Jodie dan Loly terkesima melihat pria di depannya langsung berjongkok ingin mencium kaki si Botak.
"Hahaha! Siapa yang menyangka bos mafia La Costra Nostra yang terkenal berhati dingin dan dijuluki si Tangan Besi, rela mencium kaki demi kedua orang yang tak berguna itu!" umpat si Botak mengangkat tangan ingin menembak Jodie.
Brak! Dor! Dor! Dor!
Segalanya berputar begitu cepat bak slide sebuah film, Jeff yang masih berjongkok secepat kilat meraih tangan si Botak dan menyandera dengan meletakkan lengannya yang kekar menjepit di leher si botak dengan kuat membuat si botak melotot dan menjulurkan lidah tercekik.
Dengan kaki meronta-ronta semua anak buah si botak terkesiap, mereka tak menyangka jika bos mereka sudah tewas terkulai diseret ke sana kemari bak tameng oleh Jeff yang berlari cepat.
Sementara Jeff langsung menembak semua anak buah musuh secepat kilat dengan pistol otomatis yang memiliki jumlah peluru yang lebih dari 5. Jodie langsung menendang kaki si pengawal yang menyandera dirinya dan menghajar dengan mengerikan walaupun dengan tangan terikat.
Loly pun mencontoh gerakan Jodie sebagai guru dan ayahnya. Kesepuluh pria tergeletak tak bernyawa. Jeff langsung mengambil pisau dan membuka ikatan tangan keduanya. Jeff berjongkok mengambil ponsel si botak dan uang tunai dari semua anggota mereka dan melihat semua kartu ATM dan melihat kode di sana.
Jodie dan Loly hanya memperhatikan apa yang ingin dilakukan oleh Jeff, ia hanya memotret semua ATM dan mengembalikannya.
"Ayo, kabur!" ajak Jodie meraih tas kerja dan kresek kantong belanjaannya.
"Loly, jangan terbengong! Nah, tasmu dan simpan obat-obatan si Jeff. Sebelum anak buah Dove menyadarinya, dan mereka menyerang kemari." Jodie langsung berlari bergerak lewat pintu belakang gudang.
Jeff dan Loly berlari mengikuti si Jodie tua yang gesit, "Pantas saja kau jago berlari! Dia yang mengajarimu, Loly!" ucap Jeff disela larinya.
"Loly …," lirih Jeff, ia membayangkan lolipop yang manis penuh warna.
"Kau pasti membayangkan jika aku permen bukan? Dasar omes!" umpat Loly yang terus berlari mengejar Jodie masuk ke dalam sebuah mobil mewah.
"Ayo, cepat!" teriak Jodie.
Jeff dan Loly langsung melesat masuk dan Jodie langsung mengendarai mobil meninggalkan gudang. Sementara Jeff mengutak-atik ponsel, ia membongkar dan membuang sesuatu dari ponsel dan membuka sandi email miliknya. Kembali tangannya yang lincah mengutak-atik ponsel dan memblokir semua dana dari La Costra Nostra ke rekening mereka.
Jodie dan Loly hanya melirik sejenak dengan semua apa yang dilakukan oleh Jeff, ia menyimpan ponsel dan mengeluarkan dua pistol dan mengisi kembali amunisi secepatnya dan menyelipkan di balik jasnya.
"Terima kasih, Tuan. Anda sudah menolongku …," lirih Jeff, ia menatap Jodie.
Jeff merasakan hatinya kembali bergetar hebat bayangan samar kembali datang, ia berusaha menggeleng-gelengkan kepala untuk menepis bayangan itu.
"Sial! Aku tidak membawa obatku," gurutu Jeff.
"Sama-sama kau pun telah menolong putriku," bisik Jodie, "ada apa dengannya?" batin Jodie kala melihat Jeff menggelengkan kepalanya.
"Jodie, kau mencuri mobil ini? Bukankah kau yang melarang aku untuk mencuri? Tapi, mengapa kau malah mencuri?" teriak Loly di jok belakang langsung mendekati Jodie.
"Enak saja! Ini mobilku!" teriak Jodie santai.
"Hah! Sejak kapan? Kau dokter miskin yang setiap hari mabuk dan luntang-lantung tak jelas, bisa punya mobil mewah begini?" teriak Loly, "jangan-jangan kau juga mafia seperti di Bajingan ini!" kutuk Loly kesal.
Jodie hanya diam saja, ia tak ingin berbicara banyak hal. Jodie merasa belum waktunya semua orang tahu siapa dia. Ia terus mengendarai mobil membelah kota Denver melalui tiap gang dan jalan pintas menuju ke desa Goldblack.
"Pakailah topi dan jaket di situ!" perintah Jodie, mereka mulai mendekati sebuah desa yang tenang dan nyaman.
"Halo, Frank! Apa kabar?" tanya Jodie, ia menyapa si penjaga pintu gerbang memasuki kawasan desa yang dipenuhi pohon Cemara di kanan kiri sisi jalan. Rumah-rumah masih asri dan terbuat dari batu gunung.
"Hai, Bud! Apa kabar? Siapa mereka?" tanya Frank.
"Oh, putriku Loly dan suaminya," balas Jodie
Deg!
Jantung Loly dan Jeff, keduanya tak menyangka akan hal itu. Keduanya hanya diam, "Halo, Paman Frank!" sapa Loly menjulurkan kepalanya.
"Wah, kau sangat cantik, Lad! Besok akan kita adakan perjamuan pernikahan!" balas Frank.
"Oh, boleh! Tapi, aku tidak ingin diliput!" balas Jodie santai.
"Tenang saja! Berapa lama kau tinggal di sini?" tanya Frank, "pasienmu sudah banyak menanti!" lanjutnya.
"Aku hanya dua hari, Loly dan Jeff yang akan lebih lama karena mereka ingin berbulan madu!" ucap Jodie, ia begitu lihai berbohong.
"Baiklah! Berhati-hatilah!" balas Frank.
Jodie menyetir sedikit melambat dan memasuki rumah paling ujung dan di sisi bukit dari pegunungan Rocky. Fajar mulai menyingsing di ufuk timur, segalanya begitu indah dikala embun menetes dan burung bernyanyi mesra.
"Tempat yang sangat indah …!" lirih Jeff, ia melihat asap mengepul dari balik cerobong asap di setiap rumah.
"Ya, aku berbohong pada mereka karena di sini berbeda dengan Denver, Colorado, apalagi Washington di sini agama masih terlalu kental. Jika mereka tahu kalian belum menikah, mereka akan berbondong-bondong menikahkan kalian!
"Jadi, untuk sementara bersandiwaralah jika kalian pasangan suami istri hingga kau benar-benar tahu apa yang ingin kamu lakukan Jeff!" ucap Jodie.
"Lalu kau mau ke mana Jodie?" tanya Loly khwatir.
"Jangan pikirkan aku! Aku pasti pulang yang penting kalian aman dulu! Jeff, aku titip putriku yang cerewet ini, tapi percayalah, dia sangat baik dan pengertian," puji Jodie.
Ucapan Jodie membuat Loly mendengus, Jeff melihat ke arah Loly, "Lalu, apa yang harus kami lakukan?" ujar Jeff bingung, ia tidak tahu hubungan pernikahan suami-istri itu seperti apa.
"Kamu cukup, berpura-pura saja. Tidak perlu yang lain-lain," ujar Jodie, ia mengerutkan dahinya memandang Jeff yang diam dan memandang ke depan dengan dingin.
"Apakah kamu memiliki kekasih, Jeff? Aku harap kekasihmu tidak marah!" balas Jodie, ia merasakan kegelisahan Jeff.
"Aku tidak memilikinya …," balas Jeff pelan.
"Hahaha! Apa kubilang, kau sudah sangat kadaluarsa sehingga tak seorang gadis yang melirik!" ejek Loly terpingkal-pingkal di jok belakang.
"Loly! Memang kamu punya pacar juga?!" sindir Jodie.
"Eh …," Loly terdiam.
"Apa bedanya aku dan dirimu! Kalau aku kadaluarsa, wajar aku sudah tua. Lha, kamu … masih gadis. Remaja seusia kamu, masa tidak ada yang naksir?" dengus Jeff, ia merasa bahagia bisa membalikkan keadaan.
"Um, Jodie! Apakah tidak aneh aku menikahi anak-anak? Maksudku, aku sudah terlalu tua dan … aku seperti pedofil jika kau mengatakan, pada semua orang jika aku suami Loly?" tanya Jeff, ia masih berpikir ke arah itu.
"Woy! Siapa yang anak-anak?" balas Loly kesal.
"Loly sudah berumur 20 tahun, pada tahun lalu," balas Jodie.
"Nah, aku sudah dewasa. I am not girl anymore …," ujar Loly bangga
"But you're not a woman!" balas Jeff dan Jodie serempak.
"Cuih! Najis!" ketus Loly.
Mobil memasuki jalan berbatu yang berlubang-lubang, "Jodie! Kau belum juga memperbaiki jalanan kacau ini? Kau tahu! Semenit lagi jalanan ini hampir ke neraka!" umpat Loly, ia harus berpegangan agar tak bergulingan di jok belakang.
"Aku sengaja melakukannya!" balas Jodie santai.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 91 Episodes
Comments
Younie
lanjut Thor.....semangat
2022-09-04
0