Makutha perlahan bangkit, merogoh saku, kemudian menyalakan lampu flash ponselnya. Seketika dia terbelalak mengetahui apa yang telah membuatnya tersandung hingga tersungkur di atas lantai.
Hasna tertelungkup di atas lantai. Gadis itu terlihat pucat tak berdaya. Makutha langsung meneliti setiap inci dari tubuhnya. Dia takut kalau Hasna mengalami luka yang menyebabkan darah keluar.
Beruntungnya tak ada setetes darah yang keluar dari tubuh Hasna. Makutha mengembuskan napas lega.
"Hasna, Na ....!" Makutha berusaha membangunkan Hasna dengan menepuk pipi perempuan itu.
Namun, tidak ada jawaban dari Hasna. Gadis itu tetap bergeming. Napasnya terlihat begitu cepat seakan habis lari maraton. Tanpa menunggu lebih lama lagi, Makutha menggendong Hasna dan membawanya ke dalam mobil.
"Kamu kenapa?" gumam Makutha sepanjang perjalanan sambil melirik ke arah gadis yang masih menutup rapat mata indahnya itu.
Tak lama kemudian, mereka sampai di Rumah Sakit. Tim medis langsung menangani rekan mereka dengan sigap. Setelah pemeriksaan selesai, seorang dokter laki-laki keluar dari IGD.
"Tha," panggil dokter tersebut.
Makutha bangkit dari kursi, kemudian berjalan ke arah lelaki dengan rambut tipis yang memenuhi dagu serta area bawah hidungnya itu. Makutha mengerutkan dahi, menanti penjelasan dari sang dokter.
"Depresi. Dia mengalami depresi. Sepertinya ada faktor pemicunya."
"Entahlah, Hans. Aku baru saja pulang ke apartemen. Suasana apartemenku begitu gelap ketika aku menemukannya tersungkur di atas lantai." Makutha memijat pangkal hidungnya sembari memejamkan mata.
Dokter bernama Hans itu mengangguk berulang kali. Dia mengerucutkan bibir sambil mengusap dagu. Melihat tingkah Hans tentu saja membuat hakim tampan itu menautkan kedua alisnya.
"Nyctophobia, sepertinya dia mengalami hal ini."
"Apa itu?"
"Dia memiliki rasa takut berlebihan jika berada dalam kegelapan. Biasanya karena trauma di masa lalu."
"Trauma? Jadi sama seperti aku yang cemas berlebih kerika melihat darah?" Makutha mengerutkan dahi. Dia tidak pernah tahu kalau Hasna memiliki trauma semacam itu.
"Iya, mungkin Hasna pernah mengalami sebuah kejadian buruk ketika berada di dalam kegelapan?"
Makutha terdiam. Dia mencoba menggali lagi memori otaknya. Dia mencari-cari momen kebersamaannya dengan Hasna. Namun, lelaki itu tidak menemukan kejadian yang membuat Hasna memiliki trauma buruk ketika berada di ruangan gelap. Bahkan seingatnya, Hasna selalu mematikan lampu ketika tidur.
"Tha, aku lanjut ke pasien lain, ya?" Hans menepuk lengan atas Makutha, dan lelaki itu pun menatap kembali dokter tampan tersebut.
"Hem, thanks ya, Hans." Makutha tersenyum tipis kemudian masuk ke dalam IGD.
Lelaki itu terus melangkah mendekati Hasna. Dokter cantik tersebut masih terlelap. Makutha menarik kursi, lalu mendudukkan tubuh di atasnya.
"Apa yang kamu sembunyikan dariku, Na?" Makutha menatap nanar perempuan di hadapannya itu.
Hasna mulai menggeliat. Perlahan dia membuka mata. Makutha mencondongkan tubuhnya ke arah Hasna kemudian menggenggam jemarinya.
"Na, apa yang kamu rasakan?"
Hasna menggeleng lemah. Sebuah senyum lembut terukir di bibir dokter cantik tersebut. Makutha mengusap puncak kepala Hasna yang tertutup jilbab.
"Kamu kenapa bisa pingsan di apartemenku?"
"Tadi tiba-tiba listrik mati. Dadaku sesak ketika ada di dalam ruangan gelap," jelas Hasna.
"Sudah berapa lama kamu seperti ini?"
"Apakah penting bagimu untuk mengetahui seberapa lama aku mengalami hal ini?" tanya Hasna sambil tersenyum kecut.
"Pulanglah. Aku baik-baik saja sekarang." Hasna membuang muka.
"Na, kamu itu kenapa? Jangan seperti ini," ucap Makutha dengan nada dingin.
"Aku nggak pa-pa. Pergilah!"
"Kamu anggap aku ini apa?"
Mendengar pertanyaan Makutha membuat Hasna kembali menatap lelaki itu. "Menganggapmu apa? Sekarang aku tanya sama kamu, sebenarnya kamu itu menganggapku apa?"
"Na ...."
Makutha berasa seperti menepuk permukaan air sehingga riaknya berpencar dan membasahi wajah. Dia bingung harus menjawab apa. Sebenarnya Makutha ingin mengungkapkan perasaannya detik itu juga.
"Pergi!" seru Hasna.
Makutha pun beranjak dari kursi dan menatap Hasna yang kini memunggunginya. Dia masih ragu untuk melangkah pergi. Makutha takut mengungkapkan perasaannya saat ini. Selain karena Hasna telah memiliki kekasih, dia takut perasaannya kepada dokter cantik itu menghambat rencana balas dendam yang sudah ia rencanakan sejak lama. Akhirnya Makutha membuang napas kasar sebelum kembali bicara.
"Na, aku ...."
...****************...
Kesel nggak sih sama sikap Makutha? 😑😑😑
Sambil nunggu SGSH update, mampir ke sini yukkk!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Ainisha_Shanti
soalan dijawab soalan juga. padan muka 😁
2022-09-07
2