Bab 20. Kegalauan Ferdi dan Tito

Malam itu Ferdi bertamu ke rumah Tito. Jam sudah menunjukkan pukul 21:00. Namun, ganjalan di hati lelaki itu membuatnya nekat menemui Toto malam-malam.

Ferdi ingin mengungkapkan kegalauannya saat ini kepada Tito. Sejujurnya dia merasa bersalah karena telah membunuh seseorang walau tanpa sengaja. Ferdi berpikir bagaimana cara mengajak Tito untuk menyerahkan diri kepada polisi.

Kini dua orang lelaki itu duduk membisu di ruang tamu. Mereka sedang bergelut dengan pikiran masing-masing, sampai akhirnya Maudy (istri Tito) keluar sambil membawa dua gelas kopi hitam dan beberapa toples kue kering.

"Mas Ferdy, diminum kopinya," ucap Maudy sambil menurunkan dua gelas kopi tersebut ke atas meja.

"Makasih, Dy."

Maudy hanya mengangguk sambil tersenyum tipis. Perempuan itu langsung kembali ke dapur untuk menaruh nampan dan kembali tidur di kamarnya. Tito menatap Ferdi kemudian mengembuskan napas kasar.

"Bagaimana ini? Aku dibayangi rasa bersalah! Aku benar-benar nggak sengaja bunuh gadis itu!" Tito meremas rambut frustrasi.

"Masih mending kamu, To. Aku melihat sendiri bagaimana mayatnya dipenggal sama Toni! Kalau mengingatnya perutku terasa begitu mual!" Ferdi memegang perutnya yang kembali bergejolak.

"Apa yang harus kita lakukan?" Tito mengusap wajah kasar.

"Bagaimana kalau kita menyerahkan diri saja?" ucap Ferdi sambil menatap serius temannya.

"Apa kamu gila? Kamu pikir dong pakai otak!" Tito mengetuk kepalanya sendiri dengan jari telunjuk.

"Istriku lagi hamil! Kalau aku menyerahkan diri sekarang, gimana perasaannya nanti! Aku nggak mau!" seru Tito dengan suara lirih, takut kalau sampai didengar oleh sang istri.

"Tapi, paling tidak jika kita menyerahkan diri, kita akan mendapatkan hukuman yang sedikit lebih ringan!"

"Nggak!" Tito melotot hingga membuat urat di sekitar matanya terlihat jelas.

"Tito ...."

"Pergi," usir Tito dengan nada rendah.

"To, tolong dengerin aku dulu."

"Pergi, aku bilang!" Tito beranjak dari kursi kemudian menggelandang Ferdi keluar dari rumahnya.

Akhirnya Ferdi terpaksa meninggalkan kediaman sahabatnya itu. Dia berjalan gontai ke arah mobil. Lelaki itu membuka pintu mobil kemudian duduk di belakang roda kemudi sambil menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi.

"Aku harus menghubungi Makutha!" Ferdi merogoh saku jaket kemudian menatap layar ponselnya sebelum menghubungi Makutha.

Dua hari setelah Praba terbunuh, sebenarnya Makutha menemui Ferdi. Akan tetapi, lelaki itu enggak menceritakan pertemuannya dengan Makutha kepada Tito.

Entah bagaimana caranya, Makutha tahu bahwa yang terlibat dalam pembunuhan tersebut adalah Tito dan Ferdi. Makutha menemui Ferdi lebih dulu dan memintanya untuk membujuk Tito.

Makutha bahkan mengatakan bahwa hukuman mereka akan dikurangi jika menyerahkan diri kepada kepolisian. Namun, sepertinya tidak akan mudah untuk membujuk Tito. Dia adalah salah satu anggota Geng Macan tutul yang keras kepala, terlebih lagi istrinya sedang mengandung. Pasti berat untuk meninggalkan sang istri dalam keadaan hamil.

Di sisi lain, Makutha dibuat pusing oleh Hasna yang sedang merajuk. Dia harus melakukan banyak hal untuk perempuan itu. Setiap dia membukakan pintu, Hasna memilih untuk keluar atau masuk melalui pintu lain. Belum lagi saat makan di restoran, saat Makutha menarik kursi untuk Hasna, perempuan itu akan memilih menempati kursi lain juga.

Makutha mengacak rambutnya karena tidak bisa memahami serta meredakan emosi Hasna. Hanya karena decakan yang keluar dari bibirnya, ternyata berakibat sangat fatal.

Ketika Makutha sedang menunggu Hasna di depan toilet, panggilan dari Ferdi masuk ke ponselnya. Lelaki itu mengerutkan dahi sebelum menggeser tombol hijau ke atas.

"Halo," sapa Makutha sambil menempelkan ponsel pada telinganya.

"Tha, aku gagal membujuk Tito."

"Kirimkan aku alamat rumahnya. Aku akan bicara langsung dengannya," ucap Makutha sambil memijat pelipis.

"Tapi .... Aku nggak yakin kalau dia mau menyerahkan diri."

"Kita pikirkan dia nanti! Tapi ... apa kamu tidak berniat untuk menyerahkan diri duluan?"

Pertanyaan Makutha membuat Ferdi membisu. Dia sebenarnya ingin segera menyerahkan diri. Akan tetapi, jika hanya sendirian, dia takut akan bernasib sama seperti dua orang lainnya yang mati sia-sia di penjara.

"Aku .... Takut ...."

"Takut kenapa?"

"Takut berakhir sama seperti Surya dan Miki."

"Aku akan menjamin keamananmu selama di sel tahanan, Fer! Percayalah padaku!"

"Baiklah, aku akan mengirimkan alamat Tito kepadamu. Tapi, aku tetap mau menyerahkan diri, jika bersama Tito! Aku tidak mau menjalani hukuman sendirian!"

Sambungan telepon terputus. Dua menit kemudian sebuah pesan teks dari Ferdi masuk ke ponsel Makutha. Lelaki itu benar-benar mengirimkan alamat rumah Tito kepadanya.

"Tha, ayo pulang! Perutku nggak enak rasanya." Hasna keluar dari toilet dengan wajah pucat.

"Kamu kenapa, Na?" tanya Makutha panik.

"Aku ternyata datang bulan," bisik Hasna pada telinga Makutha.

"Baiklah, ayo!" ajak Makutha tanpa basa-basi.

Makutha bergegas mengajak Hasna pulang. Pantas saja hari ini emosi Hasna meledak-ledak. Ternyata dia sedang PMS. Baru kali ini lelaki itu merasakan dampak buruk PMS dari seorang perempuan.

"Baru segini saja aku pusing. Bagaimana nanti, kalau setiap hari bersama dia setelah menikah?" batin Makutha sambil tersenyum kecut.

Terpopuler

Comments

Defi

Defi

Haha.. anggap aja bumbu2 dalam kehidupan kalian.. kalau berat anggap aja lagi masak rendang 😜

2023-05-31

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1. Mimpi Buruk
2 Bab 2. Penyerangan
3 Bab 3. Ekor
4 Bab 4. Residivis
5 Bab 5. Terkejut
6 Bab 6. Mati
7 Bab 7. Kesamaan
8 Bab 8. Miki
9 Bab 9. Pola yang Sama
10 Bab 10. Kembalinya Ketua Geng Cantul
11 Bab 11. Dendam
12 Bab 12. Jamuan Geng Cantul
13 Bab 13. Kekejaman Toni
14 Bab 14. Pertanyaan untuk Makutha
15 Bab 15. Pacar Hasna
16 Bab 16. Begal Keperawanan
17 Bab 17. Ancaman
18 Bab 18. Jagal Geng Cantul
19 Bab 19. Menghibur Hasna
20 Bab 20. Kegalauan Ferdi dan Tito
21 Bab 21. Menemui Tito
22 Bab 22. Sebut Saja Dewa Penyelamat
23 Bab 23. Menyerahkan Diri
24 Bab 24. Krisis Kepercayaan
25 Bab 25. Sengaja atau Tidak?
26 Bab 26. Interogasi
27 Bab 27. Musuh dalam Selimut
28 Bab 28. Orang Asing
29 Bab 29. Drama Pasangan Penghianat
30 Bab 30. Bermuka Dua
31 Update Bab 30
32 Bab 31. Mengadili Ferdi
33 Bab 32. Panas Hati
34 Bab 33. Rencana Geng Cantul
35 Bab 34. Terkejut Belum?
36 Bab 35. Penyesalan Maudy
37 Bab 36. Tersangka Baru
38 Bab 37. Hukuman untuk Ferdi
39 Bab 38. Carut Marut
40 Bab 39. Pertemuan Arjun dan Farhan
41 Bab 40. Skenario Liam
42 Bab 41. Berusaha Menjangkau Liam
43 Bab 42. Negosiasi
44 Bab 43. Sekutu Baru
45 Bab 44. Bodyguard Hasna
46 Bab 45. Ragu
47 Bab 46. Drama Pembuktian
48 Bab 47. Ternyata Kamu!
49 Bab 48. Semakin Samar
50 Bab 49. Kemurkaan Sang Ayah
51 Bab 50. Jenjang Karir Kotor
52 Bab 51. Bisnis Gelap Sang Walikota
53 Bab 52. Salah Sasaran
54 Bab 53. Baby Blues
55 Bab 54. Sisi Gelap Makutha
56 Bab 55. Memulai Rencana Bersama Musuh
57 Bab 56. Bayi Kita
58 Bab 57. Surat Panggilan dari Kepolisian
59 Bab 58. Interogasi
60 Bab 59. Penangkapan Sang Hakim
61 Bab 60. Tawanan Cinta
62 Bab 61. Sambutan dari Mereka
63 Bab 62. Tiara Si Gadis Lugu
64 Bab 63. Kekecewaan Tiara
65 Bab 64. Penyesalan Tiara
66 Bab 65. Hari Pertama Persidangan
67 Bab 66. Apakah Ini Akan Menjadi Akhir?
68 Bab 67. Fitting Day
69 Bab 68. Markas
70 Bab 69. Berhasil
71 Bab 70. THE END
72 Karya Baru: Luna and The Dire Wolf
73 Novel Baru: Rahasia Kehamilan Violetta
74 Revenge of The Ugly Lily
75 Gairah Masa SMA
76 Karya Baru: Toko Gaib (Apa yang Kamu Mau Ada di Sini)
Episodes

Updated 76 Episodes

1
Bab 1. Mimpi Buruk
2
Bab 2. Penyerangan
3
Bab 3. Ekor
4
Bab 4. Residivis
5
Bab 5. Terkejut
6
Bab 6. Mati
7
Bab 7. Kesamaan
8
Bab 8. Miki
9
Bab 9. Pola yang Sama
10
Bab 10. Kembalinya Ketua Geng Cantul
11
Bab 11. Dendam
12
Bab 12. Jamuan Geng Cantul
13
Bab 13. Kekejaman Toni
14
Bab 14. Pertanyaan untuk Makutha
15
Bab 15. Pacar Hasna
16
Bab 16. Begal Keperawanan
17
Bab 17. Ancaman
18
Bab 18. Jagal Geng Cantul
19
Bab 19. Menghibur Hasna
20
Bab 20. Kegalauan Ferdi dan Tito
21
Bab 21. Menemui Tito
22
Bab 22. Sebut Saja Dewa Penyelamat
23
Bab 23. Menyerahkan Diri
24
Bab 24. Krisis Kepercayaan
25
Bab 25. Sengaja atau Tidak?
26
Bab 26. Interogasi
27
Bab 27. Musuh dalam Selimut
28
Bab 28. Orang Asing
29
Bab 29. Drama Pasangan Penghianat
30
Bab 30. Bermuka Dua
31
Update Bab 30
32
Bab 31. Mengadili Ferdi
33
Bab 32. Panas Hati
34
Bab 33. Rencana Geng Cantul
35
Bab 34. Terkejut Belum?
36
Bab 35. Penyesalan Maudy
37
Bab 36. Tersangka Baru
38
Bab 37. Hukuman untuk Ferdi
39
Bab 38. Carut Marut
40
Bab 39. Pertemuan Arjun dan Farhan
41
Bab 40. Skenario Liam
42
Bab 41. Berusaha Menjangkau Liam
43
Bab 42. Negosiasi
44
Bab 43. Sekutu Baru
45
Bab 44. Bodyguard Hasna
46
Bab 45. Ragu
47
Bab 46. Drama Pembuktian
48
Bab 47. Ternyata Kamu!
49
Bab 48. Semakin Samar
50
Bab 49. Kemurkaan Sang Ayah
51
Bab 50. Jenjang Karir Kotor
52
Bab 51. Bisnis Gelap Sang Walikota
53
Bab 52. Salah Sasaran
54
Bab 53. Baby Blues
55
Bab 54. Sisi Gelap Makutha
56
Bab 55. Memulai Rencana Bersama Musuh
57
Bab 56. Bayi Kita
58
Bab 57. Surat Panggilan dari Kepolisian
59
Bab 58. Interogasi
60
Bab 59. Penangkapan Sang Hakim
61
Bab 60. Tawanan Cinta
62
Bab 61. Sambutan dari Mereka
63
Bab 62. Tiara Si Gadis Lugu
64
Bab 63. Kekecewaan Tiara
65
Bab 64. Penyesalan Tiara
66
Bab 65. Hari Pertama Persidangan
67
Bab 66. Apakah Ini Akan Menjadi Akhir?
68
Bab 67. Fitting Day
69
Bab 68. Markas
70
Bab 69. Berhasil
71
Bab 70. THE END
72
Karya Baru: Luna and The Dire Wolf
73
Novel Baru: Rahasia Kehamilan Violetta
74
Revenge of The Ugly Lily
75
Gairah Masa SMA
76
Karya Baru: Toko Gaib (Apa yang Kamu Mau Ada di Sini)

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!