Satu minggu berlalu, dan belum ada perkembangan yang signifikan dari kasus Praba. Makutha terus menanyakan hal itu kepada Farhan, tetapi hasilnya nol. Farhan mengatakan bahwa tidak memiliki bukti yang mengarah pada identitas pelaku.
Makutha merasakan sebuah kejanggalan. Selama kasus dalam penyelidikan, dia tidak pernah mendengar surat ancaman yang dikirimkan oleh Geng Macan Tutul disebut di media massa. Mereka hanya menggunakan potongan kepala Praba, serta ponsel milik perempuan itu sebagai bukti.
Hari itu Makutha mendatangi Hasna dan berniat mengajaknya untuk jalan-jalan. Sejak kematian Praba, Hasna menjadi orang yang jauh lebih pendiam. Beberapa kali dia mendapat aduan dari Hans, kalau Hasna sering datang bekerja dengan kondisi mata bengkak karena sisa tangis.
Makutha menghentikan laju mobilnya ketika sampai di sebuah rumah sederhana bergaya Belanda. Rumah itu memiliki banyak jendela, dengan bagian bawah bangunan yang dipondasi sampai setengah meter di atas permukaan tanah.
Makutha menapaki beberapa anak tangga sebelum menginjakkan kaki di lantai teras. Dia mengangkat lengannya, dan mengepalkan tangan, bersiap untuk mengetuk pintu rumah Hasna. Awalnya Makutha ragu, kepalan tangan lelaki itu mengambang di udara. Namun, setelah mengumpulkan niatnya, dia langsung mengetuk daun pintu tersebut.
"Na!" panggil Makutha setengah berteriak setelah ketukannya tidak mendapat jawaban dari Hasna.
Rasa panik mulai merasuki hati dan pikiran Makutha. Dia mundur beberapa langkah, berniat untuk mendobrak pintu di hadapannya. Namun, ketika jarak lengan Makutha dengan pintu tinggal sejengkal tiba-tiba benda itu terbuka lebar. Makutha tidak bisa mengendalikan gerakannya.
Akhirnya Makutha berakhir dengan tersungkur di atas lantai. Hasna terbelalak. Dia segera membantu Makutha berdiri. Aroma sabun menguar dari tubuh Hasna, menandakan perempuan itu baru saja selesai mandi.
"Kamu ke mana saja? Dari tadi dipanggil nggak keluar?" tanya Makutha dengan nada bicara setenang mungkin. Padahal sebenarnya rasa panik dan malu bercampur menjadi satu.
"Aku baru selesai mandi. Ada apa?"
"Oh, kebetulan. Aku mau ngajak kamu keluar. Jadi nggak perlu nunggu lama."
"Keluar ke mana?" Hasna mengerutkan dahi karena heran.
Tidak biasanya Makutha mengajaknya pergi terlebih dahulu. Biasanya dia yang mengajak lelaki itu jalan keluar. Itu pun harus menggunakan sedikit paksaan.
"Tumben?" Hasna melipat lengan sambil tersenyum miring.
"Oh, jadi nggak mau? Ya sudah kalau begitu. Aku pergi!" Makutha balik kanan bersiap meninggalkan kediaman perempuan pujaan hatinya itu.
Namun, lain di bibir lain di hati. Makutha berharap Hasna menahannya untuk tetap tinggal dan mau pergi bersamanya. Tak lama kemudian terdengar teriakan dari Hasna.
"Utha!" teriak Hasna.
Makutha menghentikan langkah, kemudian balik badan. Dia memiringkan kepala kemudian tersenyum tipis. Hasna terlihat ragu ketika hendak mengucapkan kalimat selanjutnya.
"Apa? Kalau tidak ada yang ingin dibicarakan, aku pergi sekarang," ucap Makutha sambil memasukkan tangan kirinya ke dalam saku celana.
"Tunggu! A-aku akan segera kembali. Kita keluar sekarang! Beri aku waktu sepuluh menit saja!"
Tanpa menunggu jawaban dari Makutha, Hasna langsung berlari ke kamarnya. Sedangkan Makutha mengepalkan tangan lalu memukulnya ke udara sebagai selebrasi. Hatinya bersorak karena ternyata Hasna menyetujuinya untuk pergi berdua.
Sepuluh menit kemudian, Hasna sudah keluar dari kamarnya dengan pakaian kasual. Dia tersenyum lebar kemudian mendekati Makutha.
"Kita mau ke mana?" tanya Hasna antusias.
"Ke mana saja yang kamu suka, aku akan mengantarmu."
"Aku mau nonton film Sayap-sayap Patah, ya? Boleh?"
Makutha menautkan alisnya, kemudian berdecak kesal. Dari sekian banyak film kenapa harus film itu yang Hasna ingin tonton? Makutha paling benci menonton film genre tersebut.
Di sisi lain, ketika Hasna mendengar Makutha berdecak, rasa dongkol merayap di hatinya. Hasna melipat lengan di depan dada. Decakan Makutha berhasil mengobrak-abrik mood dokter cantik itu.
"Ck, kamu bilang?" Hasna menyipitkan mata sambil mengerucutkan bibir.
"Ayo!" ajak Makutha sembari menarik pelan lengan Hasna.
Hasna menepis tangan Makutha kemudian berjalan terlebih dahulu ke arah mobil. Makutha pun berlari mendahului gadis itu dan membukakan pintu mobil untuknya. Akan tetapi, Hasna malah memilih membuka pintu belakang dan duduk di kursi belakang.
"Waduh, sepertinya aku salah ngomong!" seru Makutha sambil menepuk dahinya.
...****************...
Ada juga yang kesal kalau dengar suara, 'Ck'?
Btw mampir ke sini juga yaaa~
Sambil nunggu SGSH update.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Defi
kamu lupa Utha, kalau janji itu harus ditepati dan wanita itu selalu benar tak pernah salah 😜🤣
2023-05-31
1