mengenang kepalanya yang mulai terasa sakit.

"Noah." Giliran Anka yang memanggilnya.

"Iya nona," jawab Noah.

"Ada apa dengan Harvin?" Kebingungan menghampiri Anka. Dia sangat butuh penjelasan saat ini.

"Saya juga tidak tahu nona," jawab Noah sambil memencet tombol di dekat tempat tidur tuannya.

Seorang dokter dan perawat masuk ke dalam kamar setelah mendapat panggilan dari kamar VVIP Harvin.

Anka dan Noah memberi ruang pada dokter untuk memeriksa keadaan pasien. Harvin yang awalnya tidak suka dengan kehadiran Anka, mau tidak mau harus mengalah sementara karena hadirnya dokter dan perawat.

Setelah memeriksa keadaan Harvin, dokter Andres meminta Noah untuk ke ruangannya. Sedangkan Harvin, perlahan terlelap karena obat yang disuntikkan melalui infus.

Noah mengajak Anka untuk turut serta ke ruangan dokter. Lebih baik Anka mengetahui keadaan tuannya secara langsung dari dokter.

"Silahkan duduk!" ucap dokter Andres pada dua orang berbeda gender yang berdiri dihadapannya.

Anka dan Noah langsung duduk. Dokter Andres mulai menjelaskan secara perlahan tentang kondisi pasien. Noah juga menceritakan keadaan tuannya setelah sadar. Anka hanya bisa menjadi pendengar yang setia karena tidak berani ikut campur saat Noah berbicara dengan dokter.

Akan tetapi, penjelasan dokter berikutnya membuat Anka terkejut. "Amnesia dok!"

"Iya. Pasien mengalami amnesia yang bersifat sementara. Benturan di kepalanya termasuk dalam kategori sedikit kuat."

"Kapan dia akan sembuh dok?" tanya Anka dengan tidak sabar.

"Tergantung keadaan pasien. Amnesia yang dialami pasien akan pulih dengan sendirinya. Selama gejala yang ditimbulkan tidak berulang terus-menerus."

Anka langsung menyandarkan punggungnya dengan lemas. Pikirannya berkecamuk. Apa mungkin karena karma yang tidak sengaja dia lakukan. Rasa sesal mulai menghampiri Anka. Dia menyesali tindakannya tadi malam yang tidak mengaktifkan ponsel.

Jika saja dia mengaktifkan ponsel, Harvin tidak akan terbaring di rumah sakit. Anka mulai menyalahkan dirinya sendiri. Dia berdiri dan perlahan meninggalkan ruangan. Anka berjalan dengan langkah gontai hingga tiba di halaman parkir.

Liza yang sedari tadi menunggu kedatangan Anka atau si pria tampan merasa lega saat melihat salah satu dari mereka kembali. Liza yang tadinya ingin menyemprot Anka, langsung mengurungkan niatnya saat melihat wajah sedih Anka.

"Elu kenapa, Ka?" tanya Liza sambil merangkul Anka.

Anak menoleh menatap sahabatnya. "Harvin, Liz." Air mata Anka langsung tumpah.

Liza yang mendapati sahabatnya itu sedang bersedih, langsung memeluk erat tubuh Anka.

"Gue turut berduka cita, Ka."

Anka langsung melepas pelukan dan menatap Liza. "Siapa yang meninggal, Liz?" tanya Anka bingung.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!