Jantung Makutha berdegub kencang. Sebenarnya dia sangat tergoda untuk mendaratkan ciuman kepada Hasna. Namun, dia sadar bahwa mereka belum memiliki ikatan sah. Bisa dipastikan pukulan Hasna akan mendarat mulus di pipinya jika Makutha nekat menciumnya.
Akhirnya Makutha hanya bisa menelan ludah. Dia menghembuskan napas kasar. Jemarinya hendak mengusap puncak kepala Hasna, tetapi ia urungkan. Akhirnya Makutha berdeham dua kali kemudian mulai berbicara.
"Na, aku ...."
Hasna mulai membuka mata. Ia menatap intens manik mata lelaki yang kini berada di bawahnya itu. Jantung Hasna berdetak tak beraturan ketika menanti kalimat selanjutnya yang akan keluar dari bibir hakim tampan tersebut.
"Ya?" tanya Hasna dengan suara lirih.
"Aku sudah lapar, ayo kita makan!" seru Makutha diikuti suara perutnya yang menjerit.
Hasna terperangah. Dia terlalu berharap banyak kepada Makutha. Nyatanya Makutha tidak pernah mengungkapkan perasaan kalau dia menyukainya. Dokter cantik itu pun segera beranjak dari atas tubuh Makutha dan berjalan ke arah dapur untuk menyiapkan makanan.
"Bagaimana pekerjaanmu?" tanya Makutha basa-basi sambil menarik kursi.
"Kenapa tiba-tiba peduli dengan pekerjaanku segala?" cibir Hasna sambil meletakkan piring berisi ayam goreng ke atas meja makan.
"Yah, basa-basi saja! Biar ada obrolan di antara kita," jawab Makutha jujur sambil mengambil sepotong sayap ayam kesukaannya.
"Capek! Rasanya pengen berhenti kerja aja. Nikah, terus momong anak di rumah!"
Mendengar ucapan Hasna membuat Makutha terbelalak. Makutha kembali meletakkan potongan paha ayam goreng ke atas piringnya. Dia menatap Hasna kesal.
"Kenapa nggak nikah aja kalau begitu?"
"Pacarku belum mau ngelamar. Dia masih sibuk kerja," ucap Hasna sambil menyipitkan mata.
"Oh, udah punya pacar? Baguslah!"
Mendengar ucapan Hasna membuat Makutha dongkol. Dia tidak menyangka gadis yang disukainya sejak lama itu ternyata sudah memiliki kekasih.
"Aku hari ini piket sore, jangan lupa minum obat teratur. Kalau ada keluhan hubungi saja aku. Nggak usah ke Rumah Sakit. Buang-buang uang!" seru Hasna kemudian melepas celemek dan beranjak pergi.
Setelah pintu kembali tertutup, Makutha menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi. Dia mengusap wajah kasar kemudian menghela napas.
"Sudah punya pacar, ya?" Makutha tersenyum kecut sambil menatap foto wisudanya bersama sang ibu serta Hasna.
...****************...
Satu minggu kemudian ....
Makutha melajukan mobil untuk segera menemui Arjun di kantornya. Lelaki itu sudah mendapat kabar bahwa Miki sudah ditangkap. Cuaca panas membuat hati lelaki itu semakin terbakar. Suara klakson yang saling bersahutan membuat suasana hatinya semakin kacau.
"Pakai acara macet segala!" gerutunya sambil ikut menekan klakson mobil.
Ponsel Makutha berdering. Lelaki itu melirik ke arah benda pipih di atas dashboard, kemudian mengangkat panggilan itu. Nada bicara Arjun terdengar begitu panik.
"Ada apa, Pak?"
"Kamu sampai mana?"
"Aku masih ada di daerah X. Ada apa?"
"Putar balik! Susul aku di Rumah Sakit!" seru Arjun.
"Memangnya kenapa? Apa ada yang terluka?"
"Miki melakukan percobaan bunuh diri!"
Makutha terbelalak kemudian memukul roda kemudinya. Dia mengacak rambut lalu membuang napas kasar.
"Sial!" umpat Makutha.
"Baiklah, aku akan segera ke sana!" Makutha membanting setir kemudian langsung menuju rumah sakit.
Lima belas menit berlalu, kini Makutha sudah memasuki gedung rumah sakit. Dia berlari menuju ruang IGD. Arjun sedang mondar-mandir di depan ruangan dengan wajah yang terlihat kacau.
"Bagaimana bisa terjadi, Pak?" tanya Makutha ketika sudah berada di depan Arjun.
"Entahlah, sepertinya dia menyembunyikan obat dan menelannya sesaat sebelum kami melakukan penyidikan. Ketika hendak dijemput ke ruang penyidikan, dia ditemukan tergeletak di dalam sel!"
"Astaga! Mereka licin sekali seperti belut!"
Beberapa saat kemudian, seorang dokter keluar dari IGD dan menghampiri keduanya. Lelaki berkacamata itu mulai menjelaskan kondisi Miki.
"Sepertinya dia menelan racun. Tapi, racun itu tidak menyebabkan kematian. Kami sedang mengecek kandungan pil tersebut di laboratorium. Setelah hasilnya keluar, pihak Rumah Sakit akan menghubungi Anda."
"Baik, Dok," ucap Arjun.
"Saya permisi."
Makutha mengusap dagu dengan tatapan yang terlihat seperti sedang berpikir. Arjun menepuk bahunya hingga membuat lelaki itu terperanjat.
"Kenapa?" tanya Arjun.
"Ah, aneh. Kenapa selalu berakhir seperti ini."
"Maksudmu?"
"Selalu berakhir dengan percobaan untuk menghilangkan jejak. Bahkan mereka rela mempertaruhkan nyawa!" seru Makutha.
"Kamu benar juga! Pasti ada sesuatu yang mereka sembunyikan!"
"Dan aku yakin ini berhubungan denga Geng Cantul itu sendiri, Pak!"
"Sepertinya kita harus penyelidikinya lebih dalam."
"Tapi, apakah boleh seorang Kapolsek terlalu mengurusi pekerjaan seperti ini?"
"Hei, anggap saja aku sebagai informanmu! Aku hanya bisa menemuimu seperti ini jika ada waktu senggang."
"Baiklah kalau begitu. Pak, boleh aku bertanya sesuatu?"
"Bertanya apa? Katakan!"
...****************...
Holaaa~
Mampir ke sini juga yaaa geskuuu~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
AyuGi
😅😅😅😅makutha lama sih kasiannn...
2022-11-29
1
Ayi
Utha tdak peka , sebeeeel deeeh 😬
2022-09-05
1