"Tuan! Tuan!" Noah berlari dari lantai bawah menuju lantai dua tempat ruang kerja tuannya dengan tergesa-gesa.
Pintu ruang kerja tidak tertutup rapat, ada sedikit celah di sana sehingga Harvin dapat mendengar sayup-sayup suara Noah. Pria itu langsung saja membuka pintu saat Noah hendak memegang gagang pintu.
"Ah!" teriakan Noah bersamaan dengan tubuhnya yang menabrak sofa dengan pendaratan kepala tersungkur ke bawah.
Harvin menyunggingkan senyum saat melihat kelakuan Noah. Dia belum pernah melihat gaya Noah yang sangat ceroboh. Ini adalah kali pertama selama Noah menjadi tangan kanannya melakukan tindakan ceroboh.
Nasib-nasib. Maksud hati ingin memberi kabar baik malah jatuh tersungkur. Noah menggerutu didalam hati sambil bangkit berdiri dan mengusap kepalanya.
"Kau kenapa?" tanya Harvin sambil menyandarkan tubuhnya di pintu.
Noah langsung merapikan setelan jas hitamnya dan berdehem sebelum memberi informasi yang sangat berharga. "Tuan, saya tahu keberadaan nona Anka."
Harvin langsung berdiri tegap dan berjalan mendekati Noah. Ekspresinya langsung serius dan rahangnya mengeras. "Kau serius?" Harvin menatap tajam Noah. Wajah mereka salin berhadapan seolah Harvin ingin menerkam Noah.
"Sangat serius tuan. Rudolf juga sudah mengeceknya. Posisinya masih berada di sana," ucap Noah sambil menelan saliva dengan susah payah.
"Persiapkan semuanya!" perintah Harvin sambil melangkah keluar ruang kerja.
"Baik tuan," ucap Noah.
* * *
Sehari sebelum Anka kabur
"Bibi!" panggil Anka.
"Iya nona."
"Apa bahan makanannya sudah siap semua?" tanya Anka antusias.
"Sudah non," jawab bi Ijah.
"Terima kasih bi," ucap Anka tulus sambil tersenyum.
"Sama-sama non," jawab bi Ijah. "Non, jangan lupa kertas yang berisi alamat adiknya bibi!"
"Aman bi."
"Non, nanti hati-hati di jalan!" bi Ijah merasa berat hati membiarkan Anka untuk pergi sendiri. Meski ingatan nona mudanya perlahan pulih namun kondisi fisiknya masih belum stabil. Wanita paruh baya itu sangat khawatir. Dia kesal karena tidak bisa menemani Anka kabur dari mansion tuannya.
"Anka janji akan baik-baik saja, bi," Anka meraih tangan bi Ijah. Menyalurkan energi positif kepada wanita paruh baya itu agar tetap tenang. Sebenarnya perasaan Anka sangat sedih harus berpisah dengan wanita yang sudah merawatnya dengan baik selama lima bulan terakhir. Langkah yang Anka ambil tidak mudah ditambah amnesia yang dideritanya.
Terkadang sulit membedakan mana yang benar atau tidak. Satu hal yang pasti musuh Anka yang sebenarnya adalah Claudia dan Elvan. Jika dia berada lama di sini akan membahayakan dirinya. Anka masih belum tahu pasti alasan dibalik ditahannya Anka di mansion Elvan. Parahnya lagi pernikahan mereka akan diselenggarakan dalam waktu kurang dari tiga hari.
Anggap saja pengantin perempuan kabur pada acara pernikahan. Semakin hari perasaan Anka terhadap Elvan menghilang. Apalagi Anka tahu bahwa Elvan tidak tulus mencintainya. Gadis itu menarik satu kesimpulan jika Elvan dan Claudia bekerjasama untuk memenjara dirinya di mansion dalam waktu yang entah berapa lama.
Sebenarnya Anka ingin mencari tahu lebih banyak lagi. Akan tetapi, karena Elvan mendesak untuk menikah, mau tidak mau Anka harus mempercepat rencana kaburnya. Dia tidak ingin terperangkap dalam kebimbangan hatinya. Malam ini akan menjadi malam terakhir Anka berada di mansion.
"Udah ah, sedih-sedihnya! Sekarang waktunya bibi mengurusi pekerjaan lain. Anka tidak ingin mereka mencurigai bibi saat Anka berhasil kabur nanti."
"Baik non." Bi Ijah bangkit dari kursi kaku yang terbuat dari kayu. "Ingat pesan bibi! Hati-hati!" bi Ijah memeluk erat Anka.
Anka membalas pelukan bi Ijah. Dengan berat hati mereka berpisah di halaman belakang. Anka memandangi bi Ijah hingga punggung wanita itu tidak terlihat. Setiap hari kamis, bi Ijah selalu ditugasi untuk pergi ke supermarket yang berada di pusat kota. Terkadang bi Ijah harus menginap jika berbelanja sampai larut. Waktu yang sangat pas bagi Anka untuk kabur. Dia tidak ingin bi Ijah disalahkan.
Pukul lima sore, Anka memulai ritual memasak makan malam. Berbagai menu lauk pauk dimasak oleh Anka. Gadis itu melakukannya sendiri. Para pelayan yang lain hanya membantunya membersihkan bahan-bahan masakan. Bisa berabe jika ada yang membantunya, rencananya pasti akan gagal mengingat kesetiaan para pelayan kepada Elvan. Anka yakin mereka bukan setia melainkan takut.
Semua hidangan telah siap tepat waktu makan malam. Anka dan Elvan menyantap makanan dengan lahap. Bahkan, pria tak berhati pada Anka, memuji kemahiran masak calon istrinya.
"Aku baru tahu kau sangat pandai memasak. Rasanya wow," puji Elvan.
Anka hanya tersenyum. Pria di seberangnya itu tidak tahu saja jika jantung Anka ingin melompat keluar. Dia khawatir rencananya akan ketahuan. Beberapa saat kemudian, makan malam berakhir. Anka berpamitan pada Elvan untuk segera kembali ke kamarnya karena lelah setelah menyiapkan makan malam.
Kebiasaan Elvan, setiap kali selesai makan malam, dia akan mengajak pengawal beserta pelayan laki-laki untuk menemaninya minum. Sedangkan pelayan perempuan diperbolehkan untuk beristirahat lebih awal.
Anka kembali ke kamar dan berpura-pura tidur. Elvan akan menyuruh seorang pengawal untuk mengeceknya setiap jam sepuluh malam. Masih ada waktu sekitar dua jam, Anka memilih untuk istirahat sejenak. Dia menyalakan alarm agar tidak kebablasan.
Pintu kamar Anka terbuka. Anka dapat merasakan ada seseorang yang masuk ke dalam kamar. Setelah melihat Anka, dia langsung keluar kamar. Gadis itu terbangun karena bunyi alarm sepuluh menit lebih awal dari waktu pengecekan. Setelah pintu kamarnya tertutup rapat, Anka segera bangkit dan mengganti baju tidur dengan pakaian kasual. Dia memilih mengenakan pakaian berwarna gelap. Sentuhan terakhir dia mengenakan sweater berwarna navy.
Anka mengenakan tas ransel berukuran sedang yang sudah dia persiapkan sehari sebelumnya. Gadis itu membuka pintu kamar dengan perlahan. Jika perhitungannya tidak salah, saat ini mereka semua pasti sudah tertidur alias tidak sadarkan diri karena Anka telah mencampur obat bius yang dia dapat dari dokter Tony pada makanan dan gelas minuman.
Mansion terlihat sunyi dan sepi. Anka menuju ruang yang biasa digunakan oleh Elvan untung menikmati minuman keras dengan para pengawal. Gadis itu tersenyum puas saat melihat mereka semua tidak sadarkan diri. Anka bisa keluar dengan bebas tanpa harus mengeluarkan banyak tenaga. Habislah aku! ucap Anka dalam hati.
"Mau ke mana nona?" suara yang berasal dari belakang tubuh Anka terdengar serak.
Dengan terpaksa Anka menoleh ke belakang. Kedua kakinya lemas karena rencananya untuk pergi dari mansion gagal total. Namun, saat Anka berbalik, tubuh pria itu langsung tumbang ke lantai.
"Ah!" Anka berteriak sambil menutup mulutnya. Perasaan sedih akan gagalnya rencana kabur berganti menjadi rasa lega. Pria itu menjadi pria terakhir yang tidak sadarkan diri.
"Aku harus cepat," ucap Anka pada dirinya sendiri.
Anka mengencangkan gendongan tas ransel di punggungnya. Gadis itu berlari sekuat tenaga hingga sampai di gerbang mansion. Belum sempat Anka bernapas lega. Seseorang mencengkram tangan kanannya dan membawanya masuk ke dalam pelukannya.
"Akhirnya aku menemukanmu," ucap pria itu tanpa melepaskan Anka.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 33 Episodes
Comments