Sementara Nadya kembali melanjutkan tidurnya, Fathur keluar dari kamar Nadya menuju dapur untuk melihat apakah di dapur ada sesuatu yang bisa dimakan oleh Nadya atau tidak. Dan ternyata tidak Fathur temukan makanan, yang ada hanya bahan-bahan mentah saja, sementara Fathur tidak bisa memasak. Haruskah Fathur memberi Nadya buah saja? Tapi apakah boleh? Sementara Fathur tau kalau Nadya belum makan apa-apa.
Ditengah kebingungannya ini, tiba-tiba ponsel yang ada disaku celana Fathur berdering.
Rony
"Halo Ron, kenapa?" Tanya Fathur dengan suara datar seperti biasa.
"Kenapa? Lo tanya kenapa? Harusnya gue yang tanya kenapa lo belum sampai kantor juga?"
Fathur lupa kalau dia belum memberitahu Rony kalau hari ini dia akan mengambil cuti untuk merawat Nadya yang sedang sakit.
"Hari ini gue nggak masuk kantor. Tolong Lo handle semua kerjaan gue." Jawab Fathur santai.
"Lo nggak masuk? Kenapa lo? Meriang?"
"Enggak, bukan gue. Tapi Nadya yang sakit. Gue nggak bisa berangkat ke kantor sementara dia di rumah cuma sendirian. Nanti kalau ada yang penting lo kirim lewat e-mail aja. Atau kalau nggak suruh supir anter berkasnya ke rumah. Oke, gue tutup dulu." Tanpa menunggu jawaban dari Rony, Fathur langsung mematikan sambungan telefonnya.
Meski Fathur tidak menyukai Nadya apalagi mencintainya, tapi disaat Nadya sakit seperti ini, dia juga harus bertanggung jawab dengan merawat Nadya disaat wanita itu sedang sakit seperti ini. Biar bagaimanapun Nadya adalah istrinya dan dia adalah suami Nadya.
Mendadak Fathur ingat kalau tadi Nadya bilang dia belum minum obat. Jadi, Fathur memutuskan untuk keluar membeli bubur, sarapan untuknya, dan juga obat untuk Nadya tentunya.
Namun sebelum pergi Fathur menyempatkan diri untuk mengecek kondisi Nadya lagi. Memastikan kalau kondisi Nadya baik-baik saja. Dan ya, Nadya masih tidur bergelung dibawah selimutnya.
Tidak sampai 30 menit, Fathur sudah kembali membawa bubur dan obat untuk Nadya, juga sarapan untuk dirinya.
Fathur langsung menyalin bubur ke mangkok dan mengisi air putih kedalam gelas. Meletakkannya diatas nampan kemudian langsung naik ke lantai 2 menuju kamar Nadya. Fathur sendiri mengabaikan sarapan yang dia beli tergeletak begitu saja diatas meja. Yang terpenting untuk Fathur sekarang adalah memastikan Nadya untuk sarapan dan minum obat terlebih dahulu. Karena saat ini jam sudah menunjukkan pukul setengah 9.
Fathur sendiri sengaja tidak memberitahu Mama Resti mengenai kondisi Nadya yang saat ini sedang sakit. Entah karena apa, Fathur sendiri tidak tau alasannya. Padahal kalau saja Fathur memberitahu Mama Resti, dia tidak perlu repot-repot mengurus Nadya seperti ini sampai dia tidak masuk ke kantor. Karena pasti Mama Resti akan datang untuk membantunya mengurus Nadya.
Ceklekk....
Fathur membuka kamar Nadya, kemudian mendudukkan dirinya diatas ranjang samping Nadya.
"Nad... Bangun dulu." Panggil Fathur sembari menggoyang pelan tubuh Nadya.
Nadya membuka matanya, menatap Fathur dengan pandangan sayu. Dapat Fathur lihat betapa pucatnya wajah Nadya saat ini.
"Bangun dulu, saya sudah belikan sarapan sama obat." Ujar Fathur dengan nada datarnya seperti biasa.
"Nanti aja Mas, aku masih pengen tidur." Rasa pusing di kepala membuat Nadya ingin tetap memejamkan matanya.
"Enggak bisa, bangun sekarang. Saya suapi." Fathur menolak dengan tegas keinginan Nadya yang menolak untuk bangun.
Mau tidak mau akhirnya Nadya bangun meskipun saat ini kepalanya terasa sangat pusing. Nadya tidak ingin membuat Fathur semakin repot dengan penolakannya. Nadya cukup tau diri.
"Aku makan sendiri aja Mas." Ujar Nadya.
Fathur menggelengkan kepalanya.
"Saya saja yang suapi. Cepat buka mulutnya." Perintah Fathur dengan suara tegas.
Lagi-lagi Nadya hanya bisa menurut.
Suapan demi suapan masuk kedalam mulut Nadya. Selama Fathur menyuapi Nadya, sama sekali tidak ada pembicaraan diantara mereka berdua. Fathur menyuapi Nadya dengan wajahnya yang tetap datar. Nadya juga hanya menundukkan kepalanya sembari mengunyah buburnya.
"Udah Mas..." Nadya menolak suapan Fathur.
"Kenapa? Ini masih setengah lagi." Ujar Fathur.
"Aku mual, udah ya... Lagian perut aku udah kenyang." Jawab Nadya dengan menunjukkan wajah memohon kepada Fathur.
Kalau Fathur tetap memaksa Nadya untuk menghabiskan buburnya, mungkin bisa-bisa Nadya akan muntah. Karena memang perut Nadya sudah terasa mual.
Dan untungnya Fathur tidak memaksa Nadya untuk menghabiskan buburnya.
Dengan sigap Fathur memberikan air putih kepada Nadya. Kemudian memberikan beberapa obat yang sudah Fathur beli.
Nadya menerimanya, dengan segera dia meminum obat yang Fathur berikan.
"Mau tidur lagi atau gimana? Mau saya kupasin buah?" Tanya Fathur tetap dengan wajah dan suaranya yang datar.
Mungkin kalau ada orang yang melihat, mereka akan mengira kalau Fathur sangat mencintai Nadya. Meskipun wajah dan suaranya datar, tapi melihat bagaimana telatennya Fathur merawat Nadya sudah cukup untuk membuat orang lain tau kalau Fathur mencintai Nadya. Dan Fathur akan dengan keras menyangkal opini orang yang mengatakan kalau dia mencintai Nadya.
"Enggak usah Mas, makasih. Maaf ngerepotin." Jawab Nadya.
Lagi-lagi Nadya merasa kalau tidak seharusnya dia semakin merepotkan Fathur.
"Kalau tidak mau merepotkan saya, makanya cepat sembuh." Ujar Fathur.
Mungkin ucapan Fathur terdengar kejam. Tapi ditelinga Nadya sama sekali tidak. Nadya menganggap bahwa itu merupakan dukungan Fathur kepadanya untuk segera sembuh.
Nadya hanya tersenyum tipis sebagai jawaban.
"Ya sudah, tidur lagi. Nanti kalau butuh sesuatu kamu bisa panggil saya." Ujar Fathur masih dengan nada datarnya.
Setelah mengatakan itu, Fathur keluar dari kamar Nadya membawa mangkok dan gelas kotor bekas Nadya. Fathur sudah sangat lapar saat ini.
Sesampainya dibawah, Fathur langsung membuka bungkus sarapannya. Dan disaat sedang asik menikmati sarapan, tiba-tiba hujan turun. Padahal saat Fathur keluar rumah tadi langit terlihat cerah. Dengan segera Fathur beranjak dari kursinya dan lari ke kamar Nadya. Tadi Fathur membuka jendela kamar Nadya agar udara segar bisa masuk ke kamar. Dan sekarang Fathur harus segera menutupnya, khawatir Nadya akan kedinginan. Karena hujan cukup deras saat ini, bahkan angin pun juga cukup kencang.
Sesampainya di kamar Nadya, terlihat Nadya semakin menggulung tubuhnya dengan selimut. Sepertinya Nadya kedinginan. Dan mungkin karena rasa kantuk dan juga pusing yang dia rasakan, Nadya tidak sanggup bangun untuk sekedar menutup jendela kamarnya.
Dengan segera Fathur langsung menutup jendela kamar Nadya yang tadi pagi dia buka.
Fathur menatap kearah Nadya yang saat ini tidur dengan posisi miring membelakangi tempat Fathur berdiri saat ini.
Fathur tidak tau ada apa dengan dirinya saat ini. Fathur benar-benar tidak mengerti. Yang Fathur tau, dia mencemaskan kondisi Nadya saat ini. Apa itu berarti sekarang Fathur mulai peduli dengan Nadya? Atau semua ini Fathur rasakan hanya karena dia merasa memiliki tanggung jawab kepada Nadya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Bzaa
sudah mulai perhatian nih😊
2022-11-08
2
aniya_kim
AAAAAA Fathur sudah terlihat manis
2022-10-22
0
Andi Andriani
Batu emang 😄
2022-10-11
0