Perdebatan kemarin berakhir dengan Harvin yang akhirnya ikut serta Anka dan Liza ke salah satu mall terbesar di ibukota.
"Eh, Ka! Itu si Harvin nempel terus udah kek lem Korea yang kalo udah nempel susah banget ngelepasinnya," bisik Liza.
Kedua gadis itu berjalan paling depan. Sedangkan Harvin dan Noah mengikuti dari belakang. Posisi mereka saat ini, Anka dan Liza diurutan pertama, Harvin kedua, dan Noah ketiga.
Seluruh netra kaum hawa di sana memandang iri ke arah Anka dan Liza. Bagaimana tidak? Mereka diikuti oleh dua orang pria super tampan. Bermerek internasional pula.
"Gue pakek lem lokal, Za. Hihihi ..."
"Ada-ada aja lu, Ka," balas Liza sambil terkekeh.
Keempat orang terus berjalan sambil sesekali berhenti di sebuah toko untuk melihat-lihat atau membeli sesuatu yang mereka suka. Mereka tidak menyadari jika seseorang mengamati mereka dengan penuh amarah. Wanita itu menatap tajam punggung Anka. Dia tidak rela jika Harvin kembali merajut kasih dengan Anka.
Claudia tidak sengaja mendengar percakapan mereka di ruangan Harvin. Awalnya dia berniat untuk mengunjungi Harvin di perusahaannya. Wanita itu sampai rela memasak untuk mengambil hati Harvin.
Meski berwajah internasional, Harvin sangat menyukai sambal hati kentang. Claudia rela bangun pagi-pagi untuk memasak masakan kesukaan Harvin. Alhasil, saat mengantar makanan untuk Harvin, dia malah mendapati Harvin dan Anka sedang bermesraan. Penglihatan wanita yang sedang terbakar cemburu sangat berbahaya.
Niat untuk makan sambal hati kentang bersama Harvin kandas, yang ada wanita itu justru makan hati melihat kemesraan Harvin dan Anka. Karena terbakar cemburu, dia tidak menyadari keberadaan Noah yang berada di ruangan Harvin.
"Aku sudah banyak berkorban untuk Harvin. Jangan harap kau dapat merebutnya dariku." Claudia geram melihat pemandangan yang semakin menjauh dari posisinya. Dia memutuskan untuk pergi dari sana.
* * *
"Jangan lupa nanti malam aku akan menjemputmu!" Harvin membalikkan tubuhnya menghadap Anka. Pria itu rela duduk di samping Noah agar Anka dan Liza leluasa mengobrol di kursi belakang.
"Tidak usah. Aku akan datang sendiri."
"Kau hobi sekali menolak ku," ucap Harvin dengan nada yang sengaja dibuat sedih.
Hoek! Ya ampun tuan! Sejak kapan anda belajar merajuk seperti itu! Sangat tidak cocok dengan tampilan mu. Noah hanya bisa berkata dalam hati tanpa berani menatap tuannya. Dia terkejut saat mendengar suara yang sengaja di buat sedih dari mulut Harvin. CEO dingin berubah menjadi pria yang senang merajuk.
Susana hati Harvin terlihat berubah. Anka harus segera membalikkan keadaan. Jika tidak, pria itu pasti akan membuatnya tidak bisa pergi dari sisinya selama satu hari. Anka mencintai Harvin tapi jika mendapat hukuman seperti itu dia juga tidak tahan. Untuk seorang gadis yang aktif seperti Anka, sangat sulit jika harus berdiam diri seharian.
"Bukan begitu Harvin. Kau tahu sendiri, teman-temanku di kost selalu heboh saat kau dan Noah datang menjemput."
Kena! ucap Anka dalam hati saat melihat ekspresi wajah Harvin berubah lebih lembut. Pria itu terdiam seperti sedang memikirkan sesuatu.
Harvin ingat kejadian di mana dia terperangkap oleh kaum hawa di kostan Anka. Bukan hanya dia, Noah juga tidak luput menjadi korban. Lebih parahnya lagi dengan kaum emak-emak. Mereka dengan santainya mencubit geram kedua pipi Harvin. Belum lagi ibu hamil yang meminta Harvin untuk mengelus perutnya.
Ibu hamil itu sangat ngotot meminta Harvin mengelus perutnya sampai dia bilang berhenti. Menurutnya, jika Harvin melakukan hal seperti itu, kelak wajah anaknya akan mirip seperti Harvin.
Harvin yang memiliki pandangan luas tentu saja tidak percaya dengan hal itu. Menurutnya, ibu itu sengaja membuat alasan seperti itu agar Harvin mengelus perutnya dengan suka rela. Tanpa dia sadari, kedua bahunya terangkat saat mengingat kejadian itu.
"Kau kenapa?" tanya Anka bingung melihat Harvin bertingkah aneh.
"Tidak. Tidak ada apa-apa," Harvin segera menjawab Anka.
Anka tidak percaya dengan jawaban yang diberikan Harvin. Menurutnya, pria itu menyembunyikan sesuatu darinya. Tiba-tiba dia teringat akan sesuatu yang membuatnya terkekeh.
"Kau kenapa?" giliran Harvin yang bingung melihat Anka tertawa.
"Aku tahu, mengapa kau bertingkah aneh. Hahaha ... Kau pasti takut diminta untuk mengelus perut Mpok Rodiah lagi. Hahaha ..." Tawa Anka semakin menjadi-jadi saat mengingat Harvin yang dikelilingi emak-emak sekitar kost dan dipaksa mengelus perut Mpok Rodiah yang sedang hamil besar. Sudah itu, di foto pula oleh salah seorang anaknya.
"Ok .. ok .. Kita bertemu di restoran biasa nanti malam."
"Ohhe," jawab Anka dengan suara yang sengaja di buat bindeng dan mengarahkan ibu jarinya ke Harvin. Liza yang duduk manis di damping Anka ikut tertawa sambil menutup mulut. Gadis itu tidak berani tertawa lepas karena semua belanjaannya hari ini dibayarkan oleh Harvin alias ditraktir.
* * *
Ponsel di tangan Noah tidak berhenti bergetar. Dia sangat malam menjawab panggilan itu karena si penelpon adalah seseorang yang tidak dia sukai.
Claudia menghubungi Noah berkali-kali. Wanita itu tidak akan putus asa. Dia harus tahu keberadaan Harvin saat ini. Claudia tidak ingin kalah dari Anka.
Akhirnya, entah panggilan yang ke puluhan kali berapa, Noah menjawab panggilan Claudia. "Halo, Noah."
"Ada apa nona?" tanya Noah dengan nada dingin.
"Di mana Harvin sekarang?"
"Tuan sedang sibuk. Dia akan menghadiri sebuah meeting penting." Setidaknya dia tidak berbohong, tuannya memang akan bertemu dengan nona Anka. Termasuk meeting juga kan. Meski meeting dalam artian lain.
"Mana ada orang meeting jam tujuh malam begini," sergah Claudia.
Sifat inilah yang tidak disukai oleh Noah dari Claudia. Naluri detektif yang dimilikinya terlampau dari batas maksimal.
"Noah, persiapkan mobil! Aku tidak ingin terlambat ke restoran."
"Baik tuan."
Claudia dapat mendengar dengan jelas percakapan antara Harvin dan Noah. Dia sudah tahu restoran mana yang akan Harvin tuju. Wanita itu bergegas menghubungi seseorang untuk membantu melancarkan aksinya malam ini. Dia bergerak sangat cepat. Claudia yakin malam ini Harvin pasti akan kembali meliriknya.
Tepat pukul setengah delapan malam, Anka tiba di parkiran restoran. Gadis itu memarkir motor maticnya dengan rapi. Setelah melepas pelindung kepala, Anka bergegas berjalan ke arah depan. Kepalanya sibuk kesana kemari mencari sebuah mobil satu-satunya di kota ini. Tanpa Anka sadari seseorang menabraknya hingga membuat tubuh Anka limbung.
Beruntung ada seorang pria yang segera meraih tubuh Anka. Pria itu memeluk tubuh Anka sedikit lebih erat. Tatapan mata mereka beradu cukup lama. Harvin yang melihat Anka yang sedang berpelukan mesra merasa dikhianati oleh Anka.
Tangan pria itu mengepal kuat, dia tidak ingin amarahnya meledak di tempat umum. Saat pelukan Anka terlepas dari pria itu, Harvin meraih tubuh seorang wanita yang berjarak tidak jauh darinya. Dia meraih tubuh wanita itu dan menciumnya dengan mesra. Mendapat perlakuan mesra apalagi di tempat umum, Claudia tidak ingin mensia-siakan kesempatan emasnya. Dia memeluk erat Harvin dan membalas ciuman pria itu.
Rasa panas menjalar di sekujur tubuh Anka. Janji makan malam yang sudah mereka sepakati berubah menjadi tontonan yang membuat perasaan Anka remuk redam.
"Cukup! Ini yang terakhir!" Anka berusaha menguatkan diri. Berbagai kemungkinan melayang di dalam pikiran gadis belia itu.
Dengan langkah tegap, Anka berjalan menghampiri pasangan romantis itu. Anka melepaskan tautan mereka dan PLAK!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments