Bab 11. Dendam

Makutha terbelalak melihat hasil laboratorium dari pil yang ditelan Miki. Dia mendapatkan hasilnya melalui surel yang dikirim oleh Hasna. Miki menelan obat tidur dalam dosis besar. Terlebih lagi obat tersebut bisa menyebabkan gangguan ingatan, Hasna menjelaskan jika Miki sadar kemungkinan besar sebagian memorinya akan terhapus.

"Apa dia belum sadar?" tanya Makutha melalui sambungan telepon.

"Belum, Tha."

"Astaga apa lagi ini?" Makutha mengusap wajahnya kasar kemudian menyandarkan punggung pada sandaran kursi kerjanya.

Dari ujung telepon, terdengar nama Hasna dipanggil. Dia diberi tahu untuk segera kembali bekerja. Akhirnya perempuan itu terpaksa menghentikan percakapannya dengan Makutha.

"Sudah dulu ya, aku akan mengabarimu jika ada perkembangan mengenai kondisi Miki," pamit Hasna sebelum menutup sambungan telepon.

Setelah sambungan telepon terputus Makutha meraih jasnya, kemudian keluar kantor. Dia berniat untuk menemui Arjun di kantornya. Lelaki itu ingin mengetahui kelanjutan kasus penyerangan yang menimpanya.

Ketika sampai di kantor polisi, dia dihadang oleh salah seorang bawahan Arjun. Makutha hampir kehilangan kesabaran, jika Farhan tidak menemuinya.

"Pak Makutha, Pak Arjun sedang tidak ada di tempat. Apa Anda tidak menghubungi beliau sebelum ke sini?" tanya Farhan.

"Tidak, aku buru-buru. Oya, pihak kepolisian sudah mendapatkan kabar dari Rumah Sakit mengenai kondisi Miki?"

"Belum, Pak. Kenapa?"

"Ah, tidak apa-apa. Kalau begitu aku pergi dulu."

"Baik, Pak."

Makutha balik kanan kemudian kembali masuk ke mobilnya. Dia hendak pergi ke Rumah Sakit untuk melihat langsung kondisi Miki. Dia melajukan mobil secepat yang ia bisa. Membelah jalanan Ibu Kota yang tidak pernah sepi.

Sebuah panggilan masuk ke dalam ponsel Makutha. Hasna meneleponnya. Makutha mengerutkan dahi sebelum menggeser tombol hijau pada layar.

"Ada apa?"

"Miki meninggal!" seru Hasna tanpa basa-basi.

"Bagaimana bisa!" pekik Makutha sambil memukul roda kemudi.

"Kami sedang mencari tahu penyebabnya."

"Aku ke sana sekarang!" Makutha mematikan sambungan telepon lalu melempar asal ponselnya ke atas kursi penumbang.

Makutha semakin mempercepat laju mobilnya. Amarahnya kini memuncak hingga ubun-ubun. Kepalanya hampir meledak setelah mendapat kabar dari Hasna.

"Pasti ini ulah salah satu anggota geng itu!" gerutu Makutha sambil terus memperhatikan jalanan di depannya.

Lima belas menit kemudian Makutha sudah sampai di rumah Sakit. Dia berlari menyusuri lorong Rumah Sakit menuju ruang kerja Hasna. Ketika Makutha memasuki ruangan hasna, dokter cantik itu sedang mengamati hasil laboratorium yang baru saja keluar.

"Bagaimana? Apa penyebabnya?" tanya Makutha setengah emosi.

"Dalam darahnya terdapat zat kimia yang biasa dipakai untuk tindakan Euthanasia aktif (suntik mati)," jelas Hasna setenang mungkin.

"Mereka benar-benar gila!" seru Makutha.

Lelaki itu tak menyangka jika kawanan gangster itu begitu kejam. Mereka rela membunuh rekannya sendiri demi terbebas dari tuntutan hukum.

"Sepertinya mereka benar-benar melakukan segala cara agar tidak tersentuh oleh hukum," gumam Makutha.

"Tha, berhentilah memburu mereka. Mereka semua sangat sulit dijangkau. Aku takut terjadi hal buruk kepadamu," ucap Hasna dengan tatapan nanar.

"Hasna, setiap orang memiliki sebuah tujuan hidup yang berbeda. Kamu memutuskan untuk menjadi dokter, karena ingin menolong banyak orang, 'kan? Begitu juga denganku! Aku memilih jalanku ini, untuk sebuah dendam di masa lalu." Makutha membuang pandangannya keluar jendela.

"Makutha ...."

"Bisa saja aku membunuh mereka satu per satu dengan tanganku sendiri. Tapi, bukankah aku akan sama saja seperti mereka? Aku memiliki cara sendiri untuk menghukum mereka atas perbuatan buruknya di masa lalu." Makutha menatap tajam Hasna sambil melipat lengan di depan dada.

"Makutha, jangan terlalu lama berkubang dalam rasa dendam. Semua justru akan membuatmu lebih menderita. Terkadang melepaskan sesuatu jauh akan lebih melegakan daripada menyimpan dendam yang tidak berkesudahan."

"Kamu tidak akan pernah tahu bagaimana rasanya kehilangan orang yang berharga dalam hidupmu dengan cara mengenaskan. Terlebih lagi dia tidak mendapatkan keadilan! Kasus kematian Cio ditutup begitu saja! Hanya satu orang yang dihukum!"

"Makutha, aku juga merasakan hal yang sama! Aku juga tahu bagaimana rasanya kehilangan Cio! Kamu tahu 'kan hubunganku dengannya saat kejadian itu?" Mata Hasna mulai berkaca-kaca.

"Maaf, karena sudah membuka kembali luka lamamu. Tapi, aku tidak bisa mundur. Terlebih lagi terhadap tiga orang biadap yang justru melimpahkan kesalahan padaku ketika diinterogasi oleh polisi tujuh tahun lalu! Aku tidak akan membiarkan mereka lolos begitu saja!" Rahang Makutha mengeras dan jemarinya mengepal kuat.

Rasa dendam yang teramat besar sudah menguasai hati Makutha. Dia tidak mau mundur lagi. Makutha sudah merelakan banyak hal agar bisa sampai di titik ini. Tekadnya sudah bulat untuk membuat Geng Macan Tutul serta ketiga mantan temannya itu hancur.

...****************...

Bab selanjutnya ikut jamuan Geng Cantul sama Pak Walikota, yuk!

Sambil nunggu Pak Hakim update, mampir ke sini juga, yaaa~

Episodes
1 Bab 1. Mimpi Buruk
2 Bab 2. Penyerangan
3 Bab 3. Ekor
4 Bab 4. Residivis
5 Bab 5. Terkejut
6 Bab 6. Mati
7 Bab 7. Kesamaan
8 Bab 8. Miki
9 Bab 9. Pola yang Sama
10 Bab 10. Kembalinya Ketua Geng Cantul
11 Bab 11. Dendam
12 Bab 12. Jamuan Geng Cantul
13 Bab 13. Kekejaman Toni
14 Bab 14. Pertanyaan untuk Makutha
15 Bab 15. Pacar Hasna
16 Bab 16. Begal Keperawanan
17 Bab 17. Ancaman
18 Bab 18. Jagal Geng Cantul
19 Bab 19. Menghibur Hasna
20 Bab 20. Kegalauan Ferdi dan Tito
21 Bab 21. Menemui Tito
22 Bab 22. Sebut Saja Dewa Penyelamat
23 Bab 23. Menyerahkan Diri
24 Bab 24. Krisis Kepercayaan
25 Bab 25. Sengaja atau Tidak?
26 Bab 26. Interogasi
27 Bab 27. Musuh dalam Selimut
28 Bab 28. Orang Asing
29 Bab 29. Drama Pasangan Penghianat
30 Bab 30. Bermuka Dua
31 Update Bab 30
32 Bab 31. Mengadili Ferdi
33 Bab 32. Panas Hati
34 Bab 33. Rencana Geng Cantul
35 Bab 34. Terkejut Belum?
36 Bab 35. Penyesalan Maudy
37 Bab 36. Tersangka Baru
38 Bab 37. Hukuman untuk Ferdi
39 Bab 38. Carut Marut
40 Bab 39. Pertemuan Arjun dan Farhan
41 Bab 40. Skenario Liam
42 Bab 41. Berusaha Menjangkau Liam
43 Bab 42. Negosiasi
44 Bab 43. Sekutu Baru
45 Bab 44. Bodyguard Hasna
46 Bab 45. Ragu
47 Bab 46. Drama Pembuktian
48 Bab 47. Ternyata Kamu!
49 Bab 48. Semakin Samar
50 Bab 49. Kemurkaan Sang Ayah
51 Bab 50. Jenjang Karir Kotor
52 Bab 51. Bisnis Gelap Sang Walikota
53 Bab 52. Salah Sasaran
54 Bab 53. Baby Blues
55 Bab 54. Sisi Gelap Makutha
56 Bab 55. Memulai Rencana Bersama Musuh
57 Bab 56. Bayi Kita
58 Bab 57. Surat Panggilan dari Kepolisian
59 Bab 58. Interogasi
60 Bab 59. Penangkapan Sang Hakim
61 Bab 60. Tawanan Cinta
62 Bab 61. Sambutan dari Mereka
63 Bab 62. Tiara Si Gadis Lugu
64 Bab 63. Kekecewaan Tiara
65 Bab 64. Penyesalan Tiara
66 Bab 65. Hari Pertama Persidangan
67 Bab 66. Apakah Ini Akan Menjadi Akhir?
68 Bab 67. Fitting Day
69 Bab 68. Markas
70 Bab 69. Berhasil
71 Bab 70. THE END
72 Karya Baru: Luna and The Dire Wolf
73 Novel Baru: Rahasia Kehamilan Violetta
74 Revenge of The Ugly Lily
75 Gairah Masa SMA
76 Karya Baru: Toko Gaib (Apa yang Kamu Mau Ada di Sini)
Episodes

Updated 76 Episodes

1
Bab 1. Mimpi Buruk
2
Bab 2. Penyerangan
3
Bab 3. Ekor
4
Bab 4. Residivis
5
Bab 5. Terkejut
6
Bab 6. Mati
7
Bab 7. Kesamaan
8
Bab 8. Miki
9
Bab 9. Pola yang Sama
10
Bab 10. Kembalinya Ketua Geng Cantul
11
Bab 11. Dendam
12
Bab 12. Jamuan Geng Cantul
13
Bab 13. Kekejaman Toni
14
Bab 14. Pertanyaan untuk Makutha
15
Bab 15. Pacar Hasna
16
Bab 16. Begal Keperawanan
17
Bab 17. Ancaman
18
Bab 18. Jagal Geng Cantul
19
Bab 19. Menghibur Hasna
20
Bab 20. Kegalauan Ferdi dan Tito
21
Bab 21. Menemui Tito
22
Bab 22. Sebut Saja Dewa Penyelamat
23
Bab 23. Menyerahkan Diri
24
Bab 24. Krisis Kepercayaan
25
Bab 25. Sengaja atau Tidak?
26
Bab 26. Interogasi
27
Bab 27. Musuh dalam Selimut
28
Bab 28. Orang Asing
29
Bab 29. Drama Pasangan Penghianat
30
Bab 30. Bermuka Dua
31
Update Bab 30
32
Bab 31. Mengadili Ferdi
33
Bab 32. Panas Hati
34
Bab 33. Rencana Geng Cantul
35
Bab 34. Terkejut Belum?
36
Bab 35. Penyesalan Maudy
37
Bab 36. Tersangka Baru
38
Bab 37. Hukuman untuk Ferdi
39
Bab 38. Carut Marut
40
Bab 39. Pertemuan Arjun dan Farhan
41
Bab 40. Skenario Liam
42
Bab 41. Berusaha Menjangkau Liam
43
Bab 42. Negosiasi
44
Bab 43. Sekutu Baru
45
Bab 44. Bodyguard Hasna
46
Bab 45. Ragu
47
Bab 46. Drama Pembuktian
48
Bab 47. Ternyata Kamu!
49
Bab 48. Semakin Samar
50
Bab 49. Kemurkaan Sang Ayah
51
Bab 50. Jenjang Karir Kotor
52
Bab 51. Bisnis Gelap Sang Walikota
53
Bab 52. Salah Sasaran
54
Bab 53. Baby Blues
55
Bab 54. Sisi Gelap Makutha
56
Bab 55. Memulai Rencana Bersama Musuh
57
Bab 56. Bayi Kita
58
Bab 57. Surat Panggilan dari Kepolisian
59
Bab 58. Interogasi
60
Bab 59. Penangkapan Sang Hakim
61
Bab 60. Tawanan Cinta
62
Bab 61. Sambutan dari Mereka
63
Bab 62. Tiara Si Gadis Lugu
64
Bab 63. Kekecewaan Tiara
65
Bab 64. Penyesalan Tiara
66
Bab 65. Hari Pertama Persidangan
67
Bab 66. Apakah Ini Akan Menjadi Akhir?
68
Bab 67. Fitting Day
69
Bab 68. Markas
70
Bab 69. Berhasil
71
Bab 70. THE END
72
Karya Baru: Luna and The Dire Wolf
73
Novel Baru: Rahasia Kehamilan Violetta
74
Revenge of The Ugly Lily
75
Gairah Masa SMA
76
Karya Baru: Toko Gaib (Apa yang Kamu Mau Ada di Sini)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!