Arjun terbelalak ketika mendengar laporan dari bawahannya. Dia langsung mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Makutha terus menanyakan hal apa yang membuat Arjun terkejut. Namun,lelaki itu tetap bungkam.
"Nanti kamu akan tahu setelah sampai di polres!" seru Arjun sambil terus melajukan mobilnya.
Makutha tak lagi banyak bertanya, walaupun lidahnya terasa begitu gatal. Dia hanya bisa memendam rasa ingin tahunya, agar Arjun bisa fokus mengendarai mobil.
Begitu sampai di kantor polisi, Arjun dan Makutha setengah berlari menuju sel tahanan. Garis polisi dipasang di sekitar tempat itu. Sesosok jenasah sudah terbujur kaku di atas lantai.
Ya, tubuh tak bernyawa itu adalah milik Surya. Lelaki itu sudah bersimbah darah dengan luka sayatan pada pergelangan tangannya. Nadinya putus dengan luka robek yang menganga dan terus mengeluarkan darah.
Melihat cairan kental berwarna merah pekat itu membuat kepala Makutha pusing. Dia mulai terhuyung. Dadanya pun terasa begitu sesak hingga napasnya tersengal. Arjun yang menyadari hal itu langsung membawa Makutha ke ruangannya.
Setelah sampai di ruangan sang Kapolsek, Makutha dibaringkan di atas sofa. Dia menggunakan lengan kirinya untuk menutup mata. Aroma anyir darah dan bayangan cairan kental tersebut masih terekam jelas oleh otak serta indra penciumannya. Jantungnya berpacu semakin cepat dan perutnya semakin bergejolak.
"Minumlah!" Arjun menyodorkan segelas air putih dan juga sebutir obat penenang.
Arjun tahu bahwa Makutha memiliki Hemophobia (Timbulnya rasa cemas berlebih ketika melihat darah). Makutha selalu merasa pusing, mual, lemas, serta kesulitan bernapas ketika melihat darah dalam jumlah banyak. Hal itu terjadi semenjak dia melihat Abercio yang meninggal di depan matanya dengan kondisi berlumuran darah.
"Terima kasih, Pak." Makutha kembali duduk, kemudian meraih gelas dan obat penenang yang diberikan Arjun, kemudian meminumnya.
Makutha menyandarkan punggungnya pada kepala sofa. Lelaki itu memejamkan mata sambil berusaha mengatur napas. Arjun ikut mendudukkan bokongnya ke atas sofa. Polisi berumur lebih dari setengah abad itu meremas rambutnya yang mulai memutih.
"Bagaimana ini? Dia mati! Kita tidak bisa mengorek informasi lebih jauh mengenai dalang di balik penyerangan yang kamu alami."
"Sudah cek CCTV?" tanya Makutha sambil memijat pelipisnya.
"Sudah, tidak ada yang aneh."
"Di mana pertama kali mayatnya ditemukan?"
"Toilet sel."
"Sebelumnya ...." Makutha yang awalnya bersandar pada kepala sofa, kini kembalo duduk tegak, lalu menatap intens Arjun.
"Siapa yang mengunjunginya terakhir kali?" Makutha menyipitkan mata.
Setelah mendengar pertanyaan Makutha yang terakhir, Arjun terbelalak. Dia langsung beranjak dari kursi dan berpesan kepada Makutha untuk tidak pergi kemana pun dan beristirahat di ruangannya.
"Aku akan mengeceknya! Kamu tetap di sini!"
Arjun setengah berlari menuju ruang kunjungan yang ada di kantor polisi tersebut. Dia meminta Farhan untuk mengecek daftar orang yang kemarin mengunjungi Surya. Namun, sebuah fakta menyebalkan lain terungkap.
"Setelah kami cek, dia menggunakan kartu identitas palsu, Pak!"
"Jadi dia mencantumkan identitas palsu?" Arjun menatap tajam daftar tamu yang berkunjung kemarin.
"Iya, Pak. Setelah kami cek, nomor kependudukannya palsu!"
"Sial! Buntu lagi!" Arjun mengusap wajah kasar kemudian kembali menatap Farhan.
"Bagaimana ciri-cirinya?" tanya Arjun lagi.
"Dia ...." Farhan menyebutkan ciri-ciri fisik orang yang mengunjungi Surya. Dia mendapat info tersebut dari petugas yang berjaga.
"Sial! Aku tahu siapa dia!" umpatnya lagi.
Arjun langsung kembali ke ruangannya. Ketika dia membuka pintu, lelaki itu terbelalak. Makutha sudah berdiri di depan meja kerjanya sambil membawa sebuah amplop coklat berisi dokumen rahasia.
"Apa ini, Pak!" Makutha membanting berkas tersebut ke atas meja.
"A-aku bisa jelaskan!"
"Untuk apa Pak Arjun menyimpan data pribadi saya serta berkas kasus Abercio!"
...****************...
Duh, kira-kira untuk apa ya Pak Arjun menyimpan data pribadi Makutha dan dokumen tersebut?
Mampir ke sini juga, ya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments