From: Mas Fathur
Kenapa pulang telat?
Nadya sama sekali tidak menduga kalau pada akhirnya Fathur akan membalas pesan darinya. Nadya pikir pesannya hanya akan Fathur baca lalu seperti biasa akan Fathur abaikan. Seperti yang selama ini laki-laki itu lakukan. Dan sekarang menjadi kali pertama Fathur membalas pesan dari Nadya. Bahkan tidak hanya membalas, Fathur juga menanyakan alasan Nadya pulang terlambat. Hal yang selama ini tidak pernah Fathur lakukan.
^^^to: Mas Fathur^^^
^^^Hari ini aku mau pergi ke Panti. Soalnya udah lama aku nggak kesana. Bolehkan Mas?^^^
Setelah berhasil mengatasi rasa terkejutnya, Nadya membalas pesan Fathur.
from: Mas Fathur
Boleh, nanti sepulang kerja saya kesana.
Nadya semakin terkejut saat mendapatkan pesan balasan dari laki-laki itu. Ada apa sebenarnya dengan Fathur? Ini benar-benar tidak seperti Fathur yang biasanya. Fathur akan datang ke panti juga?
^^^to: Mas Fathur^^^
^^^Mas mau ke panti juga?^^^
Begitu pesan Nadya terkirim, pesan itu langsung centang dua berwarna biru. Itu berarti Fathur langsung membacanya.
Nadya kira Fathur akan membalasnya dengan pesan juga seperti sebelumnya. Tapi ternyata tidak, Fathur justru menelfon Nadya.
Drtt... drtt... drtt...
Setelah 3 deringan, barulah Nadya mengangkat panggilan dari Fathur. Nadya lagi-lagi dibuat terkejut dengan ulah Fathur ini.
"Assalamualaikum, Mas." Ujar Nadya dengan suara lirih, namun sepertinya masih bisa Fathur dengar.
"Wa'alaikumsalam. Nanti kalau saya kesana, saya harus bawain apa buat anak-anak panti?" Tanya Fathur kepada Nadya.
"Mas mau ke panti?" Nadya malah masih menanyakan hal itu. Karena Nadya merasa perlu memastikan kalau Fathur memang benar-benar akan datang ke panti juga.
"Iya, kenapa? Nggak boleh kalau saya datang ke panti?" Nada suara Fathur terdengar tidak enak karena kembali datar seperti sebelum-sebelumnya.
"Boleh kok, boleh Mas. Siapa yang bilang nggak boleh. Aku cuma mau mastiin aja." Jawab Nadya cepat. Dan semoga saja Fathur tidak marah.
"Jadi, kira-kira saya kesana harus bawa apa buat mereka?" Tanya Fathur lagi.
"Sebenarnya nggak usah bawa apa-apa juga nggak papa Mas. Dengan Mas Fathur mau datang kesana dan main sama mereka aja udah bikin mereka seneng banget." Jawab Nadya.
Sebenarnya bisa saja Nadya meminta Fathur membawakan ini dan itu untuk anak-anak panti. Tapi, ya seperti yang kita tau bahwa Nadya adalah tipe orang yang tidak enakan. Dan dengan Nadya meminta Fathur membawakan adik-adiknya di panti sesuatu, Nadya khawatir kalau dia justru membuat Fathur repot.
"Ya sudah kalau gitu. Pokoknya nanti jangan pulang dulu kalau saya belum datang kesana." Ujar Fathur.
"Iya Mas."
"Saya tutup telfonnya. Assalamualaikum."
"Wa'alaikumsalam."
Setelah menempuh perjalanan dari sekolah, kini Nadya sudah sampai di panti. Dan seperti biasa, Nadya tentu saja datang tidak hanya dengan tangan kosong. Kini ditangan Nadya sudah ada 10 box donat yang masing-masing didalamnya berisikan 12 pcs.
"Yeayy... Mbak Nadya pulang." Salah seorang anak perempuan panti langsung bersorak kegirangan saat melihat kedatangan Nadya. Yang lainnya tentu saja langsung ikut bersorak senang menyambut kedatangan Nadya yang sebenarnya sudah lama mereka nantikan. Karena memang akhir-akhir ini Nadya jarang ke panti. Seperti yang kita tau, Nadya sibuk dengan jadwal mengajarnya. Apalagi dia juga harus mengajar les untuk anak kelas 12. Sedangkan weekend, Nadya lebih sering menghabiskan waktunya di rumah Mama Resti.
"Mbak Nadya bawa donat nih buat kalian. Putri sama Damar tolong panggilin yang adek-adek yang lain ya." Ujar Nadya.
Putri, sekarang dia menjadi yang terbesar di panti asuhan ini. Kalau bisa dibilang, Putri seperti Nadya kedua. Sikap dan sifatnya juga tidak berbeda jauh dengan Nadya. Secara sejak dulu Putri sangat mengidolakan Nadya. Dan sekarang usia Putri sudah menginjak 16 tahun, kelas 1 SMA.
Sementara Damar, anak kaki itu juga menjadi yang terbesar disini. Saat ini dia kelas 3 SMP dan berusia 15 tahun.
Putri dan Damar juga menjadi salah satu anak yang menerima beasiswa dari Mama Resti.
Sebenarnya anak-anak yang lebih besar dari Putri dan Damar masih ada beberapa. Hanya saja sebagian diantara mereka kuliah sambil kerja dan juga kos. Seperti Nadya dulu. Jadi mereka hanya bisa pulang ke panti paling tidak satu bulan sekali
Setelah masing-masing anak mendapatkan donatnya, mereka makan dengan lahap. Sungguh pemandangan seperti inilah yang membuat Nadya sangat bahagia. Dimana adik-adiknya terlihat bahagia meskipun hanya dengan hal sederhana seperti ini. Nadya selalu merasakan kedamaian jika sedang berada di panti seperti ini.
"Gimana kabar kamu nak? Bunda kangen loh, udah hampir sebulan kamu nggak dateng kesini." Ujar Bunda Sina kepada Nadya.
Nadya tersenyum.
"Nadya juga kangen sama Bunda, kangen sama adek-adek juga. Tapi ya gimana, bulan ini Nadya sibuk banget, soalnya udah mulai ngajar les buat persiapan UN kelas 12." Jawab Nadya.
"Iya, Bunda paham." Ucap Bunda Sina dengan lembut. "Oo iya, gimana kabar suami kamu? Hubungan kalian baik-baik aja kan? Kamu bahagia kan nak?" Bunda Sina memang selalu menanyakan kabar mengenai hubungan rumah tangga antara Nadya dan Fathur. Bukan apa-apa, Bunda Sina hanya ingin memastikan kalau hubungan mereka baik-baik saja. Karena Bunda Sina akan sangat merasa bersalah kalau nyatanya Nadya tidak bahagia dengan pernikahannya. Bunda Sina khawatir kalau keputusannya menerima perjodohan Nadya dengan Fathur adalah keputusan yang salah.
Nadya yang sudah terbiasa dengan pertanyaan seperti ini pun tersenyum.
"Iya Bunda, Nadya bahagia. Hubungan Nadya sama Mas Fathur juga baik-baik aja kok. Bunda jangan khawatir lagi ya." Jawab Nadya menenangkan. "Oo iya, nanti katanya Mas Fathur mau dateng kesini loh." Ujar Nadya memberitahu Bunda Sina.
"Oo iya?" Bunda Sina terlihat sangat terkejut. Pasalnya selama ini Fathur tidak pernah sekalipun menginjakkan kakinya di panti asuhan ini. Kalaupun datang kesini, Fathur tidak pernah sampai masuk. Laki-laki itu hanya datang mengantar Mama Resti saja dan setelahnya langsung pulang.
"Iya, tadi Mas Fathur telfon Nadya katanya mau kesini. Mas Fathur juga tanya kalau kesini harus bawa apa. Padahal nggak usah bawa apa-apa juga nggak papa kan Bunda?" Ujar Nadya dengan wajah ceria.
"Iya, dengan Fathur mau datang kesini aja Bunda udah seneng. Apalagi anak-anak, mereka pasti bakal seneng banget." Wajah Bunda Sina tidak bisa menyembunyikan kebahagiaannya setelah mendengar kalau Fathur akan datang kesini.
Sementara itu, saat ini Fathur tengah mondar-mandir sendiri di depan mejanya. Fathur sedang bingung memikirkan kira-kira apa yang akan dia bawa untuk anak-anak panti nanti. Pasalnya tidak mungkin kalau Fathur datang kesana tanpa membawa apa-apa. Apalagi ini akan menjadi kali pertama dia datang kesana. Eehh, bukan pertama sih, kalau sekedar datang dan hanya diluar Fathur sudah beberapa kali. Tapi kalau berkunjung sampai masuk, Fathur belum pernah.
"Kenapa lo?" Entah sejak kapan Rony tiba-tiba sudah ada di ruangan Fathur.
Fathur menoleh.
"Biasain ketuk pintu dulu kalau masuk." Ujar Fathur dengan suara datar. Sepertinya Fathur masih merasa kesal dengan Rony setelah pembicaraan tadi. Pasalnya selama ini Fathur tidak pernah kesal ataupun marah jika Rony masuk ke ruangannya tanpa mengetuk pintu.
"Makanya kuping dipasang, jadi kalau ada orang ngetuk pintu kedengeran. Gue udah ketuk pintu Fathur Renaldi Sudiro, lo nya aja yang nggak denger." Jawab Rony santai tanpa memperdulikan raut tidak mengenakan yang Fathur tunjukkan.
Fathur hanya diam tidak mengatakan apa-apa lagi.
"Kenapa lo? Masih kesel sama gue soal yang tadi? Tenang aja kali, kalau lo memperlakukan Nadya dengan baik, gue nggak bakal rebut dia dari lo kok." Ujar Rony tetap santai.
"Gue mau ke panti asuhan, baiknya bawa apa kalau kesana?" Fathur mengabaikan ucapan Rony dengan mengganti topik pembicaraan.
"Ke panti? Ngapain?" Tanya Rony heran.
Tentu saja Rony heran, selama ini Fathur tidak pernah datang ke tempat seperti itu. Ya meskipun setiap bulan perusahaan selalu menyantuni beberapa rumah panti, tapi Fathur tidak pernah terlibat secara langsung didalamnya.
" Ya main aja. Udah lo bantu pikirin, gue kesana harus bawa apa?" Tanya Fathur.
"Panti asuhan mana? Yang biasa Tante Resti datengin?"
Fathur menganggukkan kepalanya.
Rony menganggukkan kepalanya paham.
"Sepertinya udah ada kemajuan dengan hubungan Fathur sama Nadya." Ujar Rony dalam hati.
"Mama gue biasanya kesana bawa apa?" Tanya Fathur.
"Udah nanti masalah itu gue yang urus. Sekarang lo tandatangani dulu ini berkas." Ujar Rony.
Biar bagaimanapun, sebagai seorang sekretaris dan juga sahabat, Rony adalah yang terbaik. Dan Fathur mengakui itu.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
aniya_kim
Fathur takut Nadya bohong yaa🤣🤣🤣
2022-10-25
1
Kenzi Kenzi
rony,buat septi waeeeeee lahhh
2022-09-23
1
fLo
masih bingung beli oleh² ini fathur ampe blm up
2022-09-19
1