Fathur menerima pesan yang Nadya kirimkan sejak 10 menit yang lalu. Sama sekali tidak ada niatan bagi Fathur untuk membalas pesan itu. Fathur tidak peduli Nadya akan pergi kemana atau bersama siapa. Bagi Fathur, itu bukan urusannya. Jadi terserah Nadya saja.
Tapi meski Fathur tidak menganggap Nadya sebagai istrinya, Fathur tetap melakukan kewajibannya sebagai seorang suami dengan memberikan Nadya nafkah lahir. Fathur memberikan salah satu kartu ATM miliknya kepada Nadya. Mengenai nominal, Fathur memang tidak memberitahu Nadya berapa jumlahnya. Namun nafkah pertama yang Fathur berikan adalah 20 juta. Jadi, nantinya setiap bulannya Fathur akan mengirim uang sebesar 20 juta sebagai nafkah untuk Nadya.
Nadya sendiri tidak pernah mengatakan apa-apa mengenai nominal nafkah yang Fathur berikan. Jadi Fathur pikir Nadya setuju dengan jumlahnya.
Flashback
"Ini..." Fathur memberikan sesuatu kepada Nadya.
"Apa ini Mas?"
"Kamu bisa lihat sendiri. Kenapa masih bertanya?" Ujar Fathur dengan nada yang terdengar sedikit ketus. Fathur masih belum bisa berbicara dengan Nadya menggunakan nada yang lebih baik dari ini. Entah kenapa, setiap Fathur berusaha untuk bersikap baik kepada Nadya, usaha itu selalu gagal. Fathur selalu merasakan amarah dalam dirinya setiap melihat Nadya.
"Emm buat apa Mas? Aku punya kartu ATM sendiri kok." Ujar Nadya.
"Selama kamu jadi istri saya, gunakan kartu ini untuk memenuhi keperluan kamu. Jangan sampai orang berpikir saya tidak memberikan nafkah kepada kamu." Setelah mengatakan itu Fathur kembali masuk ke kamarnya meninggalkan Nadya seorang diri di dapur.
Nadya menatap kartu yang Fathur berikan kepadanya.
"Aku saja tidak pernah memberikan hak Mas Fathur sebagai seorang suami. Jadi apa aku berhak menerima ini?" Ujar Nadya bergumam kepada dirinya sendiri.
Selama ini Nadya memiliki gaji yang lebih dari cukup hasil dari pekerjaannya sebagai seorang guru. Jadi, selama Nadya belum memberikan hak yang seharusnya Fathur dapatkan , Nadya bertekad untuk tidak akan menggunakan uang pemberian Fathur. Nadya akan merasa sangat bersalah kalau dia menggunakan uang itu. Dan yang membuat Nadya semakin tidak enak untuk menggunakan uang Fathur meskipun untuk belanja kebutuhan rumah adalah karena Fathur tidak pernah makan masakan di rumah ini.
Flashback off
"Gimana Nad? Nanti jadi kan temenin aku belanja bulanan?" Tanya Septi yang menghampiri meja Nadya.
Jam sekolah sudah selesai. Para murid dan guru pun kebanyakan sudah ada yang pulang. Hanya beberapa murid saja yang masih ada di sekolah untuk melakukan ekstra kulikuler bersama guru pembimbingnya.
"Jadi dong, aku juga mau belanja. Sebentar aku beresin meja dulu."
Septi tersenyum bahagia. Belanja bulanan menjadi sesuatu yang menyenangkan jika bersama dengan Nadya. Karena apa? Karena Nadya itu orangnya teliti. Jadi kalau ada yang kurang biasanya Nadya akan mengingatkan Septi.
Nadya dan Septi sudah sampai di salah satu pasar swalayan tempat mereka biasanya belanja bulanan. Saat kesini tadi, Nadya dan Septi membawa sepeda motor masing-masing.
"Oke, yang pertama kita cari apa dulu nih?" Tanya Septi kepada Nadya.
"Apa ya, enaknya peralatan mandi sama pelengkapan dapur kali ya. Nanti baru kita cari sayur dan yang lainnya." Ujar Nadya.
"Oke aku ikut kamu aja." Jawab Septi.
Nadya dan Septi berkeliling dari satu rak ke rak lainnya mencari barang yang mereka butuhkan. Kalau untuk perlengkapan dapur dan mandi, memang sekalian untuk stok sebulan kedepan. Sementara untuk sayur, buah dan daging biasanya hanya untuk 1 sampai 2 minggu. Dan yang paling penting untuk anak kos seperti Septi yakni makanan instan dan cemilan. Nadya, dia sudah tidak terlalu banyak membeli makanan instan karena sejak menikah setiap pagi selalu memasak. Meskipun Nadya tau pada akhirnya masakannya dia makan sendiri dan terkadang dia kirimkan ke rumah Mama Resti. Tapi tidak apa-apa, siapa tau mendadak Fathur mau makan masakannya.
Selesai berbelanja, Nadya dan Septi memutuskan untuk mampir ke salah satu warung ayam geprek, makanan andalan Nadya dan Septi saat masih menjadi mahasiswi dulu. Karena ayam geprek harganya sangat terjangkau, paket 15 ribu sudah dapat ayam, nasi, dan es teh.
"Ini ayam geprek dari jaman kita masih kuliah tetap enak banget rasanya. Udah gitu harganya tetap terjangkau. Kalau gini caranya gimana kita bisa berpaling dari ayam geprek ini. Iya nggak Nad." Ujar Septi.
Septi ini memang perempuan yang lebih ekspresif dibandingkan dengan Nadya. Mau sedih ataupun senang, semua akan tergambar jelas diwajah Septi. Sangat berbeda dengan Nadya yang lebih sering menyimpan perasaannya sendiri.
"Iya, semoga sampai nanti warung ayam geprek ini bisa bertahan ya. Biar anak-anak kita bisa ngerasain gimana enaknya ayam geprek disini." Jawab Nadya.
"Iya deh yang udah nikah, sekarang pembahasannya udah anak ajak. Apalah aku yang jomblo ini..." Septi kembali ngenes mengingat status jomblonya ini.
Nadya hanya meresponnya dengan tawa kecil saja. Padahal meskipun Nadya sudah menikah, sama sekali tidak pernah ada pembahasan mengenai anak diantara dirinya dan Fathur. Jangankan membahas anak, berbicara normal tanpa ada raut wajah tidak mengenakan dari Fathur saja tidak pernah.
"Nad, tanyain ke suami kamu dong. Siapa tau ada temennya yang jomblo yang mau nikah sama guru seni tari kaya aku." Ujar Nadya.
"Beneran enggak? Nanti aku tanyain nih." Jawab Nadya dengan senyum tipisnya.
"Beneran, tanyain ya...." Jawab Septi dengan semangat.
Sedang asik mengobrol, tiba-tiba seseorang menepuk bahu Nadya.
"Pak Andi..." Ujar Nadya saat melihat kehadiran guru olahraga di sekolah tempatnya mengajar ternyata ada disini.
"Eehh... Ada Pak Andi, sama siapa Pak?" Tanya Septi dengan ramah.
"Saya sendirian aja Bu Septi, kebetulan mampir kesini karena laper tadi belum makan siang. Ngomong-ngomong, saya boleh ikut gabung kan? Rasanya nggak enak kalau harus makan sendirian." Ujar Andi.
Nadya hanya diam karena dia tau Septi yang akan menjawabnya.
"Boleh Pak, boleh silahkan." Jawab Septi.
Andi menatap Nadya yang sedari tadi hanya diam.
"Saya boleh gabung kan Bu Nadya?"
"Boleh Pak, silahkan." Jawab Nadya seraya memperlihatkan senyum tipisnya.
Sekarang jadilah Andi ikut bergabung dengan Nadya dan Septi. Obrolan didominasi oleh Septi dan Andi, sementara Nadya lebih banyak diam dan hanya sesekali menimpali.
"Saya pamit ke kamar mandi dulu ya." Septi beranjak dari kursinya meninggalkan Nadya dan Andi berdua.
Setelah kepergian Septi, terjadi keheningan diantara Nadya dan Andi. Sampai akhirnya...
"Maafkan atas ucapan saya di kantor tadi Bu Nadya." Ujar Andi tiba-tiba.
Lagi-lagi Nadya tersenyum tipis. Meskipun sejujurnya dia tidak ingin membahas masalah ini.
"Tidak apa-apa Pak Andi. Saya tidak mengambil hati ucapan Pak Andi." Jawab Nadya.
"Saya benar-benar merasa bersalah. Meskipun saya memiliki perasaan kepada Bu Nadya, tidak seharusnya saya berbicara seperti itu sementara Bu Nadya sendiri sudah memiliki suami."
Nadya hanya diam karena dia tidak tau harus menjawab apa. Bingung, ya Nadya bingung harus merespon bagaimana.
Sementara Nadya dan Andi sedang terlihat obrolan tanpa adanya Septi karena gadis itu sedang ada di kamar mandi, dari dalam mobil seseorang sedang memperhatikan Nadya dan Andi dengan pandangan yang sulit untuk diartikan.
"Katanya belanja bulanan dengan Septi. Apa Septi sekarang berubah menjadi laki-laki? Dasar pembohong."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
stevani_29
wahy jadi laper,baca lagi puasa/Scowl/
2024-03-12
0
Alanna Th
mangkanya jd swami yg baik; temani istri blnj blnn
2024-01-31
0
Enung Samsiah
ya pk suami septi jd andi wkwkwk,,,,,,
2023-10-22
1