"Orang yang mengunjungi Surya kemarin adalah Miki. Salah satu anggota Geng Macan Tutul," bisik Arjun.
Mendengar ucapan dari sang Kapolsek membuat Makutha seketika terbelalak. Dia tak menyangka bisa kembali mengurus kasus Geng Macan Tutul secepat ini. Terlebih lagi kali ini kasusnya masih berhubungan dengan penyerangan yang ia alami.
"Segera selidiki dan beritahukan semua perkembangannya kepadaku!" seru Makutha dengan mata berapi-api.
"Berani sekali kamu memerintah seorang Kepolsek?" Arjun menatap tajam Makutha sambil bersidekap.
"Ah, sepertinya aku salah bicara!" Makutha berdeham dua kali kemudian memasang sikap tegap dan kembali bicara.
"Tolong beritahu saya jika ada perkembangan mengenai penyelidikan kasus Miki," ucap Makutha sembari menundukkan kepala sekilas.
Melihat sikap Makutha membuat Arjun terkekeh. Lelaki itu kembali menepuk bahu Makutha. Setelah tawanya reda, lelaki itu memasukkan tangannya ke dalam saku celana.
"Pasti akan kuberitahu semua informasinya. Ayo, kuantar pulang!"
"Baik, Pak."
Keduanya berjalan beriringan menuju parkiran. Ketika Makutha hendak masuk ke mobil Arjun, sebuah mobil Pajero berhenti tepat di depannya. Lelaki itu berdecak kesal karena tahu siapa yang mengendarai mobil tersebut.
"Ngapain dia ke sini! Pak Arjun ya, yang kasih tahu dia kalau aku di sini?" tanya Makutha sambil menatap sinis ke arah perempuan berjilbab itu.
"Ehm, iya."
Hasna turun dari mobil dan berjalan santai ke arah Makutha serta Arjun. Dokter cantik itu tersenyum sambil mengangguk ketika menatap Arjun. Namun, ketika dia melihat Makutha senyumnya seketika lenyap.
"Ayo, pulang!" seru Hasna.
"Nggak! Aku mau pulang sama Pak Arjun!" tolak Makutha sambil bersidekap dan membuang muka.
"Dih, keras kepala! Pak Arjun banyak kerjaan! Iya kan, Pak?" tanya Hasna sambil melotot ke arah Pak Arjun.
Pak Arjun tersenyum kecut sembari menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "I-iya, kamu pulanglah bersama Hasna. Aku harus segera menyelidiki Miki!"
"Miki siapa?" Hasna menyipitkan mata karena merasa pernah mendengar nama itu.
"Bukan siapa-siapa! Ayo pulang, sebelum aku berubah pikiran!" Makutha berjalan ke arah mobil milik Hasna kemudian masuk ke dalamnya.
"Baiklah, kalau begitu saya pamit, Pak. Assalamualaikum," pamit Hasna sambil menundukkan kepala.
"Waalaikumsalam," jawab Arjun sembari tersenyum lebar.
Hasna langsung masuk ke dalam mobil dan mulai mengendarainya. Sepanjang perjalanan, Makutha berpura-pura tidur untuk menghindari cecaran pertanyaan dari Hasna. Dia terus menggerutu dalam hati karena Arjun sempat menyebut nama Miki di depan Hasna.
"Tha, aku tahu kamu sedang pura-pura tidur. Bangunlah!"
Makutha tetap bergeming. Dia masih menutup mata sambil melipat lengannya. Hasna yang kesal melirik ke arah Makutha sambil merapatkan gigi.
Tak lama kemudian Hasna mengerem mobil secara mendadak. Sontak tubuh Makutha terbanting ke depan dan membuat lelaki itu mau tidak mau membuka mata.
"Apa!" seru Hasna ketika mendapatkan tatapan tajam dari Makutha.
"Punya dendam apa sih kamu sama aku, Na!"
"Makanya jangan pernah pura-pura di depanku! Jangan pernah mengabaikan aku ketika mengajakmu bicara!"
"Memangnya apa yang mau kamu bicarakan?"
"Mmm ...." Hasna terlihat seperti sedang berpikir.
"Itu ... mengenai Miki. Aku seperti pernah mendengar namanya. Siapa dia?"
"Rahasia! Jalan lagi, gih!"
Hasna mengerucutkan bibirnya, dan kembali melajukan mobilnya. Lima belas menit kemudian, Hasna sampai di apartemen Makutha. Dia ikut masuk ke unit apartemen lelaki itu.
"Kamu mau makan apa?" tanya Hasna sambil membuka lemari pendingin makanan.
"Aku lama nggak makan tahu goreng sama sambal bawang buatanmu. Masakin, gih!"
"Yaelah, Pak! Di kulkasmu nggak ada tahu! Ayam goreng aja ya?"
"Bolehlah!"
Hasna mulai memakai celemek dan berjibaku dengan alat masak. Sedangkan Makutha sibuk mencari tahu tentang Miki. Dia menghubungi beberapa teman SMA untuk mengetahui kabar lelaki bertubuh gempal itu.
"Aneh," gumam Makutha ketika mengetahui fakta bahwa Miki dan semua anggota Geng Macan Tutul pindah ke Kota Metropolitan ketika Liam menjabat sebagai Walikota.
"Kenapa mereka seakan sekarang berteman, ya?" Makutha mengusap dagu. Dahinya sampai berkerut karena berpikir keras.
"Tha, makan!" teriak Hasna dari dapur.
"Hm, bentar lagi," jawab Makutha dengan suara pelan.
Tanpa Makutha sadari, kini Hasna sudah ada di hadapannya sambil berkacak pinggang. Ketika Makutha mendongak, dokter cantik di hadapannya itu sudah mencondongkan tumbuh ke arahnya.
Makutha bisa melihat jelas wajah cantik Hasna. Aroma parfumnya menyeruak memasuki rongga hidung Makutha. Geleyar aneh yang telah lama ia pendam kembali bangkit.
Makutha menarik lengan Hasna hingga kini mereka berpelukan. Seakan setan merasuki pikiran Hasna, dia tidak menghindar sedikit pun. Dia justru memejamkan mata, mencoba meresapi aroma Musk yang menguar dari tubuh Makutha.
"Hasna, aku ...."
...****************...
Tahan dulu! Hasna, Makutha sementara pelukan dulu samapai bab selanjutnya, ya! 🤣🤣🤣
Sambil nunggu kelanjutan cerita Pak Hakim Tamvan, mampir ke sini yukk!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Ainisha_Shanti
amboiii... sakit2 pun masih berahi juga ke😂😂😂
2022-09-07
2