Dada Niki naik turun karena amarah yang menggebu-gebu. Tak lama kemudian, terdengar suara tembakan. Seisi ruangan itu pun terdiam. Semua anggota Geng Macan Tutul terbelalak melihat apa yang terjadi di depan mata mereka.
Sebuah peluru tepat mengenai kepala Choky, hingga meninggalkan lubang pada pelipis kanannya. Tak sampai di situ. Peluru yang ditembakkan oleh Toni sampai tembus ke pelipis kiri Choky.
Choky langsung terkapar diatas lantai. Cairan kental berwarna merah pekat mulai membanjiri lantai marmer bangunan mewah itu. Aroma anyir darah menguar memenuhi ruangan, membuat siapa pun yang menciumnya pasti akan merasa mual.
Tak terkecuali anggota inti Geng Cantul. Mereka mati-matian menahan perut yang bergejolak karena takut menyinggung Toni. Jika sampai sang ketua tersinggung, maka tamatlah riwayat mereka.
Walaupun mereka Gangster terkenal di Kota Metropolitan, kejahatan mereka hanyalah sebatas pencurian, perampokan, pemerasan, dan yang lain. Sekalipun anggota mereka tidak pernah melakukan pembunuhan dengan cara sadis seperti Toni.
Pembunuhan terhadap Miki adalah pembunuhan pertama yang geng itu lakukan. Itu pun bukan anggota inti yang melakukannya. Mereka meminjam tangan dari anggota lain.
"Berisik sekali," ucap Toni lalu meniup ujung pistolnya.
"Aku paling tidak suka melihat terjadi adu mulut di hadapanku! Kalian terlihat seperti ibu-ibu yang sedang berebut barang diskon! Terdengar sangat berisik!" Lelaki bertubuh kekar itu kembali memasukkan pistol ke dalam saku jas.
Toni berjalan ke arah pintu besar yang menghubungkan ruang makan dengan aula markas. Ketika meraih tuas pintu, lelaki itu menghentikan langkah. Dia menoleh ke samping, lalu melirik semua anggota inti geng yang ia pimpin.
"Singkirkan mayatnya serta sisa kekacauan ini. Dan untuk kamu, Niki!"
Niki menelan ludah ketika namanya disebut. Lelaki itu meremas celana formal berwarna hitam yang membalut tubuh bagian bawahnya. Bibirnya gemetar saat menjawab panggilan Toni.
"Kamu hanya boleh keluar dari Geng Macan Tutul, ketika malaikat maut mengetuk pintu rumahmu! Camkan itu!"
Tanpa sadar seluruh anggota yang ada di ruangan itu menelan ludah kasar. Bahkan beberapa dari mereka menahan napas, sampai akhirnya tubuh sang ketua menghilang di balik pintu.
Setelah Toni sudah tidak ada di ruangan itu, mereka mengembuskan napas untuk melepaskan karbondioksida yang sedari tadi ditahan. Sebagian dari mereka langsung membungkus tubuh Choky menggunakan tirai, dan yang lain membersihkan darah yang membasahi lantai ruang makan tersebut.
...****************...
"Kasus penyeranganmu tidak dapat dilanjutkan," ucap Arjun dengan wajah penuh sesal.
Dia merasa gagal di misi pertamanya untuk membantu Makutha. Namun, keadaan yang memaksanya mengambil keputusan ini. Kasus penyerangan terhadap Makutha terpaksa ditutup karena kurangnya bukti serta saksi mata.
"Apa! Aku tidak terima!" seru Makutha sembari menggebrak meja kerja sang Kapolsek.
"Kita kekurangan bukti bahkan kehilangan saksi dan tersangka." Nada bicara Arjun masih terdengar tenang.
Akan tetapi, Makutha tidak bisa membendung emosinya. Dia berdiri kemudian meremas rambutnya karena frustrasi. Lelaki itu berteriak kencang, sampai urat lehernya terlihat tegang.
"Sudah jelas-jelas mereka menyerangku sesaat sebelum sidang pencurian yang dilakukan Ferdy berlangsung, Pak! Sudah pasti Geng Macan Tutul terlibat! Kita tinggal meminta keterangan dari mereka, satu per satu!" teriak Makutha.
"Makutha, apa kamu lupa? Tidak akan ada maling yang mau ngaku! Kita butuh bukti kuat untuk meminta kesaksian dari mereka!" seru Arjun sambil ikut menggebrak meja.
Ucapan Arjun membuat Makutha terdiam sejenak. Dia menarik napas dalam kemudian mengembuskannya perlahan. Arjun memang benar. Mereka tidak bisa menginterogasi Geng Macan Tutul karena kurangnya bukti.
Makutha mengangguk-angguk, kemudian berkata, "Aku akan pergi! Aku rasa aku tidak lagi membutuhkan bantuanmu, Pak! Aku akan menangani semuanya sendirian!"
Makutha keluar dari ruangan itu, kemudian membanting pintu kasar. Lelaki itu langsung menuju tempat parkir dan mengendarai mobil untuk kembali ke apartemen.
Setelah mengendarai mobil selama 20 menit, Makutha sudah sampai apartemennya. Namun, ketika dia hendak membuka pintu, lelaki itu mendapati hal janggal. Pintu apartemennya sedikit terbuka.
Makutha langsung mengeluarkan pistolnya, dan perlahan masuk ke dalam apartemen. Suasana di dalamnya gelap, tidak ada penerangan sama sekali. Ketika hampir sampai dapur, tiba-tiba kaki lelaki itu menyandung sesuatu.
"Aduh!" pekik Makutha ketika tubuh tegapnya beradu dengan lantai.
Lelaki itu perlahan bangkit, merogoh saku, kemudian menyalakan lampu flash dari ponselnya. Seketika dia terbelalak mengetahui apa yang telah membuatnya tersungkur di atas lantai.
...****************...
Kira-kira benda apa itu?
Jangan lupa mampir ke novel salah satu temanku❤❤❤
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Ainisha_Shanti
mayat Choky agaknya diletak di rumahnya
2022-09-07
1