Nadya baru saja selesai memasak untuk makan malam. Simpel saja, untuk makan malam hari ini Nadya hanya masak udang saos asam manis dan tumis kangkung.
Selesai memasak dan menata makanannya di piring, kini Nadya hanya duduk dikursi sembari menatap masakan dirinya yang saat ini sudah tertata rapi diatas meja. Nadya menatap masakannya tanpa minat untuk menyentuhnya. Entah kenapa mendadak Nadya seperti kehilangan nafsu makannya. Padahal selama menikah dengan Fathur, Nadya sudah terbiasa makan sendirian.
Dan benar, penyebab Nadya kehilangan nafsu makannya adalah karena saat ini Nadya sedang memikirkan Fathur. Nadya merasa kalau saat ini Fathur seperti sedang marah kepadanya. Memang biasanya Fathur hanya diam, tapi kali ini diamnya Fathur terasa berbeda.
Dan sekarang Nadya bimbang sendiri, haruskah dia memanggil Fathur untuk makan malam? Tapi Nadya tidak berani. Karena kalau benar tebakan Nadya ternyata Fathur memang sedang marah kepadanya bagaimana? Nadya tidak ingin membuat laki-laki itu semakin marah kepadanya.
Terlalu asik dengan pikirannya sendiri, Nadya sampai tidak menyadari kedatangan Fathur. Ya, tiba-tiba saja Fathur sudah duduk di kursi makan. Dan ini menjadi kali pertama selama mereka menikah, Fathur duduk berdua bersama Nadya dimeja makan seperti ini.
"Jangan bengong." Ujar Fathur mengagetkan Nadya.
Nadya mengerjapkan matanya.
"Eehh, Mas Fathur." Nadya menatap Fathur dengan pandangan terkejut.
Fathur tidak mengatakan apa-apa, dia kembali sibuk dengan ponselnya seolah tidak ada yang terjadi diantara dirinya dan Nadya.
Melihat itu, Nadya pun juga ikut terdiam. Namun Nadya sama sekali tidak melepas pandangannya dari Fathur. Sampai akhirnya Nadya tersadar akan sesuatu saat dia menatap makanan yang ada diatas meja yang sepertinya mulai dingin karena sudah 30 menitan Nadya diamkan begitu saja.
"Mas Fathur mau makan?" Ujar Nadya menawarkan.
Dan seperti kejadian di rumah Mama Resti tadi pagi, Fathur langsung meletakkan ponselnya diatas meja.
"Boleh." Jawab Fathur singkat.
Tanpa sadar Nadya tersenyum. Dengan segera dia langsung menuju lemari untuk mengambil piring untuk dirinya dan juga Fathur. Bahagia? Jelas Nadya merasa sangat bahagia. Sekarang bisakah Nadya mulai berharap lagi jika hubungan rumah tangga dirinya dan Fathur bisa menjadi lebih baik lagi dibandingkan saat ini?
Nadya dengan sigap mengisi piring Fathur dengan nasi beserta sayur dan lauknya.
"Silahkan dimakan Mas." Ujar Nadya saat meletakkan piring berisi makanan itu didepan Fathur.
"Terima kasih." Jawab Fathur tanpa menoleh sedikitpun kearah Nadya.
Nadya sendiri tidak masalah, yang penting sekarang Fathur sudah mulai mau makan masakannya. Nadya tidak merasa perlu terlalu terburu-buru mengenai kemajuan hubungannya dengan Fathur. Nadya ingin secara perlahan namun pasti.
"Kamu nggak makan?" Sepertinya Fathur sadar kalau sejak tadi Nadya hanya diam menatap dirinya yang sedang makan. Dan itu membuat Fathur sedikit tidak nyaman karena merasa dirinya sedang diawasi.
"Ini mau makan kok." Jawab Nadya sembari tersenyum tipis.
Flashback
Setelah sore tadi Fathur masuk ke kamar, dia sama sekali tidak keluar setelahnya. Entah kenapa Fathur merasa cemas hanya karena tadi Nadya pulang terlambat. Fathur juga marah karena Nadya tidak memberinya kabar. Padahal sebelumnya Fathur tidak pernah merasakan hal seperti ini.
Sehabis magrib, Fathur keluar dari kamarnya untuk membuat kopi. Tapi baru mencapai anak tangga pertama, Fathur mencium aroma wangi masakan. Sepertinya Nadya sedang memasak di dapur. Karena itu, Fathur mengurungkan niatnya untuk turun membuat kopi. Fathur kembali masuk ke kamar. Hanya saja pintu kamar memang tidak dia tutup dengan rapat. Membuat aroma makanan yang sedang Nadya masak masuk ke kamarnya. Tanpa bisa ditahan, Fathur meneguk ludahnya sendiri. Perutnya tiba-tiba juga berbunyi sebagai pertanda kalau saat ini dia lapar.
Fathur memegang perutnya sendiri.
"Emang nih perut paling nggak bisa tahan sama makanan enak." Ujar Fathur bergumam dengan dirinya sendiri.
Sudah dibilang kalau Fathur selalu jujur soal makanan. Terbukti dengan betapa setianya dia mengenai kopi yang selama ini menjadi favoritnya. Dan setelah Fathur mengetahui bahwa makanan di rumah Mama Resti yang menjadi kesukaannya ternyata adalah masakan Nadya, Fathur tidak bisa menahan dirinya lagi.
"Jangan buat malu lo Fath, selama ini lo bahkan nggak pernah sekalipun nyentuh masakan Nadya. Dan sekarang setelah lo tau betapa enaknya masakan Nadya, lo mau merendahkan harga diri lo?" Ujar Fathur kepada dirinya sendiri.
Fathur masih bertekad kalau dia tidak akan kalah hanya karena masakan Nadya.
Tapi masalahnya sekarang Fathur benar-benar lapar. Dan yang Fathur inginkan hanya masakan Nadya. Mendadak Fathur merasa tidak berselera dengan makanan lain selain makanan yang Nadya masak.
"Jangan-jangan selama ini Nadya masaknya dikasih pelet lagi?" Pemikiran gila tiba-tiba muncul dikepala Fathur. Fathur masih bingung kenapa mendadak dia seolah tergila-gila dengan masakan Nadya. Seolah masakan Nadya adalah suatu hal yang mustahil Fathur tolak.
Sampai akhirnya Fathur tidak tahan sendiri. Perutnya semakin sering berbunyi. Menandakan kalau dia sangat lapar. Padahal mungkin sudah sejak 30 menit yang lalu aroma masakan Nadya dengan perlahan mulai samar tercium indra penciumannya.
"Baiklah, untuk kali ini saja. Tidak masalah kan kalau malam ini gue minta makan ke Nadya? Toh yang buat belanja juga duit gue." Ujar Fathur dengan sombong.
Tanpa tau bahwa selama ini Nadya tidak pernah menggunakan uang pemberian Fathur untuk membeli kebutuhan dapur.
Dengan santai Fathur turun menuju ruang makan. Dan yang Fathur dapati adalah Nadya yang tengah melamun sendirian. Nasi, tumis kangkung, dan udang asam manis nya dibiarkan begitu saja diatas meja. Membuat Fathur tidak sabar ingin segera menyantapnya.
"Jangan bengong." Ujar Fathur sembari mendudukkan dirinya di kursi makan.
Fathur bersikap sesantai mungkin sembari memainkan ponselnya. Fathur tidak mengatakan apa-apa, dia hanya sedang menunggu Nadya peka akan sesuatu.
Sampai akhirnya, setelah mungkin rasa terkejut Nadya sudah hilang, Nadya menawari Fathur makan.
"Ternyata kamu peka juga Nad." Ujar Fathur dalam hati.
Fathur menatap Nadya yang saat ini sibuk mengisi piring dengan nasi dan yang lainnya. Namun begitu Nadya mengalihkan perhatian kearahnya, Fathur langsung mengalihkan tatapannya dari Nadya.
Flashback off
Fathur dan Nadya menikmati makan malam mereka dalam diam. Meski sebenarnya Nadya ingin acara makan malam mereka ini diselingi dengan obrolan, tapi Nadya tidak melakukan itu. Sekali lagi Nadya tidak ingin membuat Fathur merasa tidak nyaman. Kalau Fathur lebih nyaman makan tanpa suara atau obrolan apapun itu, Nadya akan mengikutinya.
Sampai akhirnya Fathur lebih dulu menyelesaikan makannya. Nadya kira Fathur akan langsung naik dan kembali ke kamarnya. Tapi ternyata tidak, Fathur hanya diam sembari memainkan ponselnya. Sampai akhirnya setelah beberapa menit kemudian dan Nadya menghabiskan makanannya, barulah Fathur beranjak dari kursi.
"Mas Fathur mau ke kamar?" Tanya Nadya yang membuat Fathur seketika menghentikan langkahnya.
"Hemm..." Hanya itu jawaban yang Fathur berikan sebelum akhirnya melanjutkan langkahnya dan langsung naik ke lantai 2 menuju kamarnya.
Nadya sendiri tidak masalah dengan respon dingin Fathur itu. Nadya sudah mulai terbiasa dengan itu semua.
Yang penting sekarang adalah bahwa Nadya bahagia karena setelah sekian lama akhirnya dia dan Fathur makan berdua seperti ini.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 84 Episodes
Comments
aniya_kim
Eithhhhh Nadya pake uang dia sendiri ... coba cek nominal angka direk yg km kasi Nadia buat pegang 🙄🙄
2022-10-25
1
Kenzi Kenzi
selangkah lebih maju neng...hehehe....simingit yaaaa
2022-09-23
3
Kenzi Kenzi
eitttt...jgan.salah bang,duit elo ga lernah dipake sama eneng buat ksleperluan apapu n itu,masih utuh nohhhhh....nafkah lahir lo
2022-09-23
2