Di sebuah ruangan dalam markas Geng Macan Tutul, semua anggota inti berkumpul bersama Liam. Mereka duduk bersama mengelilingi sebuah meja panjang dengan aneka hidangan mewah di atasnya.
Suasana hening begitu terasa saat mereka sedang menyantap makanan yang ada di hadapan masing-masing. Hanya terdengar denting sendok dan garpu yang beradu dengan piring. Di antara mereka ada satu orang yang kehilangan nafsu makannya.
Niki hanya mengaduk krim sup jagung di dalam mangkuknya menggunakan sendok. Kesedihan menyelubungi hati pria bertubuh gempal itu. Beberapa jam lalu, Niki mendapat kabar bahwa Miki sudah tiada.
"Niki!" panggil Liam dengan suara baritonnya.
Niki tersentak. Dia menatap ke arah Liam yang kini sedang menatapnya tajam. Liam meneguk air putih yang ada di dalam gelas, kemudian berjalan mendekati Niki.
"Kamu tahu, 'kan konsekuensi dan peraturan yang ada di dalam Geng Macan Tutul?" tanya Liam sembari menepuk bahu Niki.
"Tahu, Pak."
"Jadi, kamu tahu apa yang membuat kami meminta perawat itu menyuntikkan potasium klorida ke dalam tubuh Miki?"
"Karena kakakku gagal dalam melakukan misi, dan tertangkap polisi, Pak." Niki tertunduk lesu. rahangnya mengeras dengan jemari mengepal kuat di bawah meja.
"Ini juga sebagai bentuk peringatan untuk kalian semua! Jangan sampai tertangkap, dan lakukan dengan hati-hati. Ingat, aku yang mengangkat derajat kalian serta mendanai semua kegiatan operasional geng ini! Jadi, kalian semua harus selalu patuh terhadap apa yang sudah aku perintahkan!"
Liam menatap tajam satu per satu anggota Geng Macan Tutul. Semuanya mengiyakan ucapan Liam sambil tertunduk takut, kecuali Toni. Lelaki bertato itu justru memasukkan jari kelingking ke lubang telinga, kemudian meniup kotoran yang menempel di sana.
"Toni, apa kamu meremehkan aku?" tanya Liam karena tak suka melihat sikap Toni yang ia anggap kurang ajar.
"Ah, maaf. Sepertinya aku harus segera membersihkan telinga karena pendengaranku mulai terganggu."
Liam yang emosinya tersulut berjalan cepat ke arah Toni, lalu mencengkeram kerah kemeja lelaki itu. Deru napasnya menyapu kulit wajah sang mantan NAPI. Namun, apa yang dilakukan Liam tak mampu membuat nyali Toni menciut.
Toni justru tersenyum miring sambil menatap sinis lelaki di hadapannya itu. "Apa kamu lupa bagaimana aku menghabisi lelaki banci itu? Apa kamu mau berakhir seperti dia?"
Liam merapatkan rahang hingga terdengar suara gigi yang saling beradu. Urat sekitar mata dan lehernya terlihat sangat menonjol, seakan mewakilkan kemarahan yang ingin ia pendam kepada Toni. Akhirnya Usman turun tangan. Dia menarik pelan lengan Liam.
"Pak, bersabarlah. Kita tidak boleh seperti ini. Jika sampai terjadi pertengkaran, maka sia-sia semua rencana kita!"
Mendengar ucapan Usman membuat kepala Liam sedikit dingin. Perlahan ia melepaskan kerah kemeja Toni. Lelaki berwajah oriental itu memasukkan tangan ke dalam saku celana.
"Ingat tujuan Anda, Pak. Menjadi Wali Kota Metropolitan selama dua periode lalu mencalonkan diri sebagai Presiden!" Usman mencoba mengingatkan lagi tujuan utama Liam, kenapa meminta seluruh anggota Geng Macan Tutul pindah ke Kota Metropolitan.
"Tapi, aku tidak suka dengan sikapnya!" Liam melirik ke arah Toni sambil memincingkan mata.
"Bukankah dari dulu dia selalu bersikap semaunya, Pak? Tapi dia adalah otak dari Geng Macan Tutul. Tanpa Toni, kami bukanlah Geng Macan Tutul."
"Oke, kali ini aku akan bersabar terhadapmu, Ton! Lain kali, tolong hargai aku sedikit saja!"
Liam merapikan kembali jasnya kemudian beranjak pergi dari ruangan itu. Setelah Liam menghilang di balik pintu. Niki menggebrak meja. Kini tatapan seluruh anggota tertuju pada Niki.
"Kamu kenapa lagi, Nik?" tanya Usman sembari memutar bola matanya.
"Aku mau keluar dari permainan Liam!"
"Apa kamu sudah gila!" teriak Choky.
"Siapa yang gila sekarang? Aku atau kalian! Kalian semua tega menyetujui keputusannya untuk membunuh Miki!" Mata Niki mulai memerah.
"Sudah seharusnya dia mendapatkan hukuman itu!" Choky kembali mengeluarkan taringnya.
"Kita dulu tidak seperti ini! Kita masih bisa menyelematkan nyawa Miki dengan vote! Jika saja waktu itu kalian meminta untuk melakukan vote, pasti Miki bisa diselamatkan! Tapi kalian hanya diam membisu!" teriak Niki. Dadanya naik turun karena amarah yang menggebu-gebu.
Tak lama kemudian, terdengar suara tembakan. Seisi ruang itu terdiam. Mereka terbelalak melihat apa yang terjadi di depan mata.
"Berisik sekali," ucap Toni lalu meniup ujung pistolnya.
...****************...
Sambil nunggu SGSH update, mampir ke sini yuk!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Ainisha_Shanti
nampaknya geng cantul dah mulai retak. tak lama akan ada cela untuk Utha menghancurkan mereka😏😏😏
2022-09-07
1