Nadya pulang ke rumah saat jam sudah menunjukkan pukul 4 sore. Saat Nadya pulang, dia mendapati mobil Fathur sudah terparkir di garasi.
"Tumben banget jam segini Mas Fathur udah pulang." Ujar Nadya berbicara dalam hati. Jujur Nadya senang Fathur pulang disaat hari masih sore seperti ini. Karena biasanya Fathur pulang ke rumah selalu lewat jam 9 malam. Dan biasanya Nadya akan menunggu sampai Fathur pulang. Meski Fathur tidak tau, tapi di kamar, Nadya tidak pernah tidur lebih dulu jika Fathur belum pulang ke rumah.
"Assalamualaikum..." Nadya masuk ke rumah sembari mengucapkan salam.
"Wa'alaikumsalam." Meski dengan nada suaranya yang datar, tapi Fathur tetap menjawab salam Nadya. Sebenci-bencinya Fathur kepada Nadya, tidak mungkin dirinya sampai menolak hanya sekedar untuk menjawab salam. Bukankah itu akan berlebihan jika salam Nadya sampai tidak Fathur jawab?
Begitu masuk kedalam rumah, Nadya mendapati Fathur yang sedang duduk di ruang tengah sembari menonton TV. Melihat itu Nadya tersenyum, senang rasanya bisa melihat Fathur duduk disana di sore har seperti ini.
"Mas Fathur udah pulang dari tadi?" Tanya Nadya membuka pembicaraan.
"Heemm..." Hanya deheman singkat yang Fathur berikan sebagai jawaban.
"Mas udah makan? Mau aku masakin apa? Aku udah belanja banyak nih. Aku sholat dulu, abis itu aku masakin buat Mas Fathur." Ujar Nadya dengan semangat. Berharap Fathur mengatakan iya. Tapi nyatanya keinginan sederhana Nadya itu tetap tidak terkabul. Karena dengan suara datarnya Fathur menjawab...
"Tidak perlu, saya bisa beli nanti." Jawab Fathur yang bahkan sama sekali tidak menatap ke arah Nadya sejak tadi.
Mendengar itu, Nadya hanya bisa tersenyum tipis dengan hati yang terasa perih. Lagi-lagi usaha Nadya mendapatkan penolakan dari Fathur. Memang penolakan seperti ini sudah biasa Nadya dapatkan, tapi rasanya tetap saja sakit.
"Ya udah, kalau gitu aku ke kamar dulu Mas. Mau bersih-bersih sama sholat asar dulu." Ujar Nadya berpamitan.
Namun sebelum benar-benar ke kamar, Nadya akan ke dapur dulu untuk menyimpan barang-barang belanjaannya. Tapi, baru beberapa langkah Nadya berjalan, ucapan Fathur membuat langkah Nadya terhenti.
"Tadi kamu pergi sama siapa?"
Nadya membalikkan tubuhnya.
"Aku sama Septi, Mas." Jawab Nadya. Meski sebenarnya Nadya bingung kenapa Fathur bertanya seperti itu. Bukankah dalam pesan yang Nadya kirimkan siang tadi dia sudah mengatakan kalau akan pergi belanja dengan Septi?
"Pembohong..." Gumam Fathur yang masih dapat Nadya dengar.
Nadya mengerutkan dahinya.
"Aku enggak bohong Mas, aku memang pergi sama Septi. Demi Allah." Ujar Nadya.
Kenapa bisa-bisanya Fathur menuduh dirinya berbohong? Nadya sama sekali tidak bohong. Dia memang pergi belanja bulanan bersama dengan Septi.
"Tapi yang saya lihat bukan seperti yang kamu katakan. Kamu pergi sama laki-laki lain kan? Ngaku ajalah. Saya juga nggak peduli. Cuma satu hal yang perlu kamu ingat, status kamu sekarang adalah istri saya. Tolong jaga kehormatan saya sebagai seorang suami. Kamu nggak mikirin gimana pandangan orang lain kepada saya karena istri saya makan berduaan saja dengan laki-laki lain? Kalau status kamu bukan istri saya, saya juga enggak akan peduli kamu mau pergi atau makan sama siapa. Masalahnya kamu terikat dengan saya." Ujar Fathur dengan suara yang tidak sedatar biasanya. Terdengar ada sedikit emosi dalam nada suara Fathur. Apakah Fathur cemburu?
Mendengar ucapan Fathur, Nadya ingat kalau tadi dia juga makan bersama dengan Andi. Tapi mereka tidak hanya berdua, ada Septi juga bersama mereka. Nadya sangat sadar dengan statusnya sebagai seorang istri. Kalau Nadya tidak sadar dengan statusnya ini, untuk apa juga tadi dia pergi dengan meminta izin kepada Fathur terlebih dahulu?
"Mas Fathur salah paham. Aku tadi memang sempat makan dengan laki-laki, dan laki-laki itu adalah Pak Andi, guru olahraga di sekolah tempat aku mengajar. Tapi kita nggak hanya berdua, Mas. Tadi ada Septi juga, mungkin Mas Fathur melihat aku sama Pak Andi aja karena waktu itu Septi lagi ke kamar mandi. Demi Allah, aku nggak hanya berdua aja sama Pak Andi." Dengan tenang Nadya mencoba untuk menjelaskan. Nadya tidak ingin membuat Fathur marah dengan dirinya.
Terlihat Fathur terdiam sejenak. Sampai akhirnya...
"Terserah kamu saja, saya tidak peduli. Yang jelas jangan pernah melakukan sesuatu yang membuat image saya menjadi buruk dimata orang lain." Ujar Fathur yang kemudian langsung beranjak dari tempat duduknya berjalan naik ke lantai 2 menuju kamarnya meninggalkan Nadya yang terdiam sendirian.
Jujur rasanya Nadya sangat ingin menangis. Tapi sekuat tenaga Nadya mencoba untuk menahannya.
"Tidak apa-apa, Mas Fathur bilang kaya gitu bukan karena dia jahat. Tapi karena dia peduli dengan aku. Mas Fathur nggak pengen kalau aku dicap jelek sama orang lain karena makan berdua dengan laki-laki lain." Nadya mencoba untuk berpikir positif mengenai ucapan Fathur tadi. " Iya, Mas Fathur mengatakan itu karena dia peduli sama aku." Tambah Nadya.
Di kamarnya, Fathur sedang sibuk mengacak-ngacak rambutnya sendiri. Jujur Fathur merasa malu karena tuduhannya kepada Nadya ternyata salah. Nadya tidak hanya makan berdua saja dengan laki-laki itu, tapi ada Septi juga. Dan saat Fathur melihat Nadya hanya berdua dengan laki-laki itu, ternyata Septi sedang ada di kamar mandi.
Lagi pula kenapa Fathur harus ikut campur dengan urusan Nadya? Padahal dia sendiri yang mengatakan kalau tidak akan pernah menganggap Nadya sebagai istrinya.
Tapi... Aaahhh... Ini semua gara-gara Rony. Saat laki-laki itu mengatakan bahwa Rony menyukai Nadya, jujur Fathur merasa terusik. Fathur merasa tidak senang saat ada laki-laki lain yang menyukai Nadya. Apalagi saat tadi Fathur melihat Nadya hanya makan berdua saja, Fathur merasa ada sesuatu yang aneh yang dia rasakan.
Ehmm... Kalau kalian pikir ini adalah cemburu, maka Fathur dengan tegas akan menyangkalnya. Fathur saja tidak pernah mencintai Nadya, lalu bagaimana bisa dia bisa cemburu?
Fathur hanya merasa bahwa dia adalah pemilik Nadya, karena biar bagaimanapun statusnya adalah suami dari wanita itu. Sangat tidak wajar kalau ada orang yang menyukai wanita atau laki-laki lain sementara mereka tau kalau orang yang mereka sukai sudah memiliki pasangan kan?
Paham dengan maksud Fathur? Kalau tidak paham ya sudah. Pokoknya Fathur akan menyangkal dengan keras kalau ada orang yang beranggapan dia mencintai Nadya. Tidak, Fathur tidak akan pernah mencintai Nadya.
Tapi... Entah kenapa meskipun Fathur tidak mencintai Nadya, pikiran untuk melepas atau bercerai dengan Nadya tidak pernah terlintas di otak Fathur. Fathur rasa tidak masalah hubungannya dengan Nadya seperti ini saja sampai seterusnya. Toh dengan menikah dengan Nadya dia tidak akan diburu-buru lagi untuk menikah oleh Mama Resti. Jadi pernikahan ini sedikit menguntungkan Fathur.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
Alanna Th
lk" egois n tdk jentel. banci lo
2024-01-31
0
Enung Samsiah
ingin ku ketok da pala Fatur,,,,
2023-10-22
0
Dia Jeng
cinta bilang cinta aja babang fathur
2022-12-25
2