Tidak terasa setelah bersantai selama weekend, kini kita semua harus kembali bertemu lagi dengan hari Senin yang menyibukkan. Begitu juga dengan Nadya, Senin menjadi hari yang sibuk untuknya. Karena hari Senin upacara bendera akan dilangsungkan, para murid maupun guru harus berada di sekolah maksimal jam setengah 7. Karena itulah, Nadya yang tadi bangun kesiangan menjadi tidak sempat masak banyak. Nadya hanya memasak nasi goreng telur yang simpel untuk menu sarapannya.
Meskipun Nadya tidak berharap banyak kalau Fathur akan memakan masakannya seperti semalam, namun Nadya tetap membuatkan satu piring untuk Fathur. Tidak lupa Nadya juga membuat susu dan juga kopi untuk laki-laki itu. Semoga saja nasi goreng buatannya akan Fathur makan dan salah satu dari susu atau kopi juga diminum.
Tidak lupa sebelum berangkat Nadya meninggalkan pesan yang dia tulis di kertas notes dan menempelkannya di atas meja disamping piring nasi goreng Fathur.
Nasi gorengnya dimakan ya Mas. Nanti piringnya taruh aja diwastafel, nggak usah kamu cuci. Maaf kalau aku berangkat nggak pamit sama kamu. Soalnya hari ini aku harus berangkat pagi ke sekolah.
Nadya
Setiap hari sebelum berangkat ke sekolah, Nadya selalu berpamitan dengan Fathur. Hanya saja memang tidak pernah ada respon apapun selain deheman dari laki-laki itu.
Fathur keluar dari kamarnya saat jam sudah menunjukkan pukul setengah 7. Biasanya jam segini Nadya sedang sarapan dibawah, karena Nadya biasa berangkat ke sekolah sekitar jam 7 kurang 10 menit.
Namun saat Fathur turun, tidak dia dapati keberadaan Nadya di ruang makan ataupun dapur. Fathur mengerutkan dahinya karena merasa aneh ketika tidak dia dapati keberadaan Nadya dikedua ruangan yang menjadi favorit Nadya itu.
Apa dapur dan ruang makan menjadi ruangan favorit Nadya? Sebenarnya Fathur juga tidak tau. Hanya saja selama ini Fathur lebih sering melihat Nadya di dua ruangan itu. Hampir tidak pernah Fathur melihat Nadya berada di ruangan lain selain keduanya, dan tentu saja kamar.
Fathur sendiri melangkahkan kakinya menuju kearah meja makan dan membuka tudung saji diatasnya. Sepiring nasi goreng, segelas susu dan secangkir kopi, Fathur temukan dibalik tudung saji itu. Fathur juga menemukan kertas notes yang Nadya tempelkan di meja. Langsung saja Fathur membaca pesan yang Nadya tulis.
Seperti dugaan, wajah Fathur datar-datar saja saat membaca pesan notes Nadya. Tidak ada ekspresi berarti yang terpatri diwajah Fathur.
Fathur menutup lagi tudung saji itu dan melangkahkan kakinya keluar dari ruang makan. Namun belum juga dia keluar, langkahnya terhenti. Fathur membalikkan tubuhnya dan terdiam menatap tudung saji diatas meja makan. Beberapa menit Fathur hanya berdiam diri seperti itu. Sampai akhirnya Fathur kembali melangkahkan kakinya dan mendudukkan dirinya disalah satu kursi makannya. Tangannya dengan cekatan menyingkirkan tudung saji diatas meja.
"Mubazir kalau nggak dimakan." Ujar Fathur bergumam kepada dirinya sendiri.
Meskipun awalnya terlihat ragu, namun setelah sendokan pertama, Fathur langsung berubah menjadi begitu lahap memakan nasi goreng buatan Nadya itu. Dalam hati lagi-lagi Fathur hanya bisa mengakui kalau masakan Nadya memang sangatlah enak. Akan sangat rugi kalau tadi Fathur meninggalkan nasi goreng Nadya begitu saja, itu yang Fathur pikirkan saat ini.
Tidak sampai 10 menit, sepiring nasi goreng sudah ditandaskan oleh Fathur. Dan ternyata sepiring nasi goreng belum bisa membuat perut Fathur kenyang. Fathur masih ingin makan nasi goreng ini lagi. Tapi apa boleh buat, Nadya hanya meninggalkan sepiring nasi goreng saja. Yang Fathur temukan hanya alat-alat bekas memasak yang Nadya gunakan tergeletak diwastafel. Biasanya Nadya tidak pernah meninggalkan piring kotor atau alat-alat memasaknya dalam keadaan kotor. Tapi sepertinya kali ini Nadya benar-benar sudah kesiangan hingga tidak sempat mencucinya sebelum dia berangkat ke sekolah.
Tanpa diduga, dengan cekatan Fathur mencuci wajan bekas masak Nadya dan juga piring-piring kotor bekas pakai dirinya dan Nadya. Padahal didalam notes Nadya sudah berpesan untuk tidak usah mencucinya. Namun entah karena apa, tiba-tiba Fathur malah melakukannya. Bukankah saat ini Fathur terlihat sangat aneh? Kenapa Fathur berbeda dengan Fathur yang biasanya?
Selesai dengan cuciannya, Fathur menyesap kopi buatan Nadya yang sudah tidak lagi panas. Tentu saja sudah tidak panas. Kopi itu Nadya buat sudah sejak satu jam yang lalu.
Fathur memejamkan matanya setelah menyesap kopi buatan Nadya. Benar, ini adalah kali pertama Fathur minum kopi buatan Nadya. Sebelumnya Fathur sama sekali tidak pernah meminum kopi yang Nadya buat. Sekarang Fathur mendadak merasa menyesal karena selama ini dia telah menyia-nyiakan kopi seenak ini.
Benar, kopi buatan Nadya sangatlah enak. Fathur harus mengakui kalau kopi buatan Nadya bahkan lebih enak dibandingkan dengan kopi langganannya. Awalnya Fathur tidak percaya, tapi setelah beberapa kali menyesap, akhirnya Fathur tetap harus mengakui kalau kopi buatan Nadya memang lebih enak.
"Gimana kabar Nadya, Fath? Udah lama gue nggak liat dia." Ujar Rony kepada Fathur.
Saat ini sudah jam makan siang, dan seperti biasa Rony yang delivery order makanannya dan makan diruangan Fathur.
Fathur yang memang sedang tidak selera dengan makanannya semakin menjadi tidak selera setelah mendengar ucapan Rony.
"Baik. Kenapa? Kangen lo sama Nadya?" Balas Fathur datar.
Rony tersenyum.
"Syukur deh kalau dia baik." Jawab Rony. "Dan mengenai pertanyaan lo, iya, gue kangen sama Nadya." Ujar Rony dengan santainya.
Fathur tanpa sadar mencengkeram sendok ditangannya setelah mendengar ucapan Rony. Tapi disini Fathur masih sadar kalau dia harus tetap bersikap biasa saja didepan Rony. Fathur sendiri hanya diam saja tidak menanggapi ucapan Rony yang terang-terangan mengatakan kalau laki-laki itu kangen kepada Nadya yang notabenenya adalah istri sah Fathur.
"Jadi, rencananya kapan lo bakal ceraiin Nadya, Fath?" Tanya Rony sungguh diluar dugaan.
Brakk...
Refleks Fathur melemparkan dengan keras sendoknya keatas meja setelah mendengar pertanyaan Rony. Fathur tidak menyangka kalau Rony berani bertanya seperti itu.
"Gue nggak bakal ceraiin Nadya. Selamanya dia bakal jadi istri gue. Jadi, mending lo cari perempuan lain aja Ron. Dan jangan ikut campur masalah rumah tangga gue sama Nadya." Jawab Fathur dengan wajah datar.
Fathur mengulum senyum.
"Jadi sekarang lo udah anggep Nadya sebagai istri dong. Lo cinta sama dia?" Rony masih menatap Fathur dengan santai.
"...." Fathur memilih bungkam.
Fathur sama sekali tidak bisa menjawab pertanyaan Rony.
Apa Fathur sudah menganggap Nadya sebagai istri? Fathur sendiri tidak tau. Yang jelas Fathur tidak akan menceraikan Nadya. Lalu apa Fathur mencintai Nadya? Dengan tegas Fathur akan menjawab tidak. Fathur yakin kalau dia tidak mencintai Nadya. Fathur hanya merasa bahwa dialah pemilik Nadya. Dan selama Nadya menjadi miliknya, tidak boleh ada orang lain yang mengambil dari dirinya.
"Tuh kan lo nggak bisa jawab. Udahlah, lepasin aja Nadya. Kasian, dia bakal terus menderita kalau terus sama lo. Masih ada banyak laki-laki yang akan mencintai Nadya setelah lo lepasin dia loh, contohnya adalah gue." Ujar Rony.
Sepertinya Rony memang sengaja mengatakan hal ini untuk menyulut emosi Fathur.
"Enggak, gue tegaskan sekali lagi kalau gue nggak bakal lepasin Nadya. Masalah gue cinta atau enggak sama Nadya, itu biar jadi urusan gue sama dia. Lo nggak usah ikut campur." Jawab Fathur sembari memasang wajah dinginnya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
мєσωzα
gengsi mu ketinggian fathur.. jangan sampai menyesal ya, dah sia-sia in nadya
2023-03-04
2
Etta's
kopi.na pasti di kasih micin🤣🤣
2023-01-11
0
Andi Andriani
wkwkwkwkwk Sikat Bleeeh 🤣🤣🤣
2022-10-11
0