Arjun mendapat kabar bahwa orang yang melakukan penyerangan terhadap Makutha sudah tertangkap. Polisi berumur 50 tahunan itu langsung mengirimkan pesan kepada Makutha untuk mengabarkan hal tersebut.
[Orang yang melakukan penyerangan kepadamu sudah tertangkap]
Setelah pesan itu terkirim, Arjun langsung beranjak dari kursinya dan beranjak ke ruang penyidikan. Langkah kakinya terdengar begitu nyaring ketika beradu dengan lantai. Kini kepalanya dipenuhi oleh rasa ingin tahu. Dia penasaran dengan motif di balik penyerangan tersebut.
Setiap melewati polisi lain, dia selalu mendapat salam penuh hormat. Sampai akhirnya dia sampai di depan sebuah ruangan. Awalnya Arjun ragu. Akan tetapi, dia ingin melihat wajah orang yang telah berani mengusik Makutha.
Lelaki itu memutar tuas pintu dan membukanya. Dua orang penyidik sedang menatap tajam ke arah seorang pria kurus yang duduk di depannya. Kedua tangan pria itu diborgol.
"Siang, Pak!" seru kedua penyidik itu bersamaan sambil memberi hormat.
"Siang."
Arjun terus melangkah mendekati sang tersangka. Ketika sampai di depannya, dia meraih dagu pria itu, dan mengangkatnya hingga wajah si pelaku terlihat jelas oleh mata Arjun.
"Siapa namamu?" tanya Arjun.
Lelaki itu hanya diam sambil terus melemparkan tatapan tajam. Melihat sikap pria tersebut membuat emosi Arjun tersulut. Dia menghempaskan dagunya kemudian berkacak pinggang.
"Apa kamu bisu?" tanya Arjun dengan nada tinggi sembari menunjuk wajah lelaki di hadapannya itu.
"Benar, Pak. Dia bisu," sahut Farhan.
"Sial!" umpat Arjun sambil menendang udara.
Farhan mendekati Arjun kemudian menyodorkan kartu identitas pelaku. Arjun menerimanya kemudian mengeja nama yang tertera di sana.
"Surya?"
"Dia tidak memiliki catatan kriminal, Pak. Setelah data pribadinya kami selidiki, ternyata dia tinggal bersama ibunya yang mengalami stroke."
"Dia pasti ditawari imbalan besar atau berada di bawah tekanan," ungkap Nico.
"Apa dia belum mengungkapkan sesuatu?"
"Belum, Pak!"
Mereka terus berbincang hingga pengawasan terhadap Surya melemah. Tiba-tiba lelaki itu beranjak dari kursi dan berlari menuju pintu. Untungnya Arjun sigap. Dia meraih kerah jaket Surya dan membekuk lelaki itu.
"Mau kabur ke mana kamu!" seru Arjun.
"Biar saya masukkan dia ke dalam sel dulu, Pak!" seru Farhan kemudian menggelandang Surya menuju sel tahanan.
...****************...
Tak terasa sekarang sudah hari ke-lima Makutha dirawat di Rumah Sakit. Lelaki itu sudah merasa jenuh karena tidak bisa bekerja. Namun, rasa kecewanya kepada Viko sedikit terobati karena ada kasus lain yang akan segera ia tangani. Kasus tersebut berkaitan dengan salah satu anggota Geng Macan Tutul.
"Kapan saya boleh pulang?" tanya Makutha kepada perawat yang sedang mengganti perbannya.
"Maaf, Pak. Saya belum bisa memastikan. Itu semua tergantung kondisi Anda dan juga keputusan dokter Hasna."
"Aku nggak mau dirawat perempuan itu! Bakal lama keluar dari sini!" seru Makutha.
"Dokter Hasna itu salah satu dokter terbaik di sini, Pak. Bahkan banyak yang ingin ditangani oleh beliau. Tapi kenapa Anda justru menolaknya?" Sang perawat tersenyum geli sambil menggelengkan kepala.
"Sudah, tulis saja di kertas itu kalau aku sudah sehat! Bahkan aku sudah bisa salto dan jumpalitan sekarang!"
Perawat itu hanya tersenyum kemudian keluar dari kamar inap Makutha. Tak lama kemudian Hasna masuk dengan pakaian santai karena dia sedang libur.
"Ayo, salto sekarang!" seru Hasna sambil melipat lengannya.
"Ngapain ke sini!" Makutha membuang muka, lalu menatap ke luar jendela.
"Besok pagi kamu diijinkan pulang. Jadi tetap bersikap baik dan jadilah penurut!" Hasna tersenyum miring sambil melipat lengan.
Raut wajah Makutha sedikit berubah ketika mendengar ucapan Hasna. Dia tersenyum tipis hampir tak terlihat. Lelaki itu pun bersorak dalam hati.
"Apa kamu butuh bantuan?" tanya Hasna sembari menarik kursi dan mendaratkan tubuh mungilnya ke atas benda tersebut.
"Pergilah, aku hanya butuh ketenangan saat ini!" usir Makutha tanpa menatap Hasna.
"Jahatnya!" seru Hasna sambil tersenyum kecut.
"Oh ya, Bunda tadi sudah pulang ke Solo. Nanti saat Ara libur semester, mereka akan ke sini untuk berlibur."
Makutha tak merespon. Hasna membuang napas kasar kemudian beranjak pergi. Setelah dokter cantik itu keluar dari ruangan tempat ia dirawat, Makutha langsung mengabari Pak Arjun. Dia meminta Kapolres Kota Metropolitan itu menjemputnya ketika diperbolehkan pulang.
Keesokan harinya, ketika jam menunjukkan pukul 09:00 Arjun sudah tiba di Rumah Sakit. Dia langsung melajukan mobil menuju kantor polisi. Di dalam mobil tersebut, Arjun dan Makutha berbincang mengenai tersangka penyerangan yang masih bungkam hingga saat ini.
"Dia berkebutuhan khusus, Tha. Dan sialnya dia sama sekali tidak mau memberikan petunjuk apapun!"
"Maksudnya?" Makutha mengerutkan dahi sambil menyipitkan mata.
"Maksud Pak Arjun?"
"Dia tuli dan bisu. Sepertinya dia bekerja dengan imbalan besar dan di bawah tekanan atau ancaman. Saat ibunya mengalami stroke dan sedang dirawat di Rumah Sakit."
"Sial!" umpat Makutha sambil meninju udara.
"Seandainya kondisi ibu Surya sehat, kita bisa meminta keterangan dari beliau."
Tak lama kemudian, sebuah panggilan masuk ke ponsel Arjun. Lelaki itu pun menjawab panggilan yang berasal dari salah satu bawahannya. Dia terlihat begitu tegang sampai akhirnya mendengar sebuah kabar yang tidak disangka. Arjun langsung menginjak pedal rem karena terkejut dengan kabar yang ia terima.
"Apa!" pekik Arjun
...****************...
Kabar apakah gerangan?
Sambil nunggu SGSH update mampir ke sini, yuk!
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Ainisha_Shanti
rasanya ibu c pelaku meninggal dunia dan c pelaku bunuh diri kot
2022-09-07
1