Setelah Nadya sembuh dari sakitnya, kini hubungan Nadya dan Fathur kembali dingin seperti sebelumnya. Sekarang jangankan menyuapi Nadya, sekedar menyapa Nadya bahkan tidak pernah Fathur lakukan. Fathur kembali memasang jarak antara dirinya dengan Nadya. Padahal Nadya pikir setelah kejadian sakitnya beberapa hari yang lalu, hubungan antara dirinya dan Fathur akan menjadi lebih baik. Tapi nyatanya tidak, harapan Nadya terlalu tinggi untuk hal itu.
Nadya menghela nafas pelan memikirkan hal itu. Entah apa yang harus Nadya lakukan agar hubungan dirinya dan Fathur bisa membaik. Walaupun nantinya tidak seperti keinginan Nadya yang ingin memiliki hubungan seperti sepasang suami istri pada umumnya. Nadya tidak masalah walaupun setidaknya mereka hanya sekedar bisa mengobrol seperti layaknya seorang teman. Bagi Nadya, itu sudah lebih dari cukup.
"Bu... Bu Nadya..."
Panggilan dari seseorang menyadarkan Nadya dari lamunannya.
"Eehh, iya, ada apa Val?" Tanya Nadya kepada Noval, salah satu muridnya di kelas 12 IPS yang sedang dia ajar.
"Saya mau izin mau ke toilet Bu." Jawab Noval.
Nadya menganggukkan kepalanya.
"Iya silahkan, tapi jangan lama-lama ya." Ujar Nadya.
"Oke, siapp Ibu Nadya cantik." Jawab Noval yang tentunya langsung mendapat sorakan dari murid yang lain. Sudah bukan rahasia lagi kalau Noval adalah salah satu murid yang menyukai Nadya. Dan tanpa Nadya tau, Noval sangatlah patah hati saat mendengar kalau guru cantik yang dia suka akan menikah. Kalau dikatakan suka, sebenarnya bisa dibilang malah lebih dari itu. Noval bahkan sudah berangan-angan kalau setelah lulus sekolah dia akan langsung bekerja sembari kuliah. Hal ini agar dia bisa memiliki penghasilan untuk melamar Nadya nanti. Rentang usia yang berjarak 7 tahun sama sekali tidak menyurutkan rasa suka Noval kepada Nadya. Tapi sekarang, mau bagaimana lagi, sepertinya angan-angan Noval itu harus dipupus, karena sudah tidak ada lagi kesempatan untuk dirinya. Tidak mungkin kan Noval merebut Nadya dari suaminya?
Dan sejak Nadya menikah, Noval dengan berat mencoba untuk sedikit demi sedikit menghilangkan perasaannya kepada Nadya.
Setelah jam sekolah selesai, Nadya memutuskan untuk langsung pulang. Tapi bukan langsung pulang ke rumahnya, melainkan pulang ke rumah Mama Resti. Nadya sendiri sudah 2 hari tidak ke rumah Mama Resti, hal ini karena dia ada tambahan jam untuk mengajar les anak-anak kelas 12 dalam rangka mempersiapkan ujian nasional.
"Assalamualaikum..." Nadya langsung masuk kedalam rumah Mama Resti begitu sampai.
"Wa'alaikumsalam..." Terdengar jawaban salam. Tapi itu bukan suara Mama Resti, melainkan suara Nabila. "Eehh Mbak Nadya... Udah lama kita nggak ketemu." Nabila langsung menghampiri Nadya dan mencium tangan istri kakak sepupunya itu.
Lama yang Nabila maksud padahal tidak sampai 1 minggu lamanya.
"Iya, abis kamunya sibuk banget sih. Padahal Mbak sering kesini loh kalau abis ngajar." Jawab Nadya.
"Ya gimana ya, aku kelas siang terus. Jadi tiap hari pulangnya sore, kadang sampai Maghrib malah." Ujar Nabila. Maklum saja, Nabila adalah mahasiswi semester 7 yang sudah mulai menyiapkan skripsi. "Ehh, Mbak Nadya bawa apa nih." Tatapan Nabila teralih kearah kantung yang ada ditangan Nadya.
"Donat, tadi Mbak lewat toko roti, terus kepikiran kalau Mama sama kamu suka donat kan? Jadi ya udah akhirnya Mbak beli." Jawab Nadya.
"Waoww... Mbak emang yang terbaik pokoknya. Nggak kaya Mas Fathur, dia mah kalau pulang boro-boro bawa makanan kalau enggak dipesenin." Nabila langsung sumringah saat tau Nadya membeli donat. Sebagai informasi, bahwa Nabila dan Mama Resti itu memiliki kesukaan kue yang sama, yaitu donat.
Nabila langsung meraih kantung berisi donat yang ada ditangan Nadya. Meski baru beberapa bulan mereka saling mengenal, tapi Nadya dan Nabila sudah sangat akrab dan dekat. Nadya yang pada dasarnya memiliki banyak adik di panti asuhan, membuat dirinya menjadi lebih mudah mendekatkan diri kepada Nabila yang sebenarnya memiliki pribadi agak sedikit tertutup.
Kini Nadya dan Nabila duduk dimeja makan.
"Ngomong-ngomong Mama kemana Nab?" Tanya Nadya kepada Nabila.
"Bude tadi keluar, katanya ada arisan. Mungkin bentar lagi pulang Mbak, soalnya udah pergi lama juga." Jawab Nabila. Mama Resti memang keturunan Jawa, jadi beliau meminta para ponakan yang merupakan anak dari adik-adik iparnya memanggilnya bude.
Nadya menganggukkan kepalanya.
Sembari menunggu Mama Resti pulang, Nadya dan Nabila bersama-sama menikmati donat. Nadya sendiri tadi membeli 3 box donat karena memang disini ada banyak orang. Satu box Nadya berikan untuk ART, satu box untuk Mama Resti, dan satu box lagi untuk dirinya dan Nabila. Dan sebenarnya, satu box donat yang dia dan Nabila makan ini Nadya beli untuk Fathur, tapi setelah Nadya pikir, percuma juga Nadya membawa pulang ke rumah, karena Fathur pasti tidak akan memakannya.
Sedang asik Nadya dan Nabila menikmati donat, tiba-tiba seseorang datang.
"Mas Fathur..." Nadya dengan suara lirih tanpa sadar memanggil Fathur.
Benar, yang datang adalah Fathur.
Fathur sendiri juga sedikit terkejut melihat keberadaan Nadya di rumah Mama Resti. Karena Fathur tadi tidak melihat sepeda motor Nadya di halaman.
"Kamu disini?" Tanya Fathur dengan suara datar.
"Mas Fathur tuh kebiasaan kalau masuk rumah nggak salam. Salam dulu kenapa sih." Ujar Nabila kepada Fathur. Yang langsung membuat perhatian Fathur beralih dari Nadya ke Nabila.
Fathur tersenyum kearah Nabila. Senyum yang sangat jarang dilihat Nadya jika mereka hanya berdua di rumah.
"Mas udah salam Nab, kamu aja yang nggak denger." Jawab Fathur dengan lembut.
Sebagai seorang anak tunggal, Fathur sejak dulu sangat mendambakan seorang adik. Namun takdirnya tetaplah seorang menjadi seorang anak tunggal. Karena sampai Papanya meninggal, orang tuanya itu hanya memiliki anak dirinya saja. Dan itu membuat Fathur sangat menyayangi Nabila. Apalagi diantara 4 sepupunya yang lain, Nabila adalah perempuan satu-satunya. Fathur dan 4 sepupunya yang lain sangat menyayangi dan menjaga Nabila. Nabila seolah menjadi emas yang sangat dijaga dan dilindungi oleh semua anggota keluarga mereka.
"Bohong banget, orang jarak pintu sama tempat aku dan Mbak Nadya duduk aja nggak jauh, mana ada nggak denger. Emang Mas Fathur aja yang nggak ngucapin salam." Ujar Nabila menyangkal alasan Fathur.
"Iya iya, maaf. Emang Mas yang lupa nggak ngucapin salam." Jawab Fathur mengalah. Suara Fathur tetap lembut seperti tadi. Sangat berbeda jika Fathur berbicara dengan Nadya, hanya nada dingin dan datar saja yang dia gunakan.
Kini Nadya hanya bisa meringis kecil. Kalau boleh jujur, sebenarnya Nadya iri dengan Nabila. Nadya juga ingin Fathur berbicara dengannya dengan nada lembut seperti Fathur berbicara dengan Nabila.
Tapi... Tidak apa-apa, Nadya yakin suatu saat nanti pasti akan ada waktunya Fathur berbicara dengan nada lembut kepada dirinya. Ya, Nadya sangat yakin.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Bzaa
semoga babang Fatur, cepat jdi bucin😄
2022-11-08
4
aniya_kim
Hhm
2022-10-22
0
Kenzi Kenzi
semangat nad,......menamti kpan itu tiba
2022-09-23
1