Malam itu Ferdi bertamu ke rumah Tito. Jam sudah menunjukkan pukul 21:00. Namun, ganjalan di hati lelaki itu membuatnya nekat menemui Toto malam-malam.
Ferdi ingin mengungkapkan kegalauannya saat ini kepada Tito. Sejujurnya dia merasa bersalah karena telah membunuh seseorang walau tanpa sengaja. Ferdi berpikir bagaimana cara mengajak Tito untuk menyerahkan diri kepada polisi.
Kini dua orang lelaki itu duduk membisu di ruang tamu. Mereka sedang bergelut dengan pikiran masing-masing, sampai akhirnya Maudy (istri Tito) keluar sambil membawa dua gelas kopi hitam dan beberapa toples kue kering.
"Mas Ferdy, diminum kopinya," ucap Maudy sambil menurunkan dua gelas kopi tersebut ke atas meja.
"Makasih, Dy."
Maudy hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Perempuan itu langsung kembali ke dapur untuk menaruh nampan dan kembali tidur di kamarnya. Tito menatap Ferdi kemudian mengembuskan napas kasar.
"Bagaimana ini? Aku dibayangi rasa bersalah! Aku benar-benar nggak sengaja bunuh gadis itu!" Tito meremas rambut frustrasi.
"Masih mending kamu, To. Aku melihat sendiri bagaimana mayatnya dipenggal sama Toni! Kalau mengingatnya perutku terasa begitu mual!" Ferdi memegang perutnya yang kembali bergejolak.
"Apa yang harus kita lakukan?" Tito mengusap wajah kasar.
"Bagaimana kalau kita menyerahkan diri saja?" ucap Ferdi sambil menatap serius temannya.
"Apa kamu gila? Kamu pikir dong pakai otak!" Tito mengetuk kepalanya sendiri dengan jari telunjuk.
"Istriku lagi hamil! Kalau aku menyerahkan diri sekarang, gimana perasaannya nanti! Aku nggak mau!" seru Tito dengan suara lirih, takut kalau sampai didengar oleh sang istri.
"Tapi, paling tidak jika kita menyerahkan diri, kita akan mendapatkan hukuman yang sedikit lebih ringan!"
"Nggak!" Tito melotot hingga membuat urat di sekitar matanya terlihat jelas.
"Tito ...."
"Pergi," usir Tito dengan nada rendah.
"To, tolong dengerin aku dulu."
"Pergi, aku bilang!" Tito beranjak dari kursi kemudian menggelandang Ferdi keluar dari rumahnya.
Akhirnya Ferdi terpaksa meninggalkan kediaman sahabatnya itu. Dia berjalan gontai ke arah mobil. Lelaki itu membuka pintu mobil kemudian duduk di belakang roda kemudi sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.
"Aku harus menghubungi Makutha!" Ferdi merogoh saku jaket kemudian menatap layar ponselnya sebelum menghubungi Makutha.
Dua hari setelah Praba terbunuh, sebenarnya Makutha menemui Ferdi. Akan tetapi, lelaki itu enggak menceritakan pertemuannya dengan Makutha kepada Tito.
Entah bagaimana caranya, Makutha tahu bahwa yang terlibat dalam pembunuhan tersebut adalah Tito dan Ferdi. Makutha menemui Ferdi lebih dulu dan memintanya untuk membujuk Tito.
Makutha bahkan mengatakan bahwa hukuman mereka akan dikurangi jika menyerahkan diri kepada kepolisian. Namun, sepertinya tidak akan mudah untuk membujuk Tito. Dia adalah salah satu anggota Geng Macan tutul yang keras kepala, terlebih lagi istrinya sedang mengandung. Pasti berat untuk meninggalkan sang istri dalam keadaan hamil.
Di sisi lain, Makutha dibuat pusing oleh Hasna yang sedang merajuk. Dia harus melakukan banyak hal untuk perempuan itu. Setiap dia membukakan pintu, Hasna memilih untuk keluar atau masuk melalui pintu lain. Belum lagi saat makan di restoran, saat Makutha menarik kursi untuk Hasna, perempuan itu akan memilih menempati kursi lain juga.
Makutha mengacak rambutnya karena tidak bisa memahami serta meredakan emosi Hasna. Hanya karena decakan yang keluar dari bibirnya, ternyata berakibat sangat fatal.
Ketika Makutha sedang menunggu Hasna di depan toilet, panggilan dari Ferdi masuk ke ponselnya. Lelaki itu mengerutkan dahi sebelum menggeser tombol hijau ke atas.
"Halo," sapa Makutha sambil menempelkan ponsel pada telinganya.
"Tha, aku gagal membujuk Tito."
"Kirimkan aku alamat rumahnya. Aku akan bicara langsung dengannya," ucap Makutha sambil memijat pelipis.
"Tapi .... Aku nggak yakin kalau dia mau menyerahkan diri."
"Kita pikirkan dia nanti! Tapi ... apa kamu tidak berniat untuk menyerahkan diri duluan?"
Pertanyaan Makutha membuat Ferdi membisu. Dia sebenarnya ingin segera menyerahkan diri. Akan tetapi, jika hanya sendirian, dia takut akan bernasib sama seperti dua orang lainnya yang mati sia-sia di penjara.
"Aku .... Takut ...."
"Takut kenapa?"
"Takut berakhir sama seperti Surya dan Miki."
"Aku akan menjamin keamananmu selama di sel tahanan, Fer! Percayalah padaku!"
"Baiklah, aku akan mengirimkan alamat Tito kepadamu. Tapi, aku tetap mau menyerahkan diri, jika bersama Tito! Aku tidak mau menjalani hukuman sendirian!"
Sambungan telepon terputus. Dua menit kemudian sebuah pesan teks dari Ferdi masuk ke ponsel Makutha. Lelaki itu benar-benar mengirimkan alamat rumah Tito kepadanya.
"Tha, ayo pulang! Perutku nggak enak rasanya." Hasna keluar dari toilet dengan wajah pucat.
"Kamu kenapa, Na?" tanya Makutha panik.
"Aku ternyata datang bulan," bisik Hasna pada telinga Makutha.
"Baiklah, ayo!" ajak Makutha tanpa basa-basi.
Makutha bergegas mengajak Hasna pulang. Pantas saja hari ini emosi Hasna meledak-ledak. Ternyata dia sedang PMS. Baru kali ini lelaki itu merasakan dampak buruk PMS dari seorang perempuan.
"Baru segini saja aku pusing. Bagaimana nanti, kalau setiap hari bersama dia setelah menikah?" batin Makutha sambil tersenyum kecut.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Defi
Haha.. anggap aja bumbu2 dalam kehidupan kalian.. kalau berat anggap aja lagi masak rendang 😜
2023-05-31
1