"Na, aku ...."
Hasna enggan menatap Makutha. Dia masih kesal karena teringat sesuatu yang ia temukan di dalam apartemen. Sebelum mati listrik, Hasna mendapati foto wisuda Makutha diturunkan dari dinding.
Hasna memutuskan untuk mengubur perasaannya kepada Makutha mulai hari ini. Dia tidak mau berharap lebih banyak lagi, dan menghabiskan banyak waktu menanti pernyataan cinta dari Makutha.
"Sudahlah, pulang sana! Dan cepat istirahat! Bukankah besok kamu harus bekerja? Aku juga mau segera tidur!" Hasna menarik selimut hingga menutupi kepalanya.
Makutha mengembuskan napas kasar, kemudian berjalan ke arah pintu. Ketika meraih tuas pintu, lelaki itu kembali menghentikan langkah. Dia balik kanan dan kembali menatap Hasna yang masih bergelung di bawah selimut.
"Maaf," ucap Makutha lirih.
Lelaki itu segera membuka pintu dan menutupnya perlahan. Ketika hendak melangkah meninggalkan IGD, dari kejauhan Praba berlari ke arahnya. Perempuan itu terengah-engah ketika sampai di hadapan Makutha.
"Ba-bagaimana keadaan Hasna?" tanya Praba terbata-bata.
"Dia sudah sadar. Kata Dokter Hans, dia memiliki rasa tidak nyaman ketika berada di dalam ruangan gelap."
"Astaga, sepertinya karena hari itu!"
"Hari itu?" Makutha mengerutkan dahi.
"Iya, kamu tahu? Ketika baru saja masuk kuliah, dia di-bully oleh beberapa kakak tingkat!"
"Apa!" Makutha terbelalak. Dadanya seakan terbakar mendengar kabar dari Praba.
"Apa dia tidak menceritakannya kepadamu?'
"Tidak."
"Jadi, begini ceritanya ...."
...****************...
Flashback On ....
"Dasar cewek penggoda!" seru seorang perempuan yang memakai baju kekurangan bahan.
"Menggoda bagaimana maksud Mbak Indri?" tanya Hasna kebingungan.
"Halah, nggak udah pura-pura bodoh! Kamu selalu deketin Hans, 'kan?" tuduh Indri.
"Kak Hans? Kak Hans yang mana, ya?" tanya Hasna sambil menautkan kedua alisnya. Gadis itu benar-benar tidak tahu siapa yang Indri maksud.
"Muak aku denger pertanyaanmu! Dasar munafik! Hans yang mana?" Indri menirukan ucapan Hasna dengan nada mengejek.
Indri langsung menarik lengan Hasna, dan memasukkannya ke dalam gudang. Setelah itu Indri mengunci Hasna dari luar. Hasna terus menggedor pintu, berharap ada yang melintas di depan gudang.
Namun, usahanya sia-sia. Gudang Fakultas Kedokteran tempat ia menuntut ilmu jauh dari keramaian. Ruangan itu terletak di bagian paling belakang kampus yang jarang sekali dilewati.
Hasna hanya bisa meringkuk di dalam ruangan itu. Saat semua terjadi gadis itu tidak membawa ponsel, karena buru-buru ketika berangkat kuliah. Langit berubah hitam hingga menyebabkan ruangan tersebut semakin gelap.
Hasna mencoba kembali untuk menggedor pintu, tetapi hasilnya sama. Tidak ada yang datang menolongnya. Sampai akhirnya dia lemas. Hari itu gadis cantik tersebut puasa sehingga kehabisan energi karena mencoba terus berteriak serta menggedor pintu. Dia terkurung di dalam gudang sejak Ashar sampai sehabis Isya.
Sejak saat itulah, Hasna takut dengan kegelapan. Dia akan merasa cemas dan sesak napas jika berada di dalam ruangan yang gelap.
Flashback off ....
...****************...
"Jadi begitu ceritanya," ucap Praba.
"Lalu, siapa yang menolong Hasna?"
"Kak Hans. Dia kebetulan sedang mengikuti kelas malam. Entah bagaimana takdir Tuhan tertulis. Kak Hans malam itu memilih untuk pulang melalui pintu belakang."
Ada perasaan tidak suka ketika mendapati kenyataan bahwa Hans yang menolong Hasna. Tanpa dasar lelaki itu mengepalkan jemarinya kuat-kuat.
"Ba, apa aku boleh bertanya sesuatu?"
"Hm?"
"Apa Hasna memiliki pacar baru-baru ini?"
Praba terbelalak mendengar pertanyaan Makutha. Dia menutup mulutnya yang menganga lebar, lalu sedetik kemudian sebuah tawa renyah keluar dari bibir perempuan tersebut.
"Kamu itu gila, apa gimana sih, Tha?"
"Bukannya kamu itu pacar Hasna!" seru Praba sambil mengusap ujung matanya yang basah karena air mata.
"Aku?"
"Iya, kamu! Gimana sih!"
"Tapi, kami nggak pernah saling mengungkapkan perasaan! Bagaimana bisa kami berpacaran?"
"Makutha ... Makutha! Kamu itu nggak peka apa gimana, sih? Hasna itu suka sama kamu!" Praba menggelengkan kepala sambil berusaha menahan tawa.
Makutha bungkam. Ternyata Makutha sepolos itu, sampai bisa dibohongi oleh seorang Hasna. Bukan polos, lebih tepatnya tidak peka.
Setelah mendengar ucapan Praba, Makutha tersenyum tipis hampir tidak terlihat. Sebuah rencana kecil terlintas dalam otaknya. Dia ingin melamar Hasna di hari ulang tahunnya beberapa bulan lagi.
Kali ini dia sudah yakin untuk segera mempersunting perempuan yang sudah ia cintai sejak lama itu. Sesaat dia melupakan dendamnya terhadap Geng Cantul dan ketiga mantan temannya.
...****************...
Yok, Utha! Jangan kasih kendor!
Mampir juga yukkk ke karya salah satu sahabatku ini❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Tiaga Raz aghastya
koq aku yg takut nunggu ultah berapa bulan lagi ya, takut ny k duluan yg lain
2022-09-08
2
Ayi
nah gitu peka donk gmna si Utha , jngn lama2 yaah nntik d ambil orng 😁☺️
2022-09-08
1