Menjelang sore, Fathur dan Nadya memutuskan untuk pulang. Fathur mengendarai mobilnya, sementara Nadya pulang dengan mengendarai sepeda motornya sendiri. Sebenarnya Nadya tidak masalah meninggalkan sepeda motornya di rumah Mama Resti kalau saja Fathur menawarinya untuk pulang bersama naik mobil laki-laki itu. Tapi pada kenyataannya Fathur sama sekali tidak menawari Nadya untuk pulang bersama. Fathur bahkan pulang lebih dulu dibandingkan Nadya.
Kebetulan sekali perjalanan dari rumah Mama Resti ke rumah yang Nadya tinggali melewati taman kota. Dan sekarang, di jam setengah 4 ini taman kota sangatlah ramai. Mungkin karena hari ini Sabtu dan besok juga Minggu, jadi banyak anak-anak dan orang dewasa yang sedang libur dari aktivitas week daya mereka. Jadi banyak yang datang ke taman untuk sekedar bermain dan bersantai. Apalagi disini juga banyak penjual jajanan street food seperti batagor, siomay, cilok, cimol, cireng, crepes dan masih banyak lainnya. Dan itu membuat Nadya tertarik hingga akhirnya Nadya memutuskan untuk berhenti disana.
Nadya sendiri tergiur saat melihat cimol dan akhirnya memutuskan untuk membelinya. Bulatan cimol yang bertabur bumbu bubuk benar-benar menggugah selera Nadya. Selain membeli cimol, Nadya juga membeli capuccino cincau sebagai minuman penghilang hausnya.
Nadya berjalan menuju area kolam ikan kemudian duduk dikursi besi yang ada disana. Sembari menikmati cimolnya, Nadya juga menikmati pemandangan dari ikan-ikan yang berenang kesana-kemari. Di sekeliling Nadya, banyak juga orang-orang yang sedang menghabiskan waktu sorenya dengan melakukan joging. Entah kenapa hanya dengan melihat pemandangan ini, Nadya merasa sangat tenang disini.
Sesampainya di rumah, Fathur langsung memasukkan mobilnya ke dalam garasi karena dia merasa tidak perlu kemana-mana lagi setelah ini.
"Huft..." Fathur menghela nafas kasar setelah mendudukkan dirinya di ruang keluarga.
Fathur terdiam menatap ke sekeliling. Dan Fathur sadar kalau suasana rumahnya sangat sepi. Yang Fathur lihat hanya dinding yang polos. Rumah ini terlihat sangat simpel dan minimalis, tidak ada pajangan atau apapun itu yang tertempel di dinding ataupun tertata di meja.
Tiba-tiba Fathur sadar kalau tidak ada yang berubah sedikitpun dari tatanan furniture dan susunan barang di rumah ini. Dan, Fathur juga sadar kalau rumah ini seperti rumah yang hanya ditinggali oleh laki-laki, maskulin tanpa adanya sentuhan feminim sedikitpun. Apalagi rumah ini menggunakan konsep putih dan abu-abu yang semakin mempertegas konsep maskulinnya.
"Apa Nadya nggak suka bunga atau semacamnya? Kenapa rumah ini polos banget. Biasanya perempuan suka dekor dan hias rumah pakai tanaman dan bunga-bungaan." Ujar Fathur berbicara kepada dirinya sendiri.
Setelah mengatakan itu barulah Fathur tersadar akan Nadya. Kenapa setelah 15 menit dirinya sampai rumah, Nadya belum sampai juga? Tadi Fathur melihat dengan jelas kalau Nadya ada di belakangnya mengendarai sepeda motornya. Tapi kenapa sampai sekarang belum sampai juga? Dan entah karena apa, mendadak Fathur merasa khawatir.
Dengan segera Fathur mengambil ponselnya dan menghubungi Nadya. Tapi yang menjawab justru operator yang mengatakan kalau nomor Nadya sedang tidak aktif.
Karena setelah beberapa kali mencoba dan tetap tidak mendapatkan jawaban, akhirnya Fathur memilih untuk menghubungi rumah Mama Resti dengan menelfon Nabila.
Tutt... Tutt...
"Assalamualaikum, halo Mas, Ada apa? tumben telfon?" Ujar Nabila heran. Belum juga 30 menit Fathur pergi dari rumah, sekarang sudah telfon aja.
"Nadya masih disana nggak Nab?" Tanya Fathur.
"Enggak, kan tadi udah pulang bawa motor ngikutin Mas Fathur dari belakang. Kenapa emangnya? Mbak Nadya belum sampai rumah? Mampir ke supermarket kali Mas." Jawab Nabila.
"Iya mungkin, ya udah telfonnya Mas tutup ya."
Setelahnya Fathur langsung mematikan sambungan telefonnya dengan Nabila.
"Iya, mungkin Nadya ke supermarket." Ujar Fathur kepada dirinya sendiri. "Tunggu-tunggu, kenapa aku malah khawatir begini sama Nadya? Biasanya Nadya pergi kemanapun juga aku nggak pernah peduli kan? Lagi pula emangnya Nadya mau pergi kemana kan? Enggak mungkin juga Nadya kenapa-napa, jarak rumah Mama ke sini kan deket." Ujar Fathur.
Setelah mengatakan itu kepada dirinya sendiri, Fathur langsung beranjak dari sofa dan naik ke atas masuk ke kamarnya. Fathur merasa tubuhnya harus disegarkan agar tidak memikirkan hal yang tidak penting seperti memikirkan Nadya.
Selesai mandi dan memakai bajunya, Fathur duduk di sofa yang ada di kamarnya. Meskipun sudah mandi, tapi otak Fathur masih tetap memikirkan Nadya. Fathur semakin cemas karena Nadya tidak kunjung pulang
"Apa jangan-jangan emang terjadi sesuatu sama Nadya?" Ujar Fathur bergumam seorang diri.
Akhirnya Fathur mengambil kunci motor sportnya. Fathur merasa kalau dia harus mencari Nadya sekarang juga. Fathur khawatir kalau ternyata memang benar telah terjadi sesuatu kepada Nadya. Pasalnya sudah lebih dari satu jam Nadya belum pulang juga.
Baru saja Fathur membuka pintu garasinya, gerakan Fathur terhenti saat mendapati seorang wanita dengan sepeda motor maticnya masuk ke area rumah. Ya benar, wanita itu adalah Nadya.
Nadya memberhentikan sepeda motornya tepat didepan garasi.
"Mau kemana Mas?" Tanya Nadya dengan santai. Nadya sepertinya tidak menyadari raut wajah Fathur yang seperti sedang menahan marah dan juga lega secara bersamaan.
"Darimana kamu?" Tanya Fathur dengan suara datar.
"Aku? Aku dari taman kota Mas. Tadi disana rame, jadi aku mampir sebentar." Jawab Nadya.
Fathur menghela nafas kasar, setelah itu tanpa mengatakan apa-apa dia berlalu begitu saja meninggalkan Nadya yang masih terdiam bingung didepan pintu garasi.
"Mas Fathur kenapa?" Tanya Nadya kepada dirinya sendiri.
Tidak mau ambil pusing, Nadya langsung masuk begitu saja ke rumah. Tubuhnya sudah terasa lengket dan dia butuh mandi sekarang juga.
"Lo nggak seharusnya peduliin dia Fathur. Lagian dia juga udah dewasa. Kenapa juga lo harus khawatir cuma gara-gara dia telat pulang 1 jam? Nggak usah sok bersikap seperti suami yang menghawatirkan istrinya. Lo nggak boleh jilat ludah lo sendiri."
Sejak Nadya pulang, Fathur masuk ke kamarnya dan langsung memaki dirinya sendiri. Fathur merasa tidak seharusnya dia khawatir secara berlebihan kepada Nadya seperti tadi.
Tadi itu Fathur seperti kehilangan jati dirinya sendiri. Bagaimana bisa dia hampir lepas kontrol seperti itu hanya karena masalah sepele?
Fathur mengusap wajahnya dengan gerakan kasar. Fathur sadar ada sesuatu yang berbeda dalam dirinya mengenai bagaimana dia memandang Nadya.
Namun, karena pada dasarnya Fathur adalah manusia yang cukup kerasa kepala, Fathur tetap meyakinkan dirinya kalau apa yang terjadi pada dirinya mengenai Nadya bukan apa-apa. Fathur yakin kalau dia masihlah Fathur yang membenci Nadya. Dan Fathur masih belum bisa menganggap Nadya sebagai istrinya.
Meskipun begitu, sejauh ini Fathur tidak pernah memiliki pikiran kalau dia akan berpisah dengan Nadya.
Bukankah Fathur aneh? Tidak mau mengganggap Nadya sebagai istrinya, tapi juga tidak mau melepaskan Nadya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Happyy
😚😚😚
2023-10-09
0
Dia Jeng
peduli tanda cinta ferguso
2022-12-27
0
aniya_kim
Hhm jd pengen ke taman minggu besok 😌😌
2022-10-25
0