Nadya sakit

Nadya terbangun dari tidurnya karena rasa dingin yang dia rasakan. Selain merasa kedinginan, Nadya juga merasa kepalanya pusing, bahkan suhu tubuhnya juga meningkat. Nadya sadar kalau sepertinya dia mengalami demam.

"Jangan sakit Nadya, jangan sakit." Nadya bergumam kepada dirinya dengan mata yang tetap terpejam.

Ya, Nadya tidak boleh sakit. Saat ini dia di rumah hanya bersama Fathur, dan Nadya tidak ingin membuat repot laki-laki itu. Karena yang ada nanti justru membuat Fathur semakin membenci dirinya. Nadya tidak ingin itu terjadi.

Dengan tenaga yang masih sedikit tersisa, Nadya memilih untuk bangun dari posisi berbaringnya menjadi duduk. Nadya memijat kepalanya agar rasa pusingnya sedikit mereda.

Setelah dirasa pusing di kepalanya sudah agak berkurang, Nadya beranjak dari ranjang dan keluar kamar untuk mencari obat penurun demam. Dengan tertatih, Nadya berjalan menyusuri tembok menuju tempat penyimpanan obat yang untung saja disimpan di lantai 2. Kalau disimpan di lantai bawah, mungkin Nadya tidak akan sanggup untuk turun mengambilnya.

Baru saja Nadya berjalan tidak jauh dari kamarnya, tiba-tiba pintu dari salah satu kamar terbuka. Fathur, laki-laki itu keluar dari kamarnya karena merasa haus. Biasanya Fathur sudah membawa air minum ke kamarnya untuk persediaan kalau tengah malam dia bangun dan ingin minum. Tapi semalam Fathur memang lupa membawa air minum ke kamar.

"Lagi ngapain kamu?" Tanya suara datar yang membuat Nadya sedikit terkejut.

Rasa pusing di kepalanya semakin bertambah karena baru saja terkejut.

"Cari obat, Mas." Jawab Nadya dengan suara parau. Nadya tidak menjelaskan secara rinci obat apa yang dia butuhkan.

Fathur menatap Nadya dengan pandangan yang sulit untuk diartikan. Namun tidak mengatakan apa-apa, karena setelahnya Fathur meninggalkan Nadya begitu saja turun ke lantai satu.

Nadya sendiri tidak terlalu peduli, dia hanya ingin segera menemukan obatnya dan kembali melanjutkan tidurnya berharap besok rasa pusingnya sudah hilang dan demamnya juga turun.

Namun setelah mencari-cari, ternyata obat yang Nadya butuhkan tidak ada, yang ada hanya obat batuk dan obat pereda nyeri untuk datang bulan. Ya sudah mau bagaimana lagi, Nadya juga tidak mungkin minum obat itu kan? Jadi Nadya memutuskan untuk kembali ke kamarnya karena obat yang dia butuhkan tidak ada.

"Obat? Nadya cari obat apa ya?" Fathur bergumam sendiri.

Sebenarnya tadi Fathur mau menanyakannya, tapi dia urungkan. Karena Fathur tidak ingin terlihat seolah dia peduli kepada Nadya. Padahal dengan Fathur penasaran saja sudah menunjukkan kalau laki-laki itu sebenarnya memang peduli.

Tidak adanya cukup cahaya membuat Fathur tidak bisa melihat wajah Nadya dengan jelas. Jadi Fathur tidak bisa menebak kira-kira Nadya sakit apa.

Dan saat Fathur naik ke lantai atas, dia sudah tidak mendapati Nadya disana. Sepertinya Nadya sudah masuk ke kamarnya.

Fathur berjalan menuju lemari tempat dimana kotak obat disimpan, disana hanya ada obat batuk dan obat yang Fathur tau merupakan pereda nyeri untuk haid. Darimana Fathur tau mengenai obat khusus perempuan itu? Ya dari keterangan dalam bungkusnya, Fathur sudah pernah membacanya karena obat itu memang ada di dalam kotak obat sejak dia menikah dengan Nadya. Terlihat ada satu yang sudah kosong. Membuat Fathur menyimpulkan bahwa Nadya sedang mengalami nyeri haid.

Setelahnya Fathur juga kembali ke kamarnya untuk melanjutkan tidurnya lagi. Masih jam setengah 2 dini hari, masih ada beberapa jam lagi untuk dirinya tidur sampai subuh nanti.

Fathur turun ke lantai satu dengan pakaian yang sudah rapi karena dia akan berangkat ke kantor. Namun saat Fathur melewati dapur, dia merasa ada yang aneh. Selama hampir 2 bulan dia menikah dengan Nadya, setiap pagi Fathur selalu mendapati Nadya memasak di dapur. Tapi pagi ini Nadya tidak terlihat sama sekali.

Mendadak ingatan Fathur kembali ke kejadian semalam saat Nadya mengatakan kalau istrinya itu sedang mencari obat.

Istrinya? Ehmm, memang benar kan kalau status Nadya adalah istrinya? Oke, lupakan pembahasan ini.

Dengan segera Fathur kembali naik lantai atas. Fathur merasa kalau dia harus memastikan sendiri keadaan Nadya. Jangan-jangan Nadya sakit bukan karena nyeri datang bulan yang seperti dia pikirkan.

Tok... Tok... Tok...

"Nad... Nadya... Buka pintunya..." Fathur mengetuk pintu kamar Nadya sembari memanggil nama gadis itu.

Tidak ada sahutan dari dalam kamar Nadya. Dengan ragu, Fathur mencoba untuk membuka pintu kamar Nadya, memastikan apakah dikunci atau tidak. Tapi ternyata sama sekali tidak di kunci, saat ini pintu kamar Nadya sudah terbuka.

Kamar Nadya saat ini masih gelap.

"Nadya..." Fathur memanggil Nadya sekali lagi.

Fathur mencari tombol saklar untuk menyalakan lampu kamar Nadya. Dan begitu lampu kamar menyala... Fathur langsung mendapati Nadya yang masih bergelung dibawah selimutnya dengan mata yang terpejam.

Dengan cepat Fathur langsung menghampiri Nadya. Telapak tangannya langsung menyentuh dahi Nadya untuk mengecek suhu gadis itu.

Panas... Ya, Fathur merasakan dahi Nadya yang terasa panas di telapak tangannya. Ternyata Nadya demam.

"Heyy... Nad, buka mata kamu. Kamu nggak pingsan kan?" Fathur menepuk-nepuk dengan pelan pipi Nadya agar gadis itu membuka matanya. Meski sebenarnya Fathur khawatir dengan keadaan Nadya, tapi Fathur mencoba untuk tetap tenang.

Dengan perlahan Nadya membuka matanya.

"Pusing..." Gumam Nadya dengan suara lirih.

"Semalem udah minum obat kan?" Tanya Fathur memastikan. Dan ternyata dijawab dengan gelengan pelan oleh Nadya.

"Enggak ada obat." Ujar Nadya yang kembali memejamkan matanya.

Fathur menghela nafas pelan. Sampai akhirnya pada keputusan untuk lebih baik membawa Nadya ke rumah sakit saja agar lebih cepat mendapat penanganan.

"Kita ke Dokter aja sekarang." Ujar Fathur.

"Enggak usah Mas, aku cuma butuh istirahat aja." Jawab Nadya dengan suara lirih.

Jika Nadya menolak, Fathur juga tidak bisa memaksanya. Fathur...

"Mas..." Nadya memanggil nama Fathur.

"Hemm..."

"Tolong WA.in Septi kalau hari ini aku izin sakit enggak bisa berangkat ngajar. HPnya di meja, pin nya 1202. Sama tolong kasih tau tugas buat anak-anak ada di laci aku." Ujar Nadya masih dengan suaranya yang lemah. Nadya memang selalu memiliki tugas cadangan untuk berjaga-jaga jika tiba-tiba dia berhalangan hadir. Hal ini agar setidaknya muridnya memiliki tugas meskipun dia tidak masuk. Setelah mengatakan itu Nadya memejamkan matanya lagi, saat ini dia benar-benar sedang butuh tidur agar rasa pusing di kepalanya tidak lagi terasa.

Fathur dengan ragu mengambil ponsel milik Nadya. Untuk pertama kalinya Fathur memegang ponsel Nadya dan akan membukanya.

Ting...

Ponsel Nadya sudah terbuka. Fathur langsung menekan icon WA di ponsel Nadya. Ada beberapa pesan masuk yang sepertinya belum sempat Nadya baca. Namun Fathur memilih untuk mengabaikan itu. Meskipun sebenarnya ada pesan dari salah satu kontak yang membuat Fathur penasaran ingin membacanya. Nadya memang memberinya hak untuk membuka ponsel miliknya, tapi bukan berarti Fathur boleh lancang membukanya kan?

Langsung saja Fathur mengirimkan pesan kepada Septi seperti yang Nadya minta.

^^^to: Septi Tariana^^^

^^^Bu Septi, hari ini Nadya tidak bisa berangkat karena sakit. Untuk tugas, ada di laci meja Nadya.^^^

Singkat, padat, dan jelas tentunya.

Terpopuler

Comments

Alanna Th

Alanna Th

tanpa ucapan trima ksh

2024-01-31

0

aniya_kim

aniya_kim

Hhm

2022-10-22

0

Ghaniyyah Pangestika

Ghaniyyah Pangestika

sebenarnya obat pereda menstruasi msh bisa kok Thor u/diminum ketika qta demam krn ada kandungan paracetamol di dlmx....yaa lumayan u/jd pertolongan pertama spy demamnya bs agak reda🙏🙏🙏

2022-10-04

4

lihat semua
Episodes
1 Sah & Luka
2 Pengabaian Fathur
3 Gue suka istri lo!
4 Pernyataan laki-laki lain
5 Salah paham
6 Tidak ingin melepas
7 Nadya sakit
8 Mengurus Nadya
9 Mengurus Nadya (2)
10 Nadya juga ingin!
11 Mau aku masakin Mas?
12 Fathur Kepo
13 Bertatap
14 Sebuah kemajuan?
15 Menghawatirkan Nadya
16 Makan malam berdua
17 Kapan ceraikan Nadya?
18 Fakta baru!
19 Rencana ke panti
20 Akhirnya datang
21 Interaksi dengan anak-anak
22 Sepeda motor vs Mobil
23 Menurunkan gengsi
24 Cemburu?
25 Modus?
26 Fathur Kepo!
27 Kalian tim mana?
28 Fathur membuat kehebohan
29 Berbangga diri
30 Tidak sama
31 Menjemput Nadya
32 Mulai posesif
33 Ada apa?
34 Nadya menyerah!
35 Pernyataan cinta!
36 Tidak ingin jauh
37 Kanebo meresahkan
38 Fathur si kanebo licik
39 Membawa Nadya ke kantor
40 Merasa tidak pantas
41 Aku memang cemburu!
42 Belanja bersama
43 Otak kotor
44 Fathur bertanya
45 Fathur si manja
46 Berebut Nadya
47 Mau anak!
48 Pagi yang indah
49 Akal bulus Fathur
50 Penyesalan mantan
51 Surprise untuk Nadya
52 Sambel terasi
53 Daun kemangi
54 Bertemu Elisa lagi
55 Nadya menghilang
56 Menenangkan diri
57 Menyusul Nadya
58 Sensitif
59 Fathur bau
60 Benarkah hamil?
61 Minyak telon
62 Misi membeli testpack
63 Fiks, Hamil
64 Surprise yang gagal
65 Daddy dan Mama
66 Masih belum menyerah?
67 Memeriksakan kandungan
68 Memberitahu Mama Resti & Nabila
69 Si mesum Fathur
70 Ketiduran
71 Ikut ke kantor
72 Ngidam es krim
73 Ganteng siapa?
74 Kebersamaan
75 Bumil mood swing
76 Restoran Padang
77 Nasi Padang belum selesai
78 Telur setengah mateng
79 Tips Kontraksi
80 It's a boy
81 Baby Abi (End)
82 Karya baru...
83 Extra part 1
84 Extra Part 2
Episodes

Updated 84 Episodes

1
Sah & Luka
2
Pengabaian Fathur
3
Gue suka istri lo!
4
Pernyataan laki-laki lain
5
Salah paham
6
Tidak ingin melepas
7
Nadya sakit
8
Mengurus Nadya
9
Mengurus Nadya (2)
10
Nadya juga ingin!
11
Mau aku masakin Mas?
12
Fathur Kepo
13
Bertatap
14
Sebuah kemajuan?
15
Menghawatirkan Nadya
16
Makan malam berdua
17
Kapan ceraikan Nadya?
18
Fakta baru!
19
Rencana ke panti
20
Akhirnya datang
21
Interaksi dengan anak-anak
22
Sepeda motor vs Mobil
23
Menurunkan gengsi
24
Cemburu?
25
Modus?
26
Fathur Kepo!
27
Kalian tim mana?
28
Fathur membuat kehebohan
29
Berbangga diri
30
Tidak sama
31
Menjemput Nadya
32
Mulai posesif
33
Ada apa?
34
Nadya menyerah!
35
Pernyataan cinta!
36
Tidak ingin jauh
37
Kanebo meresahkan
38
Fathur si kanebo licik
39
Membawa Nadya ke kantor
40
Merasa tidak pantas
41
Aku memang cemburu!
42
Belanja bersama
43
Otak kotor
44
Fathur bertanya
45
Fathur si manja
46
Berebut Nadya
47
Mau anak!
48
Pagi yang indah
49
Akal bulus Fathur
50
Penyesalan mantan
51
Surprise untuk Nadya
52
Sambel terasi
53
Daun kemangi
54
Bertemu Elisa lagi
55
Nadya menghilang
56
Menenangkan diri
57
Menyusul Nadya
58
Sensitif
59
Fathur bau
60
Benarkah hamil?
61
Minyak telon
62
Misi membeli testpack
63
Fiks, Hamil
64
Surprise yang gagal
65
Daddy dan Mama
66
Masih belum menyerah?
67
Memeriksakan kandungan
68
Memberitahu Mama Resti & Nabila
69
Si mesum Fathur
70
Ketiduran
71
Ikut ke kantor
72
Ngidam es krim
73
Ganteng siapa?
74
Kebersamaan
75
Bumil mood swing
76
Restoran Padang
77
Nasi Padang belum selesai
78
Telur setengah mateng
79
Tips Kontraksi
80
It's a boy
81
Baby Abi (End)
82
Karya baru...
83
Extra part 1
84
Extra Part 2

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!