Bab 2. Penyerangan

Makutha melangkah keluar mobil sambil memerhatikan arloji yang melingkar di tangannya. Ketika menunggu lift terbuka, seorang laki-laki kurus memakai masker mendekat, lalu mengambil posisi untuk berdiri di sampunya. Makutha meliriknya sekilas, kemudian melangkah masuk ke dalam lift setelah pintunya terbuka.

Lelaki asing tersebut ikut masuk ke dalam lift, dan berdiri tepat di samping Makutha. Sang hakim tampan itu mengerutkan dahi kemudian mengeluarkan ponselnya yang bergetar di dalam saku celana. Beberapa laporan panggilan tak terjawab muncul pada layar benda pipih tersebut. Bahkan sebuah pesan Whatsapp masuk sejak 30 menit yang lalu.

[Utha, kamu nggak pa-pa?]

Pesan dari sang ibu membuatnya tersenyum lebar. Jemari Makutha mulai berlarian di atas layar untuk membalas pesan sang ibu. Namun, baru mengetik beberapa kata, tiba-tiba ponselnya kembali bergetar.

"Halo, Bun."

"Kamu di mana?"

"Aku sedang di dalam lift menuju kantor. Kenapa, Bun?"

"Perasaan Bunda nggak enak! Kamu beneran nggak pa-pa?"

"Iya, Bunda. Utha nggak pa--"

Makutha merasakan pada perutnya. Saat melongok ke arah perut, dia terbelalak. Sebuah pisau lipat kini menancap di perutnya. Tanpa sadar dia menahan napas. Lelaki yang tadi ada di sampingnya kini sudah berpindah di hadapannya.

Darah mulai mengucur membasahi lantai. Makutha menyipitkan mata berusaha mengenali siapa lelaki yang ada di balik masker itu. Dia menggeram.

"Siapa kamu! Jika ada yang menyuruhmu, siapa orangnya! Dasar pengecut!" seru Makutha sambil menahan lengan pria asing itu dengan satu tangan.

Lelaki itu hanya memincingkan mata kemudian menarik kembali pisau dari perut Makutha. Kini hakim tampan tersebut merasakan nyeri luar biasa pada bagian perutnya yang tertusuk. Pandangan Makutha mulai kabur. Dia tumbang tak sadarkan diri.

Aroma darah dan parfum Makutha bercampur menjadi satu di dalam lift. Terdengar suara denting lift. Pintu ruang sempit itu pun terbuka. Kini beberapa orang di depan Makutha hanya terdiam, berusaha mencerna pemandangan mencekam di hadapan mereka.

Orang yang menusuk Makutha langsung berlari menuju tangga darurat. Para karyawan perempuan yang menyaksikan tubuh Makutha tersungkur lemas bersimbah darah pun menjerit histeris. Sedangkan para karyawan laki-laki berhambur mengejar si pelaku. Sebagian dari mereka langsung menghubungi ambulans.

Terdengar suara teriakan panik Liontin dari ponsel yang masih digenggam oleh Makutha. Firasat seorang ibu memang tak pernah salah. Kekhawatiran Liontin terbukti. Putranya benar-benar dalam bahaya. Bahkan kini sedang tersungkur tak berdaya karena diserang oleh orang asing.

"Makutha! Jawab Bunda! Kamu kenapa!"

...****************...

Suara sirine ambulans bertalu-talu mengudara di jalanan Kota Metropolitan. Mobil berwarna putih itu melaju sekencang angin, membelah jalanan yang sedang dipadati kendaraan bermotor. Tanpa komando, mobil-mobil pribadi yang melintas pun menepi dengan sendirinya.

Akan tetapi, kepanikan sang sopir ambulans bertambah saat sebuah mobil Mercy hitam di hadapannya tidak mau memberi mereka jalan. Mobil itu dengan congkaknya merajai jalanan arteri Ibu Kota.

"Astaga! manusia seperti apa di depan itu! Apa telinganya tuli?" gerutu sang sopir ambulans.

"Salip saja, Pak!" seru seorang perawat laki-laki yang duduk di sampingnya.

"Nggak bisa! Dia menghalangi jalan! Setiap aku ingin menyalipnya, mobil itu selalu menghalangi!"

"Sial! Kalau begitu tabrak saja!" teriak sang perawat.

"Kamu gila?"

Lelaki berseragam putih itu berdecak kesal. Dia akhirnya meraih alat pengeras suara dan berbicara melalui melalui benda itu agar mobil di depannya mau memberi jalan.

"Mobil dengan plat L 1 AM, mohon untuk memberikan jalan kepada kami. Keadaan darurat! Kami sedang membawa pasien yang sekarat!"

Bukannya minggir dan memberi jalan. Mobil itu justru berhenti mendadak, hingga sang sopir ambulans membanting setir dan menyerempet pengendara motor di sampingnya.

"Cari gara-gara dia!" seru si sopir ambulans kemudian keluar dari mobil.

Dia langsung melangkah menuju mobil tersebut, lalu menggedor kaca mobil mahal tersebut. Ketika kaca mobil diturunkan, seorang lelaki paruh baya menatapnya sinis.

"Pak, apa Anda tuli? Apa sirine ambulans yang saya nyalakan tidak bisa Anda dengar?" tanya sang sopir ambulans dengan nada kesal.

"Saya hanya menjalankan tugas," ucap lelaki itu angkuh, tanpa mau menoleh ke arah sopir ambulans.

"Anda bisa dituntut karena melakukan hal ini, Pak!"

"Siapa yang berani menuntutku? Katakan!"

Sang sopir ambulans menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari kursi penumpang. Seketika dia terbelalak setelah menyadari siapa yang sedang duduk tenang di sana. Lelaki muda yang berwajah oriental serta memakai setelan jas rapi itu menatapnya sinis sembari melipat lengan di depan dada.

"P-Pak Walikota!"

...****************...

Ada yaaa Walikota begitu 😑😑😑

Mampir juga yuk, ke karya salah satu sahabat literasi Chika.

Terpopuler

Comments

abdan syakura

abdan syakura

Lanjuttttt Thor..
Ada bunga untuk Author-qu..
🌺🌹💪🤺

2023-03-21

1

Tita Dewahasta

Tita Dewahasta

firasat ibu kuat banget

2022-09-21

2

Ainisha_Shanti

Ainisha_Shanti

sengajah nak menghalangi Utha sampai hospital. biar Utha kehilangan nyawa sebelum sampai hospita. dasar walikota psikopat 😡😡😡

2022-09-07

2

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Mimpi Buruk
2 Bab 2. Penyerangan
3 Bab 3. Ekor
4 Bab 4. Residivis
5 Bab 5. Terkejut
6 Bab 6. Mati
7 Bab 7. Kesamaan
8 Bab 8. Miki
9 Bab 9. Pola yang Sama
10 Bab 10. Kembalinya Ketua Geng Cantul
11 Bab 11. Dendam
12 Bab 12. Jamuan Geng Cantul
13 Bab 13. Kekejaman Toni
14 Bab 14. Pertanyaan untuk Makutha
15 Bab 15. Pacar Hasna
16 Bab 16. Begal Keperawanan
17 Bab 17. Ancaman
18 Bab 18. Jagal Geng Cantul
19 Bab 19. Menghibur Hasna
20 Bab 20. Kegalauan Ferdi dan Tito
21 Bab 21. Menemui Tito
22 Bab 22. Sebut Saja Dewa Penyelamat
23 Bab 23. Menyerahkan Diri
24 Bab 24. Krisis Kepercayaan
25 Bab 25. Sengaja atau Tidak?
26 Bab 26. Interogasi
27 Bab 27. Musuh dalam Selimut
28 Bab 28. Orang Asing
29 Bab 29. Drama Pasangan Penghianat
30 Bab 30. Bermuka Dua
31 Update Bab 30
32 Bab 31. Mengadili Ferdi
33 Bab 32. Panas Hati
34 Bab 33. Rencana Geng Cantul
35 Bab 34. Terkejut Belum?
36 Bab 35. Penyesalan Maudy
37 Bab 36. Tersangka Baru
38 Bab 37. Hukuman untuk Ferdi
39 Bab 38. Carut Marut
40 Bab 39. Pertemuan Arjun dan Farhan
41 Bab 40. Skenario Liam
42 Bab 41. Berusaha Menjangkau Liam
43 Bab 42. Negosiasi
44 Bab 43. Sekutu Baru
45 Bab 44. Bodyguard Hasna
46 Bab 45. Ragu
47 Bab 46. Drama Pembuktian
48 Bab 47. Ternyata Kamu!
49 Bab 48. Semakin Samar
50 Bab 49. Kemurkaan Sang Ayah
51 Bab 50. Jenjang Karir Kotor
52 Bab 51. Bisnis Gelap Sang Walikota
53 Bab 52. Salah Sasaran
54 Bab 53. Baby Blues
55 Bab 54. Sisi Gelap Makutha
56 Bab 55. Memulai Rencana Bersama Musuh
57 Bab 56. Bayi Kita
58 Bab 57. Surat Panggilan dari Kepolisian
59 Bab 58. Interogasi
60 Bab 59. Penangkapan Sang Hakim
61 Bab 60. Tawanan Cinta
62 Bab 61. Sambutan dari Mereka
63 Bab 62. Tiara Si Gadis Lugu
64 Bab 63. Kekecewaan Tiara
65 Bab 64. Penyesalan Tiara
66 Bab 65. Hari Pertama Persidangan
67 Bab 66. Apakah Ini Akan Menjadi Akhir?
68 Bab 67. Fitting Day
69 Bab 68. Markas
70 Bab 69. Berhasil
71 Bab 70. THE END
72 Karya Baru: Luna and The Dire Wolf
73 Novel Baru: Rahasia Kehamilan Violetta
74 Revenge of The Ugly Lily
75 Gairah Masa SMA
76 Karya Baru: Toko Gaib (Apa yang Kamu Mau Ada di Sini)
Episodes

Updated 76 Episodes

1
Bab 1. Mimpi Buruk
2
Bab 2. Penyerangan
3
Bab 3. Ekor
4
Bab 4. Residivis
5
Bab 5. Terkejut
6
Bab 6. Mati
7
Bab 7. Kesamaan
8
Bab 8. Miki
9
Bab 9. Pola yang Sama
10
Bab 10. Kembalinya Ketua Geng Cantul
11
Bab 11. Dendam
12
Bab 12. Jamuan Geng Cantul
13
Bab 13. Kekejaman Toni
14
Bab 14. Pertanyaan untuk Makutha
15
Bab 15. Pacar Hasna
16
Bab 16. Begal Keperawanan
17
Bab 17. Ancaman
18
Bab 18. Jagal Geng Cantul
19
Bab 19. Menghibur Hasna
20
Bab 20. Kegalauan Ferdi dan Tito
21
Bab 21. Menemui Tito
22
Bab 22. Sebut Saja Dewa Penyelamat
23
Bab 23. Menyerahkan Diri
24
Bab 24. Krisis Kepercayaan
25
Bab 25. Sengaja atau Tidak?
26
Bab 26. Interogasi
27
Bab 27. Musuh dalam Selimut
28
Bab 28. Orang Asing
29
Bab 29. Drama Pasangan Penghianat
30
Bab 30. Bermuka Dua
31
Update Bab 30
32
Bab 31. Mengadili Ferdi
33
Bab 32. Panas Hati
34
Bab 33. Rencana Geng Cantul
35
Bab 34. Terkejut Belum?
36
Bab 35. Penyesalan Maudy
37
Bab 36. Tersangka Baru
38
Bab 37. Hukuman untuk Ferdi
39
Bab 38. Carut Marut
40
Bab 39. Pertemuan Arjun dan Farhan
41
Bab 40. Skenario Liam
42
Bab 41. Berusaha Menjangkau Liam
43
Bab 42. Negosiasi
44
Bab 43. Sekutu Baru
45
Bab 44. Bodyguard Hasna
46
Bab 45. Ragu
47
Bab 46. Drama Pembuktian
48
Bab 47. Ternyata Kamu!
49
Bab 48. Semakin Samar
50
Bab 49. Kemurkaan Sang Ayah
51
Bab 50. Jenjang Karir Kotor
52
Bab 51. Bisnis Gelap Sang Walikota
53
Bab 52. Salah Sasaran
54
Bab 53. Baby Blues
55
Bab 54. Sisi Gelap Makutha
56
Bab 55. Memulai Rencana Bersama Musuh
57
Bab 56. Bayi Kita
58
Bab 57. Surat Panggilan dari Kepolisian
59
Bab 58. Interogasi
60
Bab 59. Penangkapan Sang Hakim
61
Bab 60. Tawanan Cinta
62
Bab 61. Sambutan dari Mereka
63
Bab 62. Tiara Si Gadis Lugu
64
Bab 63. Kekecewaan Tiara
65
Bab 64. Penyesalan Tiara
66
Bab 65. Hari Pertama Persidangan
67
Bab 66. Apakah Ini Akan Menjadi Akhir?
68
Bab 67. Fitting Day
69
Bab 68. Markas
70
Bab 69. Berhasil
71
Bab 70. THE END
72
Karya Baru: Luna and The Dire Wolf
73
Novel Baru: Rahasia Kehamilan Violetta
74
Revenge of The Ugly Lily
75
Gairah Masa SMA
76
Karya Baru: Toko Gaib (Apa yang Kamu Mau Ada di Sini)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!