Jam menunjukkan pukul 22:00 ketika Praba keluar dari rumah sakit. Calon pengantin itu memakai motor kesayangannya untuk membelah jalanan Ibu Kota. Semua terlihat normal saja, sampai akhirnya Praba memasuki kawasan sepi menuju rumah kontrakannya.
Praba melihat dari kaca spion, ada dua orang yang mengikutinya menggunakan sepeda motor. Awalnya dia masih berpikiran positif. Perempuan itu mengira kalau mereka memang searah dengannya.
Namun, Praba bertambah curiga karena lelaki itu tidak kunjung menyalipnya. Dia semakin panik karena, ketika ia mempercepat laju motornya, dua lelaki tersebut juga ikut menaikkan kecepatan motornya. Praba terbelalak karena baru menyadari ada portal yang menghalangi jalannya.
"Aaakkk!" pekik Praba sambil menarik tuas rem motor matic-nya.
Alhasil gadis itu lepas kendali dan terjatuh. Motor matic tersebut menindih kaki kiri Praba. Dia merasa perih dan nyeri pada bagian siku serta kakinya. Praba meringis menahan sakit, dan mencoba kembali bangkit.
Praba tidak lagi memedulikan motor kesayangannya. Dia terus berlari secepat yang ia bisa untuk mencari bantuan. Perempuan itu berlari sambil menahan nyeri pada kaki kirinya.
Keringat mulai mengucur membasahi dahi serta punggung Praba. Dia terus berlari dan mencari rumah warga. Akan tetapi, dia masih harus berlari sekitar 2 kilometer lagi.
"Sial! Mimpi apa aku! Hah! Istirahat dulu, lah. Toh mereka cuma ngincer motorku!" gumam Praba di antara napasnya yang hampir putus.
Praba akhirnya duduk di pinggir jalan. Dia merogoh tas kemudian mengeluarkan ponsel. Gadis itu mencoba menghubungi Makutha. Namun, panggilannya tidak dijawab. Akhirnya Praba memutuskan untuk mengirim pesan teks, dan mengirimkan lokasi terkininya melalui GPS (sistem navigasi berbasis satelit yang terdiri dari setidaknya 24 satelit).
[Tha, bisa minta tolong? Aku dibegal di daerah Rawa Ilir]
Begitu pesan terkirim, Praba mengembuskan napas lega. Namun, sedetik kemudian dia menelan ludah kasar. Ada bayangan seseorang yang kini memayungi tubuhnya dari sinar kuning lampu jalanan.
Jemari Praba gemetar. Dia terbelalak kemudian perlahan mengangkat kepala. Benar saja, seorang laki-laki dengan wajah tertutup masker berdiri tegak di depannya. Praba menarik napas panjang, bersiap untuk teriak.
Akan tetapi, nasib buruk menyapanya malam ini. Seorang laki-laki lain memukul kepalanya dari belakang. Praba pun kehilangan kesadaran. Kedua pria itu membawa tubuh Praba ke sebuah rumah kosong tak jauh dari sana. Keduanya merenggut kesucian perempuan malang itu secara bergilir.
Kepala Praba terus mengeluarkan darah segar. Keduanya tidak peduli dengan kondisi Praba yang sekarat. Setelah puas melakukan aksi bejat mereka, keduanya baru menyadari satu hal. Praba sudah tak bernyawa.
...****************...
Di malam yang sama, Makutha yang baru saja selesai mandi melirik ponselnya. Dia segera meraih benda pipih tersebut dan memdapati beberapa panggilan tak terjawab serta pesan dari Praba.
"Tumben," gumam Makutha sambil menggulir layar benda pipih tersebut.
Seketika Makutha terbelalak saat membaca pesan yang dikirim oleh Praba. Teman SMA-nya itu meminta tolong karena sedang mengalami pembegalan. Tanpa menunggu lama, Makutha langsung meraih kunci mobilnya dan segera mengendarainya menuju tempat yang dimaksud Praba.
Ketika sampai di Rawa Ilir, Makutha mencari-cari keberadaan Praba. Namun, sosok perempuan tersebut tidak terlihat olehnya. Makutha pun segera menekan nomor ponsel Praba untuk meneleponnya. Setelah berusaha menghubungi perempuan itu sebanyak lima kali dan tidak mendapat jawaban, dia berinisiatif untuk membuka share location yang dikirim Praba.
"Ponselnya masih aktif. Tidak jauh dari sini," gumam Makutha sambil mengusap dagu.
Makutha berjalan kaki menyusuri jalanan sepi tersebut sambil memperhatikan ponsel yang ia genggam. Tak lama kemudian, dia sampai di sebuah bangunan kosong. Di halaman depan rumah tersebut sudah ditumbuhi ilalang setinggi dadanya. Dindingnya pun dipenuhi coretan hasil karya anak muda tak bertanggung jawab.
"Di sini?" ucap Makutha sembari menautkan kedua alisnya.
Makutha terus melangkah maju. Tak lupa dia mengeluarkan senjata api yang dimilikinya. Dia juga menyalakan senter pada ponsel untuk membantu penglihatannya. Setelah sampai depan pintu, Makutha segera menendang benda yang terbuat dari kayu tersebut.
Ruangan itu terlihat suram dan gelap. Bau busuk dari kotoran hewan bercampur debu membuat Makutha menutup rapat hidungnya. Sesekali lelaki itu menahan napas agar tidak menghirup bau tak sedap tersebut.
Setelah sampai di sudut ruangan depan rumah itu, sebuah pemandangan membuatnya bertambah mual. Darah bercampur dengan debu menggenang di lantai sudut rumah tersebut. Tak elak Makutha mengeluarkan seluruh isi perutnya. Kaki lelaki itu lemas. Tubuhnya merosot ke atas lantai karena tidak tahan melihat darah serta bau amis yang berasal dari cairan merah kental tersebut.
Makutha menekan tombol 110 (Call Center Kepolisian) dan melaporkan apa yang ia lihat. Setelah itu, dia merogoh saku dan menelan pil penenang yang sudah diresepkan untuknya. Pikiran buruk pun hinggap pada pikirannya. Berbagai dugaan muncul. Dia takut kalau sampai sahabat dari orang yang dicintainya itu dalam bahaya.
...****************...
Sudah bisa ditebak siapa pelakunya?
Btw mampir juga ke karya temanku ini yaaa~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Ainisha_Shanti
kasihan Praba 😭😭😭. mesti Hasna sangat sedih dengan kematian Praba yang tiba2 akibat kekejaman manusia luknut itu. semoga manusia luknut tu kena tangkap secepatnya dan di beri hukuman setimpal dengan perbuatannya 😡😡😡
2022-09-08
1