Makutha mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Arjun. Namun, raut wajah Makutha mendadak berubah. Dia terbelalak. Jemarinya mengepal kuat dan rahangnya mengeras.
"Sial!" umpat hakim tampan tersebut penuh emosi.
Makutha langsung mematikan ponsel dan membantingnya kasar ke atas ranjang. Lelaki yang awalnya terlihat lemah itu, kini tampak penuh amarah dan menggebu-gebu. Dada Makutha kembang kempis menahan ledakan emosi yang meletup-letup di dalam hatinya.
"Tha, kamu kenapa?" tanya Liontin panik.
"Persidangan hari ini kacau!" Makutha mengusap kasar wajah kemudian menyugar rambut hitamnya.
"Kacau bagaimana?" tanya Hasna sembari menautkan kedua alisnya.
"Hakim sialan itu membebaskan terdakwa dari tuduhan!"
"Tha, sabar. Pasti akan ada masanya ...."
"Hasna, hentikan ocehanmu!" bentak Makutha.
Sontak Hasna terdiam. Gadis itu langsung merapatkan bibir dan menggigit bagian dalamnya. Matanya terasa panas dan mulai mengembun. Pandangannya kabur karena air mata yang berdesakan ingin keluar dari persembunyian. Hati Hasna terasa begitu nyeri mendengar bentakan Makutha.
"Oke, aku akan diam! Tapi, jangan pernah meminta pendapatku lagi! Jangan pernah datangi aku!" Hasna menatap tajam Makutha sebelum balik kanan, dan berlari keluar ruangan tersebut.
Ibu Makutha menggeleng, lalu mendekati anak laki-lakinya itu. Tak lupa dia meraih jemari sang putra. Liontin mengusap lembut punggung tangan Makutha.
"Utha, kenapa kamu berbicara seperti itu kepada Hasna? Kasihan dia ...." Ucapan Liontin menggantung di udara karena Makutha memotongnya.
"Bun, aku sudah menunggu hal ini selama bertahun-tahun. Begitu aku bisa menangkap salah satu dari Geng Macan Tutul, Viko menghancurkannya begitu saja!"
"Bunda tahu bagaimana perasaanmu. Tapi ...."
"Bunda, bisa aku minta tolong?"
Lagi-lagi Makutha memotong ucapan sang ibu. Dia menatap serius ke arah ibunya,diikuti anggukan Liontin.
"Tolong tinggalkan aku sendiri."
Liontin menghela napas kemudian tersenyum lembut. Dia mengusap lembut puncak kepala Makutha, berharap emosi putranya tersebut reda.
"Tha, jangan pernah memutuskan sesuatu dalam keadaan emosi. Bunda pergi nyusul Hasna, ya? Telepon Bunda kalau butuh sesuatu." Liontin tersenyum simpul kemudian keluar dari IGD.
Begitu sang ibu pergi, Makutha kembali meraih ponselnya dan menghubungi ketua Pengadilan Negeri tempatnya bekerja. Pada nada tunggu kedua, panggilannya diangkat.
"Halo, gimana keadaanmu?" tanya Pak Adli dengan nada penuh kekhawatiran.
"Baik, Ketua. Aku ingin bertanya mengenai persidanganku hari ini. Kenapa Anda mengoper kasus ini kepada Viko?"
"Oh, hanya dia yang bisa kita andalkan saat ini. Terlebih lagi, dia satu-satunya hakim yang ikut dalam proses penyelidikanmu dari awal. Jadi, aku rasa dia paham betul dengan apa yang seharusnya ia lakukan."
"Tapi dia mengacaukan semua penyelidikan yang sudah kulakukan selama dua bulan ini!" seru Makutha frustrasi.
"Tenang saja. Aku yakin setelah ini Ferdi juga akan melakukan pencurian lain. Dia residivis! Kita tunggu saja, dan terus mengawasi lelaki itu!"
"Sampai kapan lagi aku harus menunggu, Pak!" Makutha kembali memukul kasur dengan kepalan tinjunya.
"Bapak ingat kenapa aku masih mau bertahan di Pengadilan Negeri yang Pak Adli pimpin?" Makutha mencoba untuk menyudutkan atasannya tersebut.
Kenyataannya dalam lingkup Pengadilan Negeri, hanya Pak Adli saja yang mengetahui niat Makutha bertahan di Pengadilan tingkat pertama tersebut. Dia beberapa kali mendapat tawaran untuk dipindahtugaskan ke Pengadilan Tinggi bahkan Mahkamah Agung. Akan tetapi, Makutha selalu menolaknya dengan tegas.
"Apa kamu mengancam seorang Ketua? Ingat, aku yang berkuasa atas pemilihan perkara yang akan kamu tangani! Untuk itulah kamu bisa menangani kasus anggota Geng Macan Tutul! Aku tidak suka diancam! Jadi cukup diam dan lakukan saja apa yang seharusnya kamu lakukan!"
Sambungan telepon terputus. Makutha berteriak kesal kemudian meremas rambutnya sendiri. Lelaki itu sampai memukul kepala agar rasa kesal yang mencapai ubun-ubunnya bisa sedikit berkurang.
Tak lama kemudian, sebuah pesan teks dari Pak Arjun masuk ke dalam ponsel Makutha. Lelaki itu terbelalak ketika melohat deretan huruf yang terpampang pada layar benda pipih tersebut.
[Orang yang melakukan penyerangan kepadamu sudah tertangkap!]
...****************...
Mampir juga ke karya ini yaaa~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Ainisha_Shanti
biar tertangkap pun, belum tentu juga pelakunya nya nak buka mulut.
2022-09-07
1