Bab 19. Menghibur Hasna

Satu minggu berlalu, dan belum ada perkembangan yang signifikan dari kasus Praba. Makutha terus menanyakan hal itu kepada Farhan, tetapi hasilnya nol. Farhan mengatakan bahwa tidak memiliki bukti yang mengarah pada identitas pelaku.

Makutha merasakan sebuah kejanggalan. Selama kasus dalam penyelidikan, dia tidak pernah mendengar surat ancaman yang dikirimkan oleh Geng Macan Tutul disebut di media massa. Mereka hanya menggunakan potongan kepala Praba, serta ponsel milik perempuan itu sebagai bukti.

Hari itu Makutha mendatangi Hasna dan berniat mengajaknya untuk jalan-jalan. Sejak kematian Praba, Hasna menjadi orang yang jauh lebih pendiam. Beberapa kali dia mendapat aduan dari Hans, kalau Hasna sering datang bekerja dengan kondisi mata bengkak karena sisa tangis.

Makutha menghentikan laju mobilnya ketika sampai di sebuah rumah sederhana bergaya Belanda. Rumah itu memiliki banyak jendela, dengan bagian bawah bangunan yang dipondasi sampai setengah meter di atas permukaan tanah.

Makutha menapaki beberapa anak tangga sebelum menginjakkan kaki di lantai teras. Dia mengangkat lengannya, dan mengepalkan tangan, bersiap untuk mengetuk pintu rumah Hasna. Awalnya Makutha ragu, kepalan tangan lelaki itu mengambang di udara. Namun, setelah mengumpulkan niatnya, dia langsung mengetuk daun pintu tersebut.

"Na!" panggil Makutha setengah berteriak setelah ketukannya tidak mendapat jawaban dari Hasna.

Rasa panik mulai merasuki hati dan pikiran Makutha. Dia mundur beberapa langkah, berniat untuk mendobrak pintu di hadapannya. Namun, ketika jarak lengan Makutha dengan pintu tinggal sejengkal tiba-tiba benda itu terbuka lebar. Makutha tidak bisa mengendalikan gerakannya.

Akhirnya Makutha berakhir dengan tersungkur di atas lantai. Hasna terbelalak. Dia segera membantu Makutha berdiri. Aroma sabun menguar dari tubuh Hasna, menandakan perempuan itu baru saja selesai mandi.

"Kamu ke mana saja? Dari tadi dipanggil nggak keluar?" tanya Makutha dengan nada bicara setenang mungkin. Padahal sebenarnya rasa panik dan malu bercampur menjadi satu.

"Aku baru selesai mandi. Ada apa?"

"Oh, kebetulan. Aku mau ngajak kamu keluar. Jadi nggak perlu nunggu lama."

"Keluar ke mana?" Hasna mengerutkan dahi karena heran.

Tidak biasanya Makutha mengajaknya pergi terlebih dahulu. Biasanya dia yang mengajak lelaki itu jalan keluar. Itu pun harus menggunakan sedikit paksaan.

"Tumben?" Hasna melipat lengan sambil tersenyum miring.

"Oh, jadi nggak mau? Ya sudah kalau begitu. Aku pergi!" Makutha balik kanan bersiap meninggalkan kediaman perempuan pujaan hatinya itu.

Namun, lain di bibir lain di hati. Makutha berharap Hasna menahannya untuk tetap tinggal dan mau pergi bersamanya. Tak lama kemudian terdengar teriakan dari Hasna.

"Utha!" teriak Hasna.

Makutha menghentikan langkah, kemudian balik badan. Dia memiringkan kepala kemudian tersenyum tipis. Hasna terlihat ragu ketika hendak mengucapkan kalimat selanjutnya.

"Apa? Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan, aku pergi sekarang," ucap Makutha sambil memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana.

"Tunggu! A-aku akan segera kembali. Kita keluar sekarang! Beri aku waktu sepuluh menit saja!"

Tanpa menunggu jawaban dari Makutha, Hasna langsung berlari ke kamarnya. Sedangkan Makutha mengepalkan tangan lalu memukulnya ke udara sebagai selebrasi. Hatinya bersorak karena ternyata Hasna menyetujuinya untuk pergi berdua.

Sepuluh menit kemudian, Hasna sudah keluar dari kamarnya dengan pakaian kasual. Dia tersenyum lebar kemudian mendekati Makutha.

"Kita mau ke mana?" tanya Hasna antusias.

"Ke mana saja yang kamu suka, aku akan mengantarmu."

"Aku mau nonton film Sayap-sayap Patah, ya? Boleh?"

Makutha menautkan alisnya, kemudian berdecak kesal. Dari sekian banyak film kenapa harus film itu yang Hasna ingin tonton? Makutha paling benci menonton film genre tersebut.

Di sisi lain, ketika Hasna mendengar Makutha berdecak, rasa dongkol merayap di hatinya. Hasna melipat lengan di depan dada. Decakan Makutha berhasil mengobrak-abrik mood dokter cantik itu.

"Ck, kamu bilang?" Hasna menyipitkan mata sambil mengerucutkan bibir.

"Ayo!" ajak Makutha sembari menarik pelan lengan Hasna.

Hasna menepis tangan Makutha kemudian berjalan terlebih dahulu ke arah mobil. Makutha pun berlari mendahului gadis itu dan membukakan pintu mobil untuknya. Akan tetapi, Hasna malah memilih membuka pintu belakang dan duduk di kursi belakang.

"Waduh, sepertinya aku salah ngomong!" seru Makutha sambil menepuk dahinya.

...****************...

Ada juga yang kesal kalau dengar suara, 'Ck'?

Btw mampir ke sini juga yaaa~

Sambil nunggu SGSH update.

Terpopuler

Comments

Defi

Defi

kamu lupa Utha, kalau janji itu harus ditepati dan wanita itu selalu benar tak pernah salah 😜🤣

2023-05-31

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Mimpi Buruk
2 Bab 2. Penyerangan
3 Bab 3. Ekor
4 Bab 4. Residivis
5 Bab 5. Terkejut
6 Bab 6. Mati
7 Bab 7. Kesamaan
8 Bab 8. Miki
9 Bab 9. Pola yang Sama
10 Bab 10. Kembalinya Ketua Geng Cantul
11 Bab 11. Dendam
12 Bab 12. Jamuan Geng Cantul
13 Bab 13. Kekejaman Toni
14 Bab 14. Pertanyaan untuk Makutha
15 Bab 15. Pacar Hasna
16 Bab 16. Begal Keperawanan
17 Bab 17. Ancaman
18 Bab 18. Jagal Geng Cantul
19 Bab 19. Menghibur Hasna
20 Bab 20. Kegalauan Ferdi dan Tito
21 Bab 21. Menemui Tito
22 Bab 22. Sebut Saja Dewa Penyelamat
23 Bab 23. Menyerahkan Diri
24 Bab 24. Krisis Kepercayaan
25 Bab 25. Sengaja atau Tidak?
26 Bab 26. Interogasi
27 Bab 27. Musuh dalam Selimut
28 Bab 28. Orang Asing
29 Bab 29. Drama Pasangan Penghianat
30 Bab 30. Bermuka Dua
31 Update Bab 30
32 Bab 31. Mengadili Ferdi
33 Bab 32. Panas Hati
34 Bab 33. Rencana Geng Cantul
35 Bab 34. Terkejut Belum?
36 Bab 35. Penyesalan Maudy
37 Bab 36. Tersangka Baru
38 Bab 37. Hukuman untuk Ferdi
39 Bab 38. Carut Marut
40 Bab 39. Pertemuan Arjun dan Farhan
41 Bab 40. Skenario Liam
42 Bab 41. Berusaha Menjangkau Liam
43 Bab 42. Negosiasi
44 Bab 43. Sekutu Baru
45 Bab 44. Bodyguard Hasna
46 Bab 45. Ragu
47 Bab 46. Drama Pembuktian
48 Bab 47. Ternyata Kamu!
49 Bab 48. Semakin Samar
50 Bab 49. Kemurkaan Sang Ayah
51 Bab 50. Jenjang Karir Kotor
52 Bab 51. Bisnis Gelap Sang Walikota
53 Bab 52. Salah Sasaran
54 Bab 53. Baby Blues
55 Bab 54. Sisi Gelap Makutha
56 Bab 55. Memulai Rencana Bersama Musuh
57 Bab 56. Bayi Kita
58 Bab 57. Surat Panggilan dari Kepolisian
59 Bab 58. Interogasi
60 Bab 59. Penangkapan Sang Hakim
61 Bab 60. Tawanan Cinta
62 Bab 61. Sambutan dari Mereka
63 Bab 62. Tiara Si Gadis Lugu
64 Bab 63. Kekecewaan Tiara
65 Bab 64. Penyesalan Tiara
66 Bab 65. Hari Pertama Persidangan
67 Bab 66. Apakah Ini Akan Menjadi Akhir?
68 Bab 67. Fitting Day
69 Bab 68. Markas
70 Bab 69. Berhasil
71 Bab 70. THE END
72 Karya Baru: Luna and The Dire Wolf
73 Novel Baru: Rahasia Kehamilan Violetta
74 Revenge of The Ugly Lily
75 Gairah Masa SMA
76 Karya Baru: Toko Gaib (Apa yang Kamu Mau Ada di Sini)
Episodes

Updated 76 Episodes

1
Bab 1. Mimpi Buruk
2
Bab 2. Penyerangan
3
Bab 3. Ekor
4
Bab 4. Residivis
5
Bab 5. Terkejut
6
Bab 6. Mati
7
Bab 7. Kesamaan
8
Bab 8. Miki
9
Bab 9. Pola yang Sama
10
Bab 10. Kembalinya Ketua Geng Cantul
11
Bab 11. Dendam
12
Bab 12. Jamuan Geng Cantul
13
Bab 13. Kekejaman Toni
14
Bab 14. Pertanyaan untuk Makutha
15
Bab 15. Pacar Hasna
16
Bab 16. Begal Keperawanan
17
Bab 17. Ancaman
18
Bab 18. Jagal Geng Cantul
19
Bab 19. Menghibur Hasna
20
Bab 20. Kegalauan Ferdi dan Tito
21
Bab 21. Menemui Tito
22
Bab 22. Sebut Saja Dewa Penyelamat
23
Bab 23. Menyerahkan Diri
24
Bab 24. Krisis Kepercayaan
25
Bab 25. Sengaja atau Tidak?
26
Bab 26. Interogasi
27
Bab 27. Musuh dalam Selimut
28
Bab 28. Orang Asing
29
Bab 29. Drama Pasangan Penghianat
30
Bab 30. Bermuka Dua
31
Update Bab 30
32
Bab 31. Mengadili Ferdi
33
Bab 32. Panas Hati
34
Bab 33. Rencana Geng Cantul
35
Bab 34. Terkejut Belum?
36
Bab 35. Penyesalan Maudy
37
Bab 36. Tersangka Baru
38
Bab 37. Hukuman untuk Ferdi
39
Bab 38. Carut Marut
40
Bab 39. Pertemuan Arjun dan Farhan
41
Bab 40. Skenario Liam
42
Bab 41. Berusaha Menjangkau Liam
43
Bab 42. Negosiasi
44
Bab 43. Sekutu Baru
45
Bab 44. Bodyguard Hasna
46
Bab 45. Ragu
47
Bab 46. Drama Pembuktian
48
Bab 47. Ternyata Kamu!
49
Bab 48. Semakin Samar
50
Bab 49. Kemurkaan Sang Ayah
51
Bab 50. Jenjang Karir Kotor
52
Bab 51. Bisnis Gelap Sang Walikota
53
Bab 52. Salah Sasaran
54
Bab 53. Baby Blues
55
Bab 54. Sisi Gelap Makutha
56
Bab 55. Memulai Rencana Bersama Musuh
57
Bab 56. Bayi Kita
58
Bab 57. Surat Panggilan dari Kepolisian
59
Bab 58. Interogasi
60
Bab 59. Penangkapan Sang Hakim
61
Bab 60. Tawanan Cinta
62
Bab 61. Sambutan dari Mereka
63
Bab 62. Tiara Si Gadis Lugu
64
Bab 63. Kekecewaan Tiara
65
Bab 64. Penyesalan Tiara
66
Bab 65. Hari Pertama Persidangan
67
Bab 66. Apakah Ini Akan Menjadi Akhir?
68
Bab 67. Fitting Day
69
Bab 68. Markas
70
Bab 69. Berhasil
71
Bab 70. THE END
72
Karya Baru: Luna and The Dire Wolf
73
Novel Baru: Rahasia Kehamilan Violetta
74
Revenge of The Ugly Lily
75
Gairah Masa SMA
76
Karya Baru: Toko Gaib (Apa yang Kamu Mau Ada di Sini)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!