Bab 14. Pertanyaan untuk Makutha

Makutha perlahan bangkit, merogoh saku, kemudian menyalakan lampu flash ponselnya. Seketika dia terbelalak mengetahui apa yang telah membuatnya tersandung hingga tersungkur di atas lantai.

Hasna tertelungkup di atas lantai. Gadis itu terlihat pucat tak berdaya. Makutha langsung meneliti setiap inci dari tubuhnya. Dia takut kalau Hasna mengalami luka yang menyebabkan darah keluar.

Beruntungnya tak ada setetes darah yang keluar dari tubuh Hasna. Makutha mengembuskan napas lega.

"Hasna, Na ....!" Makutha berusaha membangunkan Hasna dengan menepuk pipi perempuan itu.

Namun, tidak ada jawaban dari Hasna. Gadis itu tetap bergeming. Napasnya terlihat begitu cepat seakan habis lari maraton. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Makutha menggendong Hasna dan membawanya ke dalam mobil.

"Kamu kenapa?" gumam Makutha sepanjang perjalanan sambil melirik ke arah gadis yang masih menutup rapat mata indahnya itu.

Tak lama kemudian, mereka sampai di Rumah Sakit. Tim medis langsung menangani rekan mereka dengan sigap. Setelah pemeriksaan selesai, seorang dokter laki-laki keluar dari IGD.

"Tha," panggil dokter tersebut.

Makutha bangkit dari kursi, kemudian berjalan ke arah lelaki dengan rambut tipis yang memenuhi dagu serta area bawah hidungnya itu. Makutha mengerutkan dahi, menanti penjelasan dari sang dokter.

"Depresi. Dia mengalami depresi. Sepertinya ada faktor pemicunya."

"Entahlah, Hans. Aku baru saja pulang ke apartemen. Suasana apartemenku begitu gelap ketika aku menemukannya tersungkur di atas lantai." Makutha memijat pangkal hidungnya sembari memejamkan mata.

Dokter bernama Hans itu mengangguk berulang kali. Dia mengerucutkan bibir sambil mengusap dagu. Melihat tingkah Hans tentu saja membuat hakim tampan itu menautkan kedua alisnya.

"Nyctophobia, sepertinya dia mengalami hal ini."

"Apa itu?"

"Dia memiliki rasa takut berlebihan jika berada dalam kegelapan. Biasanya karena trauma di masa lalu."

"Trauma? Jadi sama seperti aku yang cemas berlebih kerika melihat darah?" Makutha mengerutkan dahi. Dia tidak pernah tahu kalau Hasna memiliki trauma semacam itu.

"Iya, mungkin Hasna pernah mengalami sebuah kejadian buruk ketika berada di dalam kegelapan?"

Makutha terdiam. Dia mencoba menggali lagi memori otaknya. Dia mencari-cari momen kebersamaannya dengan Hasna. Namun, lelaki itu tidak menemukan kejadian yang membuat Hasna memiliki trauma buruk ketika berada di ruangan gelap. Bahkan seingatnya, Hasna selalu mematikan lampu ketika tidur.

"Tha, aku lanjut ke pasien lain, ya?" Hans menepuk lengan atas Makutha, dan lelaki itu pun menatap kembali dokter tampan tersebut.

"Hem, thanks ya, Hans." Makutha tersenyum tipis kemudian masuk ke dalam IGD.

Lelaki itu terus melangkah mendekati Hasna. Dokter cantik tersebut masih terlelap. Makutha menarik kursi, lalu mendudukkan tubuh di atasnya.

"Apa yang kamu sembunyikan dariku, Na?" Makutha menatap nanar perempuan di hadapannya itu.

Hasna mulai menggeliat. Perlahan dia membuka mata. Makutha mencondongkan tubuhnya ke arah Hasna kemudian menggenggam jemarinya.

"Na, apa yang kamu rasakan?"

Hasna menggeleng lemah. Sebuah senyum lembut terukir di bibir dokter cantik tersebut. Makutha mengusap puncak kepala Hasna yang tertutup jilbab.

"Kamu kenapa bisa pingsan di apartemenku?"

"Tadi tiba-tiba listrik mati. Dadaku sesak ketika ada di dalam ruangan gelap," jelas Hasna.

"Sudah berapa lama kamu seperti ini?"

"Apakah penting bagimu untuk mengetahui seberapa lama aku mengalami hal ini?" tanya Hasna sambil tersenyum kecut.

"Pulanglah. Aku baik-baik saja sekarang." Hasna membuang muka.

"Na, kamu itu kenapa? Jangan seperti ini," ucap Makutha dengan nada dingin.

"Aku nggak pa-pa. Pergilah!"

"Kamu anggap aku ini apa?"

Mendengar pertanyaan Makutha membuat Hasna kembali menatap lelaki itu. "Menganggapmu apa? Sekarang aku tanya sama kamu, sebenarnya kamu itu menganggapku apa?"

"Na ...."

Makutha berasa seperti menepuk permukaan air sehingga riaknya berpencar dan membasahi wajah. Dia bingung harus menjawab apa. Sebenarnya Makutha ingin mengungkapkan perasaannya detik itu juga.

"Pergi!" seru Hasna.

Makutha pun beranjak dari kursi dan menatap Hasna yang kini memunggunginya. Dia masih ragu untuk melangkah pergi. Makutha takut mengungkapkan perasaannya saat ini. Selain karena Hasna telah memiliki kekasih, dia takut perasaannya kepada dokter cantik itu menghambat rencana balas dendam yang sudah ia rencanakan sejak lama. Akhirnya Makutha membuang napas kasar sebelum kembali bicara.

"Na, aku ...."

...****************...

Kesel nggak sih sama sikap Makutha? 😑😑😑

Sambil nunggu SGSH update, mampir ke sini yukkk!

Terpopuler

Comments

Ainisha_Shanti

Ainisha_Shanti

soalan dijawab soalan juga. padan muka 😁

2022-09-07

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Mimpi Buruk
2 Bab 2. Penyerangan
3 Bab 3. Ekor
4 Bab 4. Residivis
5 Bab 5. Terkejut
6 Bab 6. Mati
7 Bab 7. Kesamaan
8 Bab 8. Miki
9 Bab 9. Pola yang Sama
10 Bab 10. Kembalinya Ketua Geng Cantul
11 Bab 11. Dendam
12 Bab 12. Jamuan Geng Cantul
13 Bab 13. Kekejaman Toni
14 Bab 14. Pertanyaan untuk Makutha
15 Bab 15. Pacar Hasna
16 Bab 16. Begal Keperawanan
17 Bab 17. Ancaman
18 Bab 18. Jagal Geng Cantul
19 Bab 19. Menghibur Hasna
20 Bab 20. Kegalauan Ferdi dan Tito
21 Bab 21. Menemui Tito
22 Bab 22. Sebut Saja Dewa Penyelamat
23 Bab 23. Menyerahkan Diri
24 Bab 24. Krisis Kepercayaan
25 Bab 25. Sengaja atau Tidak?
26 Bab 26. Interogasi
27 Bab 27. Musuh dalam Selimut
28 Bab 28. Orang Asing
29 Bab 29. Drama Pasangan Penghianat
30 Bab 30. Bermuka Dua
31 Update Bab 30
32 Bab 31. Mengadili Ferdi
33 Bab 32. Panas Hati
34 Bab 33. Rencana Geng Cantul
35 Bab 34. Terkejut Belum?
36 Bab 35. Penyesalan Maudy
37 Bab 36. Tersangka Baru
38 Bab 37. Hukuman untuk Ferdi
39 Bab 38. Carut Marut
40 Bab 39. Pertemuan Arjun dan Farhan
41 Bab 40. Skenario Liam
42 Bab 41. Berusaha Menjangkau Liam
43 Bab 42. Negosiasi
44 Bab 43. Sekutu Baru
45 Bab 44. Bodyguard Hasna
46 Bab 45. Ragu
47 Bab 46. Drama Pembuktian
48 Bab 47. Ternyata Kamu!
49 Bab 48. Semakin Samar
50 Bab 49. Kemurkaan Sang Ayah
51 Bab 50. Jenjang Karir Kotor
52 Bab 51. Bisnis Gelap Sang Walikota
53 Bab 52. Salah Sasaran
54 Bab 53. Baby Blues
55 Bab 54. Sisi Gelap Makutha
56 Bab 55. Memulai Rencana Bersama Musuh
57 Bab 56. Bayi Kita
58 Bab 57. Surat Panggilan dari Kepolisian
59 Bab 58. Interogasi
60 Bab 59. Penangkapan Sang Hakim
61 Bab 60. Tawanan Cinta
62 Bab 61. Sambutan dari Mereka
63 Bab 62. Tiara Si Gadis Lugu
64 Bab 63. Kekecewaan Tiara
65 Bab 64. Penyesalan Tiara
66 Bab 65. Hari Pertama Persidangan
67 Bab 66. Apakah Ini Akan Menjadi Akhir?
68 Bab 67. Fitting Day
69 Bab 68. Markas
70 Bab 69. Berhasil
71 Bab 70. THE END
72 Karya Baru: Luna and The Dire Wolf
73 Novel Baru: Rahasia Kehamilan Violetta
74 Revenge of The Ugly Lily
75 Gairah Masa SMA
76 Karya Baru: Toko Gaib (Apa yang Kamu Mau Ada di Sini)
Episodes

Updated 76 Episodes

1
Bab 1. Mimpi Buruk
2
Bab 2. Penyerangan
3
Bab 3. Ekor
4
Bab 4. Residivis
5
Bab 5. Terkejut
6
Bab 6. Mati
7
Bab 7. Kesamaan
8
Bab 8. Miki
9
Bab 9. Pola yang Sama
10
Bab 10. Kembalinya Ketua Geng Cantul
11
Bab 11. Dendam
12
Bab 12. Jamuan Geng Cantul
13
Bab 13. Kekejaman Toni
14
Bab 14. Pertanyaan untuk Makutha
15
Bab 15. Pacar Hasna
16
Bab 16. Begal Keperawanan
17
Bab 17. Ancaman
18
Bab 18. Jagal Geng Cantul
19
Bab 19. Menghibur Hasna
20
Bab 20. Kegalauan Ferdi dan Tito
21
Bab 21. Menemui Tito
22
Bab 22. Sebut Saja Dewa Penyelamat
23
Bab 23. Menyerahkan Diri
24
Bab 24. Krisis Kepercayaan
25
Bab 25. Sengaja atau Tidak?
26
Bab 26. Interogasi
27
Bab 27. Musuh dalam Selimut
28
Bab 28. Orang Asing
29
Bab 29. Drama Pasangan Penghianat
30
Bab 30. Bermuka Dua
31
Update Bab 30
32
Bab 31. Mengadili Ferdi
33
Bab 32. Panas Hati
34
Bab 33. Rencana Geng Cantul
35
Bab 34. Terkejut Belum?
36
Bab 35. Penyesalan Maudy
37
Bab 36. Tersangka Baru
38
Bab 37. Hukuman untuk Ferdi
39
Bab 38. Carut Marut
40
Bab 39. Pertemuan Arjun dan Farhan
41
Bab 40. Skenario Liam
42
Bab 41. Berusaha Menjangkau Liam
43
Bab 42. Negosiasi
44
Bab 43. Sekutu Baru
45
Bab 44. Bodyguard Hasna
46
Bab 45. Ragu
47
Bab 46. Drama Pembuktian
48
Bab 47. Ternyata Kamu!
49
Bab 48. Semakin Samar
50
Bab 49. Kemurkaan Sang Ayah
51
Bab 50. Jenjang Karir Kotor
52
Bab 51. Bisnis Gelap Sang Walikota
53
Bab 52. Salah Sasaran
54
Bab 53. Baby Blues
55
Bab 54. Sisi Gelap Makutha
56
Bab 55. Memulai Rencana Bersama Musuh
57
Bab 56. Bayi Kita
58
Bab 57. Surat Panggilan dari Kepolisian
59
Bab 58. Interogasi
60
Bab 59. Penangkapan Sang Hakim
61
Bab 60. Tawanan Cinta
62
Bab 61. Sambutan dari Mereka
63
Bab 62. Tiara Si Gadis Lugu
64
Bab 63. Kekecewaan Tiara
65
Bab 64. Penyesalan Tiara
66
Bab 65. Hari Pertama Persidangan
67
Bab 66. Apakah Ini Akan Menjadi Akhir?
68
Bab 67. Fitting Day
69
Bab 68. Markas
70
Bab 69. Berhasil
71
Bab 70. THE END
72
Karya Baru: Luna and The Dire Wolf
73
Novel Baru: Rahasia Kehamilan Violetta
74
Revenge of The Ugly Lily
75
Gairah Masa SMA
76
Karya Baru: Toko Gaib (Apa yang Kamu Mau Ada di Sini)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!