Makutha melangkah keluar mobil sambil memerhatikan arloji yang melingkar di tangannya. Ketika menunggu lift terbuka, seorang laki-laki kurus memakai masker mendekat, lalu mengambil posisi untuk berdiri di sampunya. Makutha meliriknya sekilas, kemudian melangkah masuk ke dalam lift setelah pintunya terbuka.
Lelaki asing tersebut ikut masuk ke dalam lift, dan berdiri tepat di samping Makutha. Sang hakim tampan itu mengerutkan dahi kemudian mengeluarkan ponselnya yang bergetar di dalam saku celana. Beberapa laporan panggilan tak terjawab muncul pada layar benda pipih tersebut. Bahkan sebuah pesan Whatsapp masuk sejak 30 menit yang lalu.
[Utha, kamu nggak pa-pa?]
Pesan dari sang ibu membuatnya tersenyum lebar. Jemari Makutha mulai berlarian di atas layar untuk membalas pesan sang ibu. Namun, baru mengetik beberapa kata, tiba-tiba ponselnya kembali bergetar.
"Halo, Bun."
"Kamu di mana?"
"Aku sedang di dalam lift menuju kantor. Kenapa, Bun?"
"Perasaan Bunda nggak enak! Kamu beneran nggak pa-pa?"
"Iya, Bunda. Utha nggak pa--"
Makutha merasakan pada perutnya. Saat melongok ke arah perut, dia terbelalak. Sebuah pisau lipat kini menancap di perutnya. Tanpa sadar dia menahan napas. Lelaki yang tadi ada di sampingnya kini sudah berpindah di hadapannya.
Darah mulai mengucur membasahi lantai. Makutha menyipitkan mata berusaha mengenali siapa lelaki yang ada di balik masker itu. Dia menggeram.
"Siapa kamu! Jika ada yang menyuruhmu, siapa orangnya! Dasar pengecut!" seru Makutha sambil menahan lengan pria asing itu dengan satu tangan.
Lelaki itu hanya memincingkan mata kemudian menarik kembali pisau dari perut Makutha. Kini hakim tampan tersebut merasakan nyeri luar biasa pada bagian perutnya yang tertusuk. Pandangan Makutha mulai kabur. Dia tumbang tak sadarkan diri.
Aroma darah dan parfum Makutha bercampur menjadi satu di dalam lift. Terdengar suara denting lift. Pintu ruang sempit itu pun terbuka. Kini beberapa orang di depan Makutha hanya terdiam, berusaha mencerna pemandangan mencekam di hadapan mereka.
Orang yang menusuk Makutha langsung berlari menuju tangga darurat. Para karyawan perempuan yang menyaksikan tubuh Makutha tersungkur lemas bersimbah darah pun menjerit histeris. Sedangkan para karyawan laki-laki berhambur mengejar si pelaku. Sebagian dari mereka langsung menghubungi ambulans.
Terdengar suara teriakan panik Liontin dari ponsel yang masih digenggam oleh Makutha. Firasat seorang ibu memang tak pernah salah. Kekhawatiran Liontin terbukti. Putranya benar-benar dalam bahaya. Bahkan kini sedang tersungkur tak berdaya karena diserang oleh orang asing.
"Makutha! Jawab Bunda! Kamu kenapa!"
...****************...
Suara sirine ambulans bertalu-talu mengudara di jalanan Kota Metropolitan. Mobil berwarna putih itu melaju sekencang angin, membelah jalanan yang sedang dipadati kendaraan bermotor. Tanpa komando, mobil-mobil pribadi yang melintas pun menepi dengan sendirinya.
Akan tetapi, kepanikan sang sopir ambulans bertambah saat sebuah mobil Mercy hitam di hadapannya tidak mau memberi mereka jalan. Mobil itu dengan congkaknya merajai jalanan arteri Ibu Kota.
"Astaga! manusia seperti apa di depan itu! Apa telinganya tuli?" gerutu sang sopir ambulans.
"Salip saja, Pak!" seru seorang perawat laki-laki yang duduk di sampingnya.
"Nggak bisa! Dia menghalangi jalan! Setiap aku ingin menyalipnya, mobil itu selalu menghalangi!"
"Sial! Kalau begitu tabrak saja!" teriak sang perawat.
"Kamu gila?"
Lelaki berseragam putih itu berdecak kesal. Dia akhirnya meraih alat pengeras suara dan berbicara melalui melalui benda itu agar mobil di depannya mau memberi jalan.
"Mobil dengan plat L 1 AM, mohon untuk memberikan jalan kepada kami. Keadaan darurat! Kami sedang membawa pasien yang sekarat!"
Bukannya minggir dan memberi jalan. Mobil itu justru berhenti mendadak, hingga sang sopir ambulans membanting setir dan menyerempet pengendara motor di sampingnya.
"Cari gara-gara dia!" seru si sopir ambulans kemudian keluar dari mobil.
Dia langsung melangkah menuju mobil tersebut, lalu menggedor kaca mobil mahal tersebut. Ketika kaca mobil diturunkan, seorang lelaki paruh baya menatapnya sinis.
"Pak, apa Anda tuli? Apa sirine ambulans yang saya nyalakan tidak bisa Anda dengar?" tanya sang sopir ambulans dengan nada kesal.
"Saya hanya menjalankan tugas," ucap lelaki itu angkuh, tanpa mau menoleh ke arah sopir ambulans.
"Anda bisa dituntut karena melakukan hal ini, Pak!"
"Siapa yang berani menuntutku? Katakan!"
Sang sopir ambulans menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari kursi penumpang. Seketika dia terbelalak setelah menyadari siapa yang sedang duduk tenang di sana. Lelaki muda yang berwajah oriental serta memakai setelan jas rapi itu menatapnya sinis sembari melipat lengan di depan dada.
"P-Pak Walikota!"
...****************...
Ada yaaa Walikota begitu 😑😑😑
Mampir juga yuk, ke karya salah satu sahabat literasi Chika.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
abdan syakura
Lanjuttttt Thor..
Ada bunga untuk Author-qu..
🌺🌹💪🤺
2023-03-21
1
Tita Dewahasta
firasat ibu kuat banget
2022-09-21
2
Ainisha_Shanti
sengajah nak menghalangi Utha sampai hospital. biar Utha kehilangan nyawa sebelum sampai hospita. dasar walikota psikopat 😡😡😡
2022-09-07
2