Garis polisi dipasang di sekitar lokasi ditemukannya ponsel serta genangan darah yang ditemukan Makutha. Dugaan kuat mengacu pada tindakan penganiayaan. Darah tersebut sudah diambil sebagian untuk sampel, hendak dicocokkan dengan DNA milik Praba.
"Tim kami sedang menelusuri jejaknya. Semoga pelakunya segera tertangkap."
"Tolong bantuannya, Pak Farhan!"
"Baik, untuk kedepannya Anda akan dipanggil sebagai saksi."
"Ya, saya siap untuk itu."
Makutha dan Farhan saling berjabat tangan kemudian sang hakim tampan tersebut berpamitan. Rasanya Makutha masih tidak percaya. Baru beberapa jam yang lalu dia dan Praba berbincang. Namun, kenapa kejadian malang ini menimpa Praba tanpa diduga?
Makutha membuang napas kasar. Dia masuk ke dalam mobil dan melajukannya menuju apartemen. Sesampainya di apartemen, dia dikejutkan oleh sebuah kotak berwarna hitam yang diletakkan di depan pintu.
Makutha membawa masuk kotak tersebut, dan membukanya. Ternyata kotak itu berisi potongan kepala Praba. Bau anyir darah kembali membuatnya mual. Makutha segera berlari menuju kamar mandi dan memuntahkan isi perutnya. Lelaki itu lemas tak berdaya bersandar pada bathup.
"Sial! Lemah sekali aku menjadi pria!" Makutha tersenyum kecut kemudian menutup mata dengan lengan kirinya.
Setelah perutnya berhenti bergejolak, Makutha meraih ponsel yang ada di saku celana kemudian menghubungi Arjun. Dia meminta lelaki paruh baya itu untuk datang ke apartemennya. Sambil menunggu sang polisi sampai, dia terus berada di kamar.
Tak lama kemudian terdengar suara bel. Makutha beranjak dari kamar kemudian membuka pintu apartemennya. Arjun sudah berdiri di depan apartemen dengan wajah panik.
"Ada apa?" tanya Arjun sembari menautkan alis.
"Kemarilah, Pak!" Makutha menarik lengan Arjun lalu mengajaknya mendekat ke arah kotak yang tadi ia dapatkan.
"To-tolong buka kotak itu," ucap Makutha sambil menunjuk kotak di ruang tamu.
Arjun melangkah perlahan mendekati kotak berwarna hitam tersebut dan membuka tutupnya perlahan. Dia terbelalak mengetahui isi dari kotak itu. Selain terdapat potongan kepala Praba, di sana juga terdapat secarik kertas. Kertas itu terlihat sedikit lusuh, karena terkena bercak darah.
"Ada suratnya," kata Arjun sambil menunjukkan kertas tersebut kepada Makutha.
"Tolong bacakan isinya, Pak. Aku tidak tahan dengan bau darah."
Makutha meminta Arjun untuk membacakan isinya. Lelaki paruh baya itu pun membaca deretan huruf yang tercetak di sana.
"Aku tahu kamu merencakan balas dendam kepada Geng Macan Tutul. Menjauhlah! Perempuan ini sahabat Hasna, 'kan? Jika kamu nekat, kami tidak akan segan-segan menghabisi orang-orang di sekitarmu!"
"Sial!" umpat Makutha sambil meninju tembok di sampingnya.
"Bagaimana ini, Tha?"
"Aku yakin ini hanyalah gertakan!" seru Makutha sambil menyipitkan mata.
"Makutha! Kamu yakin? Di sini tidak hanya tentang ambisimu dengan kedok keadilan! Ada banyak nyawa yang terancam! Berpikirlah logis!"
"Ambisi berkedok keadilan? Apa maksud Anda, Pak!" Rahang Makutha mengeras hingga urat lehernya terlihat jelas.
"Aku pikir memanggil Pak Arjun ke sini bisa mendapat dukungan dari Anda. Ternyata aku salah! Kalau begitu silahkan pergi, Pak. Bawa kotak ini sebagai alat bukti!" Makutha menunjuk kotak di hadapannya kemudian membuang muka.
Arjun membuang napas kasar lalu membawa pergi kotak tersebut. Makutha mengacak rambut frustrasi. Dia kembali kehilangan dukungan. Tinggal Ketua Pengadilan Negeri yang bisa membantunya.
Namun, sejujurnya dia sangat tidak suka sikap Adli yang selalu memanfaatkan ambisinya untuk kepentingan pribadi lelaki tersebut. Setiap ada masalah, Adli selalu mengungkit bahwa kasus yang dilimpahkan kepada Makutha tergantung olehnya. Makutha muak dengan semuanya.
"Apa aku juga harus menjadi penjahat seperti mereka?" gumam Makutha.
Tiba-tiba sebuah ide terlintas di benak Makutha. Dia memutuskan untuk pergi ke psikiater untuk mengatasi masalah hemophobia-nya. Makutha segera menghubungi pihak rumah sakit dan menjadwalkan pertemuan dengan psikiater terbaik mereka.
"Setelah ini, aku akan melakukan cara lain untuk kalian yang sama sekali tidak tersentuh hukum itu! Kalau sampai kasus Praba ini lolos, kalian akan menanggunh resikonya!" Makutha menyipitkan mata sambil merapatkan rahangnya.
...****************...
Apa kira-kira rencana Makutha?
Sambil nunggu Pak Hakim update, mampir juga ke sini ya❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Defi
benar2 sadis cara mereka melemahkan lawannya 😱
2023-05-31
0