"Siapa yang berani menuntutku!"
Sang sopir ambulans menoleh ke arah sumber suara yang berasal dari kursi penumpang. Seketika dia terbelalak setelah menyadari siapa yang sedang duduk tenang di sana. Lelaki muda yang berwajah oriental serta memakai setelan jas rapi itu menatapnya sinis sembari melipat lengan di depan dada.
"P-Pak Walikota!"
Ternyata mobil itu milik Liam. Walikota Kota Metropolitan ini. Siapa yang tidak mengenal lelaki super angkuh dan selalu ingin menang sendiri itu. Dia menjabat sebagai Walikota Jakarta selama satu tahun.
Para warga selalu bungkam dan tak berani mengungkit sikap buruknya itu karena satu hal. Prestasinya dalam mengatur tata kota dan administrasi begitu bagus. Banyak warga miskin yang merasa terbantu dengan program pemerintah yang ia jalankan.
"Sudahlah, sana kendarai lagi mobilmu!"
"Ta-tapi Anda belum minta maaf, Pak!" tegur si sopir ambulans gugup.
"Apa kamu mau mempersulit keadaanmu? Aku sudah minggir ini! Silahkan ambil jalanmu! Bisa mati pasienmu nanti!" seru Liam sambil tersenyum miring.
Sang sopir ambulans menurunkan ego. Dia hanya bisa mengepal kuat sambil merapatkan gigi. Lelaki itu setengah membungkuk kemudian kembali ke dalam ambulans dan langsung mengendarai mobilnya.
Tak lama kemudian, Makutha sudah sampai di Rumah Sakit. Hasna yang mendapat kabar bahwa Makutha mengalami sebuah serangan pun mengurungkan niat untuk pulang. Dia memantau keadaan Makutha dari luar IGD.
Gadis itu mondar-mandir sembari menggigit jari kukunya. Setelah menunggu selama hampir satu jam akhirnya salah satu rekan dokter yang menangani Makutha keluar.
"Hans, gimana?" tanya Hasna panik.
"Nggak pa-pa. Lukanya nggak terlalu dalam. Sepertinya dia pingsan karena sebuah trauma. Bukan karena luka yang dialami."
"Iya."
Hasna terdiam. Dia tahu betul alasan kenapa Makutha pingsan. Ya, lelaki itu akan langsung pingsan begitu melihat banyak darah. Trauma tersebut terjadi sejak Abercio meninggal.
Hasna langsung melangkah masuk ke ruang IGD. Makutha masih terbaring tak sadarkan diri. Bagian perutnya sudah dibalut dengan perban. Hasna meneteskan air mata melihat kondisi Makutha.
"Dasar bodoh! Bagaimana bisa kamu sampai terluka?"
Hasna tersenyum kecut kemudian menyeka air mata. Tak lama kemudian Praba ikut masuk dan menepuk lembut pundak Hasna.
"Sabar, Na. Dia akan segera pulih. Tuntutan pekerjaan ya begitu. Selalu ada resiko yang harus kita tanggung! Aku pikir ini ada hubungannya dengan sidang yang akan ia tangani."
Hasna mengerutkan dahi. "Persidangan hari ini hanyalah kasus kecil."
"Kasus apa memangnya?"
"Pencurian," jawab Hasna singkat.
"Na, kita nggak pernah tahu dana pencurian itu akan dipakai untuk apa."
Pupil mata Hasna membulat sempurna. Dia menjentikkan jari sambil mengangguk mantap.
"Kamu benar juga, Ba! Aku nggak kepikiran sampai sana!"
Praba membuang napas kasar. Dia menepuk bahu Hasna dua kali kemudian berpamitan. "Baiklah, aku balik kerja dulu. Salam buat Makutha kalau sudah sadar. Kalau butuh apa-apa yang berhubungan dengan pengobatan Makutha bilang saja."
"Iya, Ba. Makasih ya."
Praba mengangguk kemudian berjalan keluar dari ruang IGD. Setelah tubuh gadis itu tak lagi terlihat oleh Hasna, dokter cantik tersebut langsung mendekati Makutha. Dia meraih jemari kekar lelaki yang kini sedang dekat dengannya itu.
"Dasar bodoh! Bisa-bisanya terluka!"
Pandangan Hasna mulai kabur. Tak lama kemudian bulir bening kembali meluncur membasahi pipinya. Sebuah sentuhan lembut pada punggung Hasna membuatnya segera menghapus air mata. Hasna menoleh. Kini sang ibu sudah berdiri di belakangnya dengan mata yang juga berkaca-kaca.
"Bunda, kapan datang? Sendiri?" Hasna kembali menyeka air mata untuk kedua kalinya.
"Baru saja. Aku tadi langsung naik pesawat pertama setelah mendapat kabar buruk ini. Aku tak menyangka firasatku menjadi kenyataan!" Liontin menangis tergugu.
Hasna merengkuh tubuh sang ibu kemudian mengusap punggung perempuan itu perlahan. Seketika kesedihan yang dirasakan Liontin kembali menjalar kepada Hasna. Gadis itu menatap langit-langit berharap agar air matanya todak jadi keluar.
"Aw ...."
Terdengar suara Makutha yang kini merintih sembari meringis menahan sakit. Hasna melepaskan pelukannya dari sang ibu, lalu mendekati lelaki itu. Dia membantu Makutha bersandar pada tumpukan bantal.
"Pelan-pelan."
"Sidangku .... Bagaimana sidangku?" tanya Makutha dengan suara parau dan terdengar lemah.
"Jangan pikirkan itu dulu, yang penting sekarang kamu pulih. Kasus ini akan diadili oleh hakim lain."
"Aku sudah mulai memegang ekor mereka. Tapi, kenapa ada saja halangannya. Sial!" gerutu Makutha sambil memukul kasur di bawahnya.
"Lupakan saja, Tha."
"Mana bisa, Na! Aku akan mengejar mereka semua sampai ke ujung neraka sekali pun!"
Hasna menatap mata Makutha yang kini seakan membara. Hadis itu tak habis pikir dengan jalan pikiran lelaki di hadapannya itu. Dia berulang kali menasehati Makutha agar tidak terpaku pada Geng Macan Tutul, tetapi hakim tampan itu tetap keras kepala.
"Utha, ibu yakin mereka akan menggantikan tugasmu dengan baik."
"Bunda, aku tidak mempercayai hakim lain di pengadilan itu! Mereka semua ...."
Makutha terdiam. Dia meminta Hasna untuk mengambilkan ponsel. Setelah benda pipih itu berada dalam genggamannya, Makutha langsung menghubungi Pak Arjuna.
"Pak, Arjun. Bagaimana sidangnya?"
Makutha mendengarkan setiap kata yang keluar dari bibir Arjun. Namun, raut wajah Makutha mendadak berubah. Dia terbelalak. Jemarinya mengepal kuat dan rahangnya mengeras.
"Sial!"
...****************...
Ada yang tahu berapa gaji seorang hakim?
BTw mampir juga yukkk ke karya temanku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 76 Episodes
Comments
Maya●●●
udah aku masukin fav kak.
semangattt
2022-09-16
2
Ainisha_Shanti
don't give up Utha. lain kali lebih berhati2, kerana mereka sangat licik. so kamu harus lebih bijak lagi.
2022-09-07
2
Dev
akhirnya ada cerita lanjutan tentang makutha..ceritanya seru bikin deg"an kak😌
2022-09-03
3