Makutha terbelalak melihat hasil laboratorium dari pil yang ditelan Miki. Dia mendapatkan hasilnya melalui surel yang dikirim oleh Hasna. Miki menelan obat tidur dalam dosis besar. Terlebih lagi obat tersebut bisa menyebabkan gangguan ingatan, Hasna menjelaskan jika Miki sadar kemungkinan besar sebagian memorinya akan terhapus.
"Apa dia belum sadar?" tanya Makutha melalui sambungan telepon.
"Belum, Tha."
"Astaga apa lagi ini?" Makutha mengusap wajahnya kasar kemudian menyandarkan punggung pada sandaran kursi kerjanya.
Dari ujung telepon, terdengar nama Hasna dipanggil. Dia diberi tahu untuk segera kembali bekerja. Akhirnya perempuan itu terpaksa menghentikan percakapannya dengan Makutha.
"Sudah dulu ya, aku akan mengabarimu jika ada perkembangan mengenai kondisi Miki," pamit Hasna sebelum menutup sambungan telepon.
Setelah sambungan telepon terputus Makutha meraih jasnya, kemudian keluar kantor. Dia berniat untuk menemui Arjun di kantornya. Lelaki itu ingin mengetahui kelanjutan kasus penyerangan yang menimpanya.
Ketika sampai di kantor polisi, dia dihadang oleh salah seorang bawahan Arjun. Makutha hampir kehilangan kesabaran, jika Farhan tidak menemuinya.
"Pak Makutha, Pak Arjun sedang tidak ada di tempat. Apa Anda tidak menghubungi beliau sebelum ke sini?" tanya Farhan.
"Tidak, aku buru-buru. Oya, pihak kepolisian sudah mendapatkan kabar dari Rumah Sakit mengenai kondisi Miki?"
"Belum, Pak. Kenapa?"
"Ah, tidak apa-apa. Kalau begitu aku pergi dulu."
"Baik, Pak."
Makutha balik kanan kemudian kembali masuk ke mobilnya. Dia hendak pergi ke Rumah Sakit untuk melihat langsung kondisi Miki. Dia melajukan mobil secepat yang ia bisa. Membelah jalanan Ibu Kota yang tidak pernah sepi.
Sebuah panggilan masuk ke dalam ponsel Makutha. Hasna meneleponnya. Makutha mengerutkan dahi sebelum menggeser tombol hijau pada layar.
"Ada apa?"
"Miki meninggal!" seru Hasna tanpa basa-basi.
"Bagaimana bisa!" pekik Makutha sambil memukul roda kemudi.
"Kami sedang mencari tahu penyebabnya."
"Aku ke sana sekarang!" Makutha mematikan sambungan telepon lalu melempar asal ponselnya ke atas kursi penumbang.
Makutha semakin mempercepat laju mobilnya. Amarahnya kini memuncak hingga ubun-ubun. Kepalanya hampir meledak setelah mendapat kabar dari Hasna.
"Pasti ini ulah salah satu anggota geng itu!" gerutu Makutha sambil terus memperhatikan jalanan di depannya.
Lima belas menit kemudian Makutha sudah sampai di rumah Sakit. Dia berlari menyusuri lorong Rumah Sakit menuju ruang kerja Hasna. Ketika Makutha memasuki ruangan hasna, dokter cantik itu sedang mengamati hasil laboratorium yang baru saja keluar.
"Bagaimana? Apa penyebabnya?" tanya Makutha setengah emosi.
"Dalam darahnya terdapat zat kimia yang biasa dipakai untuk tindakan Euthanasia aktif (suntik mati)," jelas Hasna setenang mungkin.
"Mereka benar-benar gila!" seru Makutha.
Lelaki itu tak menyangka jika kawanan gangster itu begitu kejam. Mereka rela membunuh rekannya sendiri demi terbebas dari tuntutan hukum.
"Sepertinya mereka benar-benar melakukan segala cara agar tidak tersentuh oleh hukum," gumam Makutha.
"Tha, berhentilah memburu mereka. Mereka semua sangat sulit dijangkau. Aku takut terjadi hal buruk kepadamu," ucap Hasna dengan tatapan nanar.
"Hasna, setiap orang memiliki sebuah tujuan hidup yang berbeda. Kamu memutuskan untuk menjadi dokter, karena ingin menolong banyak orang, 'kan? Begitu juga denganku! Aku memilih jalanku ini, untuk sebuah dendam di masa lalu." Makutha membuang pandangannya keluar jendela.
"Makutha ...."
"Bisa saja aku membunuh mereka satu per satu dengan tanganku sendiri. Tapi, bukankah aku akan sama saja seperti mereka? Aku memiliki cara sendiri untuk menghukum mereka atas perbuatan buruknya di masa lalu." Makutha menatap tajam Hasna sambil melipat lengan di depan dada.
"Makutha, jangan terlalu lama berkubang dalam rasa dendam. Semua justru akan membuatmu lebih menderita. Terkadang melepaskan sesuatu jauh akan lebih melegakan daripada menyimpan dendam yang tidak berkesudahan."
"Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang berharga dalam hidupmu dengan cara mengenaskan. Terlebih lagi dia tidak mendapatkan keadilan! Kasus kematian Cio ditutup begitu saja! Hanya satu orang yang dihukum!"
"Makutha, aku juga merasakan hal yang sama! Aku juga tahu bagaimana rasanya kehilangan Cio! Kamu tahu 'kan hubunganku dengannya saat kejadian itu?" Mata Hasna mulai berkaca-kaca.
"Maaf, karena sudah membuka kembali luka lamamu. Tapi, aku tidak bisa mundur. Terlebih lagi terhadap tiga orang biadap yang justru melimpahkan kesalahan padaku ketika diinterogasi oleh polisi tujuh tahun lalu! Aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja!" Rahang Makutha mengeras dan jemarinya mengepal kuat.
Rasa dendam yang teramat besar sudah menguasai hati Makutha. Dia tidak mau mundur lagi. Makutha sudah merelakan banyak hal agar bisa sampai di titik ini. Tekadnya sudah bulat untuk membuat Geng Macan Tutul serta ketiga mantan temannya itu hancur.
...****************...
Bab selanjutnya ikut jamuan Geng Cantul sama Pak Walikota, yuk!
Sambil nunggu Pak Hakim update, mampir ke sini juga, yaaa~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments