"Kamu mau bertanya apa? Sepertinya serius sekali?" tanya Arjun sambil mengerutkan dahi.
"Berapa lama hukuman yang harus dijalani Toni karena kasus penyerangan itu, Pak?" tanya Makutha dengan wajah serius.
"Tujuh tahun. Sebenarnya dia terkena pasal berlapis karena kejadian itu masuk dalam aksi tawuran yang menyebabkan kematian. Tapi, akhirnya dia dikenakan hukuman untuk kasus pembunuhan saja." Arjun menatap sekilas Makutha kemudian mengembuskan napas kasar.
"Kamu tahu, 'kan dulu Walikota Solo menutup mulut Kapolres karena Liam terlibat? Jadilah kasus ini menjadi kasur penyerangan tunggal, bukan tawuran atau pengeroyokan. Terlebih lagi Abercio meninggal karena pukulan Toni."
Makutha terdiam. Dia sadar, seharusnya dia juga mendapat hukuman karena terlibat dalam aksi tawuran yang belum sempat terjadi itu. Dia tertunduk lesu. Arjun yang menyadari perubahan sikapnya pun meraih lengan atas Makutha.
"Hei, anak muda! Itu hanyalah masa lalu. Yang terpenting sekarang ini kita fokus pada mereka yang terbebas dari hukuman."
"Pak, apa suatu hari nanti aku juga akan mendapatkan karma atas kejadian itu?" tanya Makutha dengan raut wajah sedih.
"Ah, itu ...." Arjun memutar otak untuk menjawab pertanyaan Makutha, agar mendung di wajah hakim tampan tersebut tidak semakin hitam.
"Begini, Makutha. Di dunia ini selalu ada hukum karma, hukum sebab akibat. Tapi, untuk kasusmu ini ... bukankah kamu terpaksa datang ke lokasi itu karena ancaman mereka?"
Makutha kembali teringat bagaimana Liam, Alex, dan Hendry mengancamnya. Mereka mengancam akan melecehkan Hasna jika tidak menuruti kemauan mereka.
"Aku akan menghubungi Ketua Pengadilan Negeri untuk menangani kasus ini."
"Penyidikan belum selesai, Tha. Bersabarlah sedikit lagi. Jangan buru-buru mengambil tindakan."
...****************...
Di sisi lain, seorang pria berotot dengan tubuh dipenuhi tato baru saja dibebaskan dari hukumannya karena membunuh seseorang. Ya, dia adalah Toni Mahendra. Pemuda berusia 25 tahun yang sekarang resmi menyandang status sebagai mantan Narapidana.
Tak ada tempat tujuan pulang untuk Toni. Orang tuanya sudah tidak peduli. Dia dibuang oleh keluarganya karena kasus tersebut. Sorot matanya masih sama seperti dulu. Terlihat begitu dingin dan menyeramkan.
Toni menunggu jemputan di depan halte LAPAS sambil memerhatikan sekitar. Tak ada ponsel dalam genggamannya seperti orang lain. Dia tidak pernah peduli dengan benda pipih itu. Ada atau tidak sama saja bagi seorang Toni.
"Lama sekali!" gerutu Toni, sambil merogoh sakunya.
Lelaki itu mengeluarkan sebatang rokok dan menyulutnya. Setelah itu dia memasukkan lintingan tembakau tersebut ke dalam mulut. Menghisapnya perlahan, lalu mengembuskan asapnya ke udara.
Sebatang, dua batang, hingga batang ketiga tinggal separuh, barulah orang yang berjanji menjemputnya datang. Sebuah mobil sedan mahal berwarna hitam berhenti di depan Toni. Dia membuang puntung rokok dan menginjaknya hingga apinya padam. Kaca mobil terbuka, seorang lelaki bertubuh gempal menyapa Makutha.
"Ayo masuk!" ajak lelaki itu.
Toni meraih gagang pintu, membukanya, kemudian duduk di kursi penumpang. Lelaki itu menyandarkan kepala kemudian mulai terpejam. Pria yang berada di belakang kemudi memutar tubuh hingga kini bisa melihat jelas Toni.
"Gimana? Apakah udara di dalam penjara sama dengan udara di luar sini?"
"Niki ...."
"Hm?"
"Apa kamu sudah bosan hidup?" Toni kembali duduk tegak kemudian menatap tajam Niki.
"Hahaha, ampun!" kekeh Niki kemudian mulai melajukan mobilnya.
Sepanjang perjalanan Toni memilih tidur. Suasana di dalam mobil begitu lengang. Hanya terdengar deru mesin mobil yang menemani Niki ketika berkendara.
Setelah menempuh perjalanan hampir 9 jam, akhirnya keduanya sampai di sebuah rumah mewah dua lantai. Rumah itu memiliki halaman yang sangat luas. Pilar yang ada di terasnya pun sangat besar.
Niki membangunkan Toni yang hanya terpejam sepanjang perjalanan. Tubuh besar itu mulai menggeliat kemudian membuka mata. Toni sedikit meregangkan otot kemudian duduk.
"Kita sudah sampai, Bos!" seru Niki.
Toni langsung membuka pintu dan melangkah keluar mobil. Sepanjang jalan menuju pintu utama rumah, sudah berjajar belasan anggota Geng Macan Tutul. Salah satu geng terbesar dan disegani di Kota Metropolitan.
Geng tersebut kini memiliki ratusan anggota dengan 9 anggota inti dan 1 ketua. Sudah pasti ketuanya adalah Toni, sedang sembilan anggota inti yang lain adalah Niki, Miki, Ferdi, Aldo, Choky, Albert, Udin, Tito, dan Usman.
Kegiatan geng tersebut sebenarnya sering terendus pihak kepolisian. Akan tetapi, mereka selalu berhasil lolos dengan mudah. Selain itu, geng tersebut memiliki dukungan yang kuat. Banyak yang menduga orang yang mendukung mereka adalah Liam, sang Walikota Kota Metropolitan. Namun, motif kerjasama kedua pihak itu belum terkuak.
"Bos, besok sore Pak Walikota akan mendatangi kita," ucap Niki sambil terus berjalan di belakang Toni.
"Siapkan jamuan mewah! Besok adalah hari besar yang tidak bisa dilewatkan begitu saja!"
Sebuah senyum seringai penuh arti terukir di bibir Toni. Dia terus melangkah memasuki rumah yang disebut markas itu. Setelah punggung lelaki itu menghilang di balik pintu, barulah seluruh anggota masuk satu per satu ke dalam rumah.
...****************...
Halooo~
Mampir juga yukk ke karya temanku ini,
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments