Sesaat setelah Praba meninggal ....
Dua orang lelaki sedang berjalan panik sambil mengawasi sekitar. Mereka adalah Ferdi dan Tito, anggota inti Geng Macan Tutul. Tubuh mereka sedikit gemetar ketika mendapati kejadian buruk di luar dugaan keduanya.
Rencana mereka meleset. Awalnya Usman meminta keduanya menculik Praba dan menggunakan gadis itu untuk menggertak Makutha. Geng Macan tutul, serta Liam sudah menyadari bahwa hakim tampan tersebut mengincar mereka. Jadi mereka semua sepakat untuk menakut-nakuti Makutha dengan menculik orang yang lumayan dekat dengannya.
"Bagaimana ini?" tanya Tito sambil menurunkan tubuh Praba yang hampir dingin ke atas tanah.
"Kamu pukul dia kekencangan, sih! Jadi begini, kan akhirnya!" seru Ferdi.
"Kamu juga malah menikmati tubuh gadis ini!" seru Tito tak mau kalah.
"Halah! Kamu juga ikut-ikutan 'kan akhirnya!"
"Sudah, malah bertengkar! Sekarang gimana ini?" Ferdi mencoba mengalihkan pembicaraan.
Tito mengusap wajah kasar. Lelaki itu akhirnya memutuskan untuk menghubungi Usman. Dia ingin meminta pendapat salah satu anggota Geng Cantul yang paling bijak tersebut.
Tito menekan nomor ponsel Usman, kemudian menempelkan benda pipih yang ia genggam pada telinganya. Jantung Tito berdetak tak beraturan ketika menunggu panggilannya dijawab oleh Usman.
"Halo, gimana?"
"Ka-kami melakukan kesalahan, Man!" Tito meremas rambutnya frustrasi.
"Maksudmu apa?"
"Kami tanpa sengaja membunuh gadis itu!" seru Tito sambil memegang keningnya yang terasa berdenyut.
"Apa!" teriak Usman hingga membuat telinga Tito berdengung.
"Bagaimana bisa?" tanya Usman mengembuskan napasnya kasar.
"Entahlah, sepertinya aku memukul kepalanya terlalu keras, Man."
"Gila, kamu! Sekarang kalian di mana?"
"Aku ada di daerah Rawa Ilir, Man."
"Tetap di sana, aku akan segera datang!"
...****************...
Usman mengumpat beberapa kali ketika mendapat laporan mengejutkan dari teman kerjanya itu. Setelah mematikan sambungan ponsel, dia kembali dikejutkan oleh kehadiran Toni yang sudah berdiri di belakangnya.
"Sejak kapan kamu di sini, Ton?" tanya Usman dengan suara setenang mungkin.
"Apa ada sesuatu yang terjadi di luar kendali?" tanya Toni tepat sasaran.
Lelaki bertubuh besar itu melemparkan tatapan tajam hingga membuat Usman merasa terintimidasi. Usman menelan ludah kasar berulang kali sambil membuang muka.
"Ah, Tito dan Ferdi nggak sengaja membunuh Praba."
"Oh, di mana mereka sekarang?" tanya Toni santai tanpa beban.
"Di daerah Rawa Ilir. Aku akan menyusul mereka. Kamu tetaplah di sini," ucap Usman.
Mendengar ucapan salah satu anggotanya itu membuat Toni naik pitam. Lelaki yang tidak suka diatur itu langsung mendekat ke arah Usman. Dia menyipitkan mata sambil merapatkan gigi.
"Apa kamu lupa siapa ketuanya?"
"Maaf, Ton. Aku nggak bermaksud ...."
Belum sampai Usman menyelesaikan ucapannya, Toni mendaratkan sebuah pukulan di atas pipi Usman. Lelaki itu sampai berpaling ketika menerima pukulan dari Toni.
"Aku paling tidak suka diatur! Kamu saja yang di sini. Aku akan ke sana!"
Toni meraih sebuah parang yang menempel pada dinding ruang pertemuan, kemudian melangkah mantap menuju pintu utama. Dia meminta salah seorang bawahannya untuk mengantar ke daerah yang dimaksud Usman.
Lima belas menit kemudian, Toni sudah sampai di Rawa Ilir. Dia menyusuri jalanan sesuai dengan arah yang ditunjukkan oleh GMaps. Tak lama kemudian, dia melihat Tito dan Ferdi sedang terduduk lesu di balik semak-semak.
"Angkat gadis ini dan masukkan ke bagasi mobil!" seru Toni ketika dia sampai di hadapan Tito dan Ferdi.
Mendengar suara Toni, sontak membuat Tito dan Ferdi tersentak. Keduanya mengangkat wajah kemudian mulai berdiri tegak.
Bagaimana bisa Toni yang datang? Bukankah yang hendak menyusul mereka adalah Usman? batin Tito.
"Ta-tapi, Ton." Ferdi terlihat gugup. Dia memiliki firasat buruk karena melihat kedatangan Toni.
"Nggak ada tapi-tapian!" seru Toni.
Seketika Ferdi bungkam. Lelaki itu langsung menggendong mayat Praba dan memasukkannya ke bagasi mobil. Toni meminta Tito untuk mengikutinya dengan mengendarai motor.
Mereka semua membawanya ke markas, tetapi masuk melalui pintu belakang. Toni sengaja melakukan hal itu agar anggota geng yang lain tidak menyadari peristiwa ini. Toni berniat menggunakan tubuh Praba sebagai alat untuk mengancam Makutha, sesuai dengan rencana awal mereka. Namun, kali ini lebih sadis.
"Baringkan gadis itu di sini!" perintah Toni kepada Ferdi.
Setelah Ferdi membaringkan tubuh Praba ke atas lantai. Toni berjalan mendekati perempuan itu. Dia menatapnya bengis sambil tersenyum miring.
Toni mengeluarkan parang yang ia bawa tadi, kemudian mengangkat benda tajam tersebut ke udara. Tanpa rasa belas kasihan sedikit pun, Toni mengayunkan parangnya untuk memenggal kepada Praba hingga terlepas dari lehernya. Wajah Toni sampai terkena percikan darah yang keluar dari leher Praba.
"Ferdi, kirimkan kepala gadis ini kepada Makutha. Oh ya, jangan lupa berikan surat cinta untuknya!" Toni tertawa terbahak-bahak hingga membuat Ferdi merinding.
...****************...
Toni benar-benar psikopat! 😭😭😭 Atau jangan-jangan authornya yang psyco🙄🙄🙄
Mampir ke sini juga, yuk!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Defi
sepertinya memang dua2nya 😱
2023-05-31
0