Bab 18. Rahasia Claudia

"Noah!" teriak Harvin.

Ya ampun tuan. Aku masih berada di ruang kerja anda. Tidak perlu berteriak sekencang itu, tuan. Telingaku masih berfungsi dengan baik. Noah bermonolog dalam hati. "Iya tuan," jawab Noah.

"Apa benar informasi yang diberikan oleh Rudolf?" Harvin berusaha menahan amarahnya hingga suaranya terdengar berat.

"Seratus persen akurat, tuan. Rudolf sudah menginterogasi dokter dan perawat yang membantu nona Claudia," Noah menjawab dengan yakin. Rudolf terkenal sangat teliti dalam mengerjakan sesuatu. Pria itu tidak mungkin salah. Lagipula, Noah sendiri sering melihat Claudia bersama pria lain selain dengan tuannya saat mereka masih sebagai sepasang kekasih.

Brak

Apes sekali nasibmu meja. Sudah berapa kali kau di gebrak oleh tuan. Tak bisa kubayangkan jika aku menjadi dirimu. Noah tidak berani berucap saat amarah tuannya melampaui batas maksimal.

"Mereka harus membayarnya!" geram Harvin. "Mereka harus membayar waktu yang sudah aku sia-siakan," ucap Harvin sambil menatap tajam.

"Rudolf juga mengambil tes DNA bayi itu tuan." Meski sedikit takut, mau tidak mau Noah tetap harus menyampaikan setiap informasi yang sudah dia terima dari Rudolf kepada tuannya.

"Berikan padaku!"

Noah memberikan secarik kertas yang berisi hasil tes DNA. Benar jika bayi itu milik Claudia. Namun, siapa ayah dari si bayi menjadi tanda tanya Harvin. Noah mengerti pertanyaan yang ada di kepala tuannya.

"Ayah dari bayi itu adalah sepupu dari nona Claudia, tuan."

Harvin menatap Noah tak percaya. Tangan kanannya itu bisa membaca isi pikirannya. "Bagaimana mungkin?" tanya Harvin sambil menatap Noah.

"Menurut informasi yang didapat, sepupunya adalah anak angkat dari bibi nona Claudia. Jadi, secara teknis mereka tidak memiliki hubungan darah sama sekali. Hanya sebatas status," jelas Noah.

"Aah!" Harvin berteriak frustasi. Namun, tak berapa lama, Harvin malah tertawa terbahak-bahak.

Noah khawatir dengan keadaan tuannya yang tiba-tiba berubah. Amnesia tuannya baru saja sembuh. Kesembuhan amnesia tuannya malah dirayakan dengan kenyataan pahit tentang wanita yang sangat dicintainya selama ini.

Aku harap mata hati anda terbuka tuan. Nona Anka jauh lebih baik dari Claudia. Lagi-lagi Noah hanya berani berkata di dalam hati.

"Kau tahu Noah! Aku ini sangat bodoh. Permata yang sudah berada di dalam genggamanku malah aku buang dengan mudahnya. Aku justru memungut batu kerikil yang berusaha menjadi permata yang indah," ucap Harvin dengan nada sedih.

Pria itu teringat dengan Anka. Gadis yang dia jadikan sebagai pengganti Claudia karena wajah mereka yang mirip. Benar kata Noah, Anka dan Claudia adalah dua orang yang berbeda. Sangat jauh berbeda.

"Anka," ucap Harvin lirih. Rasa rindu menyergap relung hati pria itu. Dia sangat merindukan Anka. Tidak ada keraguan lagi di hatinya. Anka adalah wanita yang sangat pantas berada disisinya. "Noah, persiapkan mobil. Kita ke rumah sakit sekarang!"

Harvin melangkahkan kakinya dengan cepat. Dia ingin segera menemui Anka. Hampir satu Minggu pria itu tidak bertemu dengan kekasih hatinya. Apalagi kabar terakhir yang dia dapat adalah Anka mengalami kecelakaan. Harvin ingin segera mengetahui keadaan Anka.

"Maaf tuan, saya menyela anda. Saat ini nona Anka pasti sudah beristirahat."

"Memangnya kau ahli nujum bisa tahu keadaan seseorang," ketus Harvin.

"Bukan tuan. Hanya saja sekarang hampir pukul sebelas malam," jelas Noah.

Harvin langsung menatap jam tangannya. Benar saja yang dikatakan oleh Noah. Saat ini hampir jam sebelas malam. Jika dia tetap nekad akan pergi ke rumah sakit, bisa-bisa tengah malam nanti dia baru sampai rumah sakit. Belum lagi dicegat oleh pak satpam.

"Kau benar. Kalau begitu besok pagi-pagi sekali kita akan pergi menjenguk Anka," ucap Harvin. "Kau menginap di sini saja malam ini. Tidak usah pulang ke apartemen lagi!" perintah Harvin.

"Baik tuan," jawab Noah tak bersemangat. Bagaimana mau bersemangat, nyatanya dia harus tidur di ruang kerja yang sudah seperti gudang yang bobrok menemani sang tuan.

* * *

Claudia yang sudah mengetahui jika dirinya telah diikuti oleh orang suruhan Harvin, mulai merencanakan sesuatu terhadap Anka. Wanita berbisa itu segera menyusun rencana kabur sebelum Harvin menghancurkannya. Belum lagi dia harus menyembunyikan Axel, putranya yang berusia dua tahun lima bulan. Dia tidak ingin Axel menjadi titik lemahnya.

Meski dia tidak menerima kehamilannya dengan pria lain. Claudia tetap mencintai putranya. Setidaknya masih tersisa sisi baik dari seorang Claudia. Sebelum informan Harvin menyampaikan seluruh beritanya, Claudia langsung melancarkan rencananya. Salah satunya menghadirkan pria yang dulu dipuja oleh Anka. Namun, pria itu tidak menyukai Anka. Pria itu dengan suka rela membantu Claudia.

* * *

Keesokan paginya, Elvan tiba di rumah sakit lebih pagi dari ayam jantan yang berkokok. Dia tahu, jika Liza dan Damar akan tiba di rumah sakit pada pukul sepuluh pagi. Jadi, dia harus bergegas mengeluarkan Anka dari sana.

Anka baru saja menyelesaikan sarapan paginya. Infus di tangan kanan gadis itu sudah terlepas. Selesai sarapan, Anka segera ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Liza membawakan beberapa pakaian baru untuknya. Itulah enaknya memiliki sahabat wanita. Mereka mengerti apa yang dibutuhkan dalam kondisi apapun.

Elvan memasuki kamar Anka dengan membawa kursi roda. " Good morning sayang," sapa Elvan sambil tersenyum.

"Hai! Morning," balas Anka.

"Gimana udah siap?" tanya Harvin.

"Siap ke-mana?" tanya Anka bingung.

"Tentu saja kembali ke villa," jawab Elvan sambil tertawa kecil. "Apa kau amnesia lagi sayang?" tanya Harvin dengan nada sedikit khawatir.

"Ish, kau itu!" rengek Anka.

"Hahaha... Aku hanya bercanda," jawab Elvan. "Apa kau sudah siap?" tanya Elvan.

"Tentu," Anka menjawab dengan nada lirih. "Apa sebaiknya menunggu Liza dan Damar dulu? Aku ingin berpamitan kepada mereka lebih dulu."

"Aku rasa mereka bisa menyusul nanti," jawab Elvan sambil tersenyum simpul.

Setelah perjuangan yang cukup alot, akhirnya Anka memutuskan untuk mengikuti saran Elvan. Toh, dua sahabatnya itu bisa menyusul nanti. Anka menaiki kursi roda dan dibantu oleh Elvan. Elvan mendorong kursi roda Anka dengan santai sambil bersiul. Mereka meninggalkan gedung rumah sakit dengan aman.

* * *

"Noah, cepatlah!" Harvin berteriak tidak sabar.

"Sebentar tuan," jawab Noah. Ya ampun tuan! Ini baru jam enam pagi. Noah mempercepat langkah kakinya. Dia baru saja terlelap sekitar satu jam. Baru saja dia memejamkan matanya saat gelap. Tiba-tiba sudah terang saja. Pasti para dewa lupa mematikan lampu. Haish! Cepat sekali waktu berlalu. Noah menggerutu di dalam hati.

Perjalanan menuju rumah sakit tidak mulus. Mobil yang dikendarai Noah harus terjebak macet kurang lebih dua jam karena ada galian. Noah memperhatikan gerak-gerik tuannya dari kaca spion depan. Harvin yang berada di kursi penumpang terlihat gusar. Tidak biasanya, Harvin bertingkah seperti itu.

Untung saja, Liza memberitahunya alamat rumah sakit, tempat Anka dirawat. Jadi, dia tidak perlu repot-repot mengecek rumah sakit satu per satu. Akan tetapi, alamat itu tidak didapatnya dengan gratis. Liza sangat pandai memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan. Sebagai imbalannya, Noah harus bersedia mengajaknya makan malam sebanyak tiga kali alias berkencan.

Sesampainya di parkiran rumah sakit, Harvin langsung membuat pintu mobil hingga membuat Noah harus mengerem karena kondisi mobil masih berjalan meski pelan. Noah tidak mengikuti tuannya. Dia harus memarkir mobil lebih dulu.

"An-" ucapan Harvin terhenti saat melihat dua sahabat Anka yang sudah berada di dalam kamar dengan Liza yang menangis di pelukan Damar.

Tatapan Harvin berpindah ke tempat tidur yang sudah kosong dan rapi. Seketika tubuh Harvin menjadi lemas. Air mata mengalir di kedua pipinya. "Aah!" teriak Harvin. Pria itu berbalik dan meninju dinding dengan kuat.

Suara teriakan dan bunyi benturan yang kuat membuat Liza tergelak. Gadis itu spontan berhenti menangis. "Dia kenapa?" tanya Liza pada Damar.

"Entahlah," ucap Damar.

Liza melepaskan pelukannya, dia berjalan mendekati Harvin.

"Elu kenapa?" tanya Liza bingung.

Harvin menatap tajam pada Liza. Pria itu sedikit kesal dengan salah seorang sahabat kekasihnya. Bisa-bisanya dia bertanya keadaan Harvin. Jika saja Harvin tidak melihatnya sebagai seorang wanita, dia pasti sudah beradu tangan dengannya.

"Anka ..."

"Oh! Cepat sekali beritanya sampai ke telinga elu!" ketus Liza.

Sabar. Tahan. Gadis ini memang menyebalkan. Ucap Harvin dalam hati.

"Dari mana kau tahu Anka menghilang?" tanya Liza. Seingatnya, dia belum memberitahu Noah bahwa Anka menghilang.

"Anka menghilang?" Harvin mengulangi pertanyaan.

"Ya, menghilang. Emangnya elu pikir Anka kenapa?"

Perasaan lega langsung mengisi relung hati pria itu. Dia sangat bersyukur Anka menghilang. Tubuhnya sampai merosot ke lantai karena dilanda kelegaan yang tiada tara. Jika Anka menghilang, dia masih bisa mencarinya hingga ke ujung dunia. Tapi, jika Anka sudah tidak ada di dunia ini lagi, tidak ada harapan untuknya menemukan Anka. Seumur hidup, dia akan hidup dalam penyesalan yang tiada akhir.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!