Sambil menunggu Arjun kembali ke ruangannya, Makutha memutuskan untuk berkeliling ruang kerja sang Kapolsek. Tatapannya teruju pada sebuah bingkai foto kecil yang ada di atas meja kerja Arjun.
Makutha mendekati meja tersebut, lalu meraih bingkai foto yang ada di atasnya. Di dalamnya tampak potret bahagia keluarga kecil Arjun bersama anak dan juga istrinya. Lelaki itu memiliki seorang putri cantik yang masih duduk di bangku sekolah SMA.
Ketika hendak meletakkan kembali bingkai foto tersebut ke atas meja, sudut matanya Makutha dapat melihat sebuah amplop coklat terselip di antara tumpukan buku. Entah mengapa dia ingin sekali melihat isi dari amplop tersebut. Lelaki itu mengambil amplop berwarna coklat di atas meja, lalu membuka talinya perlahan, dan mengeluarkan isinya.
Makutha terbelalak ketika mengetahui isi amplop tersebut. Terdapat beberapa lembar kertas berisi data pribadi miliknya, serta berlembar-lembar dokumen mengenai kasus kematian Abercio tujuh tahun lalu. Selain itu ada juga beberapa profil Geng Macan Tutul dan juga tiga orang lainnya.
"Apa-apaan ini!" Rahang Makutha mengeras sambil menatap berlembar-lembar dokumen yang ada di tangannya.
Tak lama kemudian terdengar suara pintu berderit. Arjun terbelalak melihat Makutha sedang memegang dokumen yang berisi informasi penting itu. Arjun mendekati Makutha dengan perasaan gugup.
"Apa ini, Pak!" Makutha membanting berkas tersebut ke atas meja.
"A-aku bisa jelaskan!"
"Untuk apa Pak Arjun menyimpan data pribadi saya serta berkas kasus Abercio!"
"Itu ...."
"Apa Bapak memiliki tujuan tertentu, dan ingin memanfaatkan aku serta masa laluku?"
"Bukan begitu Makutha. Aku hanya ...." Ucapan Arjun terus dipotong oleh makhluk keras kepala bernama Makutha itu.
"Aku pikir selama ini kebetulan! Anda bisa mengetahui banyak hal mengenai aku! Selain itu, Anda juga terlalu peduli kepadaku untuk ukuran orang asing!"
"Tha, aku bisa jelaskan semuanya. Tenanglah!"
"Bagaimana aku bisa tenang? Bagaimana aku bisa mempercayai Anda, Pak!" teriak Makutha frustasi.
Arjun menarik napas panjang kemudian mengembuskannya perlahan. Dia menatap serius hakim muda di hadapannya itu.
"Abercio .... Sahabatmu yang malang itu membuatku tergerak," ungkap Arjun lesu.
"Apa maksud Pak Arjun!" Makutha mengerutkan dahi sambil menyipitkan mata berusaha menuntut penjelasan kepada Arjun.
"Kematian Cio sangat mirip dengan mendiang adik kembarku! Adikku meninggal ketika berusaha menghentikan tawuran antara sekolahku dengan sekolah lain." Pak Arjun tertunduk penuh penyesalan, bahunya merosot, dan matanya mulai berkabut.
"Tapi aku lebih parah dari kamu. Aku menjadi salah satu dalang kenapa tawuran itu bisa terjadi. Perasaan bersalah itu terus menggerogotiku setiap hari. Sampai aku melihatmu pertama kali di kantor polisi dengan kasus yang sama." Kini Arjun mengangkat wajahnya dan menatap nanar Makutha sambil tersenyum kecut.
Makutha terdiam. Dia tidak menyangka lelaki di hadapannya itu memiliki rasa bersalah dan masa lalu yang sama dengannya.
Arjun mendekati Makutha kemudian meraih lengan hakim muda tersebut. Tatapan keduanya beradu. Arjun menatapnya tajam.
"Aku sudah mengumpulkan banyak data mengenai Geng Cantul serta tiga orang lain yang dulu terlibat dalam tawuran itu. Maaf, aku tidak bisa membantu saat itu. Aku dulu hanyalah polisi dengan jabatan rendah di Solo. Tapi sekarang, aku akan membantumu sebisa mungkin untuk menghukum mereka."
"Jadi, apa Pak Arjun mau membantuku sampai akhir? Resikonya besar. Bapak tahu 'kan siapa yang melindungi perbuatan Geng Macan Tutul?"
"Aku akan membantumu sampai akhir! Jika di masa lalu aku sudah gagal membantumu memberi mereka semua hukuman, maka kali ini mereka harus berhasil dihukum walaupun dengan kasus lain! Mereka sampai hari ini begitu meresahkan masyarakat, tapi tidak ada yang berani bersuara, dan menuntut keadilan."
"Karena uang, kekuatan, serta jabatan, Pak! Aku tahu ini akan sulit. Tapi jika begini terus mereka akan semakin menjadi-jadi."
"Kamu benar!" seru Pak Arjun.
"Jadi .... Apa yang harus kita lakukan sekarang?"
Makutha menatap tajam Arjun. Sang Kapolsek menatapnya penuh arti sambil tersenyum miring. Lelaki itu menepuk kedua bahu Makutha kemudian membisikkan sesuatu pada telinganya. Makutha pun terbelalak.
...****************...
Jangan bosan yaaa baca cerita ini, soalnya unsur romance-nya dikit banget nanti 😂😂😂
Oh ya, sambil nunggu SGSH update, mampir ke sini juga yaaa~
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Dev
ditunggu" selalu ceritanya😊 paling suka genre crita kayak gini,,berasa kayak Drakor🤭
gmna rasanya buat genre crita yg beda dari yg biasanya kak?
2022-09-04
4